Istri Yang Di Jual.

Istri Yang Di Jual.
Tanti love story Bab 2


__ADS_3

Oke aku ganti judul. kalian boleh baca cerita ku yang mana saja.


Mungkin boleh baca di novel ku yang lain. yang tidak serumit ini.


Kalau kita bulan madu, jangan ajak Zoya sayang." Bisik Arka.


Senyum Tanti melebar."Ah, ngomong apa sih kamu."


"Kalian lagi bisik-bisik apa sih? kok Zoya nggak dengar?" tanya Zoya ikutan kepo.


"Ha...ha..anak papa yang satu ini keponya minta ampun."Kata Arka sembari menggendong Zoya.


"Sudah. Kalian tunggu di ruang makan. Nanti tante cantik ke sana. Ini belum siap soalnya."


"Papa...turunkan Zoya. Zoya mau bantuin tante cantik." kata Zoya.


"Baiklah...anak pintar. Sayang...aku mau nemenin Anisa main dulu yah.Kalau udah selesai panggil aku."Ucap Arka.


Tanti tersenyum."Iya sayang."


Tanti dan Zoya kemudian menyiapkan makanan untuk makan malam mereka.


Tanti benar-benar bahagia, Zoya seperti akan menjadi calon anak yang rajin. Dia sangat sigap dalam masalah urusan dapur.


Zoya membawa satu piring besar yang berisi ayam goreng ke meja makan.


"Awas hati-hati Nak." Kata Tanti.


Setelah selesai, Tanti memanggil Arka.


"Sayang...makananya sudah siap nih..."Seru Tanti.


Tak ada jawaban. Aurelpun sepertinya terdiam.


"Sayang, kemana papamu?" tanya Tanti pada Zoya.


"Ah, Zoya capek tante cantik. Zoya mau duduk dulu. Tante cantik aja yang manggil papa."


"Baiklah."


Tanti kemudian pergi meninggalkan Zoya sendiri di ruang makan. Tanti kemudian melangkah pergi ke kamarnya.


Tanti tersenyum saat mendapati Arka sedang tertidur dengan Anisa.


"Arka..Arka..maghrib-maghrib kok tidurnya pulas banget gitu."Ucap Tanti.


Tanti kemudian mendekat ke arah Arka.


Dia tersenyum.


Tanti kemudian mendekat ke arah jendela, dan menutup kordennya. Adzan magrib pun menggema.

__ADS_1


Tanti mendekat lagi ke arah Arka.


Bruuuk...


Tiba-tiba saja Arka menyeret tangan Tanti hingga Tanti terjatuh di atasnya. Dan tak sengaja juga bibir Tanti membentur pipi Arka seakan-akan Tanti itu telah mencium Arka. Arka semakin mengeratkan pelukannya.


"Lepasin Arka...!kamu apa-apaan sih. Lepasin...! Kamu pura-pura tidur yah."


Arka sembari mata yang masih terpejam tersenyum.


"Sayang...temanin aku tidur malam ini."


"Arka...jangan gila kamu. Kita itu belum nikah."


Arka membuka matanya.


"Tanti untuk malam ini. Aku tidak bisa tidur sendirian."


"Ya udah. Kamu tidur sama anak kamu. Dan aku tidur sama anak aku." Kata Tanti mengusulkan. Tanti tampak kesal sekali.


"Nggak mau Tanti. Aku mau kita tidur berempat, dan aku tidur di samping kamu."


"Ih...Arka. Ternyata kamu mesumnya nggak ketulungan yah. Mesumnya udah melewati level atas. Lepasin nggak..."


"Nggak mau."


Ehem...


Ah, Zoya anak sialan. Kenapa coba dia harus ikut. Mengganggu saja. Tahu gini aku titipin saja dia sama Bik Inah. Batin Arka.


Arkapun kemudian melepas pelukannya.


"Kalian itu pacaran melulu. Zoya kan udah lapar. Zoya capek habis masak. Masak kalian enak-enakan pacaran di sini, sementara Zoya di tinggalin."


Arka dan Tanti saling menatap.


"Zoya...Maafin tante yah. Itu papa kamu sudah ngerjain Tante."


Zoya kemudian menyeret papanya.


"Ayo...kita sholat berjamaah. Jangan pacaran mulu kalian. Sholat biar setannya ilang." Kata Zoya membuat Arka dan Tanti malu.


"Astaghfirullah.. ampuni aku ya Allah..."Gumam Tanti.


"Ah, Zoya. Siapa yang pacaran sih." Kata Arka kesal. Yah,dia kesal sekali saat ini pada Zoya. Sudah berkali-kali Zoya memergoki Arka bermesraan dengan Tanti. Baru pacaran saja sudah mengganggu, apalagi setelah papanya itu menikah. Mungkin Zoya akan tambah kepo pada papanya.


Ah, kalau aku udah menikah sama Tanti, bisa gawat kalau Zoya itu satu kamar sama aku. Aku harus berikan Zoya kamar baru.Masak aku akan tidur berempat sama mereka. Gimana nasib aku? Aku kan tidak bisa bebas dengan istriku nanti jika ada Zoya. Batin Arka.


...****************...


Laura dan Dewa masih saling bercanda dan tertawa. Sekarang mereka sedang mengunjungi panti asuhan. Yah, mereka akan berbagi di sana. Dan merekapun memberikan bantuan kepada anak-anak panti yang berupa makanan, pakaian, dan lainnya.

__ADS_1


Laura melihat sosok bicah kecil sedang menangis. Laura menghampiri anak lelaki yang sepantaran Zoya.


"Hai adek, kenapa kamu menangis?" tanya Laura.


"Aku nggak apa-apa tante. Aku cuma lagi sakit aja. Kepalaku sakit."


"Oh, Laura duduk di samping bocah itu."


"Nama kamu siapa sayang?"


" Namaku Ridho tante."


"Oh, nama yang bagus. Oh iya, kalau kamu sakit, nanti antarkan kamu ke dokter yah, apa kamu mau?"


"Benarkah Tante? aku mau tante."


Laura tersenyum pada anak kecil itu. Entah kenapa, Laura merasa hatinya tersentuh saat melihat anak kecil itu.


Anak lelaki yang cakep, sopan dan pintar.


"Ya udah, Ridho tunggu di sini dulu yah. Nanti pasti tante akan ngajakin Ridho ke rumah sakit. Ridho yang sabar yah."


Ridho tersenyum." Iya Tante."


Laura pun kemudian melanjutkan membagi-bagi makanaan kepada anak-anak panti itu. Laura tampak bahagia sekarang, sejak dia berpisah dari Arka, dia menjadi sosok Laura yang sangat berbeda.


Laura sekarang sudah menjadi Laura yang dulu. Laura yang penuh keceriaan, dan Laura yang karirnya semakin melambung. Selain menjadi seorang model, dia juga sudah menjadi seorang bintang film. Itu semua berkat kekasihnya Dewa yang selalu mensuport Laura. Apapun ke inginan Laura pasti Dewa turuti.


Berbeda dari saat bersama Arka. Arka itu tipe cowok yang pencemburu. Arka sangat posesif sekali pada istrinya.


Dia selalu menentang keinginan Laura untuk menjadi seorang model apa lagi seorang artis.


Itu semua karena Arka tidak ingin, Aurat Laura di lihat oleh lelaki lain apalagi menjadi seorang model itu tubuhnya akan terekspos jelas di berbagai macam majalah, koran, televisi, bahkan di acara -acara lain. Makanya sejak dia bersama Arka, Laura berhenti menjadi seorang model.


Yah, itu lah Arka. Kenapa Arka lebih memilih Tanti, karena Tanti wanita yang mau menutup auratnya. Dan dengan hijab itu seorang wanita akan merasa terlindungi dari syahwat lelaki. Jarang ada lelaki yang melirik seorang wanita karena dia berhijab dan berbaju longgar. Para lelaki itu lebih banyak melirik kaum hawa yang selalu mempertontonkan auratnya di depan umum.


Setelah selesai itu semua, Laura dan Dewa kemudian membawa anak lelaki itu ke rumah sakit.


Dewa tidak bisa memeriksa anak itu di panti, karena dia tidak membawa alat-alatnya.


Dewa dan Laura langsung mengajak Ridho ke rumah sakit.


"Ayo Ridho..kita masuk ke mobil...!"


Ucap Dewa.


"Iya." Kata Ridho. Setelah itu Ridho masuk ke mobil.


"Wa, apakah kita akan membawanya ke rumah sakit, atau di klinikmu saja?" tanya Laura.


"Ke klinik ku saja. Sepertinya dia sakit biasa." Ucap Dewa.

__ADS_1


"Baiklah kita klinik."


__ADS_2