Istri Yang Di Jual.

Istri Yang Di Jual.
Pertemuan Tanti dengan anaknya.


__ADS_3

Tanti kemudian menggendong Zoya. Sementara Arka mendekat ke arah Anisa. Arka kemudian menggendong Anisa.


Arka mendekat ke arah Tanti.


Yah, saat ini Arka menggendong Aurel anak Tanti, dan Tanti menggendong Zoya anak Arka.


"Tanti. Lihatlah siapa yang aku gendong." Ucap Arka.


"Siapa Arka? dia cantik."


"Dia anak ku Tanti. Sebentar lagi, kamu akan menjadi mamanya."


Tanti menatap Aurel. Entah kenapa rasa sayang itu tiba-tiba muncul. Apa lagi saat Aurel memanggil mama.


"Mama..." Ucap Aurel.


"Ha..ha..anak pintar. Dia lagi belajr ngomong Tanti."


Tanti bingung. Karena Arka punya dua anak sekaligus tanpa istri.


"Arka. Aku tahu Zoya adalah anak kandung mu bersama wanita masa lalumu. Tapi anak yang kamu gendong, itu anak siapa Arka?" tanya Tanti yang masih di selimuti rasa penasaran yang besar.


"Zoya, turunlah. Biarkan gantian Anisa yang di gendong Tante cantik."


"Iya Pa."


Zoya kemudian turun dari gendongan Tanti. Setelah itu, Tanti menggendong Aurelia Anisa. Yah, darah dagingnya sendiri. Anak dari dia dan Arifin mantan suaminya.


Tanti mendekap mesra putri kecilnya.


"Berbahagialah Tanti. Sekarang aku sudah menebus semua kesalahanku di masa lalu. Sekarang aku sudah kembalikan anak kandungmu ke pelukanmu."


Deg.


Tanti terkejut. Dia kemudian menangis.


"Ini Aurel Arka?ini anak ku? "


"Iya Tanti. Sejak kamu kabur dari ku, aku benar-benar hampir gila di buatnya. Dan mama yang membawa Aurel ke sini."


"Terus selama ini kamu sembunyikan di mana anak aku Arka?"


Arka terdiam.


"Maafkan aku Tanti. Aku titipkan dia di panti asuhan."


"Jahat sekali kamu Arka. Teganya kamu memisahakan aku dengan Aurel."


"Aku menyesal Tanti. Aku lakukan ini, karena aku cinta sama kamu Tanti. Aku tidak mau kehilangan kamu."


Tanti menangis sembari memeluk Aurel. Tanti kemudian membawa pergi ke kamarna.


Betapa bahagianya hati Tanti. Dua tahun di pisahkan dari anaknya sekarang, mereka dibpertemukannlagi. Betapa tersiksanya hati Tanti selama ini. Namun karena ke egoisan Arka, Tanti harus menjadi korbannya.


Tanti masih menangis sembari memangku anaknya. Aurel hanya bisa menyaksikan Tanti menangis. Dia memandangi wajah mamanya.


Tanti menatap lekat Aurel. Dia kemudian tersenyum.


"Aurel...anak mama..."


"Mama..."


Tanti memeluk Aurel dan menciumi anaknya itu.

__ADS_1


...****************...


Makan malam kali ini, terlihat sangat membahagiakan. Sekarang di ruang makan sudah tampak ada anggota baru, yaitu Tanti.


Tanti sekarang, masih menyuapi anaknya. Tak lupa juga Tanti menyuapi Zoya.


Nyonya Alicia tersenyum.


"Ah, Tanti, Arka. Betapa bahagianya mama saat ini. Bisa memiliki dua cucu sekaligus. Rumah ini terasa ramai sekarang. Berkat adanya Aurel dan Zoya."


Tanti cuma bisa diam. Dia masih malu untuk berkata-kata.


"Papa harap sih, kalian cepatlah menikah. Supaya kalian bisa cepat punya anak. Papa sudah mempunyai dua cucu perempuan, dan papa mau cucu laki-laki."


"Ha..ha.. Pa. Tenang saja Pa. Arka janji, kalau kita menikah, Arka akan serajin mungkin membuatkan kalian cucu."


uhuk uhuk...


Tanti tersedak minumannya sendiri.


"Maaf..."Ucap Tanti.


"Sudahlah Tanti, jangan dengarin apa kata Arka. Arka itu memang suka asal ngomongnya." Kata Nyonya Alicia.


Tanti cuma tersenyum malu-malu.


Setelah selesai makan, Arka mengajak Tanti ke taman belakang. Mereka sekarang tepat berada di sisi kolam renang. Mereka saling berhadapan.


"Tanti."Ucap Arka.


"Iya Arka."


"Aku mau mengatakan sesuatu Tanti."


Arka meraih kedua tangan Tanti. Dia kemudian menatap lekat manik mata Tanti.


"Tanti, sekarang aku mau tanya ke kamu. Apakah kamu sudah siap menjadi istriku?"tanya Arka kemudian.


Tanti tersenyum dan mengangguk.


"Iya aku mau."


"Apakah kamu mau menerima Zoya sebagai anak kamu?"


"Iya. Sekarangpun, aku sudah siap menjadi mamanya Zoya."


"Terimakasih Tanti."


Arka kemudian berlutut di depan Tanti. Dia mengeluarkan sesuatu dari sakunya.


Yah, cincin berlian mahal. Cincin yang selama ini dia simpan untuk Tanti.


"Aku mau pakai ini Tanti." Ucap Arka.


Arka kemudian memasangkan cincin itu di jari manis Tanti.


"Tanti, aku sangat mencintaimu Tanti. Aku mencintaimu melebihi apapun."Kata Arka setelah itu Arka mengecum punggung tangan Tanti.


Setelah itu Arka berdiri.


"Aku juga sangat mencintaimu Arka." Ucap Tanti. Yah, di malam ini kebahagiaan menyelimuti keduanya.


Malam yang penuh dengan bintang, dan purnama yang bulat sempurna. Seakan menjadi saksi dua orang insan itu saling mengungkapkan perasaannya masing-masing.

__ADS_1


Arka tiba-tiba saja jantungnya berdebar. Dia sudah sangat ingin mencium Tanti. Tapi dia tidak mau, kejadian yang waktu itu rerulang lagi. Dia tidak mau Tanti menangis dan kecewa padanya.


"Tanti, bolehkah aku meminta sesuatu?"


"Kamu mau meminta apa?"


"Bolehkan aku mencium keningmu Tanti?"


Tanti diam.


Diapun sama, jantungnya lagi-lagi berulah. Tanti dan Arka bertatapan. Hasrat dan gelora asmara sedang menyelimuti mereka. Dan akhirnyapun mereka berciuman lagi untuk yang ke dua kalinya. Tanti tidak mampu untuk menolak. Karena dia menginginkannya juga.


Setelah selesai, Tanti meraba bibirnya, hatinya masih berdesir. Jantungnya pun tak bisa untuk di kendalikan lagi.


Arkapun sama. Sesuatu di bawah sana sudah mulai menegang. Dan Arka tidak bisa untuk melanjutkannya lagi. Karena memang mereka belum sah menjadi pasangan suami istri.


"Sudahlah Tanti, Maafkan aku. Sekarang, pergilah kamu tidur. Aku antar kamu kamar."


"Iya Arka."


Arka kemudian mengantar Tanti ke kamar.


"Arka, malam ini, biarkanlah anak-anak tidur dengan ku. Biarkanlah anakmu juga tidur di sini."


"Iya sayang. Kalau berkenan, nanti malam datang lah ke kamarku. Kalau kamu mau aku bisa lanjutkan."


Tanti mencubit lengan Arka dengan sangat kencang.


"Auh...sayang...kenapa aku di cubit."


"Emang kamu fikir aku wanita apaan. Emang aku mau tidur bersamamu?"


"Ha..ha..sayang, jangan ngambek gitu dong. Nanti cantiknya hilang. Aku cuma menawarkan barang kali kamu mau lanjut, kamu boleh datang ke kamarku kapan pun kamu mau."


"Ah, Arka rese. Malas aku..."


"Hei, besok-besok, kalau kamu memanggil ku denga nama Arka, aku pastikan kamu tidak akan bisa tidur semalaman. Mulai sekarang, belajarlah dengan panggilan yang romantis."


"Terus aku harus panggil kamu apa Arka? Kamukan nggak mau aku panggil abang, mas, kak.


"Yah, mungkin kamu harus panggil aku beib, honey, sayang, suamiku, cintaku,"


"Oke, mulai besok aku panggil kamu sayang."


" Jangan besok dong sayang,sekarang aja.Kamu jangan panggil sebutan Arka."


"Iya sayang."


Arka tersenyum. Tanpa aba-aba dia mencium kening Tanti. Membuat Tanti terkejut dan dia langsung meraba keningnya.


"Sayang, kenapa kamu nggak bilang-bilang dulu kalau mau cium."


"Ah, nanti nggak kejutan dong. Aku akan selalu memberi kejutan buatmu sayang."


"Iya makasih sayang, udah sana kamu kembali ke kamarmu."


"Ah, Tanti padahal aku sudah nggak tahan Tanti. Aku pengin cepat-cepat nikah Tanti."


"Udah lah sana pergi."


"Iya Tanti sayang, selamat malam semoga mimipi indah."Ucap Arka.


"Iya. Kamu juga mimpi indah yah sayangku Arka."

__ADS_1


Sekarang Arka tidur di kamarnya sendiri, sementara Tanti, tidur di kamar tamu dengan ke dua anak kecil itu.


__ADS_2