
"Kamu cantik sekali Ra." Ucap Dewa.
Laura tersenyum.
"Oh iya. Makasih sayang."
Dewa tampak sedikit gugup. Dewa meraih tangan mulus Laura. Dia kemudian mencium punggung tangan Laura.
"Ra, aku mau nanya. Apakah kamu sudah benar-benar bisa melupakan Arka?"
Laura diam. Setelah itu dia mengangguk.
"Iya. Aku sudah bisa melupakan Arka." Jawab Laura.
"Apa kamu bahagia Ra, dengan pernikahan kita?"
"Tentu dong aku bahagia. Kenapa tidak. Aku akan mendapatkan calon suami seorang dokter. Dan kamu itu lelaki yang sangat baik Dewa."
"Makasih yah Ra. Kamu udah mau memberikan aku kesempatan untuk mengenalmu lebih dekat."
"Kenapa ngomong begitu. Bukankah dari dulu kita sudah bersahabat.?"
"Iya sih Ra. Tapi aku cuma pengin tahu aja apa isi hati kamu. Apakah kamu sudah benar-benar mencintaiku atau tidak."
"Dewa. Aku mencintaimu. Aku sudah memilihmu untuk menjadi suamiku. Karena kamu itu orang yang baik Wa. Kamu itu orang yang sangat setia."
"Ra, kita berdoa sama-sama yah. Semoga nanti di acara pernikahan kita, tidak akan pernah ada musibah lagi yang akan menimpa kita dan membuat pesta pernikahan kita itu batal lagi "
"Iya Wa."
"Ra. Aku pengin ngajak kamu makan malam nih. Kamu udah makan belum.?"
"Ya udah, nanti kita berangkat. Tapi masak aku pakai baju kayak gini sih."
"Ya udah, sana kamu ganti baju dulu."
"Ya udah kamu tungguin yah. Aku akan ke atas siap-siap dulu."
"Iya. Aku tunggu yah."
Laura kemudian melangkah pergi menuju ke kamarnya. Dia kemudian bersiap-siap untuk pergi makan malam bersama Dewa.
Laura menghela nafasnya dalam.
"Huh, aku nggak nyangka kalau aku akan menjadi istri dari ke dua sahabatku. Yah, Arka dan Dewa mereka berdua sahabat karibku waktu kuliah, dan aku telah menjadi istri Arka, sekarang aku akan menjadi istri Dewa juga. Jodoh kita nggak tahu, semua sudah menjadi skenario Tuhan. Semua yang ada di kehidupan ini sudah takdir ilahi." Kata Laura sembari masih bercermin.
Setelah selesai itu semua, Laura kemudian mengambil tas kecilnya, dan melangkah pergi meninggalkan kamarnya. Dia kemudian menghampiri Dewa.
"Wa, ayo Wa. Kita berangkat...!"
Dewa beranjak dari duduknya. Setelah itu dia tersenyum.
__ADS_1
"kamu cantik Laura."
"He..he... ya ampun Dewa. Emang kamu nggak ada kata-kata yang lain apa, selain dari pujian itu."
"Ya, terus aku mau muji apa."
"Ya udahlah, ayo kita berangkat."
"Iya."
Laura dan Dewa kemudian pergi untuk makan malam. Dewa meluncurkan mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Ra, kita mau makan malam di mana?"
"Di mana yah. Terserah kamu aja deh. Kan kamu yang ngajakin."
"Gimana kalau kita ke tempat biasa aja."
"oke. Aku setuju."
...****************...
Laura masih bersantap dengan Dewa. Makan malam kali ini, rupanya membawa keromantisan sendiri untuk pasangan Dewa dan Laura.
"Em, Ra. Kita kan seminggu lagi, mau nikah, kok orang tua kamu belum datang juga ke Indonesia?"
"Iya. Nggak tahu, mungkin lusa sayang." Kata Laura yang masih tampak mengunyah makanannya."
"Enak. Kebetulan, aku juga di rumah belum makan. Jadi rasanya enak kalau makan dalam ke adaan lapar."
"Ya udah habisin Ra. Nanti kalau kurang boleh kok kamu nambah lagi."
"Aduh, nggak bisa gitu dong. Nanti berat badanku bisa cepat naik."
"Aku tidak pernah melarang calon istriku makan apa saja. Karena aku akan selalu mencintaimu walau kamu itu gendut. Aku tidak akan pernah mempermasalahkan fisikmu Laura. Karena aku tulus cinta sama kamu, tidak memandang apapun dari kekuranganmu Laura."
"Makasih yah Wa."
"Iya sayang."
Laura menghela nafasnya dalam. Dia menatap Dewa.
Dewa seorang lelaki yang begitu tulus mencintai Laura, begitu memuja Laura, cintanya dari dulu sampai sekarang, belum pernah pudar.
Maafkan aku Wa. Karena untuk saat ini, aku belum bisa melupakan Arka. Aku masih selalu mengingat kenangan ku bersama Arka. Tapi aku janji, aku akan mencoba sedikit demi sedikit untuk melupakan Arka.
"Sayang, kamu kenapa? Kok kamu malah ngelamun? lagi mikirin apa sih?"
"Nggak lagi mikirin apa-apa kok." elak Laura.
Padahal sedari tadi hatinya masih galau.
__ADS_1
"Kita pulang aja yuk Wa."
"Ya udah habisi dulu makanannya. Nanti kita pulang."
"Ya udah deh."
...****************...
Malam ini, Tanti sudah tampak terlelap bersama Aurel di kamarnya. Tanti tidur sembari memeluk Aurel.
Sementara Arka, dia sudah kembali dari kantornya. Dia kemudian turun dari mobilnya, di ikuti Idris di belakangnya yang selalu dengan setia membawakan tas Tuan mudanya itu.
"Tanti...Tanti..." Seru Arka.
"Aurel...Zoya..." Arka tampak memanggil anak-anak dan istrinya. Namun malam ini, sudah tampak sepi. Istri dan anak-anaknya sama sekali tidak menyambutnya. Membuat Arka sedikit kesal.
"Idris, kemana istri dan anak-anak ku?" Tanya Arka pada Idris.
"Yah, Tuan. Mana aku tahu. Aku juga sama baru nyampe. Tuan gimana sih!" Dengus Idris
" Iya Idris. Tapi kenapa rumah ini sepi sekali kayak kuburan. Di mana penghuninya.?"
"Tuan. Apakah Tuan tidak melihat jam. Ini sudah hampir jam dua belas Tuan. Jelas penghuni rumah ini sudah pada tidurlah."
Arka memang kadang terlihat bodoh, jika mengenai Tanti dan anak-anak nya.
"Oh iya Idris. Benar juga kamu. Jadi aku pulang sudah selarut ini. Ini semua gara-gara kerjaan di kantor yang sudah menumpuk sekali gara-gara aku tinggal ke Bali." Kata Arka kemudian.
Sementara di sisi lain, Zoya melangkah ke kamar Tanti. Dia membangunkan Tanti.
"Ma, ayo Ma, bangun. Itu papa sudah pulang. Katanya kita mau memberi kejutan ulang tahun Papa."
Tanti mengerjapkan matanya. Dia langsung beringsut duduk dan tersenyum.
"Papa Arka sudah pulang sayang...?"
"Iya. Dan kita semua sudah siap untuk memberi kejutan papa."
"Oke sayang. Mama mau cuci muka dulu. Sekarang, orang-orang ada di mana?"
"Udah ada di ruang kerja papa. Kita itu sudah mematikan lampu di lantai atas Ma."
"Oh, gitu. Oke deh. Nanti Mama akan sambut papa kamu dengan surprice ulang tahun."
"Iya. Ma. ayo Ma. Sebelum papa ke sini."
Tanti dan Zoya buru-buru bergegas untuk mengambil kue ualng tahun, yang sudah di pesannya. Dan para pembantu juga sudah siap - siap untuk memberikan kejutan juga pada Tuannya.
Arka masih kebingungan. Karena rumah di lantai atas tampak gelap sekali. Seperti tidak biasanya.
"Idris, kenapa rumah gelap sekali. Kemana para pembantu. Dan kenapa tidak ada satupun lampu yang di nyalakan."
__ADS_1
"Mana saya tahu Tuan, jangan tanya sama saya dong. Tanya sama penghuni rumah, kenapa mereka tidak menyalakan lampunya." Gerutu Idris.