
Arka dan Putri kemudian di bawa ke kamar milik Tia. Dan mereka yang sedang mabuk akhirnya melakukan hubungan terlarang itu
Putri menangis saat mengetahui kalau di sampingnya ada Arka yang masih tertidur pulas. Mereka berdua di bawah selimut tebal namun tubuh mereka polos tanpa sehelai benangpun.
Arka mengerjapkan matanya.
Arka sangat terkejut saat di sisinya ada Putri yang sedang menangis. Dan dia terkejut pula saat tubuhnya dan Putri sama-sama polos.
"Eh ...em Putri. Apa yang sebenarnya terjadi?"
Hiks..hiks..
"Aku nggak tahu Arka. Aku nggak ingat apa-apa."
"Apa aku telah melakukan sesuatu padamu?"
"Sepertinya Iya Arka. Kita semalam telah melakukannya."
"Ah, Kenapa ini semua bisa terjadi? Kenapa aku harus mau meminum minuman memabukan itu."
"Udahlah Arka. Lupain aja."
"Nggak bisa gitu dong. Kalau kamu hamil gimana? Aku harus tanggung jawab dong."
"Nggak Arka. Itu tidak akan pernah terjadi. Karena kita melakukan itu cuma untuk malam ini."
"Tapi Putri. Aku bukanlah laki-laki pengecut yang akan lari dari tanggung jawab. Aku akan tanggung jawab. Jika sampai kamu hamil"
"Iya Arka. Tapi aku tahu kalau sekarang kamu sudah pacaran dengan Laura. Aku tidak mau menghancurkan hubungan kalian."
"Oke, Kalau itu maumu. Tapi tolong,jika kamu benar-benar hamil bilanglah pada ku. Aku pasti akan tanggung jawab. Aku akan menikahimu."
Dan setelah kejadian itu, Putripun pergi tanpa kabar.
Flashback off.
****
Setelah semalaman tidur di kantornya, hati Arka mulai membaik.
Dia pun kembali untuk pulang kerumah Laura.
Dia membangunkan Idris yang masih terlelap.
"Idris. Ayo kita pulang!"
Idris tersenyum.
" Baiklah Tuan."
Idris dan Arkapun kemudian pergi setelah waktu menunjukan jam 4 pagi.
Sesampai di rumah, Arka di kejutkan oleh hadirnya Jihan di rumahnya.
Ah, kenapa ada Jihan di rumahku. Akukan udah move on dari dia. Masak aku berhalusinasi sih. Batin Arka.
Jihan yang sedari tadi duduk di ruang tamu berhambur memeluk Arka.
"Arka..." Ucap Jihan.
Arkapun diam mematung di pelukan Jihan. Arka masih terkejut melihat keatangan Jihan.
Jihan menangis sembari memeluk Arka.
"Arka, aku kangen banget sama kamu Arka." Ucap Jihan.
Dari atas Laura melihat Jihan dan Arka berpelukan. Laura menangis, saat Arka diam saja di peluk Jihan.
__ADS_1
Bi Inah yang ada di belakang kursi roda Laura hanya bisa mengelus dada.
Ah, masalah lagi buat Nak Arka. Bisa ada perang dunia ketiga di rumah ini kalau non Jihan sudah hadir di sinim Jihankan cinta mati sama Arka.
Laura yang masih duduk di kursi roda menangis. Dia bertanya-tanya dalam hatinya.
Kenapa mereka sepertinya dekat banget sih?"
"Bik, apa bibik kenal sama Jihan?" tanya Laura.
"Iya Non. Bibik sangat mengenalnya. Non Jihan itu sahabat masa kecilnya Tuan muda, sekaligus mantan kekasihnya. Bisa juga di bilang cinta pertamanya Tuan Arka."
Deg.
Tubuh Laura mendadak panas dingin. Dia begitu tidak kuat melihat Arka berpelukan dengan wanita lain. Akhirnya pandangan Laura menggelap. Diapun akhirnya pingsan.
"Nona Laura..."Jerit Bik Inah.
Arka dan Jihan kemudian melepaskan pelukannya
"Laura..."Teriak Arka.
Tanpa aba-aba Arkapun mendekat ke arah Laura.
"Laura...bangun Laura..."Arka menepuk-nepuk pipi Laura.
Namun Laura benar-benar pingsan.
Siapa lagi wanita cantik ini. Drama apa lagi ini Tuan muda. Tuan hebat banget. Ceweknya cantik-cantik. Seandainya aku jadi Tuan muda. Pasti hidup aku Seprti di surga. Di kelilingi wanita-wanita cantik. Batin Idris.
"Idris...!" Tuan Arka berteriak.
"Iya Tuan siap."
Idris kemudian naik ketingkat atas untuk membantu Tuan mudanya.
"Tolong bantuin saya angkat Laura."
"Baik Tuan.
"Baik Tuan."
***
Laura masih terbaring lemah. Dia masih terlihat pingsan.
Sementara di luar Idris menyambut kedatangan Dewa.
"Selamat pagi Tuan." Sapa Idris.
Dewa tersenyum ." pagi.."
"Silahkan masuk Tuan."
"Baik."
Dewa kemudian masuk ke dalam.
"Jihan...!" Ucap Dewa saat melihat sosok wanita cantik di depannya.
Lagi-lagi Jihan berhambur dan memeluk Dewa.
"Dewa, aku kangen banget sama kamu."
Idris yang melihat hanya bisa berdecak.
Cih ternyata ganjen juga sih tuh cewek. Tuan Arka di peluk. Tuan Dewa juga. Siapa sih sebenarnya dia. Ada hubungan apa antara mereka bertiga.
__ADS_1
Dewa tidak melepaskan pelukannya. Dia tampak terkejut juga dengan kehadiran Jihan. Ternyata oh ternyata Dewa juga mantannya Jihan.
Yah, sebelum sama Arka, Jihan memang sudah pernah berpacaran sama Dewa. Mungkin karena Dewa itu sosok yang sangat serius dan tidak romantis, jadi Jihan lebih memilih Arka ketimbang Dewa. Mungkin itu adalah masa lalu yang sudah sangat lama.
"Jihan, tolong. Bisa nggak ngelepasin pelukannya." Ucap Dewa.
"Oh iya. Tentu. Maaf yah. Aku kangen sekali. Aku kangen kamu dan Arka. Kita sudah lama nggak bertemu yah." Kata Jihan.
Dewa tersenyum. Namun senyumnya itu bukan senyum Dewa yang dulu. Senyum yang selalu berharap cinta dari Jihan . Karena sekarang Dewa sudah tidak mencintai Jihan. Dia lebih mencintai Laura. Entah kenapa hati Arka dan Dewa selalu sama. Selama hidupnya mereka selalu mencintai wanita yang sama.
"Iya, aku harus ketemu dengan Laura."
"Laura ada di kamarnya. Dia sedang bersama Arka." Kata Jihan.
"Oke. Aku akan kesana untuk melihat kedatangan Laura."
Dewapun melangkah mendatangi kamar Laura.
"Arka. Apa yang terjadi?"Ucap Dewa.
Arka tersenyum.
"Tolong istri gue Wa. Dia tiba-tiba saja pingsan."
"Oke aku akan memeriksanya."
Dewapun kemudian memeriksa Laura.
"Gimana keadaan Laura?"
Dewa kemudian menarik tangan Arka. Dewa mendorong Arka dan memepetnya ke tembok.
" Lo apakan lagi Laura. Heh...! Kenapa Jihan bisa ada di sini!"
"Aku nggak ngapa-ngapain Laura. Dan Jihan aku juga nggak tahu. Aku juga kaget waktu Jihan ada di sini."
"Jangan macam-macam kamu Arka. Kemarin Tanti. Sekarang Jihan. Kamu mau buat Laura sakit hati? suami macam apa kamu!"
tes.
Sebulir air mata jatuh di pipi Laura.
Di tengah pingsannya, Laura seperti menangis. Mungkin saat ini hatinya sedang menagis. Menangisi ke adaan jika saja Arka mau menurut dengn Mamanya untuk menikah dengan Jihan. Entahlah akan jadi apa Laura.Baru melihat Arka dan Jihan berpelukan saja sudah pingsa.
"Arka..." Gumam Laura.
Arka dan Dewa menoleh. Mereka berdua langsung memburu ke arah Laura.
"Arka...Jangan tinggalin aku..." Gumam Laura lagi.
Arka duduk di sisi ranjang Laura.
"Sayang, kamu udah sadar?" kata Arka.
Laura menggumam tapi matanya masih terpejam.
"Arka. Aku harus pulang. Ini obat yang harus kamu tebus."Kata Dewa.sembari menyodorkan kertas pada Arka.
"Oke. Terima kasih."Kata Arka.
Setelah itu Dewapun pulang dan menunggalkan Arka.
***
yuk yang suka novel ala-ala indosiar.
"Ranjangku kini milik maduku."
__ADS_1
ini kisah si pelakor.
sudah mulai up yah. Tiap hari setelah Tuan Arka.