Istri Yang Di Jual.

Istri Yang Di Jual.
kecelakaan Arka.


__ADS_3

"Ayo, Kak tunggu apa lagi. Kaka jangan nangis terus. Kita kesana sekarang juga." Ucap Nia.


Tubuh Tanti seakan melemas. Dia hampir saja tidak bisa berjalan. Hatinya begitu sangat kalut mendengar berita itu.


Tiba-tiba saja Tanti teringat Herman.


"Nia. Hubungi Herman Nia. Kita kesana mau pakai apa? Apa kita mau jalan kaki. Kalau Herman kan ada mobil tugas."


"Iya. Aku akan telpon Kak Herman."


Di sisi lain Herman masih tertidur nyenyak. Tiba-tiba saja dia di kejutkan oleh deringan ponselnya.


Herman membuka matanya.


Nia calling.


Herman menggeser tombol hijau.


"Halo Kak Herman. Sekarang bersiaplah. Jemput kita di apartemen. Antarkan kita ke rumah sakit."


Hoaammm.. Herman menguap.


"Emang siapa yang sakit? emang nggak bisa di tunda besok." Ucap herman dengan malasnya.


"Kak Herman. Ini Aku serius. Kak Arka kecelakaan."


Herman terbelalak.


"Apa!"


"Iya. Ayo kamu kesini. Ini Kak Tantinya kasihan. Dia nangis terus sedari tadi."


"Baiklah aku akan segera kesana."


****


Di dalam mobil, Tanti masih menangis. Dia masih ingat akan kata-katanya tempo lalu. Dia pernah mengatakan kata-kata yang tidak enak pada Tuan Arka. Dan penyesalan di hatinya yangbterdalam saat mendengar kabar buruk ini.


Hiks..hiks..


"Tuan, maafkan Tanti... Hiks...hiks..." Ucap Tanti sembari masih menyenderkan kepalanya di bahu Nia.


Herman melihat dari sepion. Tanti sedang menangis dan bergumam sendiri.


Nona. Sepertinya kamu sekarang.sedang sedih banget. Apakah kamu sudah mulai mencintai Tuan Arka? batin Herman.


"Nia, aku udah jahat sama Tuan. Dia lelaki yang baik. Dia telah menyelamatkan aku dari madam Rania."


Hiks...hiks..


Di sepanjang perjalanan Tanti menangis. Dia seperti sedang berada di jurang titik terdalam dari kehancurannya. Baru kali ini dalam hidupnya Tanti merasa takut untuk kehilangan. Kehilangan sosok lelaki yang selalu membuat jantungnya berulah.


"Tuan...Nia... Tuan Nia. Aku takut..."


Nia ikut menangis.


"Sudah,kita doain saja yah. Semoga Kak Arka Jihan dan Idris baik-baik saja."

__ADS_1


****


Sesampai di rumah sakit. Herman Idris dan Tanti tampak berlarian. Mereka menuju ke ruang resepsionis.


"Mbak. Tadi ada pasien kecelakaan yah.?"


"Iya. Tuan Arka yah." terka mbak resepsionis yang memang sudah sangat mengenal bosnya itu. Yah maklumlah Tuan Arka itukan pemilik rumah sakit mewah itu.


"Iya. Dia sekarang ada di ruang operasi." Ujar Mbak resepsionis.


"Apa...!"Tanti terkejut.


"Iya. Tuan Arka terluka parah. Dan kondisinya sangat kritis." Ucap resepsionis lagi.


Tanti terkejut, pandangannya menggelap. Tiba-tiba saja dia pingsan.


Herman dengan sigapnya langsung menangkap tubuh Tanti. Dia kemudian menggendong Tanti. Dia membawa Tanti ke ruang pasien perawatan.


"Suster...Tolong...tolongin wanita ini." Ucap Herman.


Hermanpun kemudian membaringkan Tanti ke kamar rawat pasien.


"Nia. Kamu tunggui Tanti di sini. Aku akan melihat kondisi Tuan Arka di ruang operasi."


Herman langsung berhambur ke ruang operasi. Dia melihat Jihan dan Idri sedang berdua menunggu.


"Kalian nggak apa-apa?" Tanya Herman.


Jihan terlihat menangis.


"Apa.yang terjadi dengan Tuan Arka?"Tanya Herman.


Kepalanya masih terikat perban. Dia tampak masih kesakitan.


"Kami kecelakaan saat ada badai. Sebuah pohon besar menimpa mobil kami. Dan Tuan Arka..."


"Kenapa Idris! jangan setengah-setengah kalau cerita."


"Tuan Arka tertimpa pohon itu." Lanjut Idris.


"Astaga...! Tuan Arka." ucap Herman.


***


Beberapa saat kemudian, dokter Dewa keluar dari ruang operasi. Wajahnya terlihat lesu.


"Tuan Dewa, bagaimana keadaan Tuan Arka?" Tanya Herman.


"Alhamdulilah operasinya berjalan lancar. Tapi Arka masih belum sadarkan diri. Kondisinya masih sangat lemah."


Jihan menangis.


"Jihan, Mending sekarang kamu pulang saja. Kamu istirahat aja di rumah." Kata Dewa.


Jihan menggeleng.


"Aku nggak mau. Aku masih pengin temanin Arka. Aku nggak mau terjadi apa-apa sama Arka. Aku nggak mau kehilangan Arka."

__ADS_1


"Sudahlah Jihan. Jangan keras kepala. Sana kamu pulang. Pasti orang tuamu lagi cemasin kamu." Ucap Dewa sedikit mengeraskan suaranya. Karena dia tahu betul kalau Jihan itu orang yang keras kepala.


"Herman Idris, tolong salah satu dari kalian antarkan Jihan pulang."


"Baik Tuan. Saya yang akan antar dia. Biarkanlah Herman yang menjaga Tuan Arka." Ucap Idris kemudian.


"Baiklah. Kita akan tunggu besok. Kalau besok kondisi Arka sudah membaik, saya akan pindahkan Arka ke ruang perawatan. Kalau begitu, saya permisi dulu."


Dokter Dewa kemudian pergi meninggalkan Idris, Jihan, dan Herman.


***


Nia sedari tadi menunggu Tanti. Tanti masih terbaring lemah. Malam ini Tanti dan Arka sama-sama terbaring lemah.


Nia masih cemas dengan kondisi Tanti. Nia masih dengan isak tangisnya.


"Kak Tanti, bangun Kak. Ayo...Kak Tanti jangan ikutan lemah kayak Kak Arka. Kak Arka masih sangat membutuhkan Kak Tanti. Nia tahu, Kak Tanti itu, sudah menjadi belahan hati Kak Arka. Nia udah tahu Kak Arka sedari kecil Kak."


Herman masih berdiri mematung di belakang Nia. Dia masih mengkhawatirkan kondisi Tanti dan Arka.


Tanti, Apakah saat ini, kamu sudah mencintai Tuan muda, Jika begitu adanya, aku nggak akan pernah bisa berharap lebih dari mu. Aku harus melupakan perasaan ini. Batin Herman.


Bulir bening air mata jatuh dari pelupuk mata Tanti yang masih terpejam.


Sepertinya hatinya saat ini sedang menangis. yah, dia menangisi ucapan-ucapan yang menyakitkan untuk Arka.


Sekarang entahlah apa yang akan Tanti lakukan jika dia sampai tersadar dan melihat kondisi Arka yang masih koma.


Akankah dia akan menangis, atau dia akan meratap.


Nia menghapus air mata Tanti yang sudah cukup deras.


"Nia." Ucap Herman.


Nia menoleh.


"Iya Kak Herman."


"Bagaimana keadaan nona Tanti?"


"Dia belum sadarkan diri. Sedari tadi dia menangis. Tapi matanya masih terpejam."


Nia berdiri. Dia langsung memeluk Herman dan sesenggukan menagis di pelukan Herman. Menjadi Herman jadi bingung.


Namun Herman memang sosok penyayang wanita. Dia tidak tega juga melihat Nia menangis.


Herman melepas pelukannya. Dia kemudian mengusap air mata Nia dengan salah satu tangannya.


"Sudah. Jangan menangis. Aku nggak tega melihat kamu menangis. Alangkah baiknya, Kita tinggalkan Tanti dulu, Kita sholat malam sama-sama, kita doakan Nona dan Tuan suapaya mereka baik-baik saja."


Nia mengangguk. Herman kemudian mengajak Nia untuk pergi kemushola.


Di sana Nia dan Herman sholat bersama. Memanjatkan doa kepada Yang Maha Kuasa.


Herman menengadahkan tangannya,di ikuti Nia juga.


"Ya Allah, Aku mohon kepada Mu, ampunilah dosa-dosa kami, Ya Allah, Engkaulah Tuhan semesta alam, yang maha menghidupkan, tolonglah kami, Berikan kesembuhan untuk Tuan Arka dan nona Tanti. Berikanlah nona Tanti ketabahan saat dia sadar nanti. Supaya nona Tanti bisa menerima kalau Tuan Arka sekarang sedang koma. nyawanya lagi di ujung tanduk, antara hidup dan mati. Tolong berikanlah Tuan Arka kesembuhan." Ucap Herman.

__ADS_1


"Amin..." Ucap Nia.


__ADS_2