Istri Yang Di Jual.

Istri Yang Di Jual.
Di kerumuni wartawan.


__ADS_3

"Tanti, kita itu sekarang suami istri. Jadi,nggak salahkan kalau aku mencium mu."


"Tapi tidak di sini Arka."


"Ah, Tanti. Lagian juga mana ada orang di sini. "


"Arka. Sudahlah, sana! kamu berangkat saja!. Tuh Idris udah nungguin kamu."


"He...he...iya Tanti. Aku berangkat dulu yah Tanti."


"Iya Arka. Hati-hati yah?"


"Cium lagi dong...!"


Tanti mendorong tubuh Arka.


"Sana Arka. Ah, apaan sih kamu."


"He...he..lucu sekali kamu Tanti. Sangat menggemaskan." Ucap Arka.


Arka kemudian pergi meninggalkan Tanti. Dia kemudian menemui Idris.


"Idris...! Idris...!" Seru Arka.


Idris sudah berdiri di dekat mobilnya.


"Tuan. Sudah siap Tuan...Ayo kita berangkat!."


"Ayo Idris. Kita berangkat.!" Kata Arka.


Arka kemudian masuk ke dalam mobilnya.


Sekarang Arka bersiap untuk pergi ke kantor.


"Kita langsung ke kantor kan Tuan?" tanya Idris


"Iya. Sebaiknya kita ke kantor sekarang. Pagi-pagi gini kita akan mampir kemana?"


"Ya udah."


Idris kemudian melanjutkan menyetirnya. Dia kemudian mengemudikan mobilnya sampai ke kantor.


Dan di depan kantor, sudah banyak sekali wartawan berdatangan untuk mewawancarai Arka.


"Idris. Apa-apaan ini. Siapa yang ngundang para wartawan itu ke sini?"


"Mana saya tahu Tuan. Mereka ke sini karena mau kepoin Tuan. Makanya mereka ke sini."


"Apa! kepoin saya?"


"Iya. Masak Tuan nggak ngerti. Tuan kan pengantin baru."


"Oh, iya. Benar juga yah. Tapi aku malas menghadapi mereka Idris. Mereka banyak banget."


"Namanya pemburu berita ya banyaklah Tuan. Tuan ini gimana?"


"He...he...iya juga yah..."


Arka kemudian turun dari mobilnya. Dia mengenakan kaca mata hitamnya, dan tampak sekali tubuh sexinya itu jelas sekali terlihat sempurna. Dengan jas, dasi dan celana yang di pilihkan Tanti, sangat membuat Arka semakin cakep saja.


Arka memandang para wartawan itu.


"Itu..lihat...! itu Arka Wijaya. Ayo kita ke sana.!"


Para wartawan itu kemudian memburu Arka dengan penuh semangat.


"Pak Arka. Bagaimana Pak, menurut kabar yang saya dengar, apakah bapak sudah menikah lagi?"

__ADS_1


Arka diam. Dia bingung. Bukan bingung untuk mengatakan. Tapi karena bingung, pagi-pagi harus di kerumunin para wartawan yang berdesak-desakan seperti antri sembako.


Idris yang punya tubuh tinggi besar itu, kemudian mencoba untuk melindungi Tuan mudanya itu.


"Sabar yah teman-teman semuanya. Sabar. Satu-satu dong kalau mau nanya. Tuan Arkanya bingung, mau jawab yang mana."


Arka bingung sendiri. Biasanya setiap di kerumuni wartawan, dia selalu bersama Laura,dan Laura yang menjawab pertanyaan-pertanyaan wartawan itu. Tapi sekarang dia sendiri. Hanya bersama Idris.


"Maaf saudaraku semua. Saya tidak bisa jawab sekarang. Karena saya pagi ini lagi ada meeting penting. Tolong yah, nanti saja. Saya lagi sibuk.


"Yah, Tuan Arka. Kami cuma mau nanya apa Tuan sudah menikah lagi?"


Arka tak memperdulikan lagi wartawan itu. Setelah itu Arkapun pergi meninggalkan kerumunan wartawan-wartawan itu.


"Udah yah. Dengar sendiri kan tadi. Bos saya lagi sibuk. Kenapa nggak nanya saya saja sih."Kata Idris.


"Nanya apa emang?" tanya wartawan cewek.


"Nanya saya. Kalau saya sudah punya pacar belum gitu."


" Huu....! dasar...!"


Kata wartawan itu sembari bubar dari tempat itu.


"Ha...ha...sukurin lu. Pagi-pagi bukannya sarapan. Malah mau nyari gosip. Tapi, nggak apa-apa juga sih. Mereka juga kerja. Sama-sama nyari duit. Di fikir-fikir, kalau saya jadi wartawan juga gitu. He...he..." kata Idris.


Setelah wartawan itu pergi, Idris pun ikutan pergi. Dia pergi menuju ke kantornya Arka. Walaupun Idris cuma sopir, tapi dia sengat setia menunggu sampai bosnya pulang. karena Arka suka tiba-tiba pergi mendadak.


...****************...


Di rumah, Tanti masih sibuk dengan ke dua anaknya. Walaupun di rumah banyak pembantu, tapi mereka sudah pada sibuk dengan kerjaannya masing-masing.


Sekarang Tanti sedang mengajak Zoya dan Aurel bermain.


" Mbak Tanti..." Ucap Indah.


"Indah. Ayo sini duduk!"


"Iya mbak." Kata Indah. Indah kemudian duduk di samping Tanti.


"Mbak. Aku kangen banget sama Mbak Tanti" Kata Indah.


"Mbak juga kangen sama kamu."


"Mbak hebat yah. Sekarang sudah jadi orang kaya. Aku nggak nyangka kalau mbak bisa menjadi istri nya Tuan Arka Wijaya."


"Mbak juga nggak nyangka kok Dek. Itu semua karena Bang Arifin. Dia yang telah mempertemukan Mbak dan Arka Wijaya."


"Oh. Gitu."


"Awalnya gimana sih Kak ceritanya? aku jadi pengen tahu seperti apa sih kisah kalian berdua?"


"Udahlah itu sudah menjadi masa lalu Mbak Dek."


Indah mengangguk.


" Iya deh."


...****************...


Di kantor Arka tampak serius. Dia masih mengutak-atik laptopnya. Sepertinya dia sudah lama tidak bekerja. Semenjak dia berada di Bali bersama istri dan anak-anaknya, Arka jadi bingung lagi dengan semua tugas nya.


"Ah, nggak ada Mbak Dona gini semua pekerjaan numpuk begini. Apa aku harus cari sekertaris lagi yah?" Kata Arka.


Tok tok tok...


Suara ketukan pintu dari luar ruangan Arka.

__ADS_1


"Masuk...!"


Orang yang ternyata adalah cleaning servis nya itu kemudian masuk ke dalam ruangan Arka.


"Pagi Tuan?!" Sapa Pak Rudi


Arka tersenyum lebar.


"Pagi... juga Pak Rudi?!"


"Pak Arka mau minum apa? Biar saya ambilkan."


"Apa aja. Kopi boleh deh."


"Baiklah Pak kalau begitu. Aku akan buatkan buat Bapak."


"Iya makasih."


Setelah Pak Rudi itu pergi dari ruangan Arka, dia kemudian kembali ke dapur untuk, membuatkan kopi untuk Arka.


Arka masih serius mengetik. Mungkin dia itu sedang terlalu banyak kerjaan.


Beberapa lama kemudian, Pak Budiman datang. Yah, pak Budiman adalah bagian personalia.


"Pak Arka. Bagaimana Pak?."


"Bagaimana apa?" tanya Arka.


"Katanya Bapak mau membuka lowongan sekertaris."


"Em, iya sih. Aku membutuhkan seorang sekertaris. Tapi boleh jugalah, Pak Budi boleh ikalankan lowongan bagian sekertaris di perusahaan kita."


"Baiklah Pak. Kalau begitu, saya permisi dulu yah."


Pak Budiman kemudian pergi meninggalkan ruangan Arka.


Arka menghela nafasnya dalam.


Tok tok tok...


Suara orang mengetuk pintu dari luar ruangan kantornya.


" Masuk...!" Kata Arka.


Orang itu kemudian masuk.


" Hai sob...apa kabar?" Kata seorang lelaki sepantaran dengan Arka.


Arka terkejut. Arka langsung berdiri dari duduknya.


"Remon. Lo kok bisa ada di sini? bukankah kamu ada di luar negeri."


Remon kemudian memeluk Arka dengan sekilas.


"Ayo sob duduk dulu."


Remon kemudian duduk berhadapan dengan Arka.


" Ah, Sob. Gue kangen banget sama lo tahu nggak."


"Sama bro. Gue juga kangen. Kangen Indonesia lebih tepatnya."


" Oh, gitu yah."


"Hemm.."


Remon dan Arka saling tersenyum. Menunjukan gigi putihnya.

__ADS_1


__ADS_2