
Malam ini, di luar rumah, udara terasa begitu sejuk. Indahnya bintang-bintang yang gemerlapan, di tambah dengan bulan yang masih berbentuk sabit, membuat kedamaian tersendiri untuk keluarga Wijaya.
Di ruang makan yang besar, sudah tampak ada empat orang manusia, yang masih terlihat bersantap di ruang makan itu.
Papa Arka dan Mama Arka, sedang makan malam bersama dengan anak dan menantunya itu.
"Laura, Arka, bagaimana dengan kalian. Apakah Laura sudah berhasil hamil Arka?" tanya Mama Arka sembari menyuap sesendok makanan ke dalam mulutnya.
"Belum Ma, "jawab Arka singkat di tengah kunyahannya.
"Kenapa Arka, padahal Papa kepengin sekali punya cucu sekarang." kata Papa Arka.
"Iya Arka. Mama juga sudah sangat menanti kehadiran seorang cucu. Sudah lama Mama dan Papa ini kepengin menimang seorang bayi." Kata Mama Arka menimpali.
Laura tersenyum kecut.
Lagi-lagi soal cucu yang di bahas. Apa nggak ada topik lain apa.
"Iya Ma, Pa, kalian tenang saja, aku pasti akan cepat punya anak. Dan kalian akan mendapatkan seorang cucu." kata Arka.
Mata Laura berkaca-kaca. Sepertinya dia ingin menangis.
Hati Laura begitu sakit. Jika orang tua Arka menanyakan perihal anak. Laura juga tidak ingin di takdirkan menjadi wanita yang mandul. Dia juga ingin menjadi wanita yang sempurna untuk Arka, seperti cintanya yang sempurna pada Arka.
Laura juga menginginkan seorang anak yang terlahir dari rahimnya sendiri.
Bukan anak adopsi, ataupun anak yang terlahir dari benih cinta Arka dan wanita lain.
Dan di manakah perasaan Arka. Kenapa Arka begitu tega untuk memutuskan berpoligami demi mendapatkan seorang keturunan.
Apakah untuk mempunyai anak, harus dengan cara berpoligami. Bukan kah mengadopsi anak itu lebih baik untuk kehidupan rumah tangga mereka. Kenapa harus ada poligami.
Hati Laura begitu berkecamuk. Berbagai macam fikiran kini sedang menderanya.
Perih rasanya untuk menatap kedepan. Bagaimana sampai nanti Arka menyentuh wanita lain, memeluk dan mencium wanita lain.
setetes bening air mata itu jatuh dari pelupuk mata indah Laura. Laura langsung menyekanya. Bagaimana pun juga, dia harus kuat untuk menghadapi semua keputusan Arka.
Namun, bukankah ini untuk sementara. Arka hanya akan bertahan dengan wanita kampungan itu, hanya selama wanita itu hamil sampai punya anak. Dan selebihnya, sampai tuapun Arka dan Laura akan hidup bersama dengan anak itu selamanya.
"Arka, cepat-cepatlah punya anak. Bila perlu lima Arka, Kamu harus memberi lima cucu untuk Mama." kata Mama Arka penuh harap.
uhuh...uhuk...
__ADS_1
Arka tersedak minumannya sendiri. Bagaimana mungkin sang Mama menginginkan lima orang cucu. Sementara satu saja belum mungkin terjadi.
Lima? apakah mungkin , aku harus mengontrak istri Arfin itu sebanyak lima kali? Lima kali melahirkan, dan lima kali hamil? Dan Laura, akan berbohong terus dong sama Mama. Dia harus pura-pura hamil juga harus lima kali? Ah...Lima? Arka membatin.
"Kamu kenapa Arka, pelan-pelan dong minumnya." kata Papa Arka.
Laura beranjak dari tempat duduknya.
"Aku permisi dulu Ma, pa, Aku mau ke kamar." kata Laura kemudian.
"Iya sayang." kata Mama Arka.
sayang? yah, sekarang dia masih memanggil sayang pada Laura. Tapi entah jika dia tahu Laura mandul, dan jika Mama dan Papa Arka tahu, jika Arka membohonginya, entah apa yang akan kedua orang suami istri itu lakukan pada anak dan menantunya.
****
Di kamar yang terlihat luas itu, Laura berbaring di tempat tidurnya dan menangis.
"Ini sama sekali nggak adil buat aku. Kenapa, aku harus jadi perempuan mandul." kata Laura di sela-sela isakannya.
Arka yang sudah tampak berdiri di samping ranjang istrinya itu, tersenyum. Seperti tidak merasa bersalah dengan keputusannya. Bagi Arka, keputusan apapun yang dia buat adalah benar.
Dia ingin membahagiakan kedua orang tuanya. Yaitu dengan memberikan kedua orang tuanya cucu.
Dia tidak pernah melihat di sisi lain. Dia hanya melihat di sisi Mamanya. Arka harus bisa membahagiakan Mamanya, tanpa dia tahu kalau ada dua wanita juga yang sedang tersakiti.
"Sayang..." Arka mendekat. Dia duduk di sis Laura.
Laura menyeka wajah cantiknya yang sudah basah di penuhi air mata.
Arka membelai mesra pipi Laura.
"Sayang, Mama dan Papa udah pulang." Kata Arka menuturkan.
"Sudahlah jangan menangis lagi sayang. Maafkan kata-kata Mama yah, kalau dia sudah menyakiti perasaan mu. Mama juga tidak tahu dengan kondisi mu sayang," Kata Arka. lagi.
Laura berusaha tersenyum walau hatinya sakit.
"Nggak apa-apa Arka. Aku ngerti kok."
Arka memeluk istrinya penuh cinta. Arka sangat mencintai Laura. Bagaimana pun juga, Laura sudah sangat lama mengisi hati Arka. Dan belum ada wanita lain yang dapat merebut hati Arka dari Laura.
"Aku mencintaimu sayang. Ayo, sekarang kita tidurlah. Ini udah malam sayang."
__ADS_1
Arka pun naik keranjangnya. Dia menyelimuti dirinya sendiri juga istriya.
Dan sekarang mereka pada posisi duduk.
Arka mendekap Laura. Dan Laurapun menyenderkan kepalanya pada dada bidang suaminya itu. Dan begitulah mereka setiap bercakap-cakap di tempat tidur.
Kehangatan dan keromantisan menyelimuti mereka berdua. Namun entahlah ke depannya, jika tubuh Arka harus di bagi pada Tanti. Akankah keharmonisan rumah tangga Arka, akan sama seperti sekarang. Yang pasti saat ini, Laura sangat menikmati kehangatan tubuh Arka.
Di sela-sela keromantisan mereka, tiba-tiba saja Herman menelponnya Arka.
"Sial, lagi-lagi Herman. Kenapa sih dia selalu ganggu momen aku." gerutu Arka pelan.
"Siapa sayang?"tanya Laura bingung.
"Herman sayang." Jawab Arka.
Wajah laura berubah muram. Tampak sekali dia cemburu. Hatinya seperti sudah tercabik-cabik.
"Ada apa lagi dia nelpon. Ini pasti masalah Tanti kan." cibir Laura.
Arka menghela nafasnya dalam.
"Ya udah angkat aja. Aku nggak marah kok. Kenapa sih Herman selalu nelpon dalam waktu yang nggak tepat. Kalau kita lagi bercinta gini, dia selalu aja ganggu." Gerutu Laura.
"Mungkin, ini masalah penting sayang. Mungkin terjadi apa-apa lagi pada Tanti."
"Lihatlah sekarang kamu Arka. Kamu itu selalu memperdulikan Tanti. Kamu lebih mementingkan perempuan kampung itu, dari pada aku Arka." Laura begitu sangat marah.
Hatinya sangat dongkol. Belum apa-apa saja Arka sudah sangat mementingkan Tanti. Bagaimana jika Arka benar-benar menikah dengan Tanti? apakah Laura akan menjadi perempuan yang tercampakan juga.
Tercampakan oleh Arka, yang membuangnya dan tidak pernah menganggapnya, gara-gara dia mandul.
Lagi-lagi Laura menangis. Dia seperti sudah tidak kuat menahan luka di hatinya. Ini belum seberapa. Bagaimana kalau Arka sudah menjamah Tanti? Akan kan perasaan Arka dan kasih sayang Arka pada Laura akan berubah.
***
Ah, Maaf readers ku tercinta.
Karena kesibukan Author, author cuma bisa up satu dua bab saja setiap hari.
penginnya sih sampai lima bab.
Tapi nggak apa2 yang penting menghibur.
__ADS_1
Maaf juga kalo suka salah ketik. maklumin yah, masih baru