
Arka menggeleng.
"Kenapa menangis?" tanya Arka sembari masih membelai lembut pipi Tanti.
Tanti diam. wajahnya menunduk.
"Tuan, aku sedih. Kenapa Tuan tidak mengenaliku lagi. Hiks...hiks..."
Arka tersenyum. Dia kemudian mencopot alat bantu pernafasannya.
"Tuan, kenapa di lepas?"
"Aku nggak butuh ini semua."
"Tapi kenapa Tuan."
"Aku cuma butuh senyumanmu Tanti. Tersenyumlah dan jangan kamu menangis lagi di depan ku."
"Maksud Tuan apa? bukankah tadi Tuan itu, nggak mengenaliku."
"Iya. Aku nggak mengenali istri Arifin. Tapi aku mengenali Cut Tanti Mutia calon istri ku dunia akhirat. " Kata Tuan Arka.
Tanti malah semakin menangis. Membuat Arka tambah bingung. Arka mencoba beringsut duduk.
"Tuan, jangan memaksakan diri untuk duduk."
"Ah, nggak apa-apa Tanti. Aku udah kuat. Ini semua berkat doa kamu sayang."
Lagi-lagi Tanti menangis. Entah apa yang sedang dia tangisi. Tuan Arka tak tahu.
"Astaga sayang, kenapa kamu menangis terus. Apa yang sedang kamu fikirkan. Kamu nggak suka kalau Tuan mu ini tersadar dan akan menikahimu."
Tanti mengusap wajahnya yang penuh air mata.
"Tuan. Betapa hancurnya hati ini,melihat Tuan seperti ini. Aku nggak mau kehilangan Tuan."
Arka meraih wajah Tanti. Dia kemudian menghadapkan wajah Tanti ke wajahnya.
"Tanti, tataplah mataku. Benarkah semua yang telah kamu ucapkan Tanti."
Tanti menatap lekat Tuan Arka. Dia menegak salivanya sendiri. Betapa tampannya Tuan Arka. Tuan Arka yang selama ini Tanti benci, namun Tuan Arka yang selama ini Tanti rindukan.
Refleks Tanti langsung memeluk Tuan Arka sangat begitu lamanya. Mereka saling berpelukan. Betapa bahagianya hati Tanti saat ini, saat Tuan Arka tersadar dari koma dan sekarang Tanti telah merasakan kehangatan pelukan seorang Arka.
Bruaaak...
Kantong plastik Nia terjatuh. Lagi-lagi Nia melihat adegan mesra pasangan kekasih itu sedang berpelukan. Sekaligus tidak menyangka, kalau Tuan Arka tersadar dan sekarang dia sedang berpelukan dengan Tanti calon istrinya.
Tanti dan Arka menoleh.
Sial, lagi-lagi Nia. Batin Arka.
Padahal malam ini, Arka ingin mencium Tanti juga. Tapi sialnya malah Nia selalu datang tidak tepat waktu.
"Kak Arka..." Ucap Nia sembari mendekat ke arah Arka.
"Aku nggak sedang bermimpikan, Kaka Arka udah sadar? dan sekarang Kakak udah bisa duduk?"
Arka tersenyum.
__ADS_1
"Iya Nia. Aku nggak apa-apa."
"Alhamdulillah."Ucap Nia penuh syukur.
"Nia, kenapa kamu ada di sini?"Tanya Arka.
"Iya Kak. Nia di sini ikut jagain kakak. Soalnya Kak Laura kasihan, Dia butuh istirahat."
"Oh. Iya. Laura kesini."
"Iya. Semua kesini. Dan..."
Ucapan Nia berhenti.
"Dan apa Nia?" tanya Arka bingung.
"Nyonya Alicia. Dia terkena serangan jantung. Sekarang kondisinya sangat memprihatinkan."
"Apa!" Arka tampak terkejut.
"Sekarang dia ada di mana?"
"Dia sekarang lagi di rawat juga."
****
Chelsea bolak-balik kesana kemari penuh kecemasan.
"Sialan. Siapa perempuan itu? Berani-beraninya, dia merusak rencanaku." Geram Chelsea.
"Arifin. Yah, aku akan menelponnya."
"Halo Arifin."
"Halo bos ada apa bos?"
"Aku lagi penasaran sama perempuan tadi malam yang mau memergokiku membunuh Arka. Kamu cari tahu siapa perempuan kampung itu. Apakah dia berhubungan juga dengan Arka. Karena aku tidak pernah melihatnya sebelumnya."
"Iya Bos. Nanti aku akan mencari tahu."
tut.
Chelsea memutuskan sambungan teleponnya. Setelah itu dia membanting ponselnya ke kasur. Dia kemudian merebahkan dirinya keranjang.
Sementara di sisi lain. Arifin tampak berfikir.
"Perempuan, perempuan yang mana? Apa jangan-jangan itu Tanti. Kalau iya, bos besar nggak boleh tahu keberadaan Tanti dan dia nggak boleh tahu siapa Tanti dan dia juga tidak boleh tahu kalau Tanti mempunyai hubungan khusus dengan Tuan Arka. Keselamatan Tanti bisa terancam." Ucap Arifin.
****
Dani Herman dan Idris tampak ngos-ngosan. Dia sedari tadi lari-lari memutari rumah sakit namun tak ada hasil.
"Gimana ini, Kita kehilangan jejak."Ucap Dani.
"Iya. Benar. Duh kali ini kita benar-benar kecolongan."
"Maka dari itu, kita harus memperketat penjagaan."
"Baiklah kita kembali dulu ke UGD."
__ADS_1
Herman Idris dan Dani kembali ke UGD.
Dan mereka terkejut, saat mereka melihat Tuan mudanya tampak sudah seperti orang sehat saja. Tuan Arka sudah tampak bisa duduk bersandar.
Yah sebenarnya mungkin masih sakit. Namun dia memaksakan diri untuk pura-pura tegar saja di depan Tanti. Padahal tubuhnya masih lemah. Tuan Arka tidak ingin membuat Tanti selalu menangis.
"Mana mungkin Tuan bisa duduk seperti itu. Ini mustahil. Padahal besok, dia akan di bawa ke luar negeri bersama Tuan Bram." Ucap Dani tak percaya.
"Iya. Aku nggak percaya untuk semua ini. Ini benar-benar mukjizat."Ucap Idris.
Herman tersenyum.
Aku tahu Tanti. Allah telah mendengarkan doa orang yang teraniaya seperti mu. Kamu pasti yang telah mendoakan Tuan Arka. Dan Allah telah mengabulkannya. Mudah-mudahan saja setelah ini, kamu dan Tuan Arka bisa segera menikah. Batin Herman.
Herman, Idris dan Dani masuk bersamaan. Mereka menunduk memberi hormat.
"Dari mana kalian?." tanya Tuan Arka.
Mereka saling menatap.
"Ada apa? Kalian kaget melihat saya sudah bisa duduk?"
Idris tersenyum.
"Iya Tuan. Ini memang keajaiban." Kata Idris.
Herman Idris dan Dani terdiam. Mereka tampak berfikir. Mungkinkah alangkah baiknya, Tuan Arka tidak tahu dulu kalau sebenarnya tadi ada orang yang datang dan mau membunuhnya.
***
Jam 5 pagi. Tanti masih tampak mengenakan mukena dan dia masih dengan posisi berdzikir. Tanti kemudian mengambil mushaf Al Quran nya.
Arka hanya bisa terkagum, kagum dan merasa takjub.
" Sayang..." Ucap Tuan Arka.
"Iya Tuan, Tuan butuh apa?"
"Bisakah kamu memerdukan suara mu sayang."
"Maaf Tuan, aku nggak bisa mengaji di depan Tuan. Aku malu Tuan. Suaraku jelek."
"Tanti, bagiku kamu itu berlian Tanti. Aku tidak pernah melihat kekuranganmu. Tapi aku selalu melihat kelebihanmu."
Tanti menatap Arka lekat. Dia kemudian mendekat. Tanti duduk di sisi ranjang Tuan Arka.
jantung Tanti masih berdebar-debar. Namun dia paksakan diri untuk duduk di samping Arka.
"Tanti, apakah kamu tahu Tanti, kalau aku sudah terpikat sejak pertama kali melihatmu. Kamu berbeda dari wanita lainnya." Ucap Tuan Arka.
Tuan Arka meraih tangan Tanti dan mencium punggung tangan Tanti.
"Kamu cantik sekali Tanti. Kamu itu seperti cahaya untuk hatiku yang gelap ini. Aku menginginkanmu agar kamu bisa membimbingku kembali untuk menuju ke jalan yang benar. Ajarkanlah aku sholat dan mengaji sayang."
Tanti merasa terharu mendengar ucapan Tuan Arka.
"Tanti, sekali lagi aku bertanya. Apakah kamu mau menikah dengan ku?
Tanti tak menjawab. Dia malah menangis sangat kencang.
__ADS_1
Ish, kenapa dia malah menangis. Apa dia nggak suka dengan ku,apa dia akan menolak ku lagi?