
Tok tok tok...
Arka dan Tanti tersentak. Mereka mengembalikan posisinya seperti semula.
"Ah, siapa lagi itu yang datang." Gerutu Arka.
Arka kemudian beranjak dari duduknya. Dia melangkah ke arah ruang tamu.
Ceklek.
Arka membuka pintu apartemen. Dan dilihatnya Jihan.
Arka membasuh wajahnya kasar.Dia tampak sangat gugup. Kenapa tiba-tiba saja Jihan tahu apartemennya.
"Arka..." Ucap Jihan sembari mendekatkan wajahnya ke arah Arka. Namun Arka langsung menepisnya.
"Kamu kenapa sih Arka?"
"Kenapa kamu kemari? "
"Lah,emang kenapa, nggak boleh?
"Kamu tahu alamat apartemenku dari siapa?"
"Dari mama kamu lah sayang."
"Ah,apaan sih . Nggak usah panggil-panggil sayang.!"
"Tapi Arka, aku sebentar lagi mau jadi istri kamu."
Nia yang mendengar Tuan Arka berbicara dengan Jihan itupun langsung menyeret Tanti.
"Kak, sini kak. Kita ngumpet."
" Ada apa sih Nia?" tanya Tanti.
Nia mengajak Tanti ke kamar. Dan menutup pintunya.
"Gawat Kak. Itu, ada Kak Jihan. Kita harus sembunyi."
" Jihan? siapa Jihan?"
"Udah. Nanti aku ceritakan. Tapi kuta ngumpet dan jangan sampai ketahuan.
***
Malam ini, Tiada bintang di langit. Bulan pun tertutup gumpalan awan yang menghitam. Langit malam ini begitu tampak suram.
Laura di atas kursi rodanya menangis.
Sendiri. Yah, memang hampa. Arka sampai selarut ini dia belum pulang. Ponselnya pun mati. Akankah Arka tidak akan pulang malam ini. Tapi Laura tidak tahu di mana keberadaan Arka. Sejak dari tadi pagi, dia ke kantor namun sampai jam sepuluh malam dia belum juga pulang.
Hiks...hiks..
"Arka, di mana kamu Arka. Kenapa sampai selarut ini, kamu belum pulang juga . Di mana kamu Arka? Seharusnya di saat-saat sepert ini,kamu ada di sampingku."
Bik Inah yang melihat Laura menangis langsung menghampiri Laura.
"Nona kenapa nangis?" Tanya bik Inah.
Laura memeluk Bik Inah. Dia menagis sesengguka di pelukan bik Inah.
Hati wanita mana yang tak akan terluka, Jika dia sudah merasa menjadi istri yang terabaikan. Hati Laura begitu sangat sakit. Padahal Arka belum membagi cinta dan tubuhnya untuk wanita lain.
Namun Laura sudah sesakit ini, apakah mungkin dia akan sanggup seandainya menerima Jihan sebagai madunya?
atau dia akan sanggup jika Arka telah benar-benar menyentuh Tanti orang kampungan itu.
Laura memandang keluar. Hujanpun mulai turun.
"Kenapa Arka tidak mengabari ku. Kenapa Bik Inah.?"
"Mungkin Tuan muda lagi sibuk. Dan dia menginap lagi di apartemennya."
__ADS_1
Tirai kamar Laura bergerak-gerak. Sepertinya di luar sedang ada badai.
Angin itu menyibak-nyibak rambut panjang Laura. Karena sedari tadi, Laura masih membuka jendela kamarnya.
"Non. Bibik tutup dulu yah jendelanya.
Laura mengangguk.
Bik Inah kemudian menutup jendela dan tirai itu.
Bruak...
Foto yang tergantung di dinding itupun pecah. Itu foto pengantin dia dan suaminya.
Hati Laura begitu bergetar. Dalam hati bertanya-tanya.
Kenapa perasaan ku jadi nggak enak gini yah. Ada apa dengan Arka.
Jantung Laura begitu berdegup kencang. Di luar ada badai, foto pengantinnya pecah dan Arkapun belum pulang dan ngabarin Laura.
Bik Inah segera membereskan pecahan kaca tersebut.
"Auh..." Pekik Bik Inah.
"Kenapa Bik?" tanya Laura.
"Bibik kena pecahan kaca Non. perasaan bibik juga sangat tidak enak. Bibik takut terjadi apa-apa pada Tuan Arka."
"Sama Bik. Aku juga. Aku merasakan seperti akan terjadi sesuatu yang besar. Mudah-mudahan Arka ku baik-baik saja."
***
Di kamarnya, Tanti masih tampak termenung. Hujan badai yang mengguyur bumi saat ini begitu sangat menakutkan.
"Nia, aku jadi khawatir sama Tuan. Tuan pasti belum sampai ke rumahnya."Ucap Tanti.
"Coba Nia kamu telepon Tuan. Sudah sampai mana dia sekarang."
"Udah yah, Kak Tanti tenang aja. Kak Arka nggak kenapa-napa kok." Kata Nia mencoba menghibur.
Dia sangat tahu dengan apa yang sedang Tanti rasakan. Sejak Jihan datang, Tanti tidak keluar kamar. Dia tidak di bolehin keluar kamar oleh Nia.
Dan tanpa pamitan pada Tanti, Arka pulang bareng dengan Jihan.
"Ah, Nia. Aku takut..."
Nia merangkul bahu Tanti. Dia kemudian membawa Tanti ke tempat tidur.
"Sekarang Kak Tanti tidur yah. Nggak boleh mikirin macam-macam."
***
Jam 12 malam. Bik Inah tergopoh-gopoh menghampiri Laura dengan linangan air mata.
Dia mengetuk kamar Laura.
"Oh iya. Non Laura kan tidak bisa jalan. Ah, mending aku langsung masuk aja lah."
Laura masih tertidur pulas.
"Non, bangun Non. Ini ada kabar buruk non."
Laura mengerjapakan matanya.
"Ah, ada apa sih Bik Inah. Aku kan baru terlelap."
"Tuan Nona....Tuan..."
"Iya. Tuan kenapa? "
"Tuan, Jihan dan Idris mengalami kecelakaan nona."
"Apa...! Arka kecelakaan?"
__ADS_1
Laura panik.
"Bik. Telpon Mama dan Papa."
"Mereka nggak bisa di hubungi Non."
"Terus kita harus gimana Bik?"
"Telpon Herman."
"Semua udah Bibik hubungi. Tapi nggak ada yang ngangkat. hiks...hiks..." Bibik menangis.
Laura pun ikut menangis. Hatinya seperti baru saja tersengat aliran listrik. Hujan tangispun mengguyur pipinya. Bik Inah dan Non Laura berpelukan dan menangis.
Di luar hujan belum juga reda. Semua pengawal tidak bisa di hubungi. Orang tua Tuan Arkapun sama. Mereka tidak bisa di hubungi.
"Ah, Aku telpon Nia." Kata Bik Inah.
Bik Inah kemudian mencari nomer anaknya dan langsung menghubungi Nia.
Kring.. kring...
Nada dering ponsel Nia.
Nia masih tertidur lelap. Tanti yang masih terjaga, langsung mengangkat ponsel Nia.
"Halo..."
"Nia, Nia, gawat Nia. Gawat...Ada kabar buruk Nia. Tuan Arka Nia. Dia mengalami kecelakaan. Dan sekarang mereka ada di rumah sakit."
Tes.
Air mata Tanti menetes.
Tanti melepaskan ponsel dari tanganya.
"Halo Nia...Halo... kamu dengarin ibu nggak...?Kenapa diam aja...?"
"Arka...."Tanti menjerit sekencang-kencangnya.Membuat Nia terbangun karena kaget.
"Ada apa Kak?"
"Tuan Arka...Nia...Tuan Arka...hiks...hiks..."
Bibir Tanti bergetar. Dia seakan kelu untuk mengatakannya.
"Kak Arka kenapa?" tanya Nia memandangi wajah Tanti.
Tanti tidak bisa berkata apa-apa. Dia cuma bisa menangis.
ponsel Nia tampak masih bersuara.
"Halo Nia... halo... halo..."
Nia langsung mengangkat telponnya.
"Ada apa Bu? ada apa?kenapa ibu kelihatanya panik banget."
"Tuan Arka kecelakaan."
Nia terkejut. Dia benar-benar tidak percaya dengan semua itu.
Nia menangis.
"Sayang, tolong yah. Kamu kerumah sakit dulu. Pengawal belum ada yang bisa di hubungi." kata Bik Inah.
"Iya. Aku akan kesana."
Tut.
Nia memutuskan sambungan telponnya.
"Aku harus pergi Nia. Aku harus temui Tuan. Aku nggak mau terjadi apa-apa sama dia."
__ADS_1
"Iya. Aku akan temanin Kak Tanti yah."
Tanti memeluk Nia. Isak tangispun terdengar di kamar apartemen.