
Tanti pov.
Suara rintikan-rintikan gerimis di malam ini, membuatku terbayang wajah anak ku, Aurel tersenyum pada ku, menatapku, dan aku masih membayangkan saat tawa renyah Aurel memecah, celotehannya membuat sayup-sayup indah di telingaku.
Suara tangis Aurel menjadi bunga rinduku, suara celoteh Aurel memang penyejuk jiwaku.
"Di mana kamu Nak? Mama kangen. Coba lihat payudara Mama bengkak begini. Pasti kamu sudah sangat kelaparan Nak, pasti kamu haus." Gumamku.
Aku tidak pernah bisa membayangkan. Bagaimana dengan kehidupan Aurelku di luar sana. Dia pasti membutuhkan ASI dari ku.
Kenapa harus ada di dunia ini dua lelaki biadab. Mereka tidak pernah mau mengerti dengan perasaanku juga perasaan bayiku.
Mereka tidak pernah memikirkan, Bagaimana jika mereka ada di posisi Aurel. Jauh dari ibunya. Aurelku pasti membutuhkanku. Membutuhkan belaian dan dekapanku.
Aku masih setia dengan tangisanku, aku memeluk lututku, mencoba untuk menenangkan diriku. Aku selalu berfikir keras untuk bisa kabur dari neraka ini.
"Bagaimana caranya aku kabur dari sini? Herman sangat menjagaku ketat." Ucapku di sela-sela tangisku.
Aku kepengin bebas dengan Aurel ku. Jika Aurel aku temukan, Akupun akan mengajaknya ke kampung ku.
***
Aku beranjak dari duduk ku, aku melangkah ke arah jendela apartemen.
Seandainya aku sekarang berada di lantai dua atau lantai dasar, mungkin aku bisa kabur dari jendela.
Namun disini adalah lantai lima belas. Bagaimana mungkin aku akan terjun sampai ke bawah.
Aku melihat ke luar jendela. Tampak lampu mobil dan lampu jalan berkerlap-kerlip.
Gerimis malam ini masih menyisakan luka di hatiku. Luka atas perlakuan Arifin dan Arka yang begitu kejam.
Mereka tak pantas di sebut manusia.
Mungkin sekarang mereka lebih pantas di sebut iblis.
Mereka dengan teganya membelengguku dan anak ku dalam cengkeramannya.
Hiks...hiks...hiks...
Aku menangis. Ratapanku tak kunjung pudar. Rasa rinduku yang mendalam kepada Putri kecilku begitu sangat menyakitkan.
"Aurel...Di mana kamu sekarang Nak?!"
Kataku yang masih setia menatap hujan di jalanan.
__ADS_1
"Aku nggak boleh lemah. Aku harus bisa kabur dari sini. Aku nggak boleh menyerah dengan keadaan. Aurel membutuhkan ku. Aku harus menemukannya."
Aku menutup gorden kamarku. Aku melangkahkan kaki ku keluar.
Di luar kamarku, aku melihat Herman dan Dani tertidur pulas. Mereka adalah anak buah Arka yang selama ini menjagaku.
Akupun mengendap-endap keluar dari kamarku. Sebelum aku keluar, aku sudah menutupi bantal gulingku dengan selimut. Supaya dua pengawal itu, mengira kalau bantal guling itu adalah aku.
Dua bola mataku menelusuri setiap sudut ruangan. Aku mencari kunci apartemen yang biasa Herman pegang.
Akupun tak menemukan apapun.
Sesaat kemudian, bola mataku tertuju pada saku celana Herman.
Akupun dengan hati-hati mendekat. Dengan perlahan aku meraih kunci itu,
dan akhirnya akupun telah mendapatkan kunci itu.
Aku melangkah kearah luar. Dan tak sengaja aku senggol sebuah guci kecil.
Bruaaaak...
Guci itupun terjatuh. Aku langsung mengumpat di samping bupet.
Mudah-mudahan mereka tidak bangun dan melihatku. Batinku.
Herman yang masih pulas hanya bisa menggumam tak karuan. Sepertinya Herman sudah sangat lelah. Tuan Arka telah memberikannya pekerjaan yang melelahkan.
"miau miau..."
Akupun menirukan suara kucing. Aku harap Dani akan percaya dan tertidur lagi.
"Ah, Mungkin suara kucing." Ucap Dani.
Hoaam. Dani menguap dan tertidur lagi.
Akupun mengelus dada.
"Alhamdulilah, syukurlah. Aku akan kabur dari sini." Gumam ku.
Aku dengan hati-hati keluar dari apartemen. Dengan perlahan ku buka kunci pintu apartemen.
Dan betapa bahagianya aku, sekarang aku bisa bebas.
Secepat kilat akupun meninggalkan apartemen.
__ADS_1
Di luar hujanpun sangat deras. Aku menatap ke atas langit.
"Aku mau kemana?" gumamku.
Aku bingung. Harus kemana aku pergi. Di kota ini, aku tak punya siapa-siapa lagi kecuali Arifin, mertuaku, dan keluarga besar Arifin.
Karena setelah aku dan Arifin menikah, Arifin memboyongku ke Jakarta tempat Arifin dan orang tuanya tinggal.
Dan dua tahun aku bersama Arifin. Dan mempunyai buah hati yang aku beri nama Aurelia Anisa. Itulah nama bayiku.
Aku memang seorang gadis kampung. Aku menikah dengan Arifin karena perjodohan. Orang tuaku dan orang tua Arifin adalah sahabat dekat.
Dulu orang tua Arifin adalah tetangga ibu dan bapak ku di kampung. Namun mereka pergi ke Jakarta untuk mengadu nasib di sana.
Dan kata ibu dan bapak, aku pernah dekat dengan Arifin sewaktu kita masih kecil.
Arifin beda lima tahun dari ku. Kata ibu dan Bapak, Arifin sudah menyayangiku dari kecil. Dia sudah seperti kakak untuk ku. Sehingga ada keinginan kedua orang tua kami untuk menjodohkan kami.
Akhirnya aku dan Arifinpun menyetujui perjodohan ini. Walau tampak canggung karena setelah sekian lama, kami di pertemukan lagi. Namun aku mencoba menjadi istri yang terbaik untuknya.
Dua tahun aku belajar untuk mencintainya. Dan aku pun sudah seperti menjadi istri yang sempurna. Karena tak lama menikah, aku sudah bisa memberikan Arifin seorang Putri.
Putri kecil yang mirip sekali dengan wajah Arifin. Putri kecil yang selalu membuat ku rindu dan ingin selalu mendekap dan menciumnya di setiap saat.
Namun betapa sakitnya hatiku, saat aku tahu Arifin telah menukarku dengan uang satu milyar. Dan dengan teganya dia mencampakan aku, membuangku hingga aku terjatuh pada cengkeraman Tuan muda Arka.
"Aku harus pergi. Biarkanlah Allah yang akan menuntunku kemana aku pergi. Dia lah Tuhan semesta alam yang menjadikan ku hidup, dan akan mematikan aku pula." Kataku yang masih berdiri mematung.
Akupun akhirnya pergi meninggalkan apartemen terkutuk itu. Entah kemana aku akan melangkah, yang penting aku harus bisa lepas dari cengkeraman Tuan Arka, manusia keji itu. Sekarang aku akan mencari Aurel.
Akupun melangkah pergi. Aku menyusuri jalanan yang penuh dengan genanangan air. Aku melangkah menemani derasnya hujan di malam ini.
Aku tak perduli dengan hamparan petir yang menyambar. Aku tak perduli dengan hiruk pikuk di malam ini. Tak perduli juga dengan tubuh ini. Bagiku mencari Aurel adalah hal yang terpenting untuk ku.
Biarkanlah sementara aku menjadi gembel. Karena aku sama sekali tidak memegang uang. Aku pergi dari apartemen Arka tanpa membawa apapun. Akupun pergi, karena aku akan kabur dari mereka. Maka dari itu, aku tidak membawa apapun dari apartemen Arka.
Aku berlari menyusuri jalanan. Tak perduli betapa dinginnya tubuhku. Tak perduli dengan tamparan air hujan yang mengenai wajahku, dan aku terjang badai angin beliung itu.
"Aku harus kuat. Aku tidak mau bertemu Tuan keji itu lagi. Aku benci dia. Sangat membencinya. Melebihi aku membenci Arifin." kata ku di sela-sela lariku.
Aku berlari sekuat tenaga ku. Dalam hati aku merasa takut. Takut kalau Dani dan Herman mengejarku dari belakang.
Dan saat aku berlari, tiba-tiba aku tersandung ranting kayu. Ranting kayu itu, ternyata baru jatuh dari pohonnya, karena tadi ada sedikit badai beliung yang menyebabkan ranting itu terjatuh.
*****
__ADS_1
Lho kok hujan mulu thor?
Di cerita inikan musim penghujan.☺☺☺