
Oke aku ganti judul. Kalian boleh membaca cerita ku yang lain yang ceritanya tidak serumit ini.
Iya Pa, Ma, Zoya senang punya orang tua seperti kalian. Kalian adalah orang tuanya Zoya sekarang. Nggak ada yang bisa menggantikan.
Arka dan Tanti tersenyum dan langsung memeluk Zoya.
...****************...
Sinar mentari begitu sangat menyengat. Walau panas, tapi di pesisir pantai siang ini begitu ramai. Turis-turis asing pun sudah nampak berkeliaaran di tepian pantai.
Arka Tanti dan kedua anaknya sudah sampai ke pantai itu.Pantai yang begitu indah, dengan debur ombak yang menggulung dari tengah laut hingga sampai ke daratan.
Tampak Zoya sedang berlari-lari kecil dengan menggandeng Aurel. Sementara Arka dan Tanti masih memandang takjub indahnya pantai Bali.
"Sayang, apa kamu baru pernah ke pantai?" tanya Arka.
"Udah. Tapi bukan di bali."
"Sama siapa?"
"Em, sendiri."
"Bohong. Ngapain ke pantai sendiri. Pasti sama pacarnya kan."
Tanti menatap Arka horor. Kenapa Arka sekarang justru mau mengingatkan Tanti pada masa lalunya.
"Apa maksud kamu?"
"Yah, Tanti. Mana mungkin kamu nggak punya masa lalu. Pasti kamu udah pernah merasakan yang namanya jatuh cinta kan di waktu muda?"
"Kalau iya emang kenapa? kamu cemburu? itukan sudah masa lalu. Ngapain mesti di bahas lagi."
Tanti sedikit kesal. Dia memandang kelaut lepas.
"Kalau iya aku cemburu memang kenapa."
"Untuk apa cemburu Arka? itukan cuma masa lalu."
"Em, berapa mantan kamu Tanti."
"Hei Arka. Kamu itu apa-apaan sih..!Kamu ngapain nanya-nanya soal mantan ku. Kalau aku jelasin satu persatu pun kamu nggak akan mengenal mereka."
Arka mengernyikan alisnya.
"What? satu persatu?kamu punya banyak mantan Tanti? aku aja cuma punya dua mantan. Jihan sama Laura. Jadi kamu playgirl Tanti?"
Tanti kesal. Dia emosi.
"Arka. Kamu ngajakin aku kesini mau ngajakin berantem yah. Kenapa kesini malah ngajakin aku ribut. Bukannya ngajakin senang-senang. Malah bahas masa lalu."
"Tanti, jangan marah dong. Aku kan cuma nanya. Orang iseng aja kok. Kenapa jadi sewot gitu..."
"Ya jelas aku sewot. Ngapain kamu bahas mantan aku. Nggak ada untungnya banget. Lagian itu masa lalu. Setiap orang itu punya masa lalu."
__ADS_1
"Aku nggak mau aja Tanti. Kalau bertemu sama orang kayak Hans. Kamu nggak ada apa-apa kan sama Hans dulu."
"Arka. Kenapa kamu bahas masalah Hans. Hans itu cuma terobsesi aja sama aku. Aku juga nggak pernah cinta sama dia."
"Tapi Hans itu cakep sayang. Sebelas dua belas sama aku."
"Iya aku tahu. Tapi aku nggak ska karena istrinya banyak."
"Kalau yang istrinya banyak itu aku, kamu nggak akan nolak kan aku nikahi."
Tanti menatap tajam Arka.
Ah, perbincangan yang nggak bermutu. Gerutu Tanti dalam hati.
"Buktinya dulu kamu mau jadi istri ke dua ku. Tanpa keterpaksaan kan?"
Tanti diam. Dia sudah muak sekali dengan Arka. Tanti menatap ke laut lepas. Ternyata ke dua anaknya telah menghilang entah kemana. Tanti dan Arka larut dalam perbincangan sepele dan tidak menyadari kalau anaknya semakin menjauh dari tempatnya berdiri.
Tanti dan Arka masih menatap ke laut lepas. Tiba-tiba saja Tanti teringat anaknya.
"Arka."
"Hemm"
"Bukan kah kita kesini tadi bawa dua anak yah?"
"Iya memang. Kita kan bukan remaja lagi sayang. Aku duda kamu janda. Ya pasti kita ke pantai bawa anak lah."
Arka dan Tanti saling menatap.
"Anak kita hilang...!!!" seru Arka dan Tanti.
Tanti menangis.
"Arka. Aurel Arka. Aurel dan Zoya kemana."
Arka memegang bahu Tanti dan mensejajarkan tubuhnya dengan Tanti.
"Sabar sayang. Kita cari sama-sama yah. Mereka pasti ada di sekitar sini."
"Iya Arka. Kita harus berpencar. Aku nggak mau terjadi apa-apa sama anak-anak kita."
Arka dan Tanti kemudian berpencar mencari Aurel dan Zoya.
Sementara di sisi lain, Zoya bertemu dengan Om-om ganteng yang mengjak Zoya dan Aurel pergi.
"Hai anak manis? kalian mau kemana? " tanya Om ganteng itu.
Zoya dan Aurel saling menatap.
"Om ciapa?" tanya Aurel.
"Iya Om siapa? Om mau nyulik kita yah?" tanya Zoya.
__ADS_1
"Ha...ha... tidak anak anak manis. Om cuma mau belikan kalian es krim. Apa kalian mau?"
Zoya menatap Om ganteng itu. Ada perasaan takut yang menghinggap di kepala Zoya.
"Jangan mau Aurel. Kita kan udah di bilangin ama papa nggak boleh dekat-dekat sama orang asing." Bisik Zoya.
Aurel bingung mau berkata apa. Dia juga pengin ice cream.
"Ayo Aurel, kita pergi dari sini...!" Ucap Zoya.
"Gimana cantik kamu mau kan?" tanya Om ganteng itu pada Aurel dan Zoya.
"Aku nggak mau Om...!"
"Jangan takut Om bukan penculik." Kata Om ganteng itu.
Tiba-tiba saja om ganteng itu menggendong Aurel.
Zoya mencekal pakaian orang ganteng itu.
"Om. Turunin adik ku." Kata Zoya.
"Nggak bisa. Adikmu harus ikut saya. Dia pasti anaknya Arka Wijaya dan kamu juga. Arka Wijaya itu kan orang kaya. Saya mau bawa salah satu dari kalian.Supaya saya bisa mendapatkan uang dari Arka Wijaya." Kata lelaki itu.
Lelaki itu kemudian menghempaskan tubuh Zoya samapai Zoya terjatuh ke tanah. Zoya kemudian menangis, saat Aurel di bawa kabur oleh orang itu.
"Aurel...jangan tinggalkan kakak Aurel...Hiks...hiks..." Zoya menangis. Dia tidak bisa meminta pertolongan karena kebetulan di tempat Zoya dan Aurel adalah tempat sepi.
Sementara Tanti melangkah menelusuri tepian pantai, di mencoba mencari Aurel.
Namun Aurel dan Zoya tidak kelihatan juga. Tantipun kemudian memamerkan foto Zoya dan Aurel pada orang-orang. Dia berharap ada orang yang melihat Zoya dan Aurel pergi.
"Maaf Mbak, apa mbak lihat anak ini?" tanya Tanti pada seorang wanita yang sedang berdiri sembari menyodorkan foto Zoya dan Aurel anaknya.
"Maaf Mbak saya tidak melihat." Kata Mbak itu.
Tanti kemudian mendekat ke arah kakek tua.
"Kek, maaf boleh nanya nggak? Apa kekek melihat anak kecil yang jalan kesini?ciri-cirinya, rambutnya yang satu anak usia enam tahun rambutnya panjang tubuhnya agak sedikit kurus, dia cantik. Dam yang satu lagi anak dua tahun rambutnya panjang tapi dia bertubuh tambun." Kata Tanti menjelaskan panjang lebar tentang ciri-ciri Zoya dan Aurel pada kakek itu.
Kakek itu tampak berfikir. Sepertinya kakek itu juga tidak melihatnya.
"Kayaknya untuk ciri-ciri yang anda sebutkan itu, saya tidak melihatnya." Kata sang kakek.
"Ini Kek foto mereka."
Kakek itu menggeleng tandan tak melihat.
"Ya udah kalau nggak melihat. Terumakasih yah Kek." Ucapa Tanti.
"Iya." Kata kakek itu.
Tanti kemudian melangkah lagi ke depan untuk menanyai orang-orang yang ada di pantai itu.
__ADS_1