Istri Yang Di Jual.

Istri Yang Di Jual.
kepergok Kak Sofi.


__ADS_3

Kak Sofi langsung nyamperin Laura dan Mike.


Ehem.. Kak Sofi berdehem.


Laura dan Mike terkejut.


"Kak Sofi." Ucap Laura.


"Oh, jadi begini yah kelakuan kamu di belakng Arka. Kamu selingkuh dengan bule ini?"


Laura berdiri.


"Kak, aku nggak selingkuh kok. Benar deh." Laura mengelak. Memang selama ini dia cuma dekat saja dengan Mike. Tapi Laura masih setia dengan Arka.


Kak Sofi geleng-geleng kepala.


"Hai Kak, udahlah, jangan ribut di sini,mendingan kita pergi dari sini yuk." Ajak Dewa.


"Nggak bisa. Laura itu sudah berkhianat dengan Arka."


"Cukup Kak Sofi. Bukan Laura yang behianat. Tapi Arka. Dia yang selama ini sudah terus-terusan nyakitin Laura Kak."Ucap Laura emosi.


Akhirnya emosi Laura meluap. Dia sungguh-sungguh sangat jengkel. Laura tidak perduli lagi dengan tempat umum. Dia lupa jika masih banyak wartawan yang ngeliput.


"Kak Sofi. Dewa bilang stop!" Ucap Dewa.


Dewa kemudian membawa paksa Kak Sofi pergi. Dewa tidak ingin terlalu banyak keributan di tempat umum itu. Dewa takut kejadian tadi akan di liput wartawan.


Dewa dan Kak Sofi sekarang sudah ada di parkiran mobil.


"Kak. Kakak apa-apaan sih. Kenapa Kakak itu, tadi ngelabrak Laura seperti itu. Aku nggak suka yah." Ucap Dewa


"Dewa,Arka juga adik aku. Bagaimana kalau dia melihat Laura dengan cowok lain. Dia pasti bakalan marah."


"iya Kak. Tapi Dewa takut kalau kejadian tadi akan menjadi sorotan wartawan. Dan akan bisa jadi berita besar." Ucap Dewa.


Kak Sofi tampak berfikir.


"Ya udahlah ayo kita pulang."Ucap Kak Sofi.


Kak Sofi dan Dewa akhirnya pulang.


Sementara di sisi lain Laura masih sangat kesal.


Kenapa sih semua orang itu selalu menyalahkanku. Di mana coba letak kesalahanku.


"Laura. ya udah yuk kita pulang aja. Nggak enak kalau kita di sini terus."Ucap Mike.


Laura dan Mike akhirnya pulang.

__ADS_1


***


"Gimana Ndre, kondisi Putri?"Tanya Arka.


"Kondisi Putri nggak apa-apa. Dia baik-baik saja."Ucap Andre.


"Entah lah Arka. Aku tidak tahu. Mudah-mudahan operasi dia nanti akan berjalan dengan lancar."


"Kasihan Zoya, Papanya sudah meninggal. Dan sekarang Putri juga lagi mempertaruhkan nyawanya. Bagaimana kalau Putri tidak bisa di selamatkan."Ucap Arka.


"Berdoalah Arka. Berdoa semoga Putri bisa bertahan lebih lama lagi."Ucap Andre sembari menepuk bahu Arka.


Arka dan Andre kemudian keluar dari kamar Putri. Mereka kemudian duduk di ruang tengah. Arka mengmbil remot dan menyalakan televisi.


Dan Arka dan Andre terkejut. Di tivi berita kedekatan Laura dengan Mike telah menyebar.


Arka mengepalkan tangannya geram.


"Laura....Beraninya kau bermain api di belakangku." Suara Arka menggelegar hingga membuat Putri terkejut. Zoya memeluk Mamanya.


Zoya menangis di pelukan Mamanya.


"Ma, Om Arka kenapa? kenapa dia berteriak keras sekali aku takut. Apa dia marah sama kita?"


"Nggak sayang, dia nggak lagi marah sama kita. Dia lagi marah sama istrinya."


Arka sangat marah sekali. Tanpa aba-aba dia pergi meninggalkan Andre.


"Lepasin Ndre. Gue harus bertemu Laura. Gue mau kasih pelajaran pada wanita itu. Dia telah selingkuh di belakang gue."


"Arka. Sudah cukup Arka. Itu cuma isu saja. Nggak usah di masukin hati. Laura nggak mungkin menghianatimu."


Arka tak menghiraukan lagi ucapan Andre secepat kilat dia pergi untuk menemui Laura. Sekarang Andre hanya bertiga. Andre Putri dan Zoya.


"Arka...arka..keras kepala lo emang nggak ilang-ilang yah? kenapa ke dua adik gue bisa tergila-gila sama cowok model dia. Cowok yang bagus tampangnya doang. Harusnya kan dia tetap di sini. Kasihan Zoya mamanya lagi sakit. Eh Arka malah kabur." Ucap Andre.


Andre kemudian melangkah ke arah Putri. Dia duduk di samping Putri.


"Gimana keadaan kamu hem,?" Tanya Andre.


"Kepalaku terasa sangat sakit." ucap Putri


"Iya. Kanker itu memang penyakit yang berat. Tapi aku yakin kamu pasti bisa melewatinya. Buktinya Mamanya Arka. Dia bisa sembuh dari kanker rahim."


Putri tersenyum sembari memeluk anaknya yang masih menangis karena takut dengan suara Arka.


"Ndre, makasih yah, kamu dan Arka selama aku sakit sudah mau membantuku merawat Zoya."


Ndre, seandainya kamu tahu, Kalau dari dulu, aku itu cinta sama kamu Ndre.Dan sampai saat ini, aku belum bisa untuk menepis rasa itu. Kamu itu,lelaki yang baik. Lelaki yang tegas dalam mengambil keputusan dan sangat berwibawa. Tapi siapalah aku. Aku cuma wanita miskin dan kampungan. Batin Putri

__ADS_1


Andre tersenyum pada Zoya.


"Kamu kenapa Zoya?" Tanya Andre.


"Aku takut sama Om ganteng. Om ganteng serem kalau lagi marah."


"Nggak usah takut cantik. Om ada sesuatu buat kamu."


Andre kemudian mengambil coklat dari saku bajunya. Dia memberikan Zoya sebuah coklat.


Yah, sebenarnya coklat itu mau di berikan pada Tanti. Karena berhubung Zoya nangis, Andre kasihan melihatnya akhirnya Andre memberikan coklat itu pada Zoya.


Zoya menyeka air matanya. Dia tersenyum senang.


"Makasih yah Om. Cokelatnya. Aku suka Om."


"Iya. Di makan yah sayang."


"Om, coba aja aku punya papa kayak Om. Udah baik, perhatian, dan nggak galak."


"Ha...ha...kamu boleh kok nganggap om sebagai papa kamu." Kata Andre.


"Asyik...Berarti Zoya punya dua Papa. Papa Arka dan Papa Andre."


"Maafin Zoya yah Andre. Zoya memang gitu. Dia sama Arka juga gitu. Maklum lah dia rindu akan sosok ayah."


"Iya Putri. Makanya kamu harus kuat yah demi Zoya. Biar kamu sembuh dulu, kalau kamu sembuh kan kamu bisa cari lelaki untuk di jadikan ayahnya Zoya."


"Aku belum memikirkan soal itu Ndre."


****


Arka benar-benar emosi. Dia menyetir mobil seperti orang kesetanan.


"Sial. Laura, kau berani berkhianat Laura."Geram Arka.


Chiiiiit....


Arka mengerem mobilnya kuat-kuat saat dia mau menabrak seorang peremouan yang melintas di depannya.


"Astaga, aku menabraknya." Ucap Arka.


Arka kemudian turun untuk melihat siapa perempuan yang dia tabrak.


Arka terpesona saat melihat gadis itu, yah Arka tidak pernah mengenalnya. Namun entahlah Arka tampak sedikit kagum pada gadis itu.


"Nona, maaf yah...Aku nggak sengaja. Kamu tidak apa-apa kan?" Tanya Arka.


Gadis itu menggeleng. Gadis itu tampak masih bocah. Sepertinya dia masih seumuran dengan Nia. Bahkan mungkin lebih tua dari Nia.

__ADS_1


"Nggak apa-apa Kak. Maaf yah, aku kalau nyebrang nggak hati-hati."


"Nggak apa-apa. Harusnya Kakak yang minta maaf. Kakak ngebut-ngebut tadi bawa mobilnya. Oya kamu mau kemana? biar aku antar pulang yah."


__ADS_2