
Tuan Arka masih menatap tubuh Tanti. Dia jadi begitu resah dan panik sendiri. Apalagi Tanti selalu mengiggau menyebut nama anaknya.
"Gimana ini Herman, apa yang akan kita lakukan?" Tuan Arka tampak frustasi.
Tanti terlihat meneteskan air matanya di sela-sela tidurnya.
"Tuan, Ini pasti karena Aurel. Gimana kalau kita pertemukan saja dia dengan Aurel." Herman mengusulkan.
"Nggak bisa gitu dong Herman! Pokoknya dia tidak boleh ketemu dengan anaknya. Kalau ada Aurel, dia pasti akan selalu mencari alasan untuk tidak menikah dengan ku. Dan bisa gagal semua rencanaku."
"Bagimana ini Herman, bagaimana caranya kita menyembuhkan dia?"
"Mana aku tahu Tuan, emang aku dokter." ketus Herman.
Herman bingung dengan bosnya itu. Sejak sampai di apartmen, kerjaanya selalu marah-marah nggak jelas. Dia cuma bisa memperhatikan Tanti tanpa melakukan apa pun. Dia cuma bisa panik sendiri. Membuat Herman ikutan bingung.
"Ah, Badan lu doang yang gede. Tapi otak lu di dengkul." Geram Tuan Arka.
Ah, nggak usah ngata-ngatain aku kayak gitu juga Tuan. Otakmu juga sama, ada di dengkul. Orang sakit gini malah di diamin aja. di kompres kek, telpon dokter kek. Malah mondar-mandir sendiri nggak jelas. batin Herman.
"Herman, cepat lakukan sesuatu ! aku nggak mau terjadi apa-apa sama dia."
Ah Ternyata kamu jeniusnya cuma di bidang bisnis aja Tuan. Kamu ini nggak bisa ngurus perempuan. batin Herman lagi.
"Herman, Jangan diam aja! ayo lakukan sesuatu!" Tuan Arka berteriak.
"Aku harus melakukan apa Tuan? Kenapa Tuan nggak ngompres dia aja atau panggil dokter."
"Kenapa nggak ngomong dari tadi?"
Bagai mana aku bisa ngomong Tuan. Anda juga tidak pernah beri kesempatan aku ngomong. anda saja dari tadi marah-marah nggak jelas gitu.
"Sekarang kau ambil kan kompresnya ayo cepat!"
Herman pun dengan sigap mengambil handuk dan air untuk mengompres Tanti.
"Sekarang kau telpon dokter!"
"Dokter mana yang harus aku telpon Tuan? "
"Shiiiiit ah, pengin aku gampar ! Panggilin Dewa sepupuku!"
"Baik Tuan, aku akan telpon Tuan Dewa."
Tuan Arka langsung mengompres calon istrinya.
"Aurel...Aurel..." igau Tanti lagi.
Maaf kan aku Tanti. Aku harus memisahkan kamu dengan bayimu. Tapi ini terpaksa aku lakuin, agar kamu mau jadi istriku dan memberikan ku seorang anak.
Arka menempelkan sebuah handuk kecil di kening calon istrinya.
__ADS_1
Arka tersenyum. Sekelebat bayangan muncul dalam fikirannya.
Dia menggendong seorang anak kecil bersama Laura. Dia mengajak anaknya ke rumah orang tuanya. Dan betapa bangganya Mama dan Papa Arka menyambut kehadiran sosok cucu dalam hidup mereka.
"Seandainya, kamu bisa memberikan aku seorang anak, pasti aku dan Laura akan sangat bahagia. Dan akan aku lepaskan kamu kembali. Kamu bisa kembali ke suami mu dan aku akan kembalikan Aurek lepangkuanmu. Aku akan memberikan kesejahteraan keluarga kecilmu Tanti." Gumam Tuan Arka penuh harap.
Dia berharap agar Tanti bisa secepatnya punya anak. Dia akan memberikan Mamanya kebahagiaan. Bagaimanapun juga Arka sangat mengasihi sosok seorang ibu. Dia jauh lebih menyayangi ibunya dari pada istrinya. Karena Arka tahu surga itu ada do telapak kaki ibu.
Tak lama kemudian, Dokter Dewa datang. Dewa itu adalah sepupu Arka. Dia juga hampir mirip dengan Arka. Wajahnya sangat sedap di pandang mata. Dan sama sexinya kayak Tuan Arka. Banyak wanita yang mengagguminya. Dia masih lajang, juga masih jomblo.
"Siapa yang sakit Herman?" tanya Dewa sembari melangkah masuk.
Herman hanya diam.
"Tuan Dewa bisa lihat sendiri di kamar." kata Herman.
Ceklek...
Pintu kamar terbuka.
"Arka ngapian kamu panggil aku malam-malam gini? Apakah Laura sakit?" tanya Dewa.
Arka bangkit dari duduknya.
"Bukan Laura Dewa, tapi Tanti." jawab Arka.
"Tanti?" Dewa bingung sekaligus terkejut.
"Arka, coba jelasin ama gue. Siapa cewek ini? Apakah dia seorang wanita yang kamu tolong dan kamu temukan di tengah jalan?"
Arka terdiam. Dia tidak tahu apa yang akan di katakannya pada sepupunya itu. Dia bingung mau mengatakan apa.
"Arka, Apa dia wanita yang mau lo jodohin untuk gue?"
Plak.
Arka menabok bahu Dewa.
"Enak aja lo!. Dia calon istri gue."
Dewa kaget setengah mati.
Bagaimana mungkin seorang Arka, orang yang sudah di anggap seluruh dunia adalah pembisnis muda yang hebat dan berprestasi, yang mempunyai rumah tangga yang harmonis, menyatakan akan memperistri wanita kampung seperti Tanti.
Bagaimana mungkin seorang Arka yang setia, bisa berubah menjadi Arka yang durjana? Dewa nggak habis fikir. Apa yang sebenarnya ada di otak Arka.
"Bercanda aja lo, Ini nggak mungkin Arka. Gue nggak percaya ama lo. Lo pasti lagi ngeprank kan?"
"Gue serius Wa."
Dewa menatap Herman. Herman hanya mengangguk.
__ADS_1
"Udah Dewa, jangan bawel. Ayo cepat priksa dia. Gue takut terjadi apa-apa sama dia."
"Baiklah, tapi setelah ini, lo hutang penjelasan ama gue."
"Ya, nanti gue jelasin. Tapi lo periksa dulu wanita ini."
Setelah memeriksa Tanti, Dewapun kemudian duduk di sofa.
"Besok lo ke apotik. Gue udah tulis resepnya." kata Dewa sembari menyodorkan sebuah kertas pada Arka.
"Oke. Baiklah." Arka meraih kertas itu dan membacanya sekilas.
"Sekarang lo jelasin semuanya ke gue."
"Oke."
Arkapun kemudian menjelaskan semuanya dari A-z
"Dan gue juga butuh bantuan lo Wa." kata Arka lagi.
Dewa sangat geram pada Arka. Ingin sekali rasanya dia menghabisi Arka malam ini juga.
"Bagaimana dengan Laura?" tanya Dewa menahan kemarahannya.
"Dia udah tahu kok Wa."
"Terus Lo kenal di mana wanita itu?"
"Dia wanitanya Arifin."
"Apa! Arifin orang yang udah donorin ginjal buat lo?" Dewa marah besar.
"Iya."
"Kenapa bisa. Gila lo...benar-benar gila."
Dewa berdiri dari duduknya. Dia mencengkeram kerah baju Arka. Tangannya pun sudah mengepal kuat. Sebentar lagi tinjuan Dewa akan mendarat di wajah Arka. Namun Dewa masih bisa mengendalikan emosinya.
Dewa benar-benar tidak terima karena Arka sudah menyakiti dua orang wanita sekaligus.
Apalagi setelah Arka menceritakan kalau dia dan Arifin sudah mengadakan perjanjian menukar uang satu milyar dengan Tanti. Dan arka akan menikahi Tanti, dan akan menceraikannya setelah Tanti berhasil memberikannya anak.
Arka melepaskan cengkeramnanya saat telinganya mendengar rintihan Tanti.
"Aurel...anak ku..."
Tanti terbangun dari tidurnya. Dia mengerjapkan matanya.
Betapa terkejutnya dia kalau sekarang dia sedang di hadapkan dengan sosok cakep satu lagi. Yah, Tuan Dewa sepupu Arka.
Tanti melihat pemandangan yang tak pernah dia lihat sebelumnya. Dia melihat ada tiga lelaki cakep Herman, Tuan Arka, dan Dewa. Dan ketiga pria itu tampak sedang memandang Tanti. Membuat Tanti tambah bingung.
__ADS_1
Oh Tuhan, sebenarnya ada di mana aku ini. Kenapa sekarang aku seperti berada di alam mimpi. lihatlah, ketiga orang tampan itu dalam satu ruangan dengan ku, dan sedang memperhatikan aku. Mereka beda sekali dengan Bang Arifin.