Istri Yang Di Jual.

Istri Yang Di Jual.
Istikharah Tanti.


__ADS_3

Seandainya kamu tahu siapa sebenarnya Zoya itu,apakah kamu akan menerimanya nanti Arka. Kasihan Zoya. Dia sudah menginginkan sekali untuk bertemu Papanya. Tapi untuk saat ini aku belum siap untuk mengatakannya.


Arka kemudian bangun dari duduknya. Setelah itu dia menatap Putri.


"Putri, kamu nangis.? Kamu kenapa? Kamu seperti sedang menyimpan beban berat."


Putri menyeka air matanya.


"Aku nggak apa-apa Arka."


Arka meraih tangan Putri. Dia juga menghapus air mata Putri.


"Katakanlah Putri, jika kamu sedang ada masalah. Siapa tahu aku bisa bantu. Aku juga mau minta maaf untuk kekhilafan ku waktu itu."


Putri tersenyum walau hatinya menangis. Betapa beratnya beban hidup yang telah menimpanya. Ibu Putri meninggal saat Zoya masih di dalam kandungan umur 9 bulan. Dan Putri harus menjadi perawan beranak satu yang selalu orang tindas. Dan sekarang dia juga mengidap penyakit yang berat.


Arka memeluk Putri erat. Entah apa arti dari pelukan seorang Arka.


"Menangislah jika kamu ingin menangis Putri. Aku sudah berdosa padamu. Aku telah khilaf waktu itu. Tak seharusnya aku merenggut keperawananmu."


Putri menangis sesenggukan di pelukan Arka.


"Arka..."Putri memeluk Arka dengan sangat erat.


Yah, dia tidak perlu mencari Arka. Arka sudah ada di depannya. Hanya dia belum berani saja untuk mengatakan kalau Zoya adalah anak dari Arka.


Arka melepas pelukannya.


"Tidurlah Putri, sudah malam. Temani anak kamu tidur."


"Iya Arka."


"Aku ada di kamar sebelah. Kalau kamu perlu apa-apa tinggal panggil aku aja ya."


Arka kemudian meninggalkan kamar Putri.


Putri menangis di dalam kamarnya. Dia kemudian berbaring di sisi anaknya.


"Sayang ku Zoya. Kamu sudah bertemu dengan Papamu Nak. Dan tadi kamu di gendong oleh Papa." Ucap Putri sembari mengecup kening Zoya.


Zoya dan Putri kemudian terlelap. Malam ini, mereka tidur di apartemen Arka.


***


Jam setengah dua malam. Tanti terbangun dari tidurnya. Dia melangkahkan kakinya untuk kamar mandi.


Dia kemudian melakukan sholat istikharah.


"Ya Allah ya rabb,Ampunilah semua dosa-dosa Tanti. Tolong tunjukanlah kepada Tanti. Jodoh yang terbaik untuk Tanti. Jika Tuan Arka adalah jodoh Tanti, maka permudahkanlah untuk kami bersatu, namun seandainya bukan, maka jauhkanlah Tuan Arka dengan Tanti. Ya Allah pertemukanlah anak Tanti Aurelia dengan Tanti."Ucap Tanti di sela-sela tangisnya.


Begitu derasanya air mata membanjiri pipinya. Dia terisak di dalam kepedihan. Kepedihan saat mendengar penuturan Arka, kalau Arka akan menikahi Jihan.

__ADS_1


"Tuan...Kenapa aku yang harus menjadi korban. Kenapa kamu buat aku jatuh cinta kalau pada akhirnya kamu akan menyakitiku begini." Ucap Tanti lirih.


Nia yang masih tertidur di ranjang. Mengerjapakn matanya saat mendengar tangisan Tanti.


Nia kemudian turun dan ingin menghibur.


"Kak Tanti kenapa? Kenapa nangis?"Tanya Nia yang sama sekali belum tahu tentang Arka.


"Aku nggak apa-apa Nia." Bohong Tanti.


"Seharusnya Kakak bahagia. Kan kak Arka sudah melamar Kak Tanti. Dan Kak Tanti sudah berdansa semalaman bersama Kak Arka."


Tanti langsung memeluk Nia erat.


Betapa sakitnya hati ku Nia, mendengar Tuan Arka akan menikahi Jihan. Apakah kamu tidak tahu, tentang perasaan ku Arka.


"Kak, ayo katakan Kakak kenapa? Aku akan selalu ada di pihak Kak Tanti."


Akhirnya Tanti pun mengatakan pada Nia.


"Kak Arka akan menikahi Jihan Nia. "


"Apa!" Nia terkejut.


Nia juga tampak kecewa. Padahal dia yang selama ini mendukung hubungan Arka dan Tanti. Namun kenapa malah jadi seperti ini. Semakin rumit.


"Sabar yah Kak. Kalau soal ini, Nia nggak bisa bantu. Kak Arka itu sangat menyayangi Nyonya Alicia ibunya."


****


Pagi ini, Arka sudah siap berangkat ke kantor. Dia melihat Putri dan Zoya masih tertidur. Lagi-lagi mata Arka menuju ke arah Zoya. Dia tersenyum.


Kenapa yah, saat aku menatap anak itu, aku jadi merasa bahagia. Aku jadi merasa nyaman. Semua bebanku seperti berkurang. Batin Arka.


Arka menyibak gorden kamar Putri. Membuat Putri dan Zoya terbangun.


"Selamat pagi...?"Ucap Arka sembari tersenyum.


"Ih, Om ganteng masih ada di sini?" Ucap Zoya.


"Iya dong cantik. Sekarang kan kamu ada di apartemennya Om."


"Oya?" Ucap Zoya bahagia.


Putri tersenyum melihat Arka begitu perhatian pada Zoya.


Arka langsung menggendong Zoya. Arka kemudian membawa Zoya ke ruang makan.


"Duduk dulu yah sayang. Sekarang kita makan. Om sudah buatin Zoya dan Mama Zoya nasi goreng."


"Arka. Kamu wangi banget. Kamu mau ke kantor yah." Tanya Putri.

__ADS_1


"Iya. Putri."


"Maaf yah, aku kesiangan." Ucap Putri.


"Nggak apa-apa. Tadi aku nungguin kalian bangun. Tapi kalian nggak bangun-bangun. Pasti capek yah?" Tanya Arka.


Putri tersenyum.


"Arka, biarkan aku mandi dulu sama Zoya. Kita makannya nanti saja."


"Oke. Tapi untuk saat ini, aku tidak bisa temanin kalian makan. Aku udah buru-buru."


"Okelah..."


"Oya Putri. Kamu tinggal dulu aja di sini. Biarkanlah Zoya di sini dulu. Entah kenapa yah Putri, aku jadi sayang sama Zoya. Yah mungkin,karena aku merindukan ke hadiran anak."Ucap Arka.


"Emang kamu dan Laura belum punya anak?"


Arka menggeleng.


"Laura mandul. Dia tidak bisa ngasih aku anak."


"Sabar yah Arka."


"Baiklah Arka. Kalau kamu tidak keberatan, aku akan tinggal untuk sementara di sini."


***


Menunggu menunggu dan menunggu. Yah begitulah sekarang Laura. Di setiap senyumannya ada luka, di ketegarannya ada benci. Entah sampai kapan Laura bisa bertahan dengan Arka.


Di kesendiriannya Laura menangis. Sudah dua malam Arka tidak menemaninya tidur. Entah sekarang Arka tidur di mana. Tidur di apartemen bersama Putri, atau tidur di rumah Tanti, atau mungkin di tidur di rumah orang tuanya yang jelas-jelas selalu ada Jihan di sana Laura tidak tahu. Dia cuma bisa menangis dan menangis. Sudah hampir setengag bulan dia tidak mendapat sentuhan dan belaian lembut dari suaminya.


"Arka...Belum apa-apa saja kamu sudah begini padaku. Apakah kamu tidak tahu, kalau aku malam ini sedang membutuhkan sentuhanmu Arka. Aku istri mu Arka. Aku lumpuh aku ingin di sayangi,aku ingin di peluk, tapi kamu di mana Arka. Aku rindu..." Ucap Laura di tengah tangisannya.


Laura masih memandangu foto Arka bersama dirinya. Laura membelai lembut wajah Arka yang ada di foto.


"Ya Allah...Arka. Kenapa kamu sudah sangat berubah. Sampai kapan kamu.memperlakukan aku seperti ini."


Tok tok tok...


"Masuk..." Ucap Laura.


Bik Inah masuk.


"Nona, Tuan pulang Nona." Ucap Bik Inah.


"Iya Bik. Di mana dia?"


"Dia lagi ngobrol sama Idris.


Laura langsung menyeka air matanya.

__ADS_1


Dia langsung meletakan foto ke tempat semula.


__ADS_2