
"Bro,kemana aja sih lu?" tanya Andre pada Arka.
"Gue nggak kemana-mana tuh. Di rumah aja."
"Oh maaf, kalau kalian mau ngobrol. Ngobrol di dalam saja." Kata Chelsea.
"Yuk masuk Arka. Lama lu nggak main ke sini."
Arka tersenyum.
"Iya terima kasih."
Arka kemudian masuk ke dalam. Entah kenapa perasaannya jadi tidak enak. Jantungnya seakan sakit karena debaran yang cukup keras.
Kenapa yah dengan perasaanku Batin Arka.
"Duduk dulu bro."
"Iya. Terima kasih."Ucap Arka sembari duduk.
Sementara itu Chelsea masuk ke kamar Tanti. Tanti pura-pura tertidur. Chelsea melangkah ke arah Tanti. Dia tersenyum.
"he..he.. Calon kakak ipar. Aku suka sama kamu Tanti. Coba saja kamu mau jadi istrinya Kak Andre. Aku pasti akan sangat mendukung dan berlapang dada menerima mu sebagai kakak ipar ku." Ucap Chelsea sembari menutupi Tanti dengan selimutnya.
Setelah itu Chelsea mematikan lampu kamar dan menutup pintu kamar.
"Ah,Chelsea, terimakasih. Aku tidak akan pernah melupakan kebaikan keluarga kalian. Kalian baik sama aku. Dan aku akan membalas kebaika kalian." Ucap Tanti sebelum terelelap.
Chelsea bergabung lagi bersama Arka dan Andre. Chelsea duduk di sisi Andre.
"Oh iya. Chelsea dengar kamu mau cerai yah. Sama Laura. Kenpa Arka?"
Arka terdiam. Namun dia menampakan ekspresi biasa saja.
"Ah, belum jodoh kali Chelsea." Ucap Arka.
"Ha...ha..Berarti sebentar lagi,akan ada saembara dong. Aku mau daftar ah jadi istri duda keren kayak Arka." Canda Chelsea.
"Ha..ha..."Arka tertawa lepas. Yah, sejak menghilangnya Tanti, baru kali ini Arka tertawa.
"Hush, Daftar...daftar...Gimana nasib pacar kamu." cibir Andre.
"Bercanda kali kak. Oh iya. Chelsea ngantuk nih, aku ke kamar dulu yah. Kalian lanjutin aja ngobrolnya."
Chelsea kemudian pergi meninggalkan Arka dan Andre di ruang tamu.
"Arka, kamu kenapa jadi beda banget sih. Kamu jadi kurusan gitu. Apa karena Laura yah."
"Ah,nggak ada yang berubah kok Ndre. Yah, memang lagi sedikit galau. Tapi lama-lama juga nggak kok."
"Aku dari apartemen kamu tadi. Dan aku habis memeriksa Putri. Kamu tidak pernah menemuinya lagi yah?"
"Astaga iya. Aku lupa dengan mereka. Gimana kabar mereka?"
__ADS_1
"Mereka baik-baik saja. Tapi Zoya sepertinya merindukan kamu Arka."
"Oya? Zoya merindukan ku? Aku juga merindukan Zoya kecil ku. Aku sayang sama Zoya Ndre. Aku sudah seperti punya ikatan batin dengan dia. Entah kenapa setiap aku di dekatnya aku bisa merasa nyaman."
Andre terdiam. Dia seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Kenapa Ndre?"
"Aku kasihan Arka sama Putri. Sekarang kondisinya sudah semakin memburuk. Kita harus menolongnya. Kata harus cepat-cepat melakukan tindakan operasi."
"Iya. Aku juga merasa bersalah sama dia. Seharusnya di saat-saat seperti ini, aku selalu ada di sampingnya."
...****************...
Malam ini, langit tampak suram, Tiada cahaya bintang, tidak ada bulan, dan dalam gelapnya malam, dua orang insan tampak sedang asyik berbingcang di sebuah taman.
"Em, Nia. Aku ingin ngomong sesuatu sama kamu." Ujar Herman pada Nia.
"Ngomong aja Kak."Kata Nia sembari menatap lekat manik mata Herman. Sepertinya Nia sudah tampak siap untuk mendengarkannya.
Nia tersenyum melihat ekspresi wajah Herman.
"Ayo Kak katakan.Kak Herman mau ngomong apa?"
"Aku, mau bilang, kalau aku..."
Ucapan Herman terpotong, kemudian dia mengambil sesuatu di dalam sakunya.
Herman kemudian mengambil sebuah kotak, yang sepertinya adalah kotak perhiasan.
Herman membuka kotak cincin itu pada Nia.
"Nia ini buat kamu."
"Wah, Kak. Bagus benget! ini buat Nia?"
"Iya Nia."
Herman mengambil cincin itu dan memasangkannya di jari manis Nia.
"Nia, aku mau kamu pakai cincin ini. Aku pengin ngenalin kamu pada ibu ku. Aku pengin kamu jadi istri ku Nia."
Nia begitu terkejut. Dia tidak menyangka dengan sikap romantisnya Herman.
"Kak Herman serius nih mau ngelamar Nia?"
Herman tersenyum dan mengangguk.
"Iya. Aku serius. Kamu mau nggak jadi istriku."
"Maaf, aku nggak bisa."
"Kenapa Nia. Apa kamu nggak suka sama aku."
__ADS_1
"Aku suka kok sama kamu Kak. Tapi aku belum bisa untuk jadi istri. Aku cuma bisa untuk jadi pacar. Kan Nia belum siap untuk nikah dulu. Nia juga belum lulus kuliah."
Herman tersenyum bahagia.
"Iya Nia. Aku mau nunggu kamu sampai kamu lulus. Bahakan samapai kapanpun aku tunggu kamu Nia. Karena aku suka sama kamu."
"Iya Kak Herman."
...****************...
Minggu pagi, Arka masih terlelap bersama Aurel anak kesayanganya. Sekarang Arka sudah benar-benar menjadi seorang ayah. Dia selalu begadang setiap malam dan membuatkan susu untuk Aurel.
Tangan kekar Arka masih tampak mendekap tubuh Aurel.
Aurel kemudian terbangun dan menangis. Arka yang tampak masih mengantuk itupun terbangun.
"Anisa, kenapa kamu nangis. Ayolah Nak, tidur lagi. Papa masih ngantuk banget." Ucap Arka dengan suara paraunya.
"Pa...pa...pa... hua aaa...."
Arka kemudian bangun dan duduk. Dia mau mencoba untuk menenangkan Aurel. Dia menggendong Aurel.
"Anisa kenapa sih, kok nangis terus?" Arka menepuk-nepuk bahu Aurel mencoba menennangkan Aurel.
Tuan Bram dan Nyonya Alicia kemudian masuk ke kamar Arka. Mereka seperti penasaran.
"Arka, kenapa sih anak kamu nangis terus?"Tanya Tuan Bram.
"Nggak tahu nih, Anisa nangis mulu dari semalam. Padahal kan Anisa udah aku belikan barbie yang mahal."
"Arka...Arka...Mana tahu sih Aurel boneka baribie. Dia kan masih setahun setengah. Belum bisa mainan barbie." ujar Nyonya Alicia.
"Ma, Anisa itu kan anak kesayangan Arka. Sampai Anisa dewasa nanti, Arka akan selalu memanjakan Anisa. Arka akan selalu mencintai Anisa. Arka akan memberikan semua yang Anisa mau."
"Coba sini mama juga pengin gendong Aurel."
Arka kemudian memberikan Aurel pada mamanya.
Nyonya Alicia menggendong Aurel. Dia begitu sayang pada Aurel.Yah, Sekarang kesibukan Arka cuma bekerja dan merawat Aurel saja. Untuk saat ini,dia tidak memikirkannhal yang lainnya.
"Arka. Kayaknya Aurel sakit Arka. Badannya demam."Ucap Nyonya Alicia.
"Ya udah kita panggilkan Dewa."Tuan Bram mengusulkan.
"Jangan. Jangan panggil Dewa. Biar Arka sendiri saja yang akan membawa Anisa ke dokter."
"Ya udah. Cepat sana kamu siap-siap."Pinta Nyonya Alicia.
"Iya."
Sejak perkelahian Arka dengan Dewa waktu itu, hubungan Arka dan Dewa mulai memburuk. Sekarang Arka dan Dewa semakin menjauh. Yah, Arka juga masih mempunyai perasaan kecewa pada Laura.
"Untuk saat ini, aku tidak mau memikirkan apa-apa dulu. Aku mau fokuskan dulu untuk merawat Anisa dan membesarkannya. Yah walau aku akan menjadi seorang duda beranak satu." Ucap Arka.
__ADS_1