
"Hai Nad, apa kabar kamu?" tanya Andre.
Nadia tersenyum.
"Aku baik Ndre. Kamu gimana?"
"Yah, alhamdulilah baik."
Nadia dan Andre saling bertatap sejenak. Yah, mata itu tak bisa pernah berbohong. Andre dan Nadia memang sama-sama merindukan.
"Aku fikir, kamu akan selamanya ada di Hongkong Nad."
"Yah, awalnya sih gitu. Tapi papa ku kan pindah lagi mengurus bisnis di sini."
"Oh yah?"
Nadia mengangguk.
...****************...
Sore ini, Nyonya Alicia dan Tuan Bram sudah tampak siap berangkat ke bandara. Mereka sudah menyiapkan beberapa koper besar.
"Tanti, Arka, tolong jaga rumah yah?" Ucap Tuan Bram sebelum pergi.
"Tante Alic akan lama yah?" tanya Tanti.
"Nggak Tanti. Paling satu bulanan di sana." jawab Nyonya Alicia.
"Jagain Arka yah? juga jagain Zoya dan Aurel." Nyonya Alicia berpesan.
"Itu sudah pasti dong Tante." Ucap Tanti.
Tanti dan Nyonya Alicia berpelukan.
Ah, mamaku sudah mau menerima Tanti dan anaknya. Mama juga sepertinya sudah sayang sama mereka.Mama sudah berubah. Batin Arka.
Nyonya Alicia kemudian mencium Tanti.
"Tante pergi dulu yah?"
"Iya Tante."
Tuan Bram memeluk Arka. Setelah itu Tuan Bram dan Nyonya Alicia berpamitan untuk pergi.
Setelah Tuan Bram dan Nyonya Alicia pergi, Arka dan Tanti kemudian masuk ke dalam. Mereka berdua duduk di ruang tengah bersama ke dua anaknya.
Setelah itu Arka berdiri dan memanggil para pembantu, pengawal, tukang kebun dan satpam. Arka mengumumkan kepada mereka, kalau mereka akan di liburkan satu minggu.
"Yah benarkah Tuan, kami satu minggu libur." Ucap salah seorang dari mereka.
"Yah, aku akan ke Bali untuk seminggu ke depan. Atau mungkin dua minggu." Arka menjelaskan.
Tanti terkejut mendengar Arka.
"Ke Bali?" gumam Tanti.
Tanti menghampiri Arka.
"Kamu mau ke Bali Arka?" tanya Tanti sedih. Yah, Tanti berfikir Arka akan ke Bali sendiri.
__ADS_1
"Iya sayang, aku akan mengunjungi Bali, bersama kamu dan anak kita."
Ucap Arka.
"Wah, kita mau jalan-jalan?" Tanti tampak bahagia.
Arka mengangguk.
Tanti begitu bahagia. Yah, Tanti kan orang kampung. Mana dia pernah ke Bali. Apalagi Bali sama Aceh sangat jauh sekali.
...****************...
Siang ini Arka sudah mengepak semua baju-bajunya, baju anak-anaknya, juga baju Tanti. Arka akan mengajak liburan mereka. Yah, mereka akan liburan ke Bali untuk beberapa hari. Kebetulan Arka juga punya rumah di sana. Yah, rumah kenangan bersama Laura dulu waktu mereka honeymoon.
Waktu bulan madu bersama Laura Arka membeli rumah di Bali. Dan sampai sekarang rumah itu masih ada.
"Ayo Tanti. Bantuin aku. Jangan diam saja!" Kata Arka.
"Oh iya Arka."Ucap Tanti.
"Tanti..." Seru Arka.
Arka menoleh.
"Kamu pengin aku peluk lagi."
"Nggak. Apaan sih!"
"Ya udah dong, jangan panggil aku Arka."
"Oh iya lupa maaf sayang."
"Menghukum?"
"Iya. Aku bisa saja tidur bersamamu lagi. Apa kamu mau."
"Nggak. Aku nggak mau."
"Ya udah dong, jangan lupa lagi."
"Iya sayang." Ucap Tanti.
Ah, Arka ini mesum banget sih. Belum juga jadi istri. Fikirannya udah ngeres terus.Gimana kalau udah nikah? mungkin lebih mesum lagi otaknya.
Tanti pun kemudian ikut membantu Arka. Mereka tampak repot sekali. Sudah harus membawa dua anak, membawa juga barang-barang. Mereka sudah seperti suami istri saja. Mudah-mudahan mereka tidak melakukan ke khilafan di sana karena tinggal satu atap.
Tanti tersenyum. Dia seperti sangat bahagia. Sekarang Tanti sudah melupakan semua kesalahan Arka. Mereka sudah mau memulai hidup baru.
Sore haripun tiba. Arka Tanti dan kedua anak mereka terbang ke Bali.
...****************...
Sepulang dari rumah sakit, Dewa masih di dampingi Laura di kamar Dewa. Laura dengan telatennya mengurus Dewa.
Walau akhir-akhir ini dia di sibukan untuk acara syuting film, namun dia masih menyempatkan waktunya untuk merawat Dewa. Yah, sejak bersama Dewa, Dewa tidak melarang Laura untuk beehenti berkarir.
Tidak seperti Arka dulu. Arka selalu melarang Laura untuk menjadi model dan menjadi pemain aktris. Yah, Arka memang tipe cowok pencemburu dan dia suka istrinya itu berpose di depan kamera.
Semenjak menikah dengan Arka, Laura tidak lagi terlihat di kamera tivi. Namun, sejak bercerai karir Laura melambung lagi. Apalagi sekarang dia bergelut juga di dunia akting.
__ADS_1
"Ah, rasanya Dewa, aku bahagia sekali. Besok aku akan tanda tangan kontrak main Film layar lebar." Ucap Laura.
"Iya Laura. Aku senang melihatnya. Kamu tenang saja, selama bersama ku, aku tidak akan pernah melarang mu. Tapi aku harap kamu jangan lupain aku."
Laura menatap Dewa. Dia kemudian tersenyum.
"Ngga Dewa. Aku tidak akan pernah melupakan semua kebaikan kamu. Aku tidak akan pernah melupakan cinta kita, selama kamu setia." ucap Laura.
Laura dan Dewa kemudian berpandangan dalam sejenak. Mereka saling tersenyum.
"Kamu belum makan kan Dewa?"
Dewa menggeleng.
"Oh iya, aku ambilin kamu makan yah." Ucap Laura.
"Iya."
"Kamu mau makan apa Wa?" tanya Laura.
"Apa aja sayang." jawab Dewa.
"Oke aku ambilkan." Ucap Laura sembari melangkah pergi.
Laura kemudian melangkah ke arah dapur. Yah, sekarang Laura sudah tampak akrab dengan keluarga Dewa.
Di dapur tampak ada Kak Sofi. Sepertinya Kak Sofi itu sedang menyiapkan makanan untuk anaknya. Yah, Kak Sofi sekarang sudah punya anak perempuan berusia dua tahun. Sepantaran Aurel.
"Lagi ngapain Kak?" tanya Laura.
"Ini. Lagi buatin bubur untuk Dinar. Bubur biasa aja. Bubur yang biasa kita makan."
"Oh, Bubur ayam yah?"
"Iya. Sekalian aku buatkan juga untuk Dewa. Kamu bisa bikin bubur Laura?"
Laura menyeringai.
"Ah, aku nggak hobi memasak. Kan aku biasa ngandalin asisten rumah tangga. Tahu sendiri kan kalau asisten rumah tangga mantan suamiku banyak. Jadi yah aku nggak pernah kerjain apa-apa."
"Oh, begitu? ya udah sini bantuin aku. Buat bubur.
Laura kemudian membuatkan bubur untuk calon suaminya. Dia begitu bahagia. Bisa ada di kehidupan Dewa. Lelaki yang hidupnya sederhana,dengan orang tua yang hidup rumah tangganya harmonis, dan kakak perempuan yang cerewet juga baik.
Setelah selesai memasak, Laura kemudian mengambil mangkok. Dia kemudian mengambil bubur itu dan dia sendokannya ke mangkuk.
"Wah, kayaknya enak nih Kak."
"Ya jelas dong, buatan siapa dulu dong..."
"Wah, kalau begitu suami kak Sofi, pasti senang dan bangga bisa punya istri yang jago masak kayak Kak Sofi."
"Iya dong, pasti senang."
"Ya udah Kak, kalau begitu aku siapin dulu yah, bubur ini untuk Dewa."
"Iya."
Laura kemudian pergi ke kamar Dewa. Dia kemudian membawa bubur tersebut.
__ADS_1
Laura kemudian duduk di samping Dewa.