
Setelah itu, Laura duduk manis menunggu suaminya.
Sesampai di kamar, Arka menghampiri Laura.
Arka akan mencium Laura namun Laura menampiknya.
"Berhenti Arka."
"Kenapa sayang?"
"Dari mana aja kamu Arka?"
"Sayang, aku dari kantorlah. Aku lelah banget."
"Bohong...!" Teriak Laura.
"Laura aku serius, aku jujur sayang."
Arka duduk di samping Laura.
"Cewek mana lagi yang telah kamu peluk Arka. Tanti atau Jihan?"
"Astaga Laura. Kamu jangan curiga terus dong. Aku nggak pernah meluk cewek manapun. Tanti, mana mau dia akau peluk. jihan aku nggak suka sama cewek agresif itu."
"Arka...Jangan bohong...! Aku tahu Arka. Walau kamu bohong. Parfum kamu Arka. Aku mencium parfum perempuan di bajumu."
"Laura sayang, " Arka meraih tangan Laura. Namun Laura menampiknya. Dia malah memukul-mukul dada bidang Arka.
"Kamu jahat Arka...Kamu jahat...Kamu sudah selalu sakiti aku...!"
Arka menggenggam erat tangan Laura,dan Arka memaksa memeluk Laura walaupun Laura meronta berusaha untuk melepaskan pelukan Arka.
"Lepasin, aku nggak mau kamu peluk...!"
"Sssst, sayang sudahlah, aku tahu yang kamu inginkan. Aku akan memberikannya sayang."
Arka dan Laura berpelukan sangat lama.
Maafin aku sayang, Iya. Tadi sebelum kesini aku memang telah memeluk Putri sayang. Tapi percayalah aku cuma sebatas kasihan sama dia. Dia sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Dia janda dan suaminya sudah meninggal. Orang tuanya juga sudah tidak ada. Aku cuma pengin menebus kesalahan ku di masa lalu aja Laura. Batin Arka.
Laura memeluk Arka dengan erat. Yah dia sekarang sangat merindukan suaminya. Sudah setengah bulan dia tidak mendapat nafkah batin dari suaminya. Mungkin saja malam ini Arka akan memberikannya.
Arka melepas pelukan Laura. Kemudian dia menangkup wajah Laura.
__ADS_1
"Aku tahu sayang. Malam ini, kamu membutuhkanku. Oke, Bersiaplah Laura. Aku akan memberikanmu kepuasan di malam ini. Oke sayang."
Laura tersenyum. Yah memang dia menginginkannya malam ini.
****
Tanti melamun seorng diri. Dia seperti sudah sangat terluka. Sejak dinner di malam itu, Arka tak lagi mengunjungunya. Menanyakan kabar Tanti pada Niapun tak pernah.
Entah kenapa Arka berubah. Apa mungkin, Arka berubah karena ke hadiran Putri, atau karena Arka akan menikah dengan Jihan.
Yah, saat inilah Tanti tersadar. Siapa sebenarnya seorang Arka. Arka yang tidak pernahbtegas dan selalu banyak menyakiti hati wanita.
Tanti begitu sangat rapuh. Hanya karena Arka, dia jadi tambah kurus. Sholat istikharahnyapun belum menghasilkan jawaban. Hatinya masih ingin bertahan buat Arka. Namun, di sisi lain Arka telah menodai kesucian Cinta Tanti.
Padahal Tanti, selama ini sudah benar-benar jatuh cinta sama Arka. Dia benar-benar menginginkan Arka walau hanya sebatas nikah siri. Tapi kenapa Arka harus memutuskan untuk menikahi Jihan sebelum dia menikahi Tanti. Bukankah awalnya Tanti dulu yabg akan di nikahi Arka. Dan sampai saat ini,Belum ada keputusan dari Arka.
"Kenapa Ya Allah...Aku harus terjebak dengan cintaku pada Arka. Kenapa ya Allah..Kenapa aku tidak bisa untuk sedikitpun melupakannya."
Hiks..hiks...
Rumah yang luas dari Arka, hanya ada iringan tangis Tanti yang berkumandang di malam ini.
"Kenapa Arka tidak kesini lagi. Apa keputusannya? Apakah dia benar-benar akan menikahi Jihan? Kenapa harus ada Jihan. Kenapa tidak aku dengan nona Laura saja. Apa tidak cukup aku dengan Nona Laura buat Arka. Atau Arka masih mencintai Jihan mantan pacarnya itu?" Gumam Tanti.
ceklek...
"Kak, kakak kenapa lagi?" Tanya Nia menatap dalam wajah Tanti.
Nia mengusap air mata Tanti.
"Kakak yang sabar yah, mungkin Kak Arka tidak kesini karena dia lagi sibuk dengan urusan kantornya."
Tanti mengangguk.
"Maafin Nia yah Kak, Nia belum bisa menghubungi Kak Arka. Ponsel Kak Arka nggak pernah aktiv entah kenapa?"
"Ya nggak apa-apa nia."
"Kak Tanti pasti sangat rindu yah sama Kak Arka."
Tanti tersenyum walau terpaksa. Senyuman yang sebenarnya adalah senyuman kesedihan.
****
__ADS_1
Arka masih berada di ruang makan bersama Jihan Tuan Bram dan Nyonya Alicia. Ruang makan yang masih tamoak hening. Belum ada satu orang pun yang bicara.
"Oke Arka. Mama cuma mau minta kamu untuk menikahi Jihan. Mama tidak minta lebih. Jika kamu masuh mau bertahan dengan Laura, Mama nggak masalah." Ucap Mama Arka memecah kesunyian.
"Tapi Ma, " Ucap Arka.
"Arka, Mama masih berbaik hati yah untuk saat ini pada Laura. Jangan paksa Mama untuk mengmbil tindakan yang akan membuatmu kecewa Arka." Ucap Mama Arka penuh ketegasan.
"Maksud Mama apa sih Arka nggak tahu." Arka tampak bingung.
"Maksud Mama, Mama tidak akan memaksamu untuk menikahi Jihan secara hukum. Nikahilah dia secara siri juga nggak apa-apa. Kalau kamu memang masih sayang sama Luara." Ucap Nyonya Alicia yang masih tamoak berbaik hati.
Mungkin jika saja nyonya Alicia menyuruh Arka untuk memceraikan Laura, mungkin Arka mau saja. Yah, Mamanya adalah kelemahan Arka.
Arka menghela nafas dalam. Sudah berulang kali Mama Arka memaksanua untuk menikahi Jihan, Namun Arka masih memikirkan ucapan Tanti tempo lalu.
Sekarang siapa yang akan di pilih Arka. Mama atau Tanti.
Arka tampak berfikir.
"Baiklah Ma. Aku akan menikahi Jihan. Itu aku lakukan demi Mama." Ucap Arka kemudian.
Tuan Bram dan Nyonya Alicia tersenyum.
Akhirnya. Batin Jihan.
Jihan benar-benar bahagia kali ini. Dia akan menjadi seorang istri Arka. Walau untuk sementara Jihan akan menjadi istri siri. Namun Jihan akan menyingkirkan Laura secara perlahan. Supaya dia bisa menjadi istri satu-satunya Arka.
Oke, Sekarang aku jadi istri siri. Setelah ini, aku akan merebut Arka dari Laura.
****
Tanti masih berada di ranjangnya sudah satu bulan dia menunggu. Menunggu Arka kembali untuk mengatakan semua keputusannya. Karena sejak dinner di malam itu, Arak sama sekali tidak menghubunginya.
Sementara Nia, saat ini, sedang sibuk dengan kuliahnya. Jadi dia tidak bisa selalu menemani Tanti.
Tanti turun dari ranjangnya. Dia kemudian pergi keluar. Dia keluar dari kamarnya dia menuju ke arah kolam renang. Dia menangis.
Di atas langit bulan masih terlihat seperti sabit. Malam yang kelam, menjadi saksi bisu akan kehancuran hidup Tanti.
Tanti yang terlahir menjadi seorang perempuan yang di campakan. Di campakan oleh suaminya juga oleh Tuan Arka.
Tiba-tiba saja Tanti teringan Aurel.
__ADS_1
"Nak, di mana kamu Nak? Mama kangen..." Ucap Tanti.
"Sekarang Kamu pasti udah gede Nak. Kamu pasti udah bisa tengkurap sekarang. Mama kangen Nak. Sangat kemhen sekali sama kamu. Mama belum bisa kabur dari sini Nak. Mama takut, kalau nanti Mama akan menjadi gelandangan lagi Nak."