
Malam ini, di sisi kolam renang yang luas, duduklah sepasang kakak beradik yang sedang menikmati indahnya kesejukan malam. Di atas sana, bintang-bintang bertebaran, bulan pun tampak tersenyum mesra.
"Aku benar-benar nggak nyangka sama si Arka. Kenapa dia benar-benar sekejam itu." Ucap Dewa menggerutu sendiri.
Sofia yang tampak masih membaca sebuah majalah, melirik adiknya.
"Kenapa dengan Arka?" Sofia menanggapinya malas.
"Itu Kak, Adik kesayangan Kakak, mau menikah lagi."
Uhuk uhuk...
Sofia tersedak minumannya, hingga jus jeruk itu, tumpah mengenai majalah dan paha mulusnya.
"Apa maksud kamu Dewa?" Tanya Kak Sofi tak mengerti.
"Iya. Tapi tolong, Kakak jangan bilang siapa-siapa yah. Ini rahasia kita berdua."
"Oke." Kata Kak Sofi sembari meletakan majalahnya. Setelah itu pula dia membuka kaca mata minusnya, dan meletakannya di atas majalah.
"Kamu serius?" tanya Kak Sofi menatap tajam adiknya. Dia sangat tahu, kalau adiknya itu tipe orang yang serius dan tidak pernah bercanda. Dia juga orang yang sangat jujur.
"Iya. Aku kemarin ke sana. Dan melihat ada seorang wanita di apartemen Arka.."
"Ha..." Kak Sofi ternganga merasa tidak percaya.
"Kamu nggak lagi bercanda kan Dewa."
"Siapa yang lagi bercanda sih Kak. Kakak kan tahu, aku orang yang nggak suka bercanda. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, kalau Arka membawa seorang wanita di apartemennya. Dan aku sendiri kok yang memeriksa wanita itu. Karena kebetulan wanita itu lagi sakit."
Kak Sofi benar-benar tidak percaya dengan perkataan Dewa. Namun dia juga tidak pernah menemukan kebohongan di setiap ucapan adiknya.
Kak Sofi menghela nafasnya dalam.
Mcek... Dewa berdecak.
"Aku nggak tahu apa yang sekarang sedang Arka fikirkan. Dia akan mempoligami Laura. Padahal dia tahu, Laura itu wanita baik. Dan Laura cinta mati pada Arka." Kata Dewa.
Dewa terdiam. Sekelebat bayangan di masa lalunya seperti sedang merasuk di otaknya.
Flash back On.
Suara hiruk pikuk kampus sudah mulai terdengar. Dewa dan Arka jalan bersama. Mereka mendekat ke arah Laura.
"Hai Laura..."Sapa Arka.
__ADS_1
Laura tersenyum.
"Arka." Ucap Laura mendekat ke arah Arka.
Arka dan Laura.
Arka lelaki terpopuler di kampus, dan Laura juga gadis terpopuler di kampus. Dan mereka sudah di tetapkan sebagai raja kampus dan ratu kampus.
Arka Laura dan Dewa satu kampus. Namun mereka beda jurusan. Dewa masuk di kejurusan kedoteran, Arka masuk ke jurusan bisnis, dan Laura mesuk ke jurusan seni.
Mereka bertiga sudah bersahabat semenjak SMA. Sampai pada akhirnya timbulah cinta segitiga di antara ke tiga sahabat itu.
"Laura, nanti malam ada acara nggak? aku mau ngajak kamu jalan nih." kata Arka.
"Nggak ada kok."
"Ya udah, nanti malam aku jemput kamu yah jam 7 malam. Kita dinner di tempat biasa." Kata Arka kemudian.
Dewa yang melihat kedekatan Arka dengan Laura merasa sangat cemburu. Arka dan Dewa ternyata mereka berdua mencintai Laura.
Dewa cowok yang super serius itu, tidak berani untuk mengatakan cinta pada Laura. Karena Arka dan Laura adalah raja dan ratu kampus, sehingga mereka sering bersama untuk melakuka kegiatan. Sehingga benih-benih cinta tumbuh di hati keduanya.
Dan Akhirnya Arka pun mengatakan cinta pada Laura. Namun Laura juga ternyata mempunyai perasaan yang sama pada Arka.
Saat Laura sedang sendiri di taman dekat kampus, Dewa mendekati Laura. Mungkin ini waktu yang tepat untuk Dewa mengatakan perasaannya.
"Ada apa Wa?" tanya Laura sembari menutup bukunya yang sedari tadi di bacanya.
Laura menatap Dewa lekat. Dia begitu penasaran pada Dewa. Karena Dewa tidak seperti biasanya. Kali ini tampang Dewa tampak terlihat sangat gugup.
"Em...La...Aku...Em..." Ucap Dewa terbata-bata.
Laura mengernyitkan alisnya.
"Ada apa Wa? kamu mau bicara apa?" tanya Laura.
"Laura aku...Aku ....Mau ngomongin hal serius sama kamu."
"Iya ngomong aja."
Dewa tampak berfikir sejenak.
Tiba-tiba saja Arka datang.
"Sayang, ternyata kamu di sini. aku cariin juga." Kata Arka.
__ADS_1
"Sayang? Kalian berdua..."Dewa bingung dan tak mengerti.
"Iya Wa. Kita udah jadian." Kata Laura.
Hati Dewa seperti tertusuk sebuah pisau tajam yang sayatannya sampai menembus ke jantung dan ulu hatinya.
Hatinya begitu remuk. Padahal sebentar lagi, dia akan mengutarakan cintanya pada Laura. Tapi, ternyata Arka sudah mendahuluinya.
Dan sampai saat inipun, Dewa belum bisa melupakan Laura. Dia masih sangat mencintai Laura. Terlebih, sekarang Laura sudah menjadi adik sepupunya. Itu membuat Dewa sulit untuk melupakan wanita itu. Karena mereka sering sekali bertemu. Membuat Dewa gagal terus untuk move on.
Flash back off.
Dewa tersentak saat Kak Sofi menepuk bahunya.
"Kok malah ngelamun. Apa yang lagi kamu fikirkan?" tanya Kak Sofi.
"Tadi pembicaraan kita sampai mana yah Kak?" tanya Dewa.
"Kamu kan belum lanjutin cerita selanjutnya. Arka mau menikah itu serius? dan Arka mau menikah dengan siapa dan karena alasan apa? Kok Arka nggak pernah cerita-cerita ke Kakak sih."
"Mana aku tahu."
"Ah, Kamu itu. Udah ah aku nggak tertarik dengan gosip murahan kayak gini." Kata Kak Sofi pergi meninggalkan Dewa.
"Kak... ini bukan gosip. Aku serius...!" seru Dewa.
"iya, nanti kita buktikan sama-sama. besok kita ke apartemen Arka." Ucap Kak Sofi sembari melangkah masuk kedalam.
****
Pagi ini, Tanti masih terlihat nyenyak di ranjangnya. Semalam dia baru bisa tidur jam tiga pagi. Sementara Arka sudah berkutat di dapur. Entah apa yang akan di lakukannya.
Arka mengambil bawang merah, cabe dan bawang putih, kemudian dia merajangnya. Layak nya seorang koki handal. Arka menumis bumbu sederhana itu, kemudian dia memasukan nasi dan bahan-bahan lainnya. Setelah nasi itu hampir matang, Arka tak lupa menambahkan kecap.
Setelah itu selesai, Arka menuang nasi goreng buatanya ke dalam dua piring saji.
Tanti masih berdiri di dekat pintu kamarnya. Ternyata sedari tadi dia memperhatikan Arka.
Tuan Arka masak? Masak apa? batin Tanti.
Setelah Arka menyelesaikan semua pekerjaan dapurnya, Arka berbalik ke arah meja makan. Dan dia mendapati Tanti sedang berdiri di sisi meja makan.
"Pagi sayang, udah bangun?" tanya Arka sembari membawa dua piring saji yang isinya adalah nasi goreng campur telor, sosis, baso, dan sawi.
Tanti diam saja. Dia masih tak percaya. Kalu Tuan kejinya itu, ternyata bisa memasak nasi goreng sederhana.
__ADS_1