
Arka menangis. Ya, kali ini dia di tinggalkan oleh ke dua wanita yang sangat dia cintai.
Laura akan mengajukan gugatan cerainya, sementara Tanti kabur entah kemana.
Arka menangis sembari memandangi wajah Tanti yang ada di ponselnya.
"Tanti, kemana kamu sayang? Kenapa kamu tega meninggalkan aku. Apakah kamu tidak tahu, kalau aku sangat mencintaimu. Kenapa kamu tidak mau menunggu ku."
Nia mendekat ke arah Arka. Ya, Nia tahu,kalau saat ini kondisi Arka sangatlah rapuh. Tapi Nia masih tidak mengerti kemana sebenarnya jalan fikiran Arka. Kenapa selama setahun, Arka menghilang dari kehidupan Tanti. Sejak dinner malam itu, kenapa Arka tidak muncul lagi dan memberi kepastian.
"Kak, Ini semua salah kamu Kak. Kamu yang memulai duluan berbagai macam masalah ini. Apakah kamu tidak tahu, kalau selama setahun Kak Tanti menunggumu. Menunggu kepastian mu.Tapi kenapa kamu malah tidak ada kabar."
"Nia, aku masih takut untuk menemui Tanti. Karena aku masih punya ikatan dengan Laura dan Jihan. Aku memang akan menjadikan Tanti wanita satu-satunya. Tapi tidak untuk saat ini."
"Kak, apakah kamu tidak sadar, luka yang kamu berikan pada Kak Tanti sudah begitu besar. Kamu itu telah memisahkan dia dari anak bayinya. Kau telah memberikan harapan tapi kamu malah mematahkannya. Seharusnya kamu tidak perlu, menikah dengan Kak Jihan. Cukup Kak Tanti dan Kak Laura saja."
"Iya Nia. Aku menyesal. Seharusnya aku tidak menuruti semua perkataan Mama. Seharusnya aku kenalkan Tanti kepada Mama, supaya Tanti yang menjadi istriku. Sekarang Mamaku menyuruh aku menikah lagi. Aku pusing Nia."
"Makanya Kak. Jadi cowok itu jangan lemah gitu dong. Kakak harus punya ketegasan. Coba sekarang apa, pada kabur semua kan wanita kakak. Itu mungkin karma kak buat kamu. Karena kamu telah menyakiti hati Kak Tanti. Hati seorang wanita yang tulus mencintaimu."Ucap Nia.
"Iya Nia. Aku tahu. aku akan mencoba untuk mencari Tanti. aku pasti akan menemukannya." Ucap Arka dengan air mata yang masih berlinangan.
****
Arka sudah tampak frustasi. Sudah seminggu anak buahnya, tidak menemukan Tanti.
"Kemana kamu Tanti. Aku menyesal Tanti. Aku sangat menyesal. aku tidak pernah melupakan mu Tanti. Aku sangat mencintaimu. Biarlah Laura pergi, tapi aku tidak rela jika kamu pergi juga sayang."
Tok tok tok...
Suara ketukan pintu kamar.
"Masuk, nggak di kunci." Ucap Arka.
Nyonya Alicia kemudian masuk ke dalam kamar Arka.
"Arka, mama akan kenalkan kamu dengan seseorang sayang."
__ADS_1
Arka menyeka air matanya.
"Apa sih Ma. Kenalin sama siapa?"
"Ikut Mama yuk."
Arka akhirnya menurut juga. Dia mengikuti mamanya turun kebawah.Arka terkejut saat melihat Rena ada di ruang tamu.
"Rena?"
"Kak Arka."
"Kalian sudah saling mengenal?Ya bagus dong."
"Iya Tante kita pernah ketemu di jalan. Iyakan Kak Arka."
"Apa ini maksudnya Ma?" Tanya Arka bingung.
"Iya sayang, ini Rena anak sehabat Mama, Mama pengin jodohin kamu sama dia."
"Apa? Nggak Ma. Arka nggak mau. Arka nggak mau nikah lagi. Apa lagi dengan anak kecil seperti dia. Pokoknya kali ini Arka menolak untuk di jodohin."
"Ma, Pokoknya Arka nggak mau menikah lagi. Kalau mama pengin punya cucu, mama boleh bawa Anisa kesini."
Arka kemudian pergi meninggalkan mamanya dan Rena.
"Oh, jadi dia anaknya Tante. Tapi kayaknya dia nggak tertarik Tante sama aku." Ucap Rena.
Jihan dengan terburu-buru dia datang dan menghampiri mertuanya.
"Apa yang mama lakukan Ma. Mama mau minta Arka untuk kawin lagi. Mama benar-benar udah gila."
"Stop Jihan. Kamu memang menentu kurang ajar Jihan. Kamu berani ngatain Mama gila."
"Ma, Arka itu, masih punya dua istri. Dan Arka itu, juga nggak mau nikah lagi. Kenapa mama mesti maksa sih!"
"Jihan, Arka itu anak yang baik. Dia itu sayang sama Mama. Dia pasti akan nurut sama apa yang mamanya katakan. Jadi jangan membantah."
__ADS_1
***
Setelah kepergian Tanti dan Laura kehidupan Arka seperti sangat mengenaskan. Hari-harinya dia lalui untuk sendiri. Dia hanya fokus untuk bekerja tanpa ada waktu untuk istirahat. Arka kini berubah menjadi Arka yang pendiam dan pemurung.
"Arka, aku bawain kau makanan nih sayang. Dari kemarin kamu belum makan kan." Ucap Jihan sang istri sembari meletakan makanan di atas meja.
Arka terdiam. Dia masih menampangkan wajah lesunya.
"Bawa lagi aja Jihan. Aku nggak mau makan."
"Arka, jangan begitu sayang. Kamu bisa sakit Arka, kalau kayak gini terus."
"Jihan....!!!Jangan paksa aku...!!!" Arka berteriak.
Jihan menangis. Dia bukan menangis karena takut, namun dia menangis karena prihatin. Jihan tidak tahu lagi harus berbuat apa, sejak di tinggal Laura pergi dari rumah, Arka jadi semakin terpuruk. Apalagi waktu mamanya ingin menjodoh-jodohkannya.
"Aku tahu Arka. Kamu cinta sama Laura. Dan aku tahu kamu belum bisa menerima ku menjadi istri. Tapi tolonglah Arka, jangan sakiti dirimu seperti ini." Ucap Jihan penuh kehkawatiran. Jihan takut lama-lama Arka bisa gila.
Arka tiba-tiba saja menangis.
"Kenapa Jihan. Kanapa aku bisa menjadi lelaki bodoh seperti ini.Kenapa...? Semua orang yang aku cintai pergi meninggalkan aku. Aku nggak ada gunanya lagi hidup. Aku benci Jihan pada diriku sendiri."
Jihan meraih kepala Arka. Dia kemudian memeluk Arka sembari menangis. Yah, Jihan memang masih mencintai Arka. Namun, sekarang Jihan sadar, kalau cinta Arka cuma buat Luara dan Tanti.
Nyonya Alicia dan Tuan Bram masih berdiri di pintu. Mereka saling menetap. Nyonya Alicia menangis di pelukan suaminya.
"Kenapa Arka jadi seperti itu Pa. Kenapa? Mama nggak tega melihat Arka seperti itu."
"Makanya Mama, mama tolonglah ngertiin Arka sedikit, mama jangan seenaknya sendiri. Mama sekarang nggak boleh memaksa Arka lagi. Biarkanlah Arka mencari jalan hidupnya sendiri. Arka itu sudah dewasa Ma."
"Iya Pa. Mama nggak akan paksa Arka lagi untuk menikah. Dan mama juga udah nggak mau berharap banyak untuk punya cucu. Nanti kita bawa Aurelia ke rumah ini yah Pa." Ucap nyonya Alicia.
"Iya, mungkin dengan adanya Anisa, Arka akan berubah. Arka kan sayang banget sama anak adopsinya itu." ucap Tuan Bram
Arka menangis di pelukan Jihan.
"Arka, mungkin kamu dan Laura belum berjodoh Arka. Biarkanlah Laura memilih untuk kehidupannya sendiri. Kita tidak bisa memaksanya. Jika dia mau menggugatmu di pengadilan, maka biarkanlah Arka."
__ADS_1
Arka menatap Jihan horor.
Tahu apa dia tentang perasaan ku. Siapa yang lagi menangisi Laura. Aku lagi sangat terpukul atas hilangnya Tanti. Jika Laura pergi, siapa yang akan mengejarnya. Biarkanlah dia hidup bahagia, bersama pilihan hatinya.