
Setelah Arka dan Tanti sampai di depan pintu apartemen. Arka menghentikan langkahnya. Mereka menatap ke arah Herman dan Idris.
"Kenapa kalian mengikutiku...!!"Bentak Tuan Arka membuat Tanti kaget.
Idris dan Hermanpun tiba-tiba terkejut.
Apa-apaan sih ini orang. Lah aku kan pengawal. Kenapa tak boleh mengikutinya. Batin Idris.
Arka menatap Herman dan Idris tajam.
Plak.
Plak.
Arka menampar kedua pengawalnya itu.
"Aduh, Tuan kenapa kita di tampar." kata Idris yang masih memegangi pipinya.
"Apa salah kita Tuan. Kita kan pengwal. Kenapa kita tidak boleh mengikutimu?" tanya Herman.
"Mengikutiku boleh. Tapi jangan berjalan di belakangku!. Berjalanlah di depan ku." Ucap Tuan Arka.
"Mana ada Tuan seorang pengawal jalan di depan bosnya."Idris protes.
Arka menoyor kepala Herman dan Idris.
"Bodoh kalian. Emang aku nggak tahu, kalau sedari tadi, kalian memandangi tubuh Tanti." Kata Tuan Arka.
Herman dan Idris saling memandang. Dia benar-benar kesal dan merasa serba salah. Ternyata sekarang Tuan Arka sebegitu posesivnya. Sampai-sampai tidak ada yang boleh menatap sedikitpun calon istrinya itu.
Salah lagi. batin Herman .
Herman juga masih sedikit dongkol karena sedari tadi Tuan Arka memepet Tanti terus.
Huh, sampai kapan aku akan melihat mereka bermesraan terus. Batin Herman.
Tanti dan Arka kemudian masuk ke apartemen.
"Kalian tunggu di sini. Jangan sampai berani masuk. Awas aja kalau kalian sampai macam-macam!" Ancam Tuan Arka.
Arka menutup pintunya dan menguncinya dari dalam.
Sementara di luar Idris dan Herman saling menatap.
"Idris, gimana ini. Masak kita akan berdiri di sini terus. Mau samapi kapan.?" Kata Herman.
"Yah,sampai pagi mungkin."Kata Idris.
***
Canggung.
Tanti dan Arka merasa sangat canggung ketika mereka berada di dalam kamar. Tidak seperti hari pertama kali mereka bertemu.
Tuan Arka jadi gugup dan sedikit salah tingkah. Begitupun dengan Tanti.
Tanti melepas jaketnya. Biarlah tubuhnya terekspos sesaat. Dan setelahnya tidak akan lagi.
"Ini Tuan jaketnya terimakasih."Kata Tanti sembari menyodorkan jaket Tuan Arka.
Arka mencium wangi jaketnya.
"Wangi banget Tanti."
"Iya. Itukan bau parfum kamu Tuan."
__ADS_1
"Oh, iya ya... Aku lupa kalau sebelum berangkat aku menyemprotkan parfum
"Ya udah Tuan,bisakan anda keluar dari sini? Saya mau ganti baju dan istirahat."
"Em..eh..em...nggak mau aku temanin."
"Temanin apa?" tanya Tanti.
"Em..temenin tidur barangkali."
"Apa!!" pekik Tanti membelalakan matanya.
"Ups, maaf Tanti. Aku udah lancang. Ya udah selamat malam Tanti. Tidurlah dan semoga mimpi indah."
"Iya Tuan."
****
Malam ini, Laura membolak-balikan tubuhnya. Miring kanan,miring kiri.
Ah, rasanya tidak enak. Kakinyapun merasa sedikit nyeri.
Laura kemudian meraih ponselnya yang masih tergeletak di atas nakas. Dan dia menelpon Arka.
"Halo Arka."
"Halo, ada apa Laura?"
"Arka, kamu di mana?"
"Maaf sayang, aku lagi di apartemen. aku nggak pulang malam ini. Aku capek banget. Tadi aku pergi ke kantor sayang, ada beberapa berkas yang harus aku ambil." Bohong Arka.
"Oh, jadi kamu ke kantor? dan sekarang kamu nginap di aprtemen?
"Ya udah deh sayang ku Laura. Lanjutin tidur lagi yah,Jangan lupa minum obat. Supaya kaki kamu nggak sakit."
Tut. Arka memutuskan sambungan telponnya.
Laura terdiam. Apa yang terjadi dengan Arka. Arka benar-benar lupa akan ucapan sayangnya pada Laura. Karena setiap kali dia bertelponan dengan Laura, Dia akan mengucapkan "selamat malam dan semoga mimpi indah" Atau mungkin ciuman lewat ponsel. Namun kali ini tidak.
Laura menangis.
"Arka, apakah kamu tahu, malam ini aku sangat menginginkan mu, sejak aku sakit, kamu belum menyentuhku Arka. Apakah kau tak memikirkan aku..." Gumam Laura.
Laura kemudian menatap ke arah jendela.
"Arka, sebenarnya aku tidak sanggup kalau harus berpoligami. Sekarang Tanti udah pergi, dan aku nggak akan bisa pura-pura hamil di depan Mama. Pasti kamu akan di pilihin jodoh oleh Mama." Gumam Laura.
"Huh, Kenapa nasib aku jadi seperti ini."Desah Laura.
Beberapa saat kemudian, ketukan pintu dari luar kamar Laura terdengar.
tok tok tok..
"Siapa?" Tanya Laura sembari menyeka air matanya.
"Ini aku Nona. Bik Inah.."Ucap Bik Inah salah satu pembantu di rumah Laura.
"Masuk aja Bik. Nggak di kunci kok. Kalau aku di suruh buka pintu aku ya nggak bisa." Gerutu Laura.
Bik Inah kemudian masuk kedalam kamar majikannya.
Dia tersenyum pada nona mudanya.
"Ada apa Bik?"
__ADS_1
"Tuan Arka, menyuruhku menemani nona disini. Kata Tuan, malam ini Tuan tidak pulang."
"Iya aku tahu." Ketus Laura sembari memalingkan mukanya.
"Nona, kalau nona butuh apa-apa,tinggal bilang aja yah."
"Iya Bik. Terus malam-malam gini, bibik mau apa? inikan saatnya bibik tidur. Sudahlah sana aku nggak perlu di temanin."
"Tapi kalau non butuh apa-apa gimana?"
"Udahlah, aku lagi pengin sendiri Bik. Sana pergi...!"
"Baik non."
***
Malam sudah menunjukan jam 2 malam. Arka yang sedang berbaring di ranjangnya, menatap ke arah jendela.
"Ah, kenapa dengan aku. Kenapa fikiran Tanti selalu menghantuiku." Gumam Arka.
Malam ini, Arka benar-benar tidak tidur. Entah apa yang dia fikirkan. Sepertinya dia sedang membayangkan sesuatu.
"Ah, Tanti, kamu ternyata cantik sekali. Dengan satu kali tatap kau bisa membangunkan hasrat ku. Apa yang bisa aku lakukan saat ini Tanti. Jika sebenarnya malam ini aku menginginkanmu." Gumam Arka yang entah dia menyadari ucapannya itu atau tidak.
Arka menghela nafasnya dalam. Sekelabat bayangan menghampiri otaknya.
"Astaga...! Body guard ku. Dia masih berdiri di depan. Kan mereka tadi belum aku suruh pulang." gumam Arka, saat terlintas dalam fikirannya wajah Herman dan Idris.
Arka kemudian keluar apartemen. Dan benar saja, Herman dan Idris sudah terlelap sembari bersandar di pintu apartemen.
"Astaga, kasihan sekali mereka."
Arka kemudian membangunkan ke dua pengawal itu.
Arka menepuk-nepuk pipi Idris dan Herman.
" hey, ayo bangaun. Jangan tidur di sini."
Kedua pengawal itu, terperanjak kaget.
"Eh, Tuan siap Tuan...!." Kata Idris memberi hormat.
Hoaaam..Herman menguap.
"Bodoh kalian! Kenapa kalian malah tidur disini!" Kata Arka dengan suara meninggi.
"Maaf Tuan. Kami sangat lelah. Jadi kami ketiduran ." Kata Herman yang tampak masih mengucek kedua matanya yang sepertinya masih megantuk.
"Kenapa kalian tidak tidur di rumah?" tanya Arka.
"Lah kan Tuan belum nyuruh kita pulang.."Kata Herman.
"Ah, bodoh sekali !. Kalian itu udah tua, Tapi masib tolalit juga. Kenapa mesti di suruh! Kalian berdua itu punya otak, punya kaki. ya pulang lah. Ngapain kalian nungguin aku di sini." Kata Tuan Arka yang selalu mau menangnya sendiri.
Herman dan Idris saling berpandangan. Mereka seperti tidak terima di bilang bodoh terus.
Padahal mereka tahu, kalau yang bodoh itu adalah Tuan nya.
Kalau mengenai Tanti, pastilah dia akan selalu bertindak bodoh. Dia akan ikut-ikutan mencari, Dia rela makan di warteg dan menyusuri tempat pemukiman kumuh untuk mencari Tanti. Hal yang tidak akan mungkin orang konglomerat lakukan dalam hidupnya.
"Masuklah, tidur di dalam. Tapi subuh-subuh jika Tanti bangun, kalian harus sudah ada di luar. Jangan sampai kalian memandangnya. Faham!"
"Iya Tuan." kata Idris.
"*Uh posesif banget sih...! Bati**n Herman.
__ADS_1
***
**Maaf readers ku tercinta, belum revisi yah, jadi masih banyak kesalahan tanda baca atau salah ketik***.