Istri Yang Di Jual.

Istri Yang Di Jual.
kelicikan Mama Arka.


__ADS_3

"Tanti kenapa kamu menangis?" tanya Tuan Arka. Tuan Arka kemudian menghapus air mata Tanti.


Tanti menatap Tuan Arka dalam. Kemudian Tanti tersenyum.


"Tuan, Katakanlah Apa kamu mencintaiku? Apakah kamu mau menikahiku karena cinta? atau apakah kamu mau menikahi ku karena mau ambil keturunanku saja. Karena dulu Tuan pernah berkata kalau Tuan tidak akan pernah mencintaiku. Dan aku tidak boleh jatuh cinta padamu Tuan."


"Tanti, ucapanku yang dulu memang salah Tanti. Aku masih ragu dengan perasaanku. Aku masih sangat mencintai Laura Tanti. Tapi sekarang, aku juga sangat mencintaimu."


Tanti masih tampak menangis. Dia tidak tahu juga dengan perasaannya sekarang. Dia mencintai Tuan Arka atau dia membenci Tuan Arka.


Tuan Arka menghapus air mata Tanti. Setelah itu dia mencium kening Tanti yang membuat Tanti terkejut.


"Aku mencintaimu Tanti. Aku ingin kamu jadi istriku. Sekarang tataplah mataku Tanti. Dan jawablah pertanyaanku."


Tanti kemudian menatap Arka. Tanti tersenyum. Betapa bahagianya dia saat ini, mendapatkan cinta dari sosok Arka.


Arka yang selama ini jadi idola para wanita. Arka yang membuat banyak wanita tergila-gila.


"Tuan, jangan lah kamu mencintaiku karena kecantikanku atau kebaikan akhlak ku. Cintailah aku karena Allah."


"Iya Tanti. Aku akan mencintaimu karena Allah. Aku akan menjadikan mu istri dunia akhirat. Aku akan menunggu sampai masa iddahmu selesai."


Tanti masih berduaan dengan Arka. Nia dan Herman kemudian datang.


"Kak Tanti, ayo kita kembali ke apartemen. Di sini nggak aman. Sebentar lagi pasti nenek lampir itu akan datang kemari."Ucap Nia.


"Nenek lampir siapa Nia?" Tanya Arka bingung.


"Itu, Kak Jihan ama Kak Laura."


"Kak Laura? Kamu ngatain Kak Laura nenek lampir?"Arka terlihat sedikit kesal.


"iya Kak. Maaf yah Kak Arka. Kemarin istri kesayangan Kakak itu ribut. Dan dia menjambak Kak Tanti."


"Astaga, laura melakukan itu?"Kata Arka tak menyangka.


"Iya. Dan aku sebel sama dia. Masak di ngatain Kak Tanti pelakor."


"Astaga Laura. Keterlaluan sekali dia" Geram Arka.


"Herman" Ucap Tuan Arka.


"Iya Tuan." kata Herman kemudian.


"Saya mau membelikan rumah untuk Tanti. Tolong Herman kamu cari rumah tingkat tiga yang luas, seperti rumah ku dan Laura."


"Tuan?" ucap Tanti yang masih tidak percaya.


Tuan Arka tersenyum.

__ADS_1


"Sebentar lagi kamu akan jadi istriku. Aku akan adil sama Laura dan kamu Tanti. Aku tidak akan membedakan mana istri siri dan mana istri sah."


***


Arka perlahan-lahan mulai membaik. Tapi tidak dengan nyonya Alicia. Ke adaan nyonya Alicia saat ini sangat memprihatinkan.


Arka yang sudah tampak bisa berjalan, ingin menemui mamanya. Tuan Arka di kawal oleh Idris dan Dani.


Di kamar perawatan Arka masuk kedalam.


"Pa, Gimana kondisi Mama Pa?"


"Nggak tahu Nak. Kondisi mama mu semakin melemah." Jawab Tuan Bram.


Arka mendekat ke arah Mamanya. Dia kemudian duduk di sisi mamanya.


"Mama, Maafkan Arka Ma. Arka belum bisa menjadi anak yang baik untuk mama. Arka sayang sama Mama. "Kata Arka sembari mengecup punggung tangan Mamanya.


Mama Arka mengerjapkan Mamanya.


"Arka anak ku, Maafkanlah Mama Nak, Mungkin umur mama sudah tidak akan lama lagi Nak."


Arka menangis.


"Jangan bilang gitu Ma. Arka sayang sama Mama. Arka nggak mau kehilangan Mama. Mama harus janji yah, Mama harus kuat."


"Iya, Mama juga tidak ingin meninggalkan mu Arka. Tapi, mama sudah nggak tahan Arka. "


"Kamu mau Mama bertahan Arka?"


"Iya. Ma..."


"Menikahlah dengan Jihan Arka. Mama kepengin mempunyai seorang cucu. Cuma itu yang bisa membuat mu bertahan."


"Apa? menikahi Jihan. Bagaimana mungkin Ma. Aku udah tidak mencintainya lagi."


"Ya udah kamu memang tidak sayang sama Mama. Kamu menginginkan kematian Mama yah."


Arka menggeleng. "Nggak Ma. Aku nggak ingin kehilangan Mama."


Nyonya Alicia beringsut duduk.


"Tolong Arka menikahlah denga Jihan. Cuma itu yang bisa membuat Mama bahagia." pinta Nyonya Alicia.


Ah, permintaan Mama itu sangat menyulitkan ku. Bagaimana mungkin aku akan menikahi dua orang sekaligus secara bersamaan. Bagaimana perasaan Laura. Tapi aku juga tidak bisa menolak Mama. Aku sayang Mama.


Arka dan Mamanya berpelukan. Seringai licik dari Nyonya Alicia. Nyonya Alicia tersenyum pada suaminya sembari mengacungkan jempolnya. Ternyata Tuan Bram dan Nyonya Alicia bersekongkol.


Arka tampak berfikir. Dia akhirnya mengiyakan juga keinginan Mamanya.

__ADS_1


"Baiklah aku mau. Tapi tolong Ma. Mama juga harus tetap memcintai Laura. Mama nggak boleh pilih kasih."


"Iya. mama masih akan tetap menyayangi Laura. Walaupun dia tidak bisa memberikan cucu untuk mama." Ucap Nyonya Alicia.


****


Malam ini Laura masih berada di kursi rodanya sementara suaminya masih berbaring di ranjang.


Arka beranjak turun dari ranjangnya. Dia kemudian mendekat ke arah Laura. Arka berlutut di depan Laura. Dia mencium punggung tangan Laura.


"Lauara. "


Laura diam.


"Laura maafkan aku sayang."


Lagi-lagi Laura diam.


Laura kemudian menangis.


"Arka, aku bukan perempuan yang sempurna untuk kamu Arka. Jika kamu mau menuruti keinginan Mama untuk menukahi Jihan. Apalah hak ku untuk melarang."


"Laura. Jangan bicara begitu Laura. "


"Terserah kamu saja sekarang Arka. Kamu mau menikah dengan siapapun aku udah nggak peduli. Aku itu udah cacat dan aku nggak bisa ngasih keturunan buat kamu."


Laura sudah tampak lelah menangis. Dia tidak ingin berlarut-larut dalam kesedihan. Namun, saat dia sudah bisa berjalan, dia akan mencari kesibukan sendiri. Yah mungkin saja dia akan melanjutkan karirnya di dunia modeling.


Laura mendorong ke kursi rodanya sendiri. "


"Sayang, apa kamu mau tidur?"


Laura mengangguk.


Arka kemudian membaringkan Laura di tempat tidur.


Laura memejamkan matanya. Dia pura-pura terlelap.


Arka mengelus lembut rambut panjang Laura.


"Sayang ku Laura. Aku sayang sama kamu. Tapi maafkan aku Laura,karena aku belum bisa menjadi suami yang terbaik buat kamu. Aku sayang kamu, aku juga sayang Mamaku."


Setelah itu Arkapun ikut berbaring. Dia mendekap mesra tubuh Laura. Dan Arka pun terlelap.


Laura sudah tidak bisa membandung lagi air matanya. Air matanya itu deras membanjiri bantalnya. Dia masih menangis sesenggukan di pelukan suaminya.


Laura tidak menyangka, kalau rumah tangga yang dulunya baik -baik saja menjadi runyam seperti ini. Padahal Laura ingin mengatakan kalau Arka tidak mencoba untuk bayi tabung saja. Tapi Laura tahu siapa Arka. Arka itu memang keras kepala. Mana mungkin dia mau mendengarkannya. Pasti Arka akan lebih memilih untuk mendengarkan ucapan mamanya dari pada ucapan Laura sang istri.


Arka, apakah kamu tahu Arka, betapa sakitnya hati ini, saat kamu memutuskan untuk menikahi Tanti dan Jihan. Namun aku juga belum bisa kehilanganmu Arka. Aku sangat mencintaimu. Sudah bisa bersanding dengan mu seperti ini, juga sudah lebih dari cukup buat aku Arka. Tapi entahlah kedepannya aku tidak tahu.

__ADS_1


.


__ADS_2