
penginnya sih tamat. Tapi author nggak bisa move on.
😑😑
hhh Maafin yah...
...****************...
"Hua...aaa...aaa..."
Jam satu malam, Aurel menangis. Bu Nunik bingung. Dia panik.
"Ya Allah Aurel..." Ucap Bu Nunik.
Bu Nunik memegangi kepala Aurel. Yah, Aurel demam. Tubuhnya panas sekali.
"Aurel..." Kata Bu Nunik sembari beringsut duduk.
Bu Nunikpun duduk. Setelah itu dia menggendong Aurel.
"Ya ampun Nak. Gimana ini? Kenapa nangisnya malah semakin kencang saja."
Bu Nunik kemudian berdiri dan mengajak Aurel ke luar kamar.
Nyonya Alicia tampak ada di dapur. Dia juga mendengar Aurel menangis.
"Aurel, kenapa tengah malam begini dia menangis?" Gumam nyonya Alicia.
Nyonya Alicia kemudian melangkah ke arah orang tuanya Tanti. Yah, orang tua Tanti dan adiknya Tanti sekarang ada di rumah Arka.
"Bu Nunik, apa yang terjadi?" tanya nona Alicia.
" Ini Bu Alic, Ini Aurel. Aurel badanya demam. Dia panas tinggi."
"Oh...Cup cup cup..." Kata Nyonya Alicia sembari menggendong Aurel.
"Gimana yah Bu.?" tanya Bu Nunik.
"Nggak apa-apa. Kita bawa aja Aurel ke dalam. Masak kita akan serahkan Aurel pada pengantin baru." Kata nyonya Alicia.
"Iya. Baiklah kalau begitu."
Bu Nunik kemudian masuk lagi ke dalam kamarnya di ikuti Nyonya Alicia.
"Hua...Mama...ma....ma..." Tangis Aurel semakin kencang.
Sementara itu di sisi lain , Tanti masih terlelap bersama Arka. Tanti mengerjapkan matanya.
"Sayang, kenapa perasaan aku jadi nggak enak begini? bangun Arka." Tanti tampak membangunkan Arka.
Arka mengucek matanya.
"Sudah lah sayang, katanya kamu capek. Ayo kita tidur lagi!"
__ADS_1
"Aku seperti mendengar Aurel menangis."
"Ah, kamu gimana sih, katanya kamu capek. Kenapa kamu masih mikirin Aurel? Aurel biarinlah ada mamaku dan ibumu juga kan?"
"Tapi Arka."
Arka semakin mengeratkan pelukannya saja.
Ah, kenapa malam pertama harus begini sih. Batin Arka.
"Arka lepasin. Aku mau keluar!."
"Tanti, sudahlah, di sini saja. Kamu mau kemana?" Kata Arka yang tidak membiarkan sedikitpun Tanti pergi.
"Arka, lepasin tangan kamu...Biarkan aku melihat Aurel. Aurel menangis...!" Kata Tanti mencoba melepas pelukan suaminya.
"Ah, Tanti. Kamu itu gimana sih. Kamu tidak memberikan aku jatah, sekarang kamu mau keluar. Apa sih mau kamu. Kalau begitu kenapa kita menikah."
Tanti menatap Arka dalam.
"Maaf Arka. Aku tidak bisa memberikanmu sekarang. Aku lagi ada halangan. Lepasin...!"
"Oh, oke..."
Arkapun kemudian melepas pelukannya. Sementara itu Tanti pergi dan melangkah ke kamar Bu Nunik.
"Aurel...Aurel kenapa Ma, Bu, "
"Tanti. Aurel badannya panas sekali." Kata Bu Nunik.
"Ya udah, kalau begitu, sini biar Aurel tidur sama Tanti. Biar Tanti bisa kompres Aurel."
Nyonya Alicia kemudian memberikan Aurel kepada Tanti.
"Ayo sayang, kita tidur di kamar mama. Kasihan kamu." Kata Tanti sembari pergi meninggalkan Bu Nunik dan nyonya Alicia.
Bu Nunik dan nyonya Alicia saling berpandangan.
"Sudahlah Bu Nunik, Bu Nunik bisa istirahat lagi."
"Iya Bu Alic, terimakasih. Terimakasih telah mengizinkan keluarga kami nginap di sini."
"Nggak usah sungkan-sungkan Bu Nunik, rumah ini sangat luas, jika Bu Nunik berkenan, maka Bu Nunik dan keluarga boleh tinggal di sini selamanya. Karena Bu Nunik sekarang adalah besan saya, jadi sudah saya anggap keluarga sendiri."
"Iya. Sekali lagi terimakasih Bu Alic."
"Iya. Sama-sama." Kata Bu Alice tersenyum. Setelah itu Bu Alice pun pergi meninggalkan Bu Nunik.
Sementara Tanti di dalam kemarnya mendekat ke arah Arka.
"Arka, gimana ini. Aurel panas tinggi."
Arka beringsut duduk. Dia kemudian berdiri dan Arkapun menggendong Aurel.
__ADS_1
"Kamu siapkan air sama handuk untuk mengompres Anisa. Nanti biar aku yang ngompres."
"Baiklah Arka."
"Kalau besok panasnya nggak turun-turun, nanti aku akan telpon Dewa." Kata Arka lagi.
"Iya Arka."
Tanti kemudian pergi mengambil alat untuk mengompres,
"Huaa....papa..."
"Iya sayang, cup cup cup..." Kata Arka sembari mengusap air mata Aurel.
Beberapa saat kemudian Tanti kembali.
"Ini Arka airnya."
Arka kemudian membaringkan Aurel di ranjang. Dan perlahan-lahan mulai mengompres Aurel.
Tanti tersenyum.
"Wah, sayang, ternyata lebih pintar kamu yah, ngurus anak. Aku malah bingung Aurel sakit." Kata Tanti terkagum-kagum.
"Aku suka anak kecil Tanti. Anak kecil mana sih yang tidak suka dengan perhatianku. Semua anak kecil itu suka denganku."
"Iya sayang."
Setelah selesai Aurelpun tidur. Arka kemudian mendekati Tanti. Dia meraih ke dua tangan Tanti.
"Kamu cantik sekali Tanti tanpa hijab. Aku pengin kamu selalu cantik di depan aku. Jangan kecantikanmu itu di pertontonkan di depan umum. Jadi aku melarangmu untuk berhias diri saat keluar."
"Nggak bisa gitu dong Arka. Kalau aku keluar tanpa make up, nanti orang-orang akan bilang nyonya Tanti wijaya itu jelek." Tanti protes.
Ha...ha... Arka tertawa.
"Aku suka kamu di bilang jelek sama orang. Dari pada kamu di lirik sama seorang lelaki. Aku nggak rela Tanti."
Tanti tersenyum.
"Jadi kapan Tanti kamu siap?"
"Satu minggu lagi."
"Astaga Tanti...! Lama sekali...!"
"Kamu harus tahu ke adaan wanita. Dalam ke adaan seperti ini aku tidak akan bisa memberikanmu jatah apa-apa."
"Tapi kalau peluk masih boleh kan sayang."
Tanti mengangguk.
Arka kemudian memeluk Tanti. Begitu pun Tanti semakin mengeratkan pelukannya.
__ADS_1
*****
☺☺☺