Istri Yang Di Jual.

Istri Yang Di Jual.
Di manjakan suami.


__ADS_3

Arka masih terlelap sembari memeluk Aurel. Tanti mendekat ke arah Arka. Dia mengelus wajah suaminya dan mengecup mesra wajah Arka.


"Sayang...bangun...! nyenyak sekali kamu tidurnya. Padahal, kita semalamkan tidak melakukan apa-apa." Bisik Tanti pelan.


Arka mengerjapkan matanya. Dia melihat Tanti sangat begitu cantik. Tanti yang masih mengenakan handuk kimono, rambut Tanti yang tergerai dan tampak basah itu, membuat Arka tidak berkedip.


"Subhanallah...istriku. Kamukah wanita yang benar-benar Tuhan berikan untuk aku? kamu cantik sekali sayang, kamu sudah mandi?"


"Iya sayang. Aku sudah mandi. Aku mau bangunin kamu untuk sholat. Kamu sholat sendirian dulu yah. Aku lagi nggak sholat soalnya."


"Iya sayang. Sekarang, mana Zoya?"


"Zoya mungkin ada bersama mama mu Arka."


Arka tiba-tiba saja memeluk Tanti. Jantungnya berdebar tidak karuan. Begitu juga dengan Tanti.


"Sayangku Tanti. Kamu cantik sekali. Membuat aku jadi tidak bisa melupakan mu."


"Maaf kan aku, aku belum bisa memenuhi kewajibanku sebagai seorang istri."


Arka melepas pelukannya. Dia menangkup wajah Tanti.


"Tidak apa-apa sayang. Kamu cantik sekali Tanti. Kamu harum sekali. Belum apa-apa, kamu sudah bisa menyenangkan suami. Aku jadi ngak tahan Tanti. Melihat kamu. Aku jadi pengin..."


"Ih...Arka. Apaan sih kamu. Pengin apa? Udah sana, pergi mandi dan sholat dulu. Nanti aku akan siapkan baju kerja kamu. Kamu kan harus ke kantor."


"Iya sayang." Kata Arka, setelah itu dia mencium Tanti dan melangkah ke kamar mandi.


Arka kemudian mandi. Sementara itu, Tanti ganti baju seperti biasanya. Dia pakai setelan gamis dan hijabnya. Memang sudah bawaan Tanti dari kampung. Penampilanya seperti itu. Tapi itu semua membuat Arka semakin jatuh cinta. Tanti semakin di manja saja. Di lemari pakaiannya sudah tersedia puluhan baju mahal yang Arka khususkan buat Tanti.


Tidak lupa juga Arka membelikan berbagai model lingerie keluaran terbaru. Membuat Tanti malu sendiri jika membuka lemarinya.


"Ah, suamiku ini sangat berlebihan sekali. Untuk apa coba dia membeli satu lusin lingeri. Emang aku suka apa baju kayak gitu? ih geli." Kata Tanti sembari mengedikan bahunya.


Tanti kemudian menutup lemarinya.


Arka masih melilitkan handuk di tubuhnya. Arka kemudian keluar dari kamar mandi.


Dia menghampiri Tanti dan memeluknya dari belakang. Tubuh Arka begitu dingin dan badanya masih terlihat basah.


"Tanti, sayang...!"


"Hem..."


"Tanti, aku malas ke kantor."


Tanti melepaskan pelukannya. Dia kemudian menghadapkan tubuhnya ke Arka.


Tanti tersenyum.


"Arka, bukankah kamu mau meeting hari ini sama papa."


"Em, iya sayang. Tapi aku masih kangen sama kamu. Aku pengin ada sisi kamu terus."Kata Arka penuh kemanjaan.


Tanti membelai wajah Arka dan menyibakan rambut Arka yang basah.


Tanti tersenyum dan dia mencium Arka. Yah, walaupun Tanti malu, tapi cuma itu yang bisa di lakukannya untuk menyenangkan suaminya saat ini. Karena dia belum bisa memberikan sesuatu berharganya untuk Arka.

__ADS_1


"Tanti. Ya ampun, kamu mencium ku...! astaga...aku bahagia banget pagi-pagi gini dapat hadiah ciuman."


"Tubuh kamu dingin Arka."


"Iya sayang. Ini kan masih subuh. Sebenarnya aku masih pengin meluk kamu. Aku masih kedinginan. Tapi, aku harus sholat subuh dulu. Dan setelah ini, berangkat ke kantor."


"Arka sayang, udah deh, aku sekarang milikmu. Dan sampai kapanpun akan menjadi milikmu. Kamu nggak perlu khawatir gitu deh ah,"


"Iya sayang. Aku ganti baju dulu yah..." Kata Arka.


"Em, Arka. Aku keluar dulu yah."


Arka langsung saja mencekal tangan Tanti.


"Mau kemana?"


Tanti bingung mau jawab apa. Padahal sebenarnya Tanti malu, jika saja Arka ganti baju di depanya.


"Em, Arka,aku...aku mau keluar sebentar. Boleh kan...?"


"Mau kemana? "


"Em, anu...eh..."


Arka tersenyum. Dia menatap wajah istrinya.


"Okelah. Aku tahu, ya udah kamu balik badan saja. Kalau kamu malu sama aku. Aku mau ganti baju dulu."


Wajah Tanti merona.


"Nah gitu dong...! jangan lupa yah. Nanti siapkan dasi aku dan sepatu aku."


"Iya sayang." kata Tanti.


Setelah itu Tanti melangkah ke lemarinya. Dia kemudian mengambil dasi Arka.


Setelah Arka selesai mengganti baju, Tanti mendekat ke arah Arka.


" Arka. Bagaimana caranya aku memakaikan dasi kamu aku nggak tahu."


Arka tersenyum."Ah, kamu itu. Ada-ada saja Tanti."


"Arka. Apa sebelumnya aku pernah mempunyai suami orang kantoran seperti kamu. Kan nggak Arka. Aku punya suami cuma orang pengangguran, yang tega menjual aku pada kamu."


Arka menatap Tanti lekat. Dia masih mengulas senyum.


"Tapi kamu senangkan? sekarang kamu sudah menjadi istri sahku? istri satu-satunya Tuan Arka Wijaya."


"Iya Arka. Aku sangat bahagia. Sekarang aku sudah tidak akan meragukan cinta kamu lagi.


"Makasih yah sayang. Aku cinta sama kamu."


"Aku juga Arka."


Arka kemudian mengajari Tanti untuk memakaikan dasinya.


Sesaat kemudian, Aurel terbangun.

__ADS_1


"Mama...papa..." Ucap Aurel.


Tanti dan Arka menoleh.


"Arka. Anak kita bangun."


"Iya. Sayang. Udah sana kamu urusin saja Aurel."


...****************...


Di sisi Lain, Bik Inah tampak sedang membujuk Zoya untuk mandi dan makan.


"Ayo Non. Non Zoya mau mandi dulu apa makan dulu?"


Zoya melipatkan tangannya ke dadanya.


"Zoya nggak mau makan kalau nggak sama papa. Zoya maunya di mandiin papa dan di suapin papa." Kata Zoya.


"Tapi papa dan mama kamu belum keluar kamar Non..."


"hiks...hiks..." Zoya menangis.


"Kenapa mama dan papa nggak sayang sama Zoya lagi. Kenapa Zoya nggak boleh tidur bareng mereka. Kenapa Bik...!" Bik Inah mendekat ke arah Zoya.


"Zoya, Zoya itu udah gede. Harusnya itu Zoya mandiri dong...!


Zoya kan anak pintar. Zoya contoh Tante Nia. Tante Nia juga tidurnya sendiri, nggak sama bibik."


"Tante Nia udah gede. Tapi Zoya kan masih kecil."


"Tapi waktu Tante Nia seusia Zoya, Tante Nia tidur sendiri."


Bik Inah kemudian, duduk di samping Zoya.


"Aku mau ke kamar papa bik...!"Ucap Zoya.


"Ya udah bibik antarin yuk."


Bik Inah kemudian mengantar Zoya ke kamar Arka dan Tanti.


Tok tok tok...


Suara ketukan mengaggetkan Arka dan Tanti. Tanti kemudian membuka pintunya.


"Ini Non Tanti, Non Zoyanya itu minta ke sini."


"Iya. Bik. Makasih."


Zoya langsung memeluk Tanti. Zoya menangis.


"Kenapa nangis sayang...?" tanya Tanti sembari mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh Zoya.


Tanti mengusap air mata Zoya.


"Kenapa Aurel boleh tidur di sini? kenapa aku nggak boleh?. Kalian pilih kasih sama aku dan Aurel."


"Nak, Aurel itu semalam demam. Dia sakit. Jadi mama bawa Aurel ke kamar mama."

__ADS_1


__ADS_2