Istri Yang Di Jual.

Istri Yang Di Jual.
Satu tahun kemudian


__ADS_3

Satu tahun kemudian. Tanti masih bertahan di rumah luas milik Arka, Putri juga masih bertahan di apartemen Arka bersama Zoya, Sementara Laura sudah melakukan aktivitasnya seperti biasa melakukan pemotretan iklan,majalah, dan lainnya.


Sekarang, Arka sedang duduk bersama Nyonya Alicia.


"Arka, Jihan, Kenapa sampai satu tahun kalian belum punya anak...? Gimana sih kalian. Katanya program hamil. Kenapa belum juga bisa hamil?" Ucap Mama Arka.


Jihan menghela nafasnya dalam.


Ah, lagi-lagi anak yang di bahas. Batin Jihan.


"Ma, udahlah Ma, Jangan bahas anak terus. Arka malas Ma,"Ucap Arka.


"Ya udah kalian harus cepat punya anak. Kalau nggak, bawa anak angkat kamu ke sini Arka."


"Apa. Anisa? Anisa mau tinggal di sini?" Kata Jihan terkejut.


"Iya. Mama akan adopsi dia." Ucap nyonya Alicia.


Arka menegak salivanya. Ah, bagaimana ini, Kalau ada yang tahu Anisa itu anak Arifin dan Tanti bisa gawat nih. Tanti bisa-bisa kabur bawa anak itu.


"Nggak Ma. Sebentar lagi ibunya Anisa akan pulang." Kata Arka.


"Jihan juga nggak mau ngurus anak." Ucap Jihan.


"Ah, Pokoknya Mama nggak perduli. Kalau kalian keberatan Mama bawa Anisa kesini, mending kamu menikah lagi Arka. Cari wanita yang bisa memberikanmu anak. Ternyata saya punya menantu tidak ada yang berguna." Kata Nyonya Alicia sembari pergi meninggalkan anak dan menantunya.


Jihan dan Arka saling menatap.


"Apa? menikah lagi?Mama kamu udah gila yah Arka.? "Ucap Jihan.


Arka hanya mengedikan bahu.


"Ah, pusing. nuruti keinginan Mama." Ucap Arka sembari berlalu meninggalkan Jihan.

__ADS_1


Arka kembali ke kamar. Dia membaringkan tubuhnya di ranjangnya. Dia kemudian menatap foto yang ada di ponselnya. Yah foto wanita tercintanya. Siapa lagi kalau bukan Tanti. Setiap hari, Arka hanya memikirkanTanti. Walau dia sekarang berada di tengah dua orang wanita, namun satu yang ada di fikirannya yaitu cuma Tanti.


"Tanti, tetaplah bertahan, walau ini semua pahit. Tapi aku yakin kita akan bahagia Tanti. Biarkanlah aku menyelesaikan urusan ku dulu dengan orang-orang ini. Baru aku akan menjadikanmu wanita satu-satunya sayang."


Arka mengecup Foto Tanti kemudian dia tersenyum.


"Arka."Tiba-tiba saja, Jihan datang.


"Ada apa? " Tanya Arka.


"Arka,"Jihan menangis.


"Udahlah, nggak usah nangis seprti itu, Aku nggak suka." Ucap Arka ketus.


"Arka, aku ini istrimu, Kenapa selama satu tahun kita menikah, kamu tidak mau menyentuhku. Apa kekurangan aku Arka. Aku cantik aku lebih baik dari Laura."


"Kekurangan kamu adalah, kenapa kamu mau menikah dengan orang yang sama sekali tidak mencintai mu Jihan. Aku cuma mencintai Tanti. Paham kamu."


"Sudahlah Jihan, air mata buayamu itu nggak akan pernah mempengaruhi cintaku pada Tanti. Aku mencintanya lebih dari aku mencintai Laura. Dan aku akan selalu mencintanya sampai akhir hayatku. Akupun akan menjadikan dia satu-satunya di hatiku. Apakah kamu tahu? kalau aku sekarang sedang belajar melupakan Laura."


Jihan menangis. Yah, inilah memang kenyataanya kalau selama setahun menikah Arka belum pernah mau menyentuhnya. Arka lebih memilih untuk tidur di sofa dari pada tidur seranjang dengan Jihan.


Jihan menangis. Di sini dia juga merasa tersakiti. Dia tidak pernah di kasih nafkah batin oleh suaminya.


"Aku nggak kuat Arka kalau aku harus berpura-pura terus seperti ini di depan Mama mu." Ucap Jihan.


Arka kemudian mengambil selimut dan bantal dan dia beralih ke sofa. Yah, seperti biasa, walau dalam satu kamar, tapi mereka tak pernah bersentuhan. Arka pun tak pernah sudi untuk melirik apalagi menatap Jihan. Yah di sinilah sandiwara Arka bersama Jihan. Mereka hanya romantis saat ada di luar kamar.


***


Satu tahun Tanti dan Arka, tidak lagi berjumpa. Satu tahun Tanti bagai seorang tawanan. Di rumah yang luas namun penuh penjagaan. Harus bagaimana Tanti akan kabur lagi. Sekarang dia akan mencari cara untuk kabur.


"Arka...Jahat kamu Arka. Kamu sudah bemar-benar menghancurkan hidup ku. Kamu sudah membuat aku jatuh cinta. Sekarang kamu tinggalkan aku. Aku benci kamu Arka." Ucap Tanti.

__ADS_1


Di luar terik panas sudah sangat menyengat. Kaki tangan Arka nampak sudah tidak ada lagi. Mungkin siang ini mereka sedanh istirahat.


Tanti keluar dari rumah besar itu. Dengan bodohnya dia berlari tanpa menengok kanan kiri. Sehingga dia hampir terserempet oleh motor dan mobil yang berlalu lalang di jalanan.


Tanti pergi, membawa jutaan luka dan pertanyaan. Kenapa sejak dinner di malam itu, Arka tak lagi menemuinya. Mungkinkah Arka itu,sudah melupakannya. Mungkinkah Arka sudah tidak menginginkan kehadiran Tanti lagi.


Tanti menelurusuri lorong-lorong sempit. Dia pergi tanpa arah tujuan. Mungkinkah dia akan pulang kampung? Namun dia tidak akan pernah pulang kampung sebelum menemukan anaknya.


Tanti menangis di sepanjang jalan. Entah apa yang sedang merasuki pikirannya. Mudah-mudahan saja kabur kali ini, akan ada orang baik yang akan menolongnya.


"Tuhan, kemana lagi aku akan pergi. Apa aku akan menemui Mas Fari dan Marwa. Tapi mana mungkin mereka mau menerima ku. Aku itu kan cuma mantan. Masa lalu Mas Faris. Apakah Marwa akan ikhlas menerima kehadiranku." Gumam Tanti.


Tanti befikir lagi.


"Apakah aku akan ke rumah Umi dan Abah. Tapi, aku udah nggak mau berhubungan lagi dengan Arifin. Algian mereka bukan siapa-siapa ku lagi untuk saat ini."Gumam Tanti sembari masih terisak.


Tanti cuma hanya bisa duduk-duduk di emperan pertokoan. Dia cuma bisa meratapi hatinya yang terluka. Dua orang lelaki telah membuat luka di hatinya.


Malam akhirnyapun tiba. Tanti masih duduk di emperan toko. Namun kali ini, dia seperti orang gila. Kadang menangis, kadang tertawa, membuat orang-orang yang melihatnya jadi takut sendiri. Yah, inilah kehancuran. Kehancuran seorang wanita yang hatinya selalu di permainkan.


Tanti kembali berdiri. Sekarang sosok Tanti yang tegar seakan menghilang. Sekarang Tanti hanya bisa pasrah untuk nasibnya ke depan.


Tanti berjalan menelusuri jalanan yang padat. Dia sudah tampak tidak menghiraukan lagi keadaan dirinya.


Sekarang Tanti berada di atas jembatan. Semua akal fikiran Tanti suadah menghilang.


Tanti menatap ke bawah. Betapa deras air mengalir di bawah sana. Mata air sungai yang sekarang ada Tanti berdiri.


"Mungkin, ini adalah jalan terakhir untuk ku. Aku akan mencebur ke sana. Mungkin setelah ini, aku akan merasa bahagia dengan kehidupan baruku."


Tanti mendekat ke tepian jembatan. Kemudian dia naik ke atasnya.


Walau di hatinya masih berkecamuk akan berbagai macam fikiran, Namun sepertinya ke imanan Tanti sudah mulai melemah.

__ADS_1


__ADS_2