
Setelah Laura dan Dewa sampai di rumah Arka. Mereka turun dari mobilnya. Merka kemudian melangkah ke rumah Arka.
"Selamat malam non Laura, Tuan Dewa."
Laura tersenyum. Dia langsung memeluk Bik Inah. Yah, Bik inahlah orang yang selalu memberikan dukungan untuk Laura selama ini.
"Bibik gimana keadaannya?"
"Alhamdulilah sehat Non. Non sendiri gimana,"
"Aku sehat alhamdulillah."
"Ayo tuan, Nona masuk. Tuan Arkanya ada di dalam."
Laura dan Dewa kemudian masuk ke rumah Arka. Bukan rumah Arka juga, tepatnya adalah rumah Tuan Bram dan Nyonya Alicia. Karena ke dua rumah Arka sudah di jual. Yah, rumah yang di tempati Laura dan Tanti sudah Arka jual. Dia mau fokus mengurus anak-anaknya bersama orang tuanya.
"Duduk dulu nanti aku panggilkan Tuan muda." Ucap Bik Inah.
Bik Inah kemudian naik ke atas. Dia melihat Tuan Arka sedang sholat isya bersama Zoya anaknya.
"Duh, Tuan Arka. Jadi dia lagi sholat. Tumben banget yah. Dari kecilkan dia tidak pernah mau sholat. Di ajakin sholat bibik aja dia nggak mau. Pasti ini karena anaknya. Iya, Zoya memang calon anak soleha. Beruntung kamu Tuan bisa punya anak seprti Zoya." Kata Bik Inah tersenyum.
Setelah salam, Arka menghadap ke arah Zoya. Zoya menyalim tangan Papanya.
"Tuan. Maaf mengganggu, ada tamu di bawah Tuan."
Arka menoleh.
"Siapa?"tanya Arka.
"Tuan Dewa dan non Laura."
Arka sedikit terkejut.
"Laura kesini? bersama Dewa. Mau ngapain mereka."
"Yah, Tuan namanya saudara ya paling mau silaturahmi."
Arka manggut-manggut.
"Bik. Bibik di sini aja yah, jagain Anisa. Aku keluar dulu mau nemuin mereka."
"Zoya ikut Pa."
"Iya."
Arka kemudian menggendong Zoya. Dia kemudian membawa Zoya ke hadapan Dewa dan Laura.
__ADS_1
Laura dan Arka saling menatap. Yah, bagaimanapun juga mereka pernah saling mencintai. Dan sudah sama-sama mengetahui luar dalam pasangannya masing-masing. Kenangan indah dan kenangan pahit mereka mungkin masih tersisa di memori keduanya. Sekarang hanya perasaan canggunglah yang sedang menyelimuti keduanya.
Arka, seandainya waktu bisa terulang, andai kamu dari dulu mau mengadopsi Anisa, mungkin kamu tidak perlu menikah dengan wanita manapun. Cukup kita berdua yang menjadi orang tua Anisa. Mungkin aku juga akan menerima anaknya Putri menjadi anak ku. Tapi, sekarang sudah berbeda. Kita tidak mungkin bersatu. Karena sebentar lagi aku akan menikah dengan Dewa. Batin Laura.
"Eh, kalian. Ada apa, tumben banget kesini." Kata Arka sembari duduk.
Laura masih menatap Zoya.
"Dia anak kandung kamu dan Putri Arka?" tanya Laura.
"Iya." Jawab Arka singkat.
"Wah, lucu banget yah. Kenapa dia cantik sekali mirip banget sama lo Ka." Ucap Dewa.
Arka tersenyum.
"Sayang, itu Om Dewa dan itu Tante Laura. Sana Zoya salim dulu." Arka memperkenalkan Zoya pada Dewa dan Laura.
Zoya pun menyalim tangan Dewa dan Laura. Setelah itu Zoya duduk di samping Papanya.
Laura tersenyum pada Zoya.
"Zoya sayang, sini deh. Tante punya sesuatu buat kamu."
Zoya mendekat.
Laura kemudian memangku Zoya. Dia memberika coklat pada Laura.
"Makasih Tante Laura. Zoya senang coklatnya."
Arka menatap Laura. Hatinya seperti sedang menyesali masa lalunya, di mana ke egoisannya sangat menyakiti hati Laura.
Maafin aku Laura, aku sudah banyak menyakitimu. Mudah-mudahan kamu bisa mendapatkan lelaki yang baik Laura.
"Eh,Ka. Kita kesini, cuma mau ngasih ini." Ucap Dewa sembari menyodorkan sebuah surat undangan pernikahan.
Arka menatap lekat undangan itu.
"Kalian mau menikah? satu minggu lagi?"
"Iya Arka."
"Oh Selamat yah, untuk pernikahannya, gue doain semoga kalian menjadi keluarga yang samawa."
"Iya. Sama-sama Ka. Gue juga doain semoga lu bisa nemuin istri lagi, buat jagain anak-anak lu." Kata Dewa.
"Aku belum kefikiran ke arah sana."
__ADS_1
"Iya. Tapi Papa lagi nunggu tante cantik. Tante cantik kan di culik. Jadi papa galau terus. Aku juga bakalan ngomong ke tante cantik kalau selama ini papa rindu." Celetuk Zoya.
Dewa dan Laura saling memandang.
"Kamu udah punya calon, dan calon istri kamu di culik?" tanya laura.
"Ha..ha...Apaan sih Laura. Anak kecil aja di dengarin. Aku belum punya calon kok. Maklumain yah, Zoya kan sekarang jadi suka nonton sinetron. Jadi dia suka asal ngomongnya."Kata Arka.
Yah, Arka fikir anaknya itu bodoh. Anak Arka adalah calon anak cerdas dan calon anak soleha. Jadi dia bisa merekam semua tindakan yang di lakukan ayahnya. Termasuk tahu perasaan papanya ke tante Tanti.
...****************...
Tanti masih menatap ke arah luar jendela. Matanya menerawang ke depan. Sungguh sedih rasanya harus selalu terperangkap di cengkeraman lelaki kaya. Tapi bagaimna caranya dia bisa kabur dari tempat itu. Hans bukanlah Arka. Mungkin Hans akan sedikit lebih kejam dari Arka. Dia akan terus memksa Tanti supaya Tanti mau menjadi istrinya.
Hans sekarang masih berada di sofa ruang tengah. Di belakangnya tampak ada dua sosok wanita cantik yang sedang memijatnya yah mereka adalah Sinta dan Dara.
Mata Hans masih saja tertuju pada majalah yang sedang di pegangnya. Dia kemudian menyeruput kopinya.
"Sinta, apa kah nona Tanti sudah makan?" tanya Tuan Hans.
"Nggak tahu Tuan. Tadi sih aku udah antarin nona Tanti makanan. Nggak tahu udah di makan apa belum" Ujar Sinta.
"Baiklah, aku akan ke kamarnya."
Tuan Hans kemudian berdiri dan melangkah ke kamar Tanti.
"Tanti. Apa yang kamu lakukan. Seharian ini kamu tidak makan. Kenapa kamu tidak makan? nanti kamu bisa sakit." Ucap Tuan Hans.
Tanti memutar tubuhnya.
"Kalau aku sakit apa urusannya denganmu."
"Tanti sayang, bulan depan kita akan menikah. Jadi aku nggak mau kamu sakit. Aku sudah menyiapkan pesta kita."
"Apa!" Tanti terkejut.
"Jangan kaget begitu sayang, aku yakin kalau kamu menikah dengan ku, hidup mu akan terjamin. Dan kamu akan menjadi nyonya Tanti Mercelo. Kamu akan jadi orang kaya sayang."
"Nggak. Aku nggak sudi menikah denganmu."
Hans tersenyum.
"Tanti, jangan sok jual mahal. Aku yakin kamu itu sebenarnya juga tertarik dengan ku. Kamu beruntung karena aku mau denganmu. Dari pada kamu sama si dokter Andre."
Tanti menghela nafasnya dalam. Memang begitulah Tuan Hans suka seenaknya sendiri.
"Ayolah sayang, di makan. Masak di diamin kayak gitu sih."
__ADS_1
Tanti benar-benar sangat membenci Tuan Hans. Dia muak sekali. Tapi sekarang Tanti harus bagaimana. Dia tidak bisa kabur ari tempat itu.
Yah aku ada ide. Aku harus pura-pura baik dan menurut pada Tuan Hans. Biar aku bisa kabur darinya. Aku nggak boleh lemah. Pasti sekarang Arka an Andre sedang mencemaskan ku.