Istri Yang Di Jual.

Istri Yang Di Jual.
Kunjungan ke panti.


__ADS_3

Di apartemen Tanti masih sendiri. Hampa memang terasa hampa. Seminggu Arka tak berkunjung ke apartemen. Di sini hanya ada Nia dan dia.


"Kak, kakak nggak makan. Kita makan yuk."


"Kamu makan duluan aja Nia."


"Kak, kak Arka berpesan padaku,kalau Kakak harus banyak makan dan nggak boleh mikirin macam-macam."


"Iya. Aku tahu. Tapi aku belum pengin makan Nia."


"Kakak lagi nungguin Kak Arka Yah. Kakak cinta yah sama dia."


Tanti terkejut mendengar ucapan Nia. Dia hampir keselek dengan air ludahnya sendiri.


"Ah, Nia. Sembarangan aja kamu ngomong. Aku nggak pernah cinta sama kakakmu itu. Dia kan miliknya nona Laura."


"Cinta juga nggak apa-apa kali..."kata Nia tampak meledek.


"Eh, anak kecil. Tahu apa sih tentang cinta."


"Terus kenapa Kakak terlihat sedih."


"Kakak cuma keingat anak kakak saja." Bohong Tanti. Padahal sebenarnya sedari tadi dia itu keingat sama Arka. Dia kangen dan rindu. Dia pengin Arka datang. sejak kejadian malam itu, Arka tak pernah lagi mengunjunginya.


***


Mobil mewah sudah tampak terparkir di halaman depan rumah panti. Arka dan Laura turun dari mobil. Mereka semua berhambur berlarian menuju ke Arka dan Laura.


Mereka tampak memeluk dan menyalim tangan Arka. Sepertinya mereka sangat menyukai sosok Arka.


"Kak, kenapa kakak lama sekali tidak berkunjung kemari."


"iya sayang. Maafin kakak yah." Kata Arka.


Setelah itu, Arka mendorong kursi roda Laura sampai ke dalam panti.


"Umi. Di mana Anisa?"Tanya Arka pada seorang ibu paruh baya.


"Dia masih terlelap Tuan." Kata Bu Rina.


Tuan Arka kemudian meninggalkan Laura dan melangkah ke sebuah kamar.


"Sayang ku Anisa. Ini Papa datang sayang. Kamu boboknya nyenyak sekali. Kanapa setiap Papa kesini, Kamu selalu terlelap. Kata Arka.


Laura mengintip dari luar kamar.


"Papa? Kok Papa. Arka ngomong sama siapa sih." ucap Laura.


Laura mendorong kursi rodanya sendiri menuju ke arah Arka.


"Arka." ucap Laura.


Laura terkejut saat Arka sedang menggendong seorang anak bayi.

__ADS_1


"Lihatlah Laura, Anisa cantik kan. Dia cantik sekali." Gumam Arka.


Laura tampak bersedih.


Dia cantik. Tapi sayang, dia lebih mirip Arifin ketimbang mirip Tanti. Coba kalau Anisa mirip mamanya. Pasti aku akan lebih sayang. Tapi biarlah. Anisa ini tidak berdosa. Akupun sebenarnya tak tega harus memisahkan dia dari ibunya. Tapi mau bagaimana lagi. Batin Arka.


Idris masih terdiam di tempat. Dia masih terkagum-kagum pada sosok bosnya itu.


Tuan Arka ternyata memang seorang lelalaki yang sangat baik.


"Sayang, Papa janji akan selalu nengokin kamu kesini. Dan sebentar lagi, aku akan menjadi Papa untukmu Anisa." Gumam Arka pelan hanya telinganya saja yang mendengar.


"Bayi siapa itu Arka. Bayi kamu? Apa kamu mempunyai anak dari wanita lain."


"Apaan sih Laura."


"Tapi katakan. Itu bayi siapa?"


"Ini bayi titipan. Orang tuanya lagi jadi TKW."Kata Arka sekenanya.


Saat ini Arka akan menyimpan rapat-rapat tentanng identitas Anisa. Diapun telah merubah Aurel jadi Anisa.


Laura tersenyum.


"Arka, bayinya lucu banget. Tolong berikan bayinya pada ku."Ucap Laura.


"Kamu pengin gendong juga sayang."


"Iya. Bolehkan Arka."


Arka kemudian meletakan Anisa ke pangkuan Laura.


Laura tampak bahagia bisa menggendong dan menimang seorang bayi.


"Arka, kita adopsi dia saja. Aku seperti sudah jatuh sayang sama dia Arka." Ucap Laura yang membuat Arka terkejut.


Ah, Laura. Kamu ini jangan aneh-aneh Laura. Kalau sampai Tanti tahu keberadaan anaknya, aku takut Tanti akan kabur lagi. Batin Arka.


" Nggak bisa Laura. Dia masih punya ibu. Kamu tidak bisa mengadopsi dia."


"Arka, tapi aku sangat menginginkan seorang anak."


"Iya. Nanti sayang, sabar. Kamu akan menjadi seorang ibu,jika saja aku bisa menikahi Tanti."


"Aku nggak mau Arka. Aku nggak mau anak dari perempuan kampung itu. Aku mau anak ini."


Arka menegak salivanya sendiri


Ah, istriku ini. Ini juga anaknya Tanti Laura. Dan bapaknya seorang lelaki berhati iblis. Kenapa kamu tidak tunggu aku saja mempunyai anak dari Tanti. Aku yakin,Tanti bisa ngasih keturunan yang banyak untuk ku dan aku akan berikan salah satu anak itu untuk mu Laura.


Laura menatap wajah Arka. "Tolonglah Arka. Setidaknya sampai ibu dari anak ini kembali. Izinkanlah aku untuk bersama anak ini."


Arka terdiam. Dia tampak berfikir.

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu, kamu tinggal di sini saja. Bersama Umi Hafsah." Kata Arka.


"Apa. Nggak, aku nggak mau. Kamu nyuruh aku tinggal di sini,supaya kamu bisa dekat-dekat dengan mantan kamu itukan."


"Laura, Kamu apa-apaan sih. Kok ngomongnya kayak gitu. Kenapa kamu selalu buruk sangka terus sama aku. Kamu udah nggak percaya lagi sama aku Laura.?" Arka menatap Laura tajam. Nampaknya Arka sangat kesal sekali pada Laura.


oek...oek.. Bayi yang di gendong Laura terbangun.


Bayi itu tampak terusik.


"Laura, Anisa terbangun." Ucap Arka dengan mata berbinar-binar.


Baru kali ini Arka melihat Anisa terbangun. Karena biasanya setiap kali Arka berkunjung, pasti Anisa masih terlelap.


"Tolong berikanlah bayi itu padaku Laura." Ucap Arka.


Laura tersenyum. Walau dalam senyumannya itu menampakan kesedihan yang mendalam dari dalam hatinya.


Arka, rupanya kamu juga sangat menyayangi bayi ini. Maaf kan aku Arka. Aku ini memang wanita tidak berguna.Aku tidak bisa ngasih kamu keturunan.


Laura akhirnya menyerahkan bayi itu pada Arka.


Arka menimang bayi itu seperti dia menimang anaknya sendiri. Arka tersenyum saat Anisa menatap wajahnya.


Aurel tersenyum kecil pada Arka dan mengeluarkan celotehan.


"Lihatlah Laura, Anisa menyambutku. Dia tersenyum pada ku Laura." Kata Arka.


Sebulir bening air mata Laura menetes dari pelupuk mata Laura.


Laura mencoba menahan tangisannya. Dia menghela nafasnya dalam.


"Arka, maafin aku Arka. Aku nggak bisa jadi ibu dari anak kamu."


Arka menatap Laura.


"Jangan sedih sayang, Walau kamu tidak bisa memberikan ku keturunan, tapi cintaku padamu tidak akan pernah hilang sayang. Aku sangat mencintaimu Laura." Kata Arka sembari menimang Anisa.


Lagi-lagi Arka menatap Anisa. Di sinilah hati Arka bergemuruh.


Di satu sisi dia teringat Tanti. Dan di satu sisi dia teringat Arifin.


Arifin orang yang sudah menjahati Arka dan selalu memerasnya. Dan diapun demi uang, rela mengorbankan istrinya.


Anisa, Entah apa yang akan terjadi dengan kamu dan ibumu, seandainya saja aku tidak mengenal Arifin,dan aku tidak membeli kalian, mungkin saja Ayahmu akan menjualmu pada orang jahat Nak. Batin Arka.


***


A**ceh**.


Sah...


Semua orang merasa bahagia setelah Faris telah berhasil mengucapkan ijab kobulnya.

__ADS_1


"Alhamdulilah. Akhirnya kalian menikah juga Nak." Kata seorang lelaki paruh baya pada anaknya.


Kedua pengantin itu menyalami tangan kedua orang tua mereka. Mereka seperti sedang meminta restu untuk pernikahan mereka.


__ADS_2