
Laura masih terisak di tepian ranjang. Dia masih menunggu Arka pulang. Dua malam Arka tidak menemaninya tidur.
Laura benar merasakan sakit yang teramat sangat di bagian hatinya yang terdalam. Dia merasa sudah menjadi wanita yang tidak berguna karena di takdirkan untuk jadi wanita yang mandul.
"Arka..." Ucap Laura sembari memandangi ponselnya.
Dia ingin menelpon, namun apa gunanya. Arka pasti selalu mencari alasan untuk tidak pulang kerumah.
Laura bangun dari duduknya. Dia merasa sangat haus. Laura menuju ke dapur untuk mengambil minum.
Waktu masih menunjukan jam 9 malam. Semua asisten rumah tangganya sudah beristirahat.
Laura mengambil gelas, dan menuang air di gelas tersebut. Dia langsung meminun air tersebut dengan fikiran yang masih tampak kosong.
Dia memikirkan kenangan bersama Arka sewaktu dia masih pacaran.
Flash back on.
Di tepian pantai, Angin membelai lembut rambut panjang Laura. Rambut panjang yang hitam dan selalu tampak wangi itu, tergerai dan seperti berterbangan karena tertiup angin.
Sore ini, Laura masih berdiri setia di pinggiran pantai. Dia mendekat ke arah laut. Ombak yang bergulung-gulung itu, menerpa kaki mulusnya.
Laura merentangkan tangannya sebagai tanda kalau dia sedang sangat menikmati keindahan alam itu.
Di belakang Laura, seorang lelaki berpawakan langsing, bertubuh tinggi, dan berkulit putih bersih itu memeluk tubuh Laura. Betapa harum parfum Arka, yang selalu menjadi candu penciuman Laura.
Arka memeluk mesra tubuh Laura. Dan Arkapun tampak ikut merentangkan tangannya. Dia menggenggam mesra telapak tangan Laura. Arkapun merasa sangat menikmati keindahan pantai di sore ini.
Arka dengan mesranya membalikan tubuh Laura. Sekarang mereka saling berhadapan. kedua tangan Arka pun tampak masih merangkul pinggang Laura.
Arka membelai lembut rambut Laura. Dia meletakan rambut Laura ke belakang telingan Laura. Arkapun kemudian memasangkan sebuah bunga kecil di atas telinga Laura. Laura terlihat semakin cantik.
Laura tersenyum.
"Arka. Aku sangat bahagia sekali hari ini. Aku bahagia bisa ada di dekatmu seperti ini. Kamu sangat memanjakan ku hari ini sayang." Kata Laura sembari menyentuh lembut pipi Arka.
Laurapun kemudian memejamkan matanya. Seakan dia tahu kalau Arka akan menciumnya.
cup.
Arka mencium kening Laura.
Yah, cuma kecupan kening. Karena Arka tidak akan mau melakukan ciuman bibir yang seperti orang orang pacaran Lakukan. Dia sangat menjaga gadisnya itu.
"Aku mencintai mu Laura. Sangat mencintaimu."
Laura membuka matanya.
"Aku juga sangat mencintaimu sayang." Kata Laura.
Arka kemudian berlutut di depan Laura. Membuat Laura bingung dengan apa yang akan Arka lakukan.
__ADS_1
Arka mengambil sebuah kotak kecil dari dalam kantong jaketnya.
Laura sangat terkejut.
Wah...Kotak cincin. Apa Arka akan melamar ku? batin Laura.
Arka membuka kotak cincin itu.
Laura tersenyum lebar, dia tidak menyangka dengan apa yang di lihatnya.
Cincin mas putih dengan mutiara yang indah di tengahnya,
Arka mengambil cincin itu, dan memasangkan di jari manis Laura.
"Sayang, apakah kamu mau jadi istriku?"
Laura masih tak percaya. Mulutnya masih ternganga. Begitu romantisnya Arka memperlakukannya. Arka melamarnya dengan cara yang indah.
"Iya. Aku mau banget Arka."
Arka mencium punggung tangan laura.
Arka kemudian berdiri.
Arka dan Laura mereka masih saling menatap. Mereka berpandangan sangat begitu lama, dan tangan Arka masih menggenggam erat tangan Laura.
"Laura, Sekarang di hatiku cuma ada kamu Laura. Kamu tidak akan pernah tergantikan oleh wanita manapun. Aku akan mencintaimu selamanya tanpa aku pandang kekurangan mu." kata Arka.
"Kita akan saling mencintai untuk selamanya. Iya kan Laura." Kata Arka.
"Iya Arka. Kita tidak akan saling mengkhianati." Kata Laura.
flashback Off
Laura mencengkerem gelasnya erat-erat. Amarahnya sudah semakin memuncak. Bulir benung di matanya pun turun dan mendarat di pipi putihnya.
Laura terkulai lemas di lantai. Dia duduk bersimpuh dan sesenggukan menangis.
Istri mana yang tidak akan sakit, jika mengetahui kalau suaminya lebih mementingkan wanita lain dari pada dirinya.
Arka lebih mementingkan Tanti ketimbang dirinya. Dia rela tidak pulang dan tidak tidur dirumah karena Tanti.
hiks...hiks...hiks...
"Kamu jahat Arka."Ucap Laura di tengah tangisannya.
Di dapur yang luas, Laura sesenggukan menangis.
"Nona, kenapa nona ada di sini? Kenapa nona duduk di lantai dan menangis begini. Kenapa nona? Apa yang terjadi?" Tanya bu Minah salah satu pembantu rumah Laura.
Bu Minah membantu Laura untuk berdiri.
__ADS_1
Laura dengan sigap langsung memeluk pembantunya. Hal yang baru pertama kali dia lakukan memeluk seorang pembantu rumah tangganya. Mungkin karena saking sakitnya. Dan akan kepada siapa lagi Laura bercerita.
Mungkinkah Laura akan bercerita kepada sahabat-sahabatnya, sungguh dia malu. Dia tidak ingin mempermalukan suaminya dan dirinya sendiri. Karena sahabat-sahabat Laura fikir, kalau Arka dan Laura adalah pasangan yang sangat serasi dan rumah tangganya sangat harmonis tanpa ada pertengkaran.
Dan apakah Laura akan mengatakan pada orang tuanya? jelas saja tidak. Kalau Laura mengatakan apa yang sebenarnya terjadi di kehidupan rumah tangganya, justru orang tua nya akan sangat membenci Arka. Dan pasti Orang tua Laura akan mencoba memisahkan Arka darinya.
Dan Laura tidak menginginkan hal itu terjadi. Karena Laura sangat mencintai Arka. Dia tidak bisa jika harus jauh dari Arka, Apalagi untuk berpisah.
"Bu Minah..."Ucap Laura dengan suara seraknya.
Bu Minah menatap Laura tajam.
"Arka...hiks...hiks..."
"Ada apa dengan Tuan muda Non?"
"Arka nggak pulang dua malam Bu, Aku kesepian. Dan malam ini juga dia belum datang-datang. Aku telpon nggak pernah di angkat. Aku chat, nggak pernah di balas."
"Mungkin Tuan muda lagi sibuk nona. Dan dia belum bisa kabari nona."
"Bu, aku sangat sedih sekali. Kalau Arka tidak menemaniku tidur. Aku kesepian sekali. Aku juga takut tidur sendiri di rumah segede ini."
"Iya, Bu Minah tahu Nona. Tapi nona yang sabar yah. Tuan Arka itu memang sedikit keras kepala."
Bu minah mengajak Laura untuk duduk di meja makan.
"Sekarang Non laura katakan pada ibu. Non mau minta apa. Nanti Ibu bikinin. Non belum makan malam kan."
"Aku nggak mau makan tanpa suamiku Bu."
"Aduh Nona, jangan begitu, Nanti nona bisa sakit. Nona dari kemarin cuma sedikit-sedikit makannya. Kalau Tuan muda tahu, dia bisa marah. Dan ibu nanti yang di salahin."
"Aku tetap mau nunggu suamiku Bu."
"Ya udah. Ibu temanin di sini yah."
"Iya."
Laura tetap menunggu .Dan setiap malam dia seperti itu. Kadang dia menunggu di ruang makan, kadang dia selalu menunggu di ruang tengah, kadang juga di ruang tamu.
****
Yang masih penasaran like ...
komenya juga...
Banyak like aku tambahin babnya.
nggak banyak like, aku kurangin
update babnya.
__ADS_1