Istri Yang Di Jual.

Istri Yang Di Jual.
Gudang Tua.


__ADS_3

Gelap.


Ruangan luas yang begitu gelap. Di sini Tanti terkurung. Dia terperangkap oleh preman-preman itu.


Obat bius itu, membius Tanti sampai sebegitu lamanya. Entah sudah berapa lama Tanti terkurung di tempat itu.


Tempat yang penuh debu. Dengan banyaknya barang-barang dan kardus-kardus besar, membuat nafas Tanti seakan sesak karena saking kotor dan berdebunya tempat itu.


Tanti sekarang berada di sebuah kursi dengan tangan terikat dan mulut terbekap.


Samar-samar di sisi sebelah ada suara orang berbicara. Sepertinya dia adalah Beno Ketua para preman-preman itu.


"Madam. Aku telah menemukan satu barang berharga lagi madam." Kata Beno.


Madam Rania tersenyum.


"Iya aku tahu Beno." Kata madam Rania


"Sekarang tunjukan di mana dia. Aku benar-benar penasaran." Kata Madam Rania lagi.


Madam Rania kemudian mengikuti kemana arah beno melangkah. Tanti yang mendengar ada suara langkah orang itupun,pura-pura pingsan.


Madam Rania sudah tepat berada di depan Tanti.


Dia tersenyum.


"Cantik sekali dia. Seandainya dia tidak berhijab, dan dia memakai gaun malam itu, dia pasti akan lebih menakjubkan. Dan pasti langganan ku akan semakin banyak yang meliriknya. Ha...ha.."


Madam Rania tertawa senang. Dia seperti telah menemukan harta karun yang di carinya.


"Kamu katakan Beno. Berapa kau akan menjualnya dengan ku."


"Tidak banyak madam, lima ratus juta saja."


"Oke, oke, karena wanita ini cantik, maka aku berani membelinya dengan harga segitu."


"Tapi madam, kalau dia laris manis,aku akan meminta tambahan lagi."


"Oke..."


Deg.


Dengan mata yang masih terpejam. Tanti menitikan air matanya.


Kedua orang itupun pergi dari tempat itu.


Tanti menangis. Namun dia tidak bisa bicara. Karena mulutnya masih terbekap oleh kain. Dan tangannya masih terikat kencang.

__ADS_1


Apakah ini adalah awal dari kehancuranku. Apakah aku akan di jadikan wanita malam. Dan aku akan di jadikan korban Om-om hidung belang. Ya Allah...lindungilah aku dari hal-hal buruk itu.


****


Dewa keluar dari ruangan operasi. Arka mendekat.


"Gimana Wa, bagaimana dengan istriku?." tanya Tuan Arka.


Dewa tersenyum. Tampak raut kebahagiaan mengalir di wajah tampannya.


"Dia tidak apa-apa Arka. Dia sudah berhasil melewati masa kritisnya." Kata Dewa menjelaskan.


"Alhamdulillah."Kata Arka penuh syukur.


Di sisi lain Herman masih di bayang-bayangi oleh kecemasan akan Tanti. Dia duduk dengan wajah yang tampak lesu. Herman tampak sangat frustasi. Malam ini, dia tidak tidur karena menjaga Tuan mudanya itu.


"Tanti, di mana kamu?" Gumam Herman lirih.


Arka samar-samar mendengar ucapan Tanti, dari mulut Herman.


Arka pun mendekat.


"Herman, kau menyebut nama Tanti tadi?"


"Oh Maaf Tuan. Saya cuma lagi gelisah aja mikirin Nona muda Tanti."


Yah Arka jadi teringat lagi tentang wanita satu milyarnya itu.


Arka tiba-tiba saja menoyor kepala Herman.


"Auh Tuan. Kenapa tiba-tiba Tuan memukulku." Gerutu Herman.


"Kenapa kamu tidak ingatin aku...!"


" Ingatin apa Tuan?." Tanya Herman tak mengerti.


"Ingatin kalau Tanti kabur!"


Boro-boro ingatin Tuan,orang dari tadi kamu cuma mentingin nona Laura. Bagaimana mungkin kau akan teringat Tanti. Aku harap setelah ini, kamu fokus sama non Laura Tuan.Dan bisa lupain nona Tanti. Biar aku punya kesempatan untuk dekatin dia. Batin Herman.


Tuan Arka menatap Idris.


"Habis ini, kita akan cari Tanti sama-sama Idris. Seperti biasa, aku akan ikut mencari bersama kalian."Kata Tuan Arka.


Ah, sialan Tuan Arka ini, emang dia anggap aku ini apa. Dia anggap tenaga ku ini robot? aku kan lelah. Udah nggak tidur begini, setelah ini mau di suruh muter-muter nyariin Nona Tanti. Benar-benar menyebalkna. Batin Idris.


"Tuan, Tuan nggak usah ikut. Temanin nona Laura di sini."Kata Herman.

__ADS_1


"Iya juga sih. Laura kan nggak ada siapa-siapa. Orang tua dan saudaranya semua ada di luar negeri. Siapa yang akan menjaganya?" Gumam Arka.


Arka tampak berfikir.


"Baiklah. Sementara ini aku nggak ikut. Kalau ke adaan sudah mulai membaik, aku akan ikut." Kata Tuan Arka.


***


Setelah seharian terkurung di gudang Tua itu, Beno dan rekan-rekannya akan membawa Tanti ke madam Laura.


Iya, sekarang Tanti tahu, madam Laura itu adalah gembong pemekerja wanita malam. Dia adalah germo yang akan memanfaatkan wanita-wanita itu untuk melayani om-om hidung belang.


"Lepasin...Kalian mau bawa aku kemana." Ucap Tanti sembari meronta ingin melepaskan diri.


Tapi apalah daya, Tanti adalah wanita yang lemah. Dia wanita mungil yang selamanya akan kalah dari para kaum lelaki yang memperjual belikan nya.


Lantas di sini, setelah dia di jual lagi oleh Beno, siapakah yang akan menolongnya? Apakah mungkin ada orang baik lagi seperti Herman. Mungkin saja tidak. Karena dunia wanita malam itu, sangatlah kejam.


Dan di sini banyak wanita yang menjadi korban kekerasan madam Rania. Jika saja pelanggan madam protes karena pelayanan yang kurang baik, maka madam Rania tidak akan segan-segan untuk menghukum wanita -wanita itu.


Jika tahu dunia luar seperti ini, mungkin saja aku akan lebih memilih bertahan bersama Tuan Arka saja, dan menjadi istrinya. Setidaknya aku bisa mendapatkan perlindungan dari Tuan Arka. Lagian Tuan Arka bukanlah pria kejam seperti yang aku fikirkan selama ini.


Tanti hanya bisa menangis di sepanjang perjalanan. Hidupnya seakan sudah hancur. Dia akan berada di jurang kehancuran, jika saja dia benar-benar di jadikan wanita malam.


****


Di ruang rawat, Arka masih terduduk di sofa. Dia sangat pucat dan lesu. Seluruh fikirannya sudah dia bagi untuk dua perempuan.


Di satu sisi dia masih memikirkan Laura yang sekarang lumpuh karena mengalami patah tulang di kakinya, dan di sisi lain pula, dia masih mencemaskan Tanti.


"Arka..." Ucap Laura.


"Iya sayang, kenapa?"tanya Arka mendekat ke ranjanh Laura. Dia duduk di sisi Laura.


"Kamu lesu banget Arka? Kamu udah makan belum?


"Belum. Aku pengin pulang sayang, dari kemarin aku menungguimu sampai tidak sempat makan ataupun mandi." Kata Arka.


Ternyata kamu masih perhatian juga Arka pada ku. Aku tahu kamu masih sangat mencintaiku Arka.


"Ya udah, kamu pulang dulu sayang, Aku nggak apa-apa kok sendiri. Lagian kondisi aku sudah membaik, dan di sini juga ada banyak suster, ada Dewa juga kan."


"Iya,Laura aku akan pulang. Tapi setelah menyuapimu makan yah."


Laura tersenyum. Dia berharap kalau ini adalah awal untuk kebahagiaannya. Laura berharap, setelah kejadian ini,Arka bisa melupakan Tanti dan tudak lagi mempunyai ambisi untuk menjadikan Tanti istrinya.


Arkapun kembali menyuapi Laura. Tapi sepertinya fikirannya itu, tidak sedang bersamanya. Dia masih di selimuti kecemasan akan Tanti.

__ADS_1


__ADS_2