
Waktu menunjukan jam 7 malam. Tanti sedari tadi menunggu Aurel pulang. Dari tadi hanya bisa mondar-mandir di ruang tamu. Barubkali ini Tanti resah memikirkan anaknya. Biasanya Aurel itu paling telat pulangnya jam 5 sore. Tapi kali ini, dia sudah melewati batas.
" Assalamualaikum... " Ucap seseorang dari luar rumah.
" Wa Alaikum salam." Ucap Tanti sembari membuka pintu rumahnya.
Tanti tersenyum saat menyambut kehadiran suaminya itu. Tanti langsung menyalim tangan suaminya. Arkapun tidak pernah lupa untuk mencium Tanti.
" Ada apa sayang? kenapa kamu kelihatan cemas begitu?" Tanya Arka.
" Pa, Aurel pa. Aurel. Aurel belum pulang juga ke rumah. Mama tidak tahu dia ada di mana Pa."
" Oh, kenapa tidak tahu Ma...? harusnya mama kan yang lebih tahu dari pada papa. Mama yang selalu ada di rumah. Emang mama tidak menyuruh sopir kita untuk jemput Aurel?" tanya Arka sembari meletakan tas kerjanya dan duduk di sofa ruang tamu.
Tanti mendekat ke arah Arka. Dia kemudian mencoba untuk membukakan dasi Arka.
Arka menghela nafasnya dalam.
" Kenapa anak mu sekarang jadi sulit di atur Tanti?" Tanya Arka.
" Arka. Aku juga tidak tahu kenapa Aurel jadi seperti itu. Aku tidak tahu di luar sana dia itu bergaul dengan siapa. Aku itukan di rumah terus. Nggak selalu mengawasi dia dalam 24 jam." Kata Tanti.
" Mama, seharusnya mama itu kan yang paling tahu tentang Aurel. Aurel itu kan anak kandung kamu."
" Kenapa Papa harus menyalah kan mama. Kenapa papa tidak menyalahkan diri papa. Papa yang selama ini telah memanjakan Aurel. Makanya Aurel jadi seperti sekarang." Kata Tanti tidak mau kalah.
Arka dan Tanti berantem tidak ada yang mau mengalah di ruang tamu. Memang akhir-akhir ini, gara-gara Aurel mereka jadi sering berantem.
Ceklek.
Tiba-tiba saja pintu depan terbuka. Itu semua membuta Tanti dan Arka terdiam. Di lihatnya Aurel yang masih mengenakan seragam puti abu-abu.
Tanti melotot ke arah anaknya.
" Dari mana aja kamu heh, udah jam berapa ini? anak macam apa kamu jam segini baru pulang .. ?"
" Maaf Ma. Aurel capek. Aurel mau ke kamar._ Kata Aurel yang sepertinya tidak mau menghiraukan amarah orang tuanya.
__ADS_1
Aurel melangkah masuk dan mau menghindar dari orang tuanya.
" Aurel...!" Seru Arka dengan nada tinggi.
" Mau kemana kamu?" Tanya Arka.
Aurel menghentikan langkahnya. Dia kemudian menoleh ke arah Arka.
" Apa lagi sih Pa? Aurel mau ke kamar. Aurel capek." Kata Aurel.
" Aurel. Mama belum selesai bicara. Kamu kebiasaan benget sih. Kamu belum jawab pertanyaan mama. Dari mana kamu? dan pulang sama siapa tadi?" Tanya Tanti yang sudah benar-benar terpancing emosi.
" Aurel. Kamu harus jawab pertanyaan mama kamu. Dari mana kamu?" Tanya Arka.
Aurel di luaran sana bersenang-senang dengan pacarnya, sementara Tanti hanya bisa menunggu dengan kekhawatiran dan kecemasan di rumah. Itu semua membuat Tanti sangat marah.
Tanti mendekat ke arah Aurel. Dia menatap Aurel tajam. Jika dia menatap Aurel, dan melihat kelakuan Aurel yang seenaknya sendiri itu, Tanti jadi teringat dengan mantan suaminya yang telah menjualnya pada Arka. Tanti benar-benar ingin meluapkan amarahnya itu. Dia ingin mengatakan yang sebenarnya pada Aurel. Kalau Aurel itu bukanlah anak kandung dari Arka. Biar Aurel tidak seenakanya sendiri. Tapi Arka setiap Tanti ingin mengatakannya, Arka selalu melarangnya.
" Aurel, duduk dulu di sini. Kita bicara baik-baik yah. Kamu sekarang jelaskan dari mana kamu? dan kenapa kamu pulang malam nggak ngabarin mama dan papa...?" Arka mencoba bersikap lembut pada Aurel.
" Kenapa sampai malam?" Tanya Tanti.
" Karena aku masih kepengin main." Jawab Aurel sekenanya.
" Aurel, kalau kamu mau main ke rumah Atika atau siapapun, jangan sampai malam seperti ini sayang. Lihatlah, mama kamu dari tadi cemas mikirin kamu. Kamu nggak kasihan apa sama mama kamu?" Tanya Arka.
Aurel hanya menatap mamanya dengan malas. Mamanya itu sudah sangat berlebihan sekali dalam menjaganya. Itu semua membuat Aurel malas dan semakin ingin bebas menikmati masa remajanya.
Aurel tidak memperdulikan lagi kedua orang tuanya. Dia kemudian melangakha ke arah kamarnya.
Semantara di ruang tamu Tanti masih mematung bersama suaminya. Mereka seprti bingung dengan Aurel.
" Ah, udahlah Tanti. Nggak usah di fikirin. Toh, anak kamu itu kan udah pulang. Ayo sekarang kita masuk." Kata Arka sembari merangkul bahu Tanti
Tanti kemudian menurut. Arka dan Tanti kemudian melangkah ke kamar mereka.
Di atas Aurel membuka pintu kamarnya. Di sana sudah tampak Zoya sedang mendengarkan musik dengan headset nya. Aurel tampak cemberut. Wajahnya di tekuk sembari melangkah ke arah tempat tidur. Aurel kemudian membaringkan tubuhnya di kasurnya.
__ADS_1
" E..e.e..eh...ini anak. Pulang-pulang bukannya mandi. Malah tiduran." Ucap Zoya sembari mencopot headsetnya.
Zoya menarik tangan Aurel dan mengusirnya dari tempat tidur.
" Aurel. Jorok benget sih kamu. Sana mandi dulu. Baru kamu boleh tidur di sini." Ucap Zoya.
" Ah, kak. Ini udah malam. Nggak baik mandi malam-malam."
" Sudahlah, sana mandi dulu. Baru nanti kamu tidur."
" Tapi kan dingin Kak."
" Dingin dingin. Pakai air hangat."
" Tapi malas kak..."
" Malas malas, sudah sana. Nanti aku laporin ke mama, kalau kamu tidak mau mandi nih. Biar mama ngamukin kamu."
" Oke deh... oke aku mandi. Aku malas kalau haru berdebat sama mama." Kata Aurel.
Aurel kemudian mandi untuk membersihkan tubuhnya itu. Selesai mandi, diapun berganti baju tidur. Setelah selesai itu semua, Aurel berbaring di sisi kakaknya.
" Kak, lagi ngapain sih?" Tanya Aurel.
" Apaan sih! kepo."
" Lagi chatan sama Kak Ridho yah? Emang kakak suka benaran yah sama Kak Ridho...?" Tanya Aurel.
Zoya menatap tajam adiknya itu.
" Diam kamu. Anak kecil tahu apa sih. Siapa ya lagi chatan sama Kak Ridho. Orang aku lagi chat ama teman."
." Teman Cowok yah?"
" Bukan teman cewek. Sejak kapan aku di bolehin berteman Ama cowok. Mama kan susah orangnya. Dia terlalu overprotektif."
" Emang mama begitu. Menurut aku mending papa tahu Kak. Kalau papa itu sayang sama kita. Dia selalu mau menuruti apa yang kita inginkan. Dia juga mau membelikan barang-barang mahal untuk kita. Nanti kalau Aurel udah bisa nyetir mobil, Aurel mau minta ke papa untuk di beliin mobil yang paling mahal. Biar nanti kalau Aurel berangkat ke kampus, pasti teman-teman Aurel akan iri dan pasti setiap cowok akan terkagum-kagum sama Aurel."
__ADS_1