
Di dalam Apartemen, Arka benar-benar merasa sangat emosi. Dia benar-benar kecewa dengan anak buahnya. Dua hari mencari Tanti, namun Tanti belum juga di temukan.
Tuan Arka benar-benar meluapkan emosinya pada anak buahnya.
"Kalian itu, badan nya doang yang gede. Tapi otak nggak pernah di pasang...!" Kata Tuan Arka menatap satu persatu anak buahnya.
Para pengawal itupun tertunduk. Begitu juga sang ketua, Herman. Diapun tidak berani menatap Tuan Arka.
"Kalian itu, kerja nggak pernah becus...!! Mencari satu orang saja nggak bisa. Apa kalian tidak pernah memikirkan nasibnya Tanti. Di sini Tanti tidak punya siapa-siapa. Tanti pergi dari sini juga tidak membawa apapun. Bagaimana nasibnya di luar sana." Kata Arka penuh kemarahan.
Emang kamu aja Tuan yang khawatir sama Tanti. Aku juga sangat khawatir Tuan. Malah khawatirnya melebihi dirimu. Karena sekarang aku sudah jatuh cinta pada wanita satu milyarmu itu Tuan. Batin Herman.
"Sekarang cepat cari Tanti sampai ketemu...!!! Kalau tidak ketemu, jangan kembali lagi pada ku. Kalian cari pekerjaan yang lain."
Para pengawal itupun saling menatap. Pekerjaan mereka sekarang sedang ada di ambang kehancuran. Akankah Tuan Arka akan memecat semua pengawalnya, kalau sampai Tanti tidak bisa di temukan?
"Pulanglah kalian semua. Dan lakukan pecarian besok. Dan Kamu Idris, sekarang antar aku pulang. Aku mau pulang ke rumah." Kata Tuan Arka datar.
"Baik Tuan." kata Idris mengiyakan.
Setelah anak buahnya pergi, Arka pun kemudian pergi untuk menemui Laura.
***
Sesampai di depan rumah, Laura langsung menyambutnya hangat.
"Sayang, akhirnya kamu pulang juga." Kata Laura.
Namun Arka hanya menampakan ekspresinya biasa saja. Biasanya sepulang kantor Arka selalu mencium Laura, namun kali ini tidak. Justru Arka menampakan wajah murungnya.
Sesampai di kamar, Laura langsung memeluk tubuh suaminya yang harum itu,
"Laura, lepasin dulu Laura. Aku gerah, belum mandi." Kata Arka sembari melepaskan pelukan Laura.
"Tapi aku kangen sayang."
"Iya, aku tahu Laura. Tapi aku capek banget hari ini."
"Ini pasti karena Tantikan. Dia kan Arka yang sudah menghasudmu supaya kamu jauhin Aku."
"Siapa yang menghasud sayang, dan siapa yang ingin jauhin kamu...Tanti itu kabur lagi." Kata Arka menatap dalam manik mata Laura.
__ADS_1
"Ya biarin aja lah Arka. Biarin dia bebas. Toh kita nggak akan repot memberikannya makan dan minum."
Arka membelalakan matanya. Dia memelototi Laura.
"Stoop Laura. Jangan bicara seperti itu lagi di depanku!!" Bentak Arka
Laura terdiam. Dia terpaku dan mematung. Ternyata suami yang sangat di cintainya itu, sekarang sudah berubah.
Dulu Arka tidak pernah membentak Laura. Namun sekarang Arka selalu membentak Laura. Seakan membuat hati Laura tidak terima. Dan Laura selalu menyalahkan ke hadiran Tanti.
"Kamu itu nggak berhak ngatur-ngatur hidup aku Laura. Kamu itu istri aku, dan Aku suamimu. Jadi apa yang aku katakan kamu harus nurut, dan tidak boleh membantah!" Kata Arka menatap Laura tajam.
Laura hanya bisa menegak salivanya sendiri. Pandangannya menunduk. Sekarang hanya tangisnya lah yang mengerti dirinya.
Sebegitu pedulikah Arka pada Tanti, Sepenting apakah Tanti di hati Arka, sampai Arka tidak memperdukikan lagi perasaan istri sahnya itu.
Hati Laura seperti sudah tercabik-cabik. Remuk redam seperti sudah menjadi serpihan-serpihan kecil.
Bagaimana tidak, Hanya karena Tanti, wanita kampungan itu, Arka berubah pada Laura.
Padahal apa keinginan Laura? Laura hanya kangen ingin di peluk. Dia rindu pada suaminya karena dua hari ini tidak pulang.
Apakah Arka tidak tahu dengan hati Laura? Kalau hati Laura itu hampa tanpa Arka di sisinya. Namun setega itu Arka membentaknya dan melepaskan pelukan istrinya.
"Kamu sudah berubah Arka...Kamu jahat. Seberapa pentingnya Tanti untuk kamu Arka sampai kamu tega membentak ku. Sampai kamu melepaskan pelukan ku. Aku ini istrimu Arka, wanita yang selalu merindukan kehangatan mu."
Arka menatap Laura penuh iba.
"Sayang, kok kamu nangis. Maaf kan aku sayang..." Kata Arka.
Dia mencoba untuk menghapus kesedihan di wajah Laura. Namun dengan sigap Laura menampiknya.
"Jangan sentuh aku Arka. Aku jijik sama kamu. Pasti sekarang kamu sudah menyentuh tubuh perempuan lainkan Arka. Dua malam kamu pasti sudah menyentuh Tanti kan? Kamu nggak pernah mau peduli betapa perihnya hati ini Arka. Kamu jahat...! kamu egois! Kamu cuma bisa mementingkan dirimu sendiri saja, tanpa mementingkan hati ku Arka." Kata Laura.
Setelah berkata demikian Laura berlari sembari masih membawa linangan air mata. Laura pergi dari rumah.
Di tengah pekatnya malam, Laura berlarian. Tanpa alaskaki dia berlari menapaki bagian jalanan. Rasanya begitu perih saat dia merasa, kalau dia tidak lagi di butuhkan suaminya.
Setelah jauh berlari, Laura pun berhenti. Laura menatap ke langit lepas...
Aaaaaaaagh.....
__ADS_1
Laura berteriak sekencang-kencangnya.
"Arka...jahat kamu Arka....Kamu anggap aku ini apa Arka. Aku juga wanita yang penuh perasaan. Aku sangat mencintaimu Arka. Apa aku salah kalau aku pengin di peluk. Kanapa kamu lepaskan pelukan itu Arka..."
Setelah sekian lama.Arka berlari mengejar Laura, Arka berhenti berlari saat melihat Laura.
Tiba-tiba saja, Arka berteriak.
"Laura awas....!!!" Kata Arka sembari berlari ingin menyelamatkan Laura.
Brugh...
Tubuh Laura ambruk di tengah jalanan saat tubuhnya terserempet sebuah mobil yang sedang melaju kencang.
Mobil itupun seakan tak merasa menyerempet seorang wanita, mobil itu tidak berhenti. Mobil itu kabur dan menghilang dari pandangan Arka.
Arka langsung menubruk tubuh istrinya. Dia mengangkat kepala Laura dan memangkunya.
"Laura bangun sayang... Maafkan aku Laura." Kata Arka sembari menepuk-nepuk pipi Laura.
Laura sedikit membuka matanya.
Dia mengangkat tangannya dan mengelus pipi Arka." Arka...aku...men...cin...*** mu..." Kata Laura terbata-bata dan pada akhirnya pingsan lagi.
Arka terkejut saat tangan yang menjadi tumpuan kepala Laura itu berlumuran darah.
"Darah..."Ucap Arka sembari memandangi bagian tangannya yang masih tampak berlumuran darah.
Sepi, malam ini tampak sepi.
"Tolong... tolong...tolong..." seru Arka meminta pertolongan. Di harap akan ada orang yang mau menolongnya.
Laura hampir sekarat,karena darah segar selalu mengalir di kepalanya.
Arka menangis sembari memeluk Laura...
"Istriku, Maafkan aku...sayang... Maafkan aku, Aku juga sangat mencintaimu. Aku juga sangat mencintai Mama. Kalian adalah orang yang terpenting di hidup aku, Kamu harus kuat Laura, Aku akan secepatnya meminta bantuan untuk membawa mu ke rumah sakit. Aku nggak mau kehilangan kamu sayang."
Arka langsung menelpon Herman dan pengawal yang lain untuk menjemputnya di tempat kejadian.
Yah inilah peristiwa tabrak lari, yang Arka lihat sendiri dengan mata kepala Arka.
__ADS_1
"Aku tidak akan, membiarkan mobil itu lolos." Gumam Arka yang masih bercucuran dengan air mata.