Istri Yang Di Jual.

Istri Yang Di Jual.
Percobaan pembunuhan.


__ADS_3

Laura tampak berfikir.


Yah, saat ini dia juga sudah pengin istirahat.


"Baiklah Bik. Kita pulang. Aku juga kasihan sama bibik. Bibik juga pasti butuh istirahat kan."


"Iya Non."


Bik Inah kemudian mendorong kursi roda Laura keluar.


Dan di ruang tunggu, Nia tampak sedang bermain ponsel.


"Nia." Ucap Bik Inah.


Nia menoleh.


"Iya. " Ucap Nia.


"Kamu jagain Arka yah. Jangan biarkan pelakor itu datang lagi." Ucap Laura.


"Iya Kak Laura." Ucap Nia menahan geram. Nia tidak suka kalau Laura menyebut Tanti dengan sebutan yang


tak pantas itu.


Setelah itu Laura dan Bik Inah pergi meninggalkan Nia.


Huh, Syukurlah Mak Lampir itu udah pergi. Enak aja ngatain Kak Tanti pelakor. Orang suamiya sendiri kok, yang ngejar-ngrjar kak Tanti sampai mau membelinya seharga dua milyar. Batin Nia.


***


Malam ini, wanita bercadar itu akan melakukan aksinya. Dia sudah membuat recana untuk menyamar menjadi seorang suster. Dia akan menghabisi Arka malam ini juga.


Menghabisi Arka memanglah sesuatu yang sangat mudah baginya. Mungkin ini adalah kesempatan emas untuknya karena Arka sekarang sedang sangatlah lemah.


Tanti terlihat sangat bahagia. Karena sekarang Arka sendiri. Arka hanya bersama Idris Dani dan Nia. Yah mereka kan orang yang sudah sangat Tanti kenal.


"Ayo Herman kita temui Tuan." Ajak Tanti.


Herman menurut saja. Padahal malam ini dia sudah sangat mengantuk dan pengin istirahat.


"Ayolah Nona. "


Herman dan Tanti kemudian kelaur dari apartemen.


Mereka mau menuju ke rumah sakit.


"Herman,apakah benar kalau Tuan Arka sedang sendiri sekarang?" Tanya Tanti.


"Iya Nona. Semua orang sudah pada pulang. Tinggal Tuan Bram.Tapi Tuan Bram kan sedang menunggui istrinya."


"Terus, keadaannya sekarang gimana?"


"Masih sama Nona."


Ah kasihan Tuan Arka. Harusnya kan di saat seperti ini harus ada yang mengaji. Kenapa mereka cuma bisa panik sendiri. Batin Tanti.


****

__ADS_1


Di sisi lain, Wanita bercadar yang di ketahui adalah Chelsea itu, sudah menyamar menjadi seorang suster.


Idris dan Dani tampak sudah mengantuk. Mereka tidur sambil duduk di ruang tunggu.


Setelah semua terlihat sepi, Chelsea masuk ke kamar Arka untuk melakukan aksinya.


Dia menatap Arka sangat begitu lama. Dia membelai-belai wajah tampan Arka.


" Sayang...Apakah kamu tahu, kalau aku sangat mencintai mu, Dan sekarang aku akan sempurnakan kecintaanku ini, untuk menghabisimu. Aku nggak rela kamu hidup bahagia bersama Laura, seorang model itu." Ucap Chelsea.


Setelah itu, Chelsea mencium Arka penuh hasrat. Mungkin itu adalah tada perpisahan terakhir denga Arka. Dia berharap kalau Arka mati malam ini juga.


"Maafkan aku sayang ku Arka. Dari pada wajah tampan mu itu selalu membayang-bayangiku,lebih baik kamu mati sekarang juga."


Chelsea melepas alat bantu pernafasan Arka. Nafas Arka pun tampak tersengal-sengal. namun Arka belum juga mati.


Chelseapun kemudian menyeret Bantal Arka dia mengangka bantal itu dan akan membekap Arka dengan bantal itu.


"Hey Suster, apa yang akan kamu lakukan?" Seru Tanti yang masih berdiri di sisi pintu.


Suter gadungan itu tampak gugup. Tanpa aba-aba dia pun lari tunggang langgang.


Tanti mencoba mengejarnya.


"Herman, Dani, Idris, Kejar orang itu, Dia akan membunuh Tuan." Ucap Tanti.


Idris Herman dan Dani kemudian berlari untuk mengejar suster itu. Chelsea lari dan langsung kabur dari situ di bantu ke dua pengawalnya.


***


Tanti panik. Kemudian Tanti membangunkan Nia yang masih terlelap di sofa. Dan segera mungkin memanggil suster


"Nia...Tuan Arka Nia." Ucap Tanti.


"Iya Kak, ada apa dengan Kak Arka?"


"Tadi ada yang mau membunuhnya. Dan sekarang dia kabur."


"Apa?"


"Kamu nyenyak banget sih Nia tidurnya. Jadi tadi ada suster gadungan kesini kamu tidak tau."


"Iya. Kak Aku capek. Maafin yah."


Nia kemudian terbangun. Dan dua suster datang untuk mengecek kondisi Arka.


"Kak, Siapa yang akan membunuh Kak Arka? Setahu Nia Kak Arka orang baik dan nggak punya musuh."


" Saya nggak tahu Nia. Yang pasti, tadi ada orang yang masuk sini dan dia menyopot alat bantu pernafasan Tuan Arka dan mau membekap wajah Tuan. Idris Dani dan Herman mereka sedang mengjarnya."


"Ya udah, Kakak tungguin Kak Arka di sini."


Tanti tersenyum. "Iya."


"Kak, aku pergi yah, Aku kepo kak. pengin lihat penasaran."


"Ya udah lah terserah kamu."

__ADS_1


***


Sekarang Tanti sedang bersama Tuan Arka. Dia kemudian duduk di samping Tuan Arka.


"Tuan, Ini aku Tuan. Tanti." Ucap Tanti sembari menggenggam tangan Arka.


Lagi-lagi Tanti tidak bisa membendung air matanya. Dia menangis. Tanti meraih tas kecilnya. Dia kemudian berdiri dan melangkah ke kamar mandi. Dia ambil wudhu dan melaksanakan sholat malam. Setelah itu, dia membacakan ayat-ayat suci Al Quran tepat di sisi Arka.


Tes.


Bulir bening air mata Arka terjatuh di pipinya.


Tanti menyimpan Al Qurannya kembali di dalam tasnya. Dia kemudian mengusap air mata Arka.


"Tuan. Jangan nangis Tuan. Ini aku, Tanti. Tanti akan selalu menjaga Tuan. Tolong Tuan, bangunlah. Tanti janji, kalau nanti Tuan sadar,Tanti mau ikhlas menjadi istri Tuan. Tanti akan memberikan seorang anak untuk Tuan. Dan Tanti akan berusaha untuk melupakan Aurel. Walau itu tak mudah."


Hiks...hiks...hiks...


Tanti menggenggam erat tangan Tuan Arka. Dia kemudian mencium lembut tangan Arka. Tangan arka pun tampak basah oleh air mata Tanti.


"Ya Allah, entah kenapa,aku seperti merasa sangat kehilangan. Dan aku merasa seperti sakit jika melihat Tuan dalam ke adaan seperti ini."


"Tuan, sadarlah jangan tinggalkan aku."


Hiks...hiks...


Tanti terkejut, saat jari jemari Tuan Arka, mulai bergerak.


"Tuan, kamu sadar..."


Perlahan Arka mulai membuka matanya. Entahlah, mungkin saja karena ke ajaiban Tuhan. Mungkin saja karena keistimewaan Al Quran yang di baca Tanti tadi.


Samar-samar pandangan Arka menuju ke arah Tanti.


"Kamu siapa?" Tanya Arka tiba-tiba.


Tanti bingung dia sangat terkejut.


"Aku Tanti Tuan. Apa Tuan tidak mengenalku?"


"Tanti siapa?"


Tanti bingubg harus jawab apa. Mungkinkah Tuan Arka amnesia, dan tidak mengenalinya lagi.


Sekarang Tanti harus apa? Jika Tuan Arka tidak mengenalinya lagi, terus bagaimana dengan nasib dirinya. Bukankah selama ini, Tuan Arka itu adalah harapan Tanti.


Satu-satunya pelindung Tanti. Mungkinkah Tanti akan di usir dari kehidupan Arka. Kalau iya, bagaimana dengan bayinya. Tanti kan belum tahu di mana Aurelnya. Dan bagaimana caranya Tanti bertanya pada Tuan Arka. Sementara Tuan Arka itu, masih hilang ingatan.


Tanti menangis.


Tiba-tiba saja tangan kekar yang selembut sutera itu, menghapus air mata Tanti.


"Tuan benar-benar tidak mengenaliku?" tanya Tanti.


***


sampai sini siapa yang udah nyerah baca? Dukunganya yang banyak biar author bisa nyelesaiin masalah yang rumit ini.

__ADS_1


😀😀😀


Aish ah, pusing aku. Nih cerita kok jadi panjang amat yah. Awalnya alurnya nggak kayak gini kok.


__ADS_2