
Sekarang Tanti masih berada di sebuah kamar yang besar. Kamar itu tampak sangat luas. Dia masih dalam kondisi pingsan.
Hans mengumpulkan para pembantunya.
"Kalian harus melayani dengan baik nona Tanti. Dia adalah calon istriku."
"Baik Tuan." Kata Sinta kepala pembantu di rumah itu.
Hans dengan pakaian resmi yang serba mnegkilap itu, pergi dari rumahnya. Sepertinya dia akan pergi ke rumah istri-istrinya. Mungkin siapa yang akan menjadi istri Hans, akan sangat beruntung. Karena Hans, adalah orang yang adil dengan istrinya dan bisa selalu memanjakan istrinya.
Saat sampai di depan pintu rumah utama, Hans berbalik arah. Dia kembali melangkah ke kamar Tanti.
"Tanti sayang, bidadari ku, kamu sekarang milik ku. Dan janjiku adalah benar. Kamu akan aku jadikan istri ke tiga ku dan aku akan memanjakan mu dengan semua fasilitas-fasilitas mewah ku ini. Ini semua akan menjadi milik kamu sayang."Kata Tuan Hans sebelum pergi meninggalkan Tanti.
...****************...
Di kantor Tuan Bram masih tampak pusing. Yah, mungkin sekarang dia sedangnaa masalah dengan bisnis-bisnisnya.
"Arka? fokuslah kamu dengan bisnis kita. Jangan ngurusin wanita yang bernama Tanti itu terus...!"
"Pa, aku juga serius Pa."
"Arka. Kita harus hati-hati Arka."
"Hati-hati untuk apa sih Pa?"
"Apa kamu tahu, Papa dengar kabar yang mengeriakan. Ada seorang pengusaha muda, yang bisa saja menghancurkan satu perusahaan dalam waktu semalam. Dan papa nggak mau, kita akan beurusan dengan orang yang sangat licik itu. Mudah-mudahan kita tidak pernah bertemu dan berurusan dengannya."
"Ah, Arka tidak takut Pa. Siapa sih orang itu."
"Arka. Ini ancaman yang besar buat perusahaan kita Nak. Kita tidak boleh sampai tertipu dengan orang-orang seperti itu."
"Ya terus siapa? Papa tidak perlu sekhawatir itu. Perusahaan kita kan banyak Pa."
"Arka. Ini ancaman buat kita Nak Ingat itu. Dia itu adalah Hans Mercelo pengusaha baru yang dengan kelicikannya bisa menguasai semua perusahaan. Dan dia itu sangat licik."
Arka terdiam. Baru kali ini dia melihat Papanya sekhawatir ini.
"Hans Marcelo. Arka baru dengar nama itu Pa."
*****
Setelah lama Tanti pingsan, dia mengerjapakan matanya. Dia sanagat terkejut. Karena dia sekarang berada di tempat yang kamar yang bagus dan luas.
"Di mana aku? Kenapa aku bisa ada di sini? Sebenarnya apa yang terjadi denganku?" Gumam Tanti.
Di sebuah meja kecil sudah tampak banyak makanan yang terhidang. Mulai nasi, sayur, lauk pauk susu dan buah-buahan semua suah lengkap.
"Apa aku di rumah Arka? Kenapa Arka harus menculik ku?" Ucao Tanti menerka-nerka.
__ADS_1
Tanti memandang kesekeliling.
"Kamarnya luas banget. Lebih luas dari kamar Andre. Sebenarnya aku ada di mana. Dan siapa yang telah membawaku kemari?"
Seseorang berpawakan besar dan berotot masuk ke dalam kamar Tanti.
"Selamat pagi Nona?"Ucap orang itu.
Tanti tercengang. Dia teringat anak buah Arka.
"Arka. Apa yang kamu lakukan. Kenapa kamu menculik ku. Benar-benar konyol."
"Nona. Tuan menyuruhmu makan nona. Sekarang nona makan yah. Itu semua sudah Tuan siapkan untuk nona."
"Iya. Kamu pengawal baru yah di sini. Kok aku baru pernah melihatmu."
"Iya Nona. Saya baru di sini."
Setelah pengawal itu pergi Tanti kemudian turun dari ranjangnya. Kemudian dia makan dengan lahapnya.
"Wah, Arka memang penuh kejutan. Kenapa coba dia menculik ku. Kasihan kan Andre. Pasti sekarang Andre dan Chelsea sedang mencari ku. Benar-benar Arka konyol." Gumam Tanti semabari mengunyah makanannya.
...****************...
Tanti masih duduk mematung di ranjangnya. Dia tidak bisa keluar dari kamar. Karena pintu kamar di kunci.
Tanti kemudian melangkah ke arah jendela. Yah, Ratih melihat orang-orang berseragam dan berpawakan besar tampak rapi berdiri di area halaman depan rumah Hans.
"Ih, siapa mereka? Serem banget. Tapi kok asing semua yah, anak buah Arka kenapa semua jadi berubah. Kemana anak buah yang kemarin?." Gumam Tanti.
Tanti kemudian duduk di sisi ranjang. Beberapa saat kemudian dua orang bertubuh seksi tampak masuk ke dalam. Namanya Sinta dan Dara. Mereka adalah asisten rumah tangga kesayangan bos Hans. Mereka cantik-cantik.
Selama ini, memang Tuan Hans, adalah seorang lelaki yang menyukai wanita seksi dan cantik. Bukan untuk menjadi penghiburnya. Tapi untuk menjadi pelayan di rumahnya.
Setiap hari, Tuan Hans selalu minta di pijit saat dia merasa lelah. Tapi Tuan Hans tidak pernah menyentuh sedikitpun wanita-wanita itu. Dia cuma mau menyentuh istrinya saja.
"Siapa kalian?" tanya Tanti.
"Kami adalah asisten rumah tangga baru di sini."
"Oh, ya udah. Kalian mau ngapain ke sini.?
"Mau memastikan saja kalau nona tidak kabur."
"Ya udah sekarang Tuan mu mana? suruh dia kesini"
"Tuan masih ada di kantor nona."
"Ya udahlah, tenang saja aku nggak akan kabur."
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu, saya permisi dulu."
...****************...
Arka masih galau. Dia cuma bisa menatap foto Tanti.
"Ah, Tanti. Di mana kamu sekarang, kenapa kamu selalu membuatku gila." Kata Arka.
Arka masih setia duduk di kursi kebesarannya. Dia hanya bisa menunggu, dan menunggu para pengawalnya menelpon.
"Ah, kenapa sih aku punya pengawal tidak bisa di andalkan. Mereka bisanya apa sih, udah aku gaji gede, dapat komisi. Kerja nggak pernah becus" Arka tampak menggerutu.
tok tok tok...
"Masuk..." Ucap Arka.
"Pak Arka."
"Iya. Duduk Mbak." Arka memperrsilahkan Mbak Dona duduk.
"Maaf Pak, saya datang ke sini, membawa surat pengunduran diri."
"Lho kenapa? sayang sekali Mbak, kalau saya harus kehilangan orang yang bisa di andalkan seperti Mbak."
"Iya Pak. Tapi saya mau pulang kampung, soalnya di kampung ibu saya sendiri. Ayah saya baru saja meninggal."
Arka tambah pusing. Dia di hadapkan dengan Tanti di culik, sekarang sekertaris yang bisa di andalkan malah mengundurkan diri.
"Ya udahlah Mbak. Nanti saya akan berikan Mbak pesangon yang lumayan. Karena Mbak bekerja dengan saya sudah cukup lama."
Dona tersenyum.
"Iya Pak, terimakasih."
...****************...
Sore hari, Tanti masih terkurung di kamar mewah itu, dia tidak bisa kemana-mana.
"Ah, Arka benar-benar gila. Teganya dia pada ku. Dia mengurung ku seharian penuh. Awas saja nanti."
Tanti seperti sudah tidak betah berlama-lama di kamar itu.
Ratih kemudian menggedor pintu kamar itu.
"Arka, buka pintunya Arka. Kamu ngapain ngurung aku di sini. Ayo Arka, buka pintunya."
Hans yang baru saja datang membuka kacamatanya. Dia melangkah ke arah kamar Tanti.
"Fahmi, mana kunci kamar nona?"
__ADS_1