
Bik Inah kemudian kembali lagi untuk menemani Laura.
Huh, kalau aku boleh pilih sih, aku lebih pilih Kak Tanti dari pada Kak Laura ama Kak Jihan. Mereka kan agresif, galak posesif pula. Kalau Kak Tanti kan udah wajahnya imut, soleha, dan kalau di dekatin Kak Arka malu-malu gitu. Hi hi...lucu wajahnya. Apa lagi kalau mau di cium Kak Arka. Batin Nia.
Nia masih membayangkan bagaimana ekspresi Arka dan Tanti saat mereka mau ciuman.
"Kasihan, gara-gara Nia,mereka gagal terus kalau mau ciuman. Lah orang ciuman nggak ngelihat tempat." Gumam Nia pelan.
***
Di sisi lain,
Herman masih ada bersama Tanti di kantin rumah sakit. Setelah kejadian ribut dengan Laura pagi tadi, Herman mengantar Tanti, untuk sholat subuh dan dia menemani Tanti sarapan.
"Herman, Gimana yah kondisi Tuan? Apa sekarang dia udah siuman? "
"Yah mungkin saja udah nona."
"Herman, aku pengin kesana."
"Jangan Nona. Aku tidak mau melihat Nona di hina lagi. Di sana ada Non Laura."
"Tapi aku juga pengin nemanin Tuan. Sebentar lagi dia juga akan menjadi suamiku kan Herman."
"Iya Nona, Aku tahu, Tapi nona Laura keadaan jiwanya lagi nggak setabil"
"Tapi aku sangat khawatir Herman."
"Sudah yah Nona, Nona masih bisa temanin Tuan kalau keluarga Tuan pergi. Sebentar lagi Tuan Bram dan Nyonya Alicia akan datang. Mungkin Jihan juga, dan saudara-saudara Tuan Arka semuanya pasti akan datang."
"Iya. Benar juga sih Herman."
Di tempat lain, Chelsea selalu mengintai dan memperhatikan semua gerak-gerik pengawalnya Arka. Karena selama Arka sakit, Dia di jaga ketat oleh pengawalnya.
"Memang susah sekali yah, kalau menghadapi orang besar seperti Arka. Aku akan menghabisinya malam nanti. Saat orang-orang terlelap." Gumam Chelsea yang sekarang masih menggunakan gaun syari dengan wajahnya yang bercadar. Itulah penyamarannya. Dia memang sekarang bukan lah sosok Chelsea yang culun. Tapi dia adalah sosok Chrlsea yang sadis.
Dia mempunyai banyak mata-mata dan preman bayaran. Dia bisa meminta pengawalnya untuk menghabisi Arka sekarang juga. Tapi, Chelsea harus berhati-hati. Dia tidak boleh lengah dan sampai ketahuan. Satu yang Chelsea harapkan ke hancuran Arka bersama kehancuran istrinya.
***
Bu Alicia, Pak Bram, dan Kak Sofi, tampak terburu-buru menghampiri resepsionis.
Mbak resepsionis tersenyum dan menundukan kepala memberi hormat.
__ADS_1
"Di mana anak saya di rawat?" tanya Bu Alicia.
"Tuan Arka masih di ruang UGD. Dia masih kritis dan belum sadarkan diri." jawab resepsionis.
"Baiklah kita kesana. Ayo Jihan kita kesana." kata Bu Alicia kemudian..
Bu Alicia kemudian pergi ke ruang UGD bersama Jihan dan di ikuti Pak Bram di belakangnya.
Nia dan Bik Inah bangun dari duduknya dan memberi hormat pada majikannya itu.
"Bik Inah, Nia, gimana kondisi Arka? Operasi Arka sudah berjalan dengan lancarkan."
"Iya Nyonya. Tapi Tuan Arka belum siuman." Kata Bik Inah menuturkan.
"Apa." bu Alicia terkejut. Karena mana mungkin dari semalam Arka belum sadar.
"Nia. Katakanlah apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Pak Bram.
Nia meneteska air mata. Dia memeluk
ibunya. Mereka berpelukan sembari menangis.
"Kalian kok malah menangis?" Bu Alicia tampak bingung.
***
"Ma, mama..." Ucap Pak Bram sembari. menepuk-nepuk pipi istrinya.
"Idris, Dani tolongin nyonya besar. Nyonya besar pingsan. Kayaknya penyakit jantungnya kambuh." Ucap Pak Bram.
Dani dan idris kemudian menggotong Nyonya besarnya, mereka kemudian membawa nyonya Alicia ke ruang rawat.
Tuan Bram masih tak percaya. Apakah mungkin anak semata wayangnya akan meninggalkannya begitu cepat. Padahalkan Tuan Bram juga sangat menginginkan cucu.
Tuan Bram tiba-tiba saja menangis.
Tak lama kemudian, Dewa datang.
"Dewa, apa yang sebenarnya terjadi Dewa. Bagaimana dengan kondisi Arka?" Tanya Kak Sofi.
"Kondisi Arka sangat kritis. Kemungkinan umurnya nggak akan lama lagi Kak. Kita harus sama-sama doain dia, Kami para doker pun udah nyerah." Ucap Dewa frustasi.
"Dewa, Ini nggak bisa di biarin. Jika sampai lusa Arka masih koma, Om akan bawa Arka keluar negeri. Biar dia di sana mendapatkan perawatan oleh dokter profesional." Ucap Tuan Bram.
__ADS_1
"Dewa setuju Om." Kata Dewa menyetujui.
Kak Sofi menangis, saat dia melihat Laura. Laura seperti sedang meratap di sisi Arka. Sekarang Laura lumpuh. Jadi dia tidak bisa melakukan apa-apa. Laura hanya bisa menangis dan pasrah.
Hiks...hiks...
"Arka. Aku nggak kuat Arka melihat kamu seperti ini." Ucap Laura.
Tes.
Setetes air mata Arka jatuh di pipi Arka. Sepertinya walaupin dia koma, dia masih mendengar orang yang di cintainya meratap di sampingnya.
***
Di sisi lain, Tanti menangis sesenggukan saat mendengar percakapan antara Kak Sofi, Dewa dan Tuan Bram.
Dia benar-benar sangat terpukul. Dia ingin sekali menemani Arka. Apalah daya dia bukan siapa-siapa Arka. Dan sampai kapanpun, dia itu tak akan pernah menjadi istri sah Arka, selama ada Luara. Dia akan menjadi istri simpanan saja. Semoga saja saat nanti Tanti bisa memberikan keturunan untuk Arka, dia tidak akan di buang seperti yang tertulis di surat perjanjian itu.
"Sudah Nona,lebih baik kita ngumpet dulu. Kita tidak boleh bertindak bodoh. Kondisi Tuan Arka, sekarang juga sangat memprihatinkan. Nona jangan gegabah."
"Iya Herman."
Herman tersenyum. Untuk saat ini, Herman benar-benar akan melindungi Tanti. Dia akan menjaga rahasia besar Tuannya. Dia tidak akan pernah membiarkan rahasia tentang calon istri Tuannya itu menyebar. Apalagi sampai ke media masa.
"Herman, aku takut kehilangan Tuan Arka. Dia udah sangat baik sama aku."
"Iya Nona. Nanti nona bisa menemui Tuan Arka, kalau lagi sepi. Mungkin nanti malam Nona."
"iya Herman."
***
Malam ini,Tuan Bram sedang menjaga istrinya. Sementara Idris dan Dani menjaga ketat di depan ruang UGD. Sementara Herman bertugas untuk menghibur dan menenangkan Tanti.
Sekarang Laura tampak sudah mengantuk. Dia masih di sisi suaminya. Walau dia sekarang tidak bisa melakukan apa-apa, namun Laura mencoba untuk memberi kekuatan pada Arka.
"Non, mending kita pulang aja yuk Non." Ucap Bik Inah.
"Tapi Bik, aku tidak mau meniggalkan Arka."
"Non, aku takut nona akan sakit. Nona kan harus banyak istirahat. Dan lagian di luar ada pengawal."
"Iya Bik. Tapi aku nggak tega. Perasaan aku juga sedari tadi tidak enak."
__ADS_1
"Non kan ada Nia. Biarkanlah Nia yang menjaga Tuan yah." Bik Inah mencoba membujuk.