
Setelah sampai di klinik Dewa, Laura, Ridho, dan Dewa kemudian turun.
Mereka turun dan melangkah ke arah klinik. Yah, klinik kecil milik Dewa. Tempat Dewa membuka prakteknya saat pagi dan sore. Tepatnya saat dia di rumah, dan tidak tugas di rumah sakit.
Dewa kemudian mengajak Ridho masuk. Dia kemudian memeriksa kondisi tubuh Ridho.
"Auh..." pekik Ridho saat Dewa tidak sengaja menyentuh bagian punggungnya.
Dewa dan Laura saling menatap.
"Kamu kenapa Ridho...?" tanya Laura prihatin.
"Aku nggak apa-apa Tante." Jawab Ridho.
" Coba tante lihat."
Laura yang penasaran langsung membuka kaos Ridho. Dia kemudian membuka bagian tubuh belakang Ridho.
Betapa terkejutnya Laura saat mendapati tubuh Ridho yang penuh luka seperti bekas pukulan.
"Astaga. Kamu kenapa Ridho...?" tanya Laura.
Ridho menangis. Dia tidak bisa menjawab.
Yah, Ridho takut dengan ancaman ibu tirinya. Ibu tirinya itu sangat jahat padanya.
Ibu tirinya juga yang menitipkan Ridho di panti asuhan.
Ridho anak kecil yang masih berusia enam tahun itu, di paksa ibu tirinya untuk bekerja keras.
Ridho di paksa untuk mengerjakan semua pekerjaan rumah dan berkeliling untuk berjualan. Namun anak sekecil Ridho itu tidak pantas di perlakukan demikian. Karena Ridho itu masih sangat kecil.
Tapi ibu tiri Ridho memaksanya untuk julan keliling dengan sepeda sampai seharian.
Seharusnya Ridho itu sekolah di taman kanak-kanak. Namun, karena ibu tirinya tidak mau membiayai Ridho, jadi Ridho terpaksa harus di titipkan di panti asuhan.
Ibu Ridho, sudah lama meninggal. Sejak Ridho umur satu tahun. Dan ayah Ridho juga meninggal karena kecelakaan enam bulan lalu. Yah, selama ini ayah Ridho itu cuma tukang kuli bangunan. Dan dia harus meninggal di tempat kerjanya karena jatuh dari atas.
"Ridho...kenapa kamu tidak jawab? ayo jawab Nak. Ini luka apa?" tanya Dewa.
"Ini ulah ibu tiriku Tante. Dia memukuli ku sampai memar. hiks..hiks.."
"Ya ampun...tega sekali." kata Laura.
"Kamu masih punya orang tua?" tanya Dewa.
Ridho menggeleng."Aku cuma punya ibu tiriku. Dan dia sekarang sudah menikah lagi. Dan aku di titipkan di panti asuhan."
"Emang orang tua kamu kemana Nak?" tanya Dewa.
Ridho dengan deraian air mata menggeleng.
"Aku ini yatim piatu Om, Tante, ibu ke meninggal sejak aku umur satu tahun, dan ayah ku meninggal enam bulan yang lalu." Kata Ridho menuturkan.
__ADS_1
"Aduh, terus selama enam bulan kamu tinggal sama ibu tirimu?" tanya Laura.
Ridho mengangguk.
Tiba-tiba saja Laura memeluk Ridho. Laura merasa prihatin dengan kondisi Ridho.
"Kasihan kamu Nak..." Ucap Laura.
Setelah itu Laura menangis.
"Jadi kamu baru, di panti asuhan itu?" tanya Dewa.
Ridho mengagguk di pelukan Laura.
Laura dan Ridho sama-sama menangis. Menangisi nasib Ridho yang masih kecil, harus menjadi seorang anak yatim piatu. Dan dia juga telah mendapatkan perlakuan kasar dari ibu tirinya.
Tes.
Setetes air mata Dewa mendarat di pipinya. Dewa juga sama seperti Laura hatinya ikut menangis mendengar cerita anak kecil itu.
"Kamu udah makan belum Nak?" tanya Laura.
Ridho menggeleng.
"Ya udah, nanti tante akan ajakin kamu makan yah, di restoran favorit Tante. Kita akan makan di restoran mahal."
Ridho mengembangkan senyumnya.
Laura tersenyum.
Yah, baru kali ini Laura mendapati langsung kisah seorang bocah nelangsa. Membuat hati Laura ikut terenyuh. Ternyata masih banyak orang di luaran sana yang hidupnya memprihatinkan.
Yah, Laura itukan sudah terlahir di kehidupan orang kaya, dengan berbagai macam kemewahan dunia.
Dan baru kali ini, Laura benar-benar terenyuh hatinya saat mendengar cerita Ridho.
"Ternyata, ibu tiri kejam itu memang ada. Bukan cuma ada di sinetron atau dongeng Cinderella. Tapi ternyata di dunia nyata juga ada." Gumam Laura.
...****************...
Tanti masih asyik menyuapi Zoya dan Aurel. Sementara Arka masih asyik duduk di samping Tanti.
Sekarang mereka sedang ada di ruang bermain anak-anak.
"Sayang...setelah ini, kita jalan-jalan yuk. Bosen di rumah terus begini."
"Kita mau kemana sayang?" tanya Tanti yang masih memegang piring.
"Ke pantai, atau ke mana gitu. Kita keliling-keliling beli-beli oleh-oleh."
Tanti menatap Arka dan tersenyum.
Yah, senyuman yang selalu membuat Arka salah tingkah dan langsung menegang.
__ADS_1
Astaga Tanti...senyumanmu itu seperti racun Tanti. Yang membuat aku tidak bisa berpaling ke lain hati. Yang membuat tegang seluruh tubuh ku.
Arka menatap Tanti dalam.
"Hei..sayang. Apa yang kamu lihat. Kenapa kamu melihat ku tak berkedip. Apa yang sedang kamu fikirkan?" tanya Tanti.
Arka tak bergeming. Dia masih seperti patung.
Aduh Tanti, senyumanmu bisa membuat ku Over dosis Tanti. Jangan salahkan aku jika suatu saat aku bisa khilaf Tanti.
Tanti mengusap wajah Arka penuh kelembutan. Arka seperti tersihir saat merasakan tangan lembut Tanti membelai wajahnya. Hatinya mulai tak karuan. Debaran jantungnya kian meningkat tak terkendali.
"Eh, sayang. Aku nggak apa-apa kok."
"Arka. Kenapa kami akhir-akhir ini jadi sering bengong sih. Apa yang sedang kamu fikirkan. Apa kamj lagi memikirkan wanita lain."
"Hei, berhenti kamu berucap seperti itu. Aku cuma mencintai satu wanita. Tidak ada wanita lain di hatiku saat ini kecuali kamu Tanti."
" Yah, barang kali kamu memikirkan masa lalu, atau mantanmu."
"Astaga sayang...apa yang kamu fikirkan tentang aku. Apa kamu meragukan cintaku."
ha...ha... Tanti tertawa, yah saat ini dia sudah mulai bisa bercanda. Membuat Arka jadi greget sendiro di buatnya.
Arka memeluk erat Tanti dari belakang.
"Sayang...kamu sekarang semakin pintar sekali merayuku. Kamu sekmakin pintar sekali membuatku mabuk."
Tanti menegak salivanya. Jantungnya seakan mau copot saja waktu di peluk Arka.
"Papa..Tante...kalian apaan sih...!" Ucap Zoya yang melihat papanya memeluk Tanti.
Zoya berdiri dan melepaskan pelukan Arka. Dia kemudian duduk di pangkuan Arka.
"Zoya nggak suka yah, kalian pelukan. Tante cantik juga jangan mau kalau di peluk papa. Papa cuma boleh meluk Zoya dan Anisa." Kata Zoya kesal. Zoya merasa papanya sudah tidak memperhatikan Zoya dan Aurel lagi.
Tanti tersenyum.
"Nggak sayang, Tante Khilaf. Tante nggak akan lagi di pelik papamu." Ucap Tanti sembari pergi.
Setelah menyuapi Zoya, Tanti membawa gelas dan piribg kotorknya ke dapur.
Sementara tinggalah Arka Zoya dan Anisa.
Arka mendekap Zoya.
"Kamu cemburu yah...?" tanya Arka pada Zoya.
Zoya menangis. Membuat Arka bingung.
"Zoya, kenapa kamu menangis Nak?" tanya Arka sembari mengusap air mata Zoya.
"Papa, seharusnya yang papa perlakukan mesra itu mamanya Zoya. Bukan tante cantik."Kata Zoya.
__ADS_1