
Sekarang, Remon dan Arka sudah tampak bercakap di ruangan Arka.
" Wah, bro. Lo sekarang udah sukses yah. Dan yang gue dengar, apa Lo udah nikah lagi? Bukankah waktu itu Lo udah nikahan Ama Laura."
" Sekarang Laura sudah bukan istri gue lagi sob. Laura itu sudah menjadi miliknya Dewa. Sebentar lagi mereka akan mengadakan resepsi pernikahan."
"Oh, gitu. Gue baru tahu bro. Terus sekarang, Lo gimana Ka?"
"Gimana apanya? Yah, seperti yang Lo lihat. Gue begini-begini aja."
"Maksud gue, apa Lo udah punya calon?"
"Ha...ha...bro. Lo ketinggalan berita bro."
"Maksudnya." Remon mengernyitkan alisnya.
"Gue pasti udah punya yang barulah,"
"Oh yah. Cepat banget Lo dapat gebetan"
"Ini bukan gebetan lagi bro, tapi lebih dari itu."
"Oh, iya. Terus?"
"Gue udah punya istri baru."
"Apa, yang benar?"
"Iya. Benar istri baru. Dan dia lebih cantik dari Laura."
"Ha..ha... Artis mana tuh?"
Arka tersenyum "Kali ini bukan artis bro. Tapi orang biasa. Gue malas punya wanita, yang suka mempertontonkan auratnya seperti Laura dan Jihan. Tapi istri gue kali ini, beda dari yang lain."
"Oya? jg gue jadi penasaran. Seperti apa, istrimu itu?"
Tok tok tok..
"Masuk..." ucap Arka.
Pak Rudi kemudian masuk ke dalam, membawakan secangkir kopi untuk Arka. Pak Rudi kemudian meletakan secangkir kopi tersebut pada Arka.
"Ini Pak Arka. Kopi yang anda pesan." Kata Pak Rudi.
"Terimakasih Pak Rudi." Kata Arka sembari tersenyum.
"Pak Rudi, kayaknya kopinya kurang satu lagi deh." Kata Arka.
" Oh. Iya Pak, kalau begitu, aku akan buatkan lagi."
"Oh, nggak usah Pak. Nggak usah. Biar nanti aku buat sendiri aja. Bapak bisa urusin pekerjaan bapak yang lain."
"Iya Pak. Saya permisi dulu." Kata Pak Rudi sembari menundukkan kepalanya.
__ADS_1
Setelah itu Pak Rudipun pergi.
Pak Rudi tersenyum-senyum. "Sekarang Pak Arka sudah banyak berubah. Sifat temperamennya, sudah semakin berkurang. Siapa yah orang yang bisa merubah sikapnya Pak Arka jadi selembut itu. Pak Arka juga jarang marah sekarang. Pasti itu semua istri barunya. Aku jadi penasaran dengan istri barunya Pak Arka. Seperti apa yah. Pastinya dia orang baik, dan nggak terkenal seperti Bu Laura " Gumam Pak Rudi sembari pergi meninggalkan ruangan bosnya itu.
...****************...
Laura masih menatap ke atas langit. Di lihatnya bulan tampak bulat sempurna. Langit malam ini tampak cerah, secerah hati Laura saat ini. Satu Minggu lagi adalah pesta pernikahannya.
Setelah melewati berbagai macam rintangan yang terpaksa harus menunda acara resepsi pernikahan mereka, sekarang, Laura sangat bahagia. Dia selalu berharap, kalau tidak akan ada lagi, bencana yang akan menimpanya sampai pesta pernikahannya itu tiba.
" Ah, aku nggak tahu, kenapa acaraku dan Dewa selalu gagal. Ah, aku malas sekali hari ini. Mau kemana-mana malas banget."
Laura kemudian menutup jendela kamarnya dan melangkah ke arah lemari. Dia membuka lemarinya dan membuka laci.
Laura tersenyum. Saat melihat foto pengantinnya dengan Arka.
Laura meraih foto itu dan membawanya. Dia kemudian naik ke atas ranjang.
Laura mengusap wajah Arka yang ada di foto.
"Berapa banyak Arka, kenangan yang telah kita lewati. Kenangan manis, ataupun kenangan pahit. Walau kamu bukan cinta pertamaku, namun entah kenapa, hati ini, rasanya tidak rela untuk melepaskanmu. Walau aku juga sudah mulai mencintai Dewa. Namun bayang-bayangmu, masih selalu menghantui fikiranku. Apalagi kita akan sepupuan. Entah akan sampai kapan Arka." Gumam Laura.
Laura kemudian mencium foto Arka dan memeluknya. Dia kemudian menangis.
"Seandainya, aku bisa mempunyai anak, pasti kamu tidak akan pernah melirik wanita lain termasuk Tanti. Arka, betapa berharganya dirimu untuk diriku Arka. Kamu seorang lelaki yang sangat baik, dan aku beruntung karena pernah bersanding denganmu. Kamu terlalu sempurna Arka." Gumam Laura lagi.
Tok tok tok...
"Iya Bik..." Ucap Laura sembari menyembunyikan foto Arka lagi di dalam laci lemarinya. Laura langsung menyeka air matanya.
Dia buru-buru menghampiri pintu kamarnya.
Ceklek,
Laura kemudian membuka pintu kamarnya.
Bik Runi tampak tersenyum padanya.
" Ada apa Bik...?" tanya Laura.
" Itu. Ada Tuan Dewa."
"Oh, Dewa datang. Ya udah, suruh tunggu dulu. Sebentar lagi aku turun."
"Baik Non."
Bik Runipun kemudian turun ke bawah. Dia menghampiri Dewa yang sedang ada di ruang tamu.
"Lauranya mana Bik?" tanya Dewa.
"Non Lauranya masih ada di atas."
"Oh,"
__ADS_1
"Katanya Tuan Dewa di suruh tunggu dulu di sini."
"Oh ya udah. Aku tungguin di sini." Kata Dewa.
Semenatar di kamar Laura masih terus menerus mengusap matanya yang sembab. Yah, sudah beberapa menit dia menangis. Menangisi kenangan bersama Arka.
"Ah, gimana yah, sekarang. Apa aku sudah nggak seperti orang yang habis nangis. Kalau Dewa tahu, dia bisa nanya macam-macam lagi. Sekarangkan dia jadi bawel. Bukan Dewa yang super serius lagi."
Laura masih menatap wajah cantiknya. Lagi-lagi Arka muncul dalam dikiranya.
Yah, Arka suami yang dulu sangat di cintainya. Suami yang dulu sangat di puja-puja. Dan sekarang sudah menjadi mantan. Cuma kenangan masa lalu yang tersisa.
Laura masih ingat betul, saat Arka selalu memeluknya dari belakang sewaktu Laura merias diri. Arka yang selalu memujinya di setiap waktu, Arka yang selalu memberikan sentuhan-sentuhan hangat padanya. Sekarang, mereka berdua sudah menemui jalannya masing-masing. Dan tidak ada yang bisa merubah takdir.
Mungkin, ini sudah takdir Laura, harus berpisah dari Arka. Walaupun Laura itu tetap bertahan dalam rumah tangganya, itu juga akan membuatnya sakit hati. Karena cinta Arka sekarang, cuma buat Tanti seorang. Dan mungkin sampai kapanpun akan tetap Tanti yang akan menjadi wanita satu-satunya yang ada di hati Arka.
Setelah Laura mengusap wajahnya, dan memolesnya sedikit dengan makeupnya, Laurapun kemudian turun ke bawah.
Dia langsung melangkah menuju ke ruang tamu.
" Hai sayang. Udah dari tadi yah?" sapa Laura.
"Lumayan kok sayang. Lama banget sih...?"
"Iya. Aku kan biasa untuk menyambut orang yang aku cintai aku harus memoles wajahku dulu dong."
"Oh, iya kamu memang wanita yang pandai sekali Laura."
"Pandai apa?"
"Pandai membuat calon suamimu ini terpana."
"Ha..ha...bisa aja kamu."
"Ra, "
"Iya."
Dewa diam. Dia menatap lekat manik mata Laura. Dewa kemudian bergerak bergeser lebih mendekat ke arah Laura.
"Kenapa Wa."
"Aku cuma pengin duduk lebih dekat aja sama kamu "
.
"Oh, iya. Nggak apa-apa kok. Kita kan sebentar lagi akan jadi suami istri."
❤️❤️❤️
AINASYIFA PENULIS ONLINE
itu grup FB aku. kalian boleh gabung yah...
__ADS_1