
Mereka masih tampak mengumpat dan masih berfikir untuk mencari cara agar tidak ketahuan.
"Arka aku takut."Ucap Tanti sembari memeluk Arka.
"Sssst Jangan berisik sayang, kalau kamu nangis begini mereka bisa dengar. Percayalah sama aku. Untuk sekarang kita masih ada di lingkungan Hans. Kalau kita keluar terserah kamu,"
Tanti mengangguk. Dia menurut juga ucapan Arka.
Setelah semua pengawal pergi untuk mencari Tanti. Barulah Arka menyeret pelan Tanti untuk keluar dari rumah itu. Arka membawa Tanti naik motor.
Setelah menjauh dari rumah Hans, mereka berdua merasa lega.
"Akhirnya Arka. Aku bisa kabur juga dari tempat itu. terimakasih Arka. Sekarang kita mau kemana?"
Arka tersenyum. Sebersit ide bermunculan di otaknya. Yah,saat-saat beginilah dia bisa membawa Tanti kemanapun dia mau.
"Sayang aku mau bawa kamu keliling pakai motor ku."
"Keliling kemana? aku aja pakai gaun pengantin gini."
"Aku mau bawa kamu jalan-jalan pokoknya."
"Baiklah."
Arka kemudian membawa Tanti berkeliling. Yah, saat ini Arka memang pakai masker dan kaca mata hitam. Dan baju yang tampak hitam. Jadi siapa yang mau mengenalnya kalau pakaiannya kayak gitu. Tidak akan ada yang mengenalnya.
...****************...
Tanti berlari kecil di tepian pantai sembari menyingsing kainnya yang melekat di bagian bawah tubuh bawahnya. Sementara Arka masih memegangi sepatu Tanti.
"Arka...aku senang banget kamu bawa aku ke sini...!"Seru Tanti sembari merentangkan tangannya.
Arka tersenyum Rambut Arka tampak berterbangan tertiup angin. Yah, walaupun hari tampak panas, namun tidak masalah untuk pasangan Arka dan Tanti. Mereka tampak masih menikmati pemandangan alam pantai tersebut.
Arka tiba-tiba saja memeluk Tanti dari belakang. Namun Tanti enggan untuk menolaknya. Lagi-lagi Tanti melupakan dosanya. Berpelukan dengan orang yang bukan muhrimnya.
Yah, saat-saat ini adalah saat kenangan indah bersama Tanti. Bersama menikmati indahnya pantai.
"Tanti, apakah kamu bahagia sayang."
"Iya. Setelah ini kamu mau ngajakin aku kemana Arka."
"Ke rumah sakit sayang."
Tanti terkujut. Dia kemudian memutar tubuhnya.
"Mau ngapain kita kesana ? Apa mama kamu sakit lagi?" tanya Tanti pada Arka.
"Kita ke sana mau nengokin Dewa." jelas Arka.
"Dokter Dewa maksudmu."
"Iya sayang. Dokter Dewa sepupuku."
__ADS_1
"Kenapa dia? dia sakit apa?"
"Dia nggak sakit sayang tapi dia kecelakaan."
"Oh, gitu. Ya udah nanti kita kesana."
"Sayang, aku dahaga. Aku pengin deh beli es kelapa muda asli."
"Ya udah beli aja."
Arka kemudian membeli dua es kelapa muda.
Arka masih tersenyum.
"Buka dong maskernya Arka. Masak mau minum di pakai terus."
"Ah, jangan di sini. Nanti banyak yang lihat aku. Nanti takutnya mereka minta foto lagi."
"Ya nggak apa-apa dong, biar kamu tambah terkenal."
"Ah, sayang, aku risih kalau di dekati wartawan.Ayo kita cari temapt aman."
Akhirnya Tanti pun menuruti Arka. Sekarang Arka dan Tanti mencari tempat sepi untuk bersembunyi.
"Oke. Untuk saat ini kita di sini dulu. " Kata Arka. Setelah itu Arka melepas maskernya dan kaca matanya.
"Arka..."Ucap Tanti yang sama sekali tidak menyangka kalau Arka akan menyelamatkannya dari rumah Hans.
"Iya sayang."
"Ya tinggal hajar aja kan. Emang kamu pikir aku butuh pengawal, tidak sayang. Aku juga jaho bela diri lho. Apa kamu nggak percaya?"
Tanti tersenyum sembari menyeruput es kelapanya.
"Kamu cantik sekali dengan gaun pengantin itu. Seandainya aku yang ada di posisi Hans, mungkin kamu nggak akan mau kabur yah sayang, justru kamu akan tambah mendekat dan memeluk ku." Cetus Arka.
" Ih Arka ngomong apa sih."
Tanti dan Arka sama-sama tertawa. Yah,mereka sama-sama membayangkan bagaimana seandainya mereka yang menjadi mempelai pengantinnya.
...****************...
Di pantai itu Tanti dan Arka sedang asyik mengobrol. Tiba-tiba saja Arka menemukan pandangan yang mengejutkan.
Yah pengawal Tuan Hans sampai di pantai.
"Tanti, ayo Tanti kita ngumpet. Lihat itu, pengwal Tuan Hans banyak banget."
Tanti panik. Dia menangis.
"Suda nggak usah khawatir."
Arka memakai lagi masker dan kaca mata hitamnya.
__ADS_1
"Hai lihat. Aku menemukan nona Tanti. Dia bersama seorang pemuda. Ayo kejar mereka."
Tanti dan Arka kabur dari tempat itu. Tiba-tuba saja Tanti terjatuh.
"Auh...Arka..tolong."
"Sayang, kamu nggak apa-apa kan."
Arka mau mencoba membantu Tanti berdiri. Tiba-tiba saja pengawal Arka. Sudah ke buru datang.
"Ha ha ha...Mau lari kemana kalian." kata salah seorang daru mereka.
Sekarang Arka di kepung oleh delapan orang pengawalnya Hans, yang bertubuh besar. Enam orang menyerang Arka. Dan dua orang memegangi Tanti.
Arka kemudian bertemopur dengan pengawalnya Tuan Hans.
Arka di keroyok. Dan akhirnya Arka pun kalah. Namun Arka tidak tinggal diam. Walau dia dalam ke adaan terluka parah, namun Arka tetap kuat untuk memperjuangakan cinta sejatinya.
Dia menguntit para pengawal Tuan Hans yang berhasil membawa kabur Tanti kembali.
Tanti menangis.
"Jangan coba kamu kabur lagi nona. Kalau kamu berani kabur, kamu akan tahu hukamannya. Sekarang menurutlah dan ikutlah bersama kami. Tuan Hans sudah menunggumu."
"Aku tidak mau menikah dengan Tuan Hans. Aku tidak pernah mencuntainya."
"Ah, cuma wanita bodoh saja yang bisa menolak Tuan Hans. Sudahlah Nona menurutlah."
Setelah sampai ke rumah Tuan Hans, Tanti di kurung lagi di rumah itu.
Tuan Hans, memang sayang sama Tanti. Jadi dia tidak akan memarahi Tanti. Cuma sulit sekali Tanti lolos jika sudah berada di tangan Tuan Hans.
"Aku harus bawa Tanti pergi dari sini. Ini sudah tidak aman. Siapa pemuda yang lancang membawa Tanti kabur."Gumam Tuan Hans.
Yah, Tuan Hans tidak melihat dengan jelas wajah Arka. karena wajah Arka di tutupi pakai masker. Jadi di Cctv pun tidak kelihatan.
"Aku akan mencari tahu, siapa pemuda itu. Aku harus membuat perhitungan dengannya.
...****************...
Malam ini Laura sedang bersama Dewa kekasihnya. Yah, tiga hari sebelum pernikahan mereka, Dewa mengalami kecelakaan. Dia mengendari mobil dengan mengantuk hingga akhirnya mobil Dewa menabrak sebuah pohon karena Dewa membanting setir untuk menghindari mobil di depannya.
"Hiks..hiks.. Dewa, kenapa semua jadi seperti ini. Semua kacau Dewa."
"Sudahlah sayang, nggak apa-apa. Inikan semua juga ujian."
"Iya Dewa. Ini semua ujian."
Sesaat kemudian Arka masuk ke dalam ruang rawat Dewa dengan jalan yang semopoyongan.
"Sorry Wa, gue baru bisa nengokin lu."
"Arka wajah kamu kenapa kok bisa babak belur gitu? Kamu habis berantem? apa kamu habis di keroyok?"
__ADS_1
"Aku nggak apa-apakok." Ucap Arka.