
Pagi ini, aku melihat ke arah luar kamar ku. Tampaknya udara pagi ini tampak sejuk. Aku melihat layar ponsel ku. Aku tersenyum saat melihat foto bidadari ku.
Yah,dia itu Tanti ku. Dia adalah bidadari ku, yang telah berhasil menaklukan hatiku sampai hampir membuatku gila.
"Tanti, di mana kamu sayang. Aku sangat merindukan mu. Betapa rasa ini sangat menyiksaku. Seandainya aku tahu di mana kamu, aku akan mengatakan kalau kamu itu adalah cinta sejatiku yang selama ini aku cari."
Cinta sejati. Yah, bagiku Tanti adalah cinta sejati. Dan baru kali ini aku menemukan seorang wanita sholeha seperti dia.
Aku adalah Arka Wijaya, pengaggum berat Muhamad rosulullah.
Setiap kata muhamad terucap, hatiku seakan sejuk mendengarnya. Aku ingin meneladaninya. Namun aku belum bisa. Aku cuma bisa membaca, storinya saja. Yah, dia adalah nabiku, nabi yang sangat aku rindukan syafaatnya.
Aku adalah Arka Wijaya yang di lahirkan dari keturunan konglomerat, namun kehidupan kami sangat jauh dari agama.
Kami muslim, tapi kami tidak tahu menahu tentang ilmu-ilmu islam. Dan aku menginginkan sosok istri soleha, yang mau membimbingku dan mengajariku agama. Dan aku menemukannya pada diri istri Arifin yaitu Tanti.
Sejak aku bertemu denganya, aku sudah mulai kagum padanya,kepatuhannya pada suaminya membuatku ingin lebih jauh lagi untuk mengenalnya.
Dan aku mendengar saat suami Tanti ingin menjual Tanti. Ah, rasanya aku sangat tidak tega dan tidak rela. Akupun memutuskan untuk membelinya. Bukan maksud ku untuk menjadikan Tanti seperti barang, namun aku akan menjaga dia seperti berlian. Yah, itulah maksud ku.
Aku melangkah ke arah meja kerjaku. Aku buka diary ku aku utarakan isi hatiku.
Dear diary,
Tanti cintaku, apakah kamu tahu apa yang aku rasakan selama ini, aku sangat mencintaimu, aku sangat merindukanmu, jika saja aku tidak lagi bertemu denganmu, dan tidak bisa memiliku mu, maka aku akan ambil Aurelmu untuk menggantikanmu. Dan sampai kapanpun, aku tidak akan menikah lagi dengan wanita manapun. Tanti, apakah kamu tahu, kalau selama ini,kamu adalah sosok wanita yang aku cari. wanita soleha, yang merdu suara mengajinya. Walau aku tidak bisa mencontoh rasululluah, tidak bisa memjadi imam yang baik, namun aku butuh Khadijah, seorang wanita yang mulia, dan aku butuh Aisyah,seorang yang cerdas, yang mau membimbingku ke jalan Muhamad. Dan orang itu adalah kamu Tanti.
Setetes air mataku terjatuh di atas kertas putih itu. Aku menutup kembali buku harianku. Aku tersenyum,saat sekelabat bayangan muncul dalam benak ku.
"Anak papa, kamu lagi ngapain sayang. Papa kangen banget sama kamu. Ah, satu bulan saja rasanya bagai satu tahun nggak ketemu Anisa. Papa janji Nak. Akan membelikan mu, mainan yang banyak." Gumam ku pelan.
"Arka..."Seru Papa.
"Iya Pa."
"Turun Nak. Ini papa udah pesan makanan Nak."
"Iya sebentar lagi aku turun." Ucapku sembari mengusap pipiku yang basah.
__ADS_1
Aku kemudian turun ke bawah untuk menemui Papaku. Dan aku lihat Papa sudah ada di meja makan. Aku tersenyum.
"Pagi Pa..."Sapa ku.
"Pagi Arka."
"Wah, banyak banget makanannya!"
"Iya Arka. Papa sengaja pesan ini semua. Nanti sore kita akan terbang ke Jakarta."
"Oya? wah, aku senang banget Pa. Aku juga udah kangen sama Anisa. Anisa putriku."
"Ha... ha... Arka, memang cuma kamu doang yang kangen. Papa juga kangen sama cucu papa itu, dia sangat menggemaskan."
...****************...
Sore ini, aku dan papa berkemas untuk pulang ke Jakarta. Betapa bahagia rasa ini, aku membelikan oleh-oleh banyak untuk Anisa, untuk Mama, untuk para pembantu, dan para pengawal ku.
Aku akan berikan mereka hadiah dan komisi yang banyak. Karena hari ini aku sangat bahagia. Karena selama di Bali kami selalu menang tender. Yah, aku sangat mengacungkan jempol pada papa. Setiap papa ikut bergabung dalam bisnis ku, kami selalu bisa bergabung,dengan pengusaha pengusaha hebat dari luar negeri. Sehingga usaha kami bisa berkembang pesat.
Aku sangat sibuk menyiapkan barang-barang mana yang akan aku bawa.
"Ya udahlah Arka, tinggal aja di sini. Toh, ini kan rumah kita. Kamu bisa kembali kesini untuk mengambilnya nanti."
"Ya udah deh. Aku juga udah punya sepeda roda tiga untuk Anisa. Anisa pasti senang dengan semua hadiah ini. Aku janji pa. Aku akan memanjakan Anisa sampai dia dewasa. Aku akan menuruti semua permintaanya."
"Jangan begitu Arka. Itu namanya kamu salah mendidik Anisa. Nanti kalau Anisa jadi anak menja gimana."
"Ya nggak apa-apa Pa. Dia kan anak Arka."
Setelah mengepaki semua barang-barang ku, aku kemudian melangkah ke arah lemari, aku ambil baju-baju ku. Dan mengepaknya di koper besar.
"Astaga, aku lupa Zoya. Bagaimana kabar dia. Kenapa aku tidak membelikannya mainan juga. Dia pasti sekarang sama Andre. Ah, aku harus menelpon Andre.
Aku kemudian mengambil ponsel ku yang ada di saku celana ku.
Aku kemudian memanggil nomor Andre.
__ADS_1
"Halo Ndre? Gimana ke adaan Zoya."
"Zoya baik-baik saja Arka. Dia sama Chelsea. Tapi dia belum tahu soal ibunya kalau ibunya sudah meninggal."
"Astaga, kasihan sekali anak itu. Sekecil itu, sudah menjadi yatim piatu."
"Arka. Kapan kamu pulang? aku pengin ngomongun hal penting Arka."
"Sore ini Ndre,aku meluncur."
"Oh, baiklah."
...****************...
Aku tersenyum bahagia setelah aku sampai ke rumah. Aku kumpulkan semua pembantu dan bodyguard. Aku akan berikan hadiah satu persatu pada mereka. Aku yakin pasti mereka senang.
"Wah, Tuan. Kau juga kebagian nih?" Ucap Pak Toha .
"Iya. Semua kebagian tenang saja." Kataku dengan penuh kesemangatan.
Aku pun kemudian mencari Anisa anak ku. Aku pergi ke atas ke kamar ku, ku lihat Mama sedang terlelap bersama Anisa. Akhirnya aku merasa lega, karena mama sudah tidak menyuruh ku menikah lagi dan tepatnya dia juga sudah mau menerima cucu adopsi.
Aku membangunkan mamaku,
"Ma, bangun Ma. Arka pulang."
Mama kemudian terbangun mendengar suara Arka.
"Ah, mama ketiduran Arka."
"Udah sekarang mama keluar. Arka mau capek Arka mau temani Anisa tidur."
"Baiklah mama keluar. Gimana Arka lancar bisnisnya?"
"Alhamdulillah Ma. Ini semua juga berkat doa mama kok. Semua lancar Ma. Nggak ada halangan dan hambatan."
"Syukurlah Arka."
__ADS_1
Mama kemudian bangun dan dia melangkah meninggalkan ku dan Anisa.
Zoya. Tiba-tiba saja aku kefikiran tentang anaknya Putri. Yah, dia anak yatim piatu sekarang. Bagaimana nasibnya setelah di tinggal Putri. Apakah aku akan mengadopsi juga Zoya.