
Malam ini Mama Arka masih tampak berada di depan kaca riasnya. Dia seperti sedang asyik menata alat-alat make up nya. Yah, sedari tadi dia memang sedang merias wajahnya yang cantik itu.
Wanita yang sudah berusia sekitar lima puluh tahunan itu, masih terlihat awet muda. Wajahnya yang mungil, bibirnya yang sexi, dia begitu sangat mirip dengan Arka, anak semata wayangnya itu.
Setelah membereskan alat-alat make up nya, dia beranjak dari tempat duduknya dan melangkah ke arah tempat suaminya berbaring.
Rumah yang sangat mewah. Dengan banyak pembantu, banyak satpam, juga para bodyguard, namun tetap terlihat hampa. Bertahun-tahun di rumah ini, tidak ada celoteh anak-anak kecil, tidak ada tawa dan canda anak kecil, dan tidak pula ada tangisan seorang bayi.
Mama Laura begitu sangat merindukan seorang bayi. Dia ingin mendekap seorang bayi, memeluk seorang bayi, sampai saat ini pun, dia selalu mengunjungi anak-anak panti. Untuk mengobati hasratnya yang sudah kepingin mempunyai cucu.
"Pa, Mama kangen sama anak-anak panti. Sudah setengah bulan kan kita tidak kesana." Kata Mama Arka papa Arka.
"Ya udah, besok kita kesana kalau kamu mau. Kita ajak Arka dan Laura sekalian."
"Ya udah. Kita ajak Laura juga. Lagian Laura juga jarang main ke panti."
"Yah, nanti Papa mau ngomong sama Arka."
Mama Arka diam. Dia tampak berfikir.
"Kalau besok, Mama kayaknya nggak bisa deh Pa. Gimana kalau lusa aja."
"Kenapa nggak bisa Ma. "
"Kan Mama ada arisan sama teman."
"Ya udah lah. Lusa juga nggak bisa. Lusa Papa dan Arka sibuk. Kita mau ada pertemuan besar dengan rekan bisnis kita dari Rusia."
"Ya udahlah, kita atur saja nanti." Kata Mama Arka sembari berbaring.
Dia berbaring dan menyelimuti dirinya dengan selimut tebal.
"Pa, Mama heran deh sama Laura. Kenapa yah, sampai sekarang dia nggak hamil-hamil juga. Berarti dia memang nggak subur rahimnya." Kata Mama Arka mengganti topik pembicaraan.
"Mungkin saja Tuhan belum mau ngasih Ma. Kalau sudah waktunya Nanti, pasti Tuhan akan kabulkan keinginan Mama itu."
"Papa tahu nggak, anak teman Mama, baru kemarin nikah aja, udah langsung isi lho."
"Yah, orang kan beda-beda Ma. Seperti apa yang Papa bilang. Belum rezeki. Tuhan belum mentakdirkan Laura dan Arka punya anak sekarang. Mungkin saja nanti."
__ADS_1
"Ah, Mama pengin cepat-cepat gendong cucu."
Hening. Kamar Mama dan Papa Arka mendadak hening, karena kedua orang itu diam dan tak saling bicara.
mama dan papa Arka di sibukan oleh fikirannya masing-masing.
Mama Laura tersenyum saat sebuah ide terbersit di kepalanya.
"Pa, Mama mau kenalin Arka dengan Jihan Anak teman Mama."
Papa Arka menatap Mama Arka dalam.
"Untuk apa Ma?"
"Siapa tahu Arka tertarik. Dan siapa tahu, Jihan bisa langsung memberikan Arka keturunan secepatnya."
"Maksud Mama ini apa sih? Papa sama sekali tidak mengerti."
"Kita jodohin Arka Pa."
"Mama mau Arka nikahin perempuan lain?"
"Tapi Papa nggak setuju. Arka juga tidak akan mau, untuk menikah lagi Ma. Arka sangat menyayangi Laura."
"Pokoknya Mama akan jodohin Arka titik. Arka itukan anak yang nurut. Pasti sebentar lagi Jihan akan pulang ke indonesia. Dia kan sekarang sudah lulus kuliah di Ausi. Aku akan ngomong sama Jeng Rina."
Papa Arka hanya bisa mengelus dada mendengar ide konyol Mama Arka. Tapi yah begitulah Alicia Mama Arka. Dia memang sama keras kepalanya seperti Arka.
***
Suasana canggung di dalam kamar. Sekarang hanya ada dua insan yang masih tak saling menatap dan tak saling bicara.
Arka sekarang masih di kamarnya bersama Tanti. Waktu sudah menunjukan jam 1 dini hari. Arka dan Tanti masih juga berada di tempat yang sama. Sedari tadi, Arka belum mau keluar dari kamar Tanti. Dia masih setia duduk di sofa dan berkutat dengan laptopnya.
Sepertinya Tuan Arka sangat sibuk dengan pekerjaannya. Sembari mengetik sesuatu di laptop, bola mata Arka lagi-lagi tertuju pada wanita mungil di hadapannya. Wanita yang hatinya sudah di penuhi banyak luka.
"Tanti, tidurlah! sudah malam, ngapain kamu masih berdiri di situ!" Kata Tuan Arka.
Tanti yang di tanya hanya diam. Yah, sedari tadi memang Tanti selalu diam. Dia merasa muak dengan adanya Arka di kamarnya.
__ADS_1
Arka beranjak dari duduknya dan mendekat ke arah jendela tempat di mana Tanti berdiri.
Arka mencoba untuk memegang bahu Tanti. Namun Tanti memundurkan tubuhnya.
"Jangan sentuh saya Tuan. Saya tak sudi anda sentuh."
"Tapi sebentar lagi kita kan mau menikah."
"Itu menurut mu. Tapi tidak dengan ku. Mana ada pernikahan yang di landasi karena keterpaksaan. Itu dosa yang sangat keji Tuan."
Arka membasuh wajahnya kasar. Lagi-lagi dia harus bisa mengendalikan emosinya jika berbicara dengan Tanti.
"Tanti, sudahlah. Jangan banyak mendebatku. Kamu harus menuruti semua keinginan ku."
"Anda itu egois Tuan. Anda tidak ada bedanya dengan Arifin!"
Lagi-lagi Tanti menyebut nama Arifin. Nama itu begitu sangat menjijikan sekali di telinga Tuan Arka. Arfin yang tak tahu malu, setelah menjual istrinya dia malah asyik tidur dengan wanita lain.
"Jangan sebut nama itu lagi di hadapan ku Tanti...!"
Tanti terlonjak kaget saat suara Tuan Arka menggema di dalam kamarnya. Suara itu benar-benar hampir merusak gendang telinga Tanti.
Tubuh Tanti bergetar takut. Dengan lemas dia melangkah menuju ke ranjangnya. kemudian dia duduk di tepian ranjang. Air matanya pun lantas tumpah membanjiri pipi mulusnya. Hujan tangispun di mulai.
Arka yang begitu sangat emosi mencoba mendekat ke arah Tanti. Arka mencengkeram kuat bahu Tanti.
"Tanti, kenapa kamu selalu membantah ku. Aku sudah berulang kali bilang sama kamu. Jangan sebut nama Arifin di hadapan ku, jangan banding-bandingkan Arifin dengan ku!"
Hiks...hiks...
Tanti menangis. Dia benar-benar ketakutan. Tuan Arka marah besar. Siapa yang akan menolongnya saat ini. Tidak ada Herman disini.
Siapa yang bisa menenangkan Tuan Arka. Jam satu malam Tuan Arka teriak-teriak. Untunglah ruang apartemen itu kedap udara. Sehingga setiap teriakan Tuan Arka tidak sampai keluar.
"Tanti, Lupakan Arifin. Sekarang dia masa lalumu Tanti...!" Kata Arka yang menguatkan cengkeramanya.
"Sakit Tuan tolong lepasin tangan Tuan."
Tanti menangis sejadi-jadinya. Dia pasrah dengan apa yang akan Tuan Arka lakukan padanya.
__ADS_1
Arka mengangkat tubuh Tanti untuk berdiri, Setelah itu, dia mendorong Tubuh Tanti sampai dia tersungkur di ranjang.