
Arka mengusap bibir Tanti.
"Aku janji Tanti. Aku tidak akan melakukannya lagi. Aku khilaf Tanti. Sudah sayang, jangan menangis."
Zoya sedari tadi mencari Papanya. Namun Papanya menghilang. Padahal dia sudah mengantuk dan ingin pulang.
"Papa...Papa di mana?" tanya Zoya yang matanya sudah tampak mengitari sudut ruangan.
Arka buru-buru menyeka air mata Tanti.
"Udah jangan nangis. Ada Zoya. Nanti dia fikir aku ngapa-ngapain kamu lagi."
Zoya yang penasaran langsung mendekat ke tempat gelap tersebut. Dan dia tersenyum saat melihat Papanya. Dia berhambur memeluk Papanya.
"Sayang,"Kata Arka sembari mengendong anaknya.
"Papa ngapain sama Tante cantik di sini? Kayak orang pacaran saja mainnya di tempat gelap."Celetuk Zoya yang membuat Tanti dan Arka terkejut. Mereka tidak menyangka kalau Zoya bisa bicara seperti itu. Padahal dia kan anak enam tahun.
"Ssst, kamu ini jangan ngomong begitu. Siapa yang ngajarin kamu ngomong gitu."
"Aku sering dengar dan sering lihat, tante Nia dan Om Herman pacaran di rumah Papa. Mereka kalau malam sering berduaan"
"Huh, Astaga Nia. Apa sih maksudnya ini." geram Arka.
Tanti tersenyum dan sedikit tertawa.
"Apa yang Zoya ucapkan itu benar Arka. Nia sekarang udah jadian sama Herman."
" Mana aku tahu. Aku juga sekarang jarang ngobrol sama mereka. Aku cuma ngobrol sama Idris."
Arka menatap anaknya. Dia kemudian mencium Zoya.
"Papa nggak ngapa-ngapain kok cantik. Papa cuma gerah aja di dalam, jadi Papa cari udara segar di sini. Tante cantik juga kok." Kata Arka meyakinkan.
"Oh gitu."
Andre juga penasaran pada Arka dan Tanti.
__ADS_1
"Kemana mereka berdua. Kenapa ke toilet lama sekali." Ucap Andre. Tanpa basa-basi lagi, Andre melangkah pergi untuk menyusul Zoya.
Dan Andre menemukan mereka sadang ada di belakang.
"Ternyata kalian berdua ada di sini?"
"Iya Om Andre, Papa sama Tante cantik kegerahan di dalam, jadi dia kesini untuk cari angin."
"Iya. Om juga gerah Zoya. Lupa nyalain AC."
Kali ini Arka dan Tanti selamat. Coba saja kalau Zoya dan Andre melihat mereka berciuman, bisa semakin runyam urusan.
untunglah Andre tidak datang tepat pada waktu aku berciuman dengan Arka. Batin Tanti.
********
Di kamar Tanti masih menatap ke cermin. Dia masih memegangi bibirnya yang sedikit membengkak karena ulah Arka.
"Kenapa Arka berani melakukan ini. Dan kenapa aku tidak bisa menolaknya." Gumam Tanti.
"Arka. Iya benar kata kamu. Ini adalah kenangan yang terindah selama hidup kita. Dan kenapa aku harus menyalahkanmu. Kalau sebenarnya aku juga sudah dari dulu menginginkannya." Gumam Tanti kemudian.
Namun tiba-tiba saja Tanti tersadar.
"Astaghfirullah...Apa yang telah aku katakan. Ampuni hamba Ya Allah, telah melakukan kekhilafan."
...****************...
Deg deg deg.
Jantung Nia seakan mau copot saja. Sekarang Nia akan di ajak Herman untuk di kenalkan pada orang tua Herman.
"Apa ibunya Kak Herman mau yah menerimaku sebagai menantu."
"Nia, kamu cantik banget mau kemana? "Tanya Bik Inah ibu Nia.
"Aku mau di ajak jalan sama Kak Herman Bu."
__ADS_1
"Oh, gitu. Yah, kalau kamu benar-bemar serius sih, ibu setuju-setuju aja kalau kamu sama Herman. Ibu sudah tahu siapa Herman. Dia anak yang baik dan bertanggung jawab." Kata Bik Inah.
"Ayo Nia." Ajak Herman.
Herman kemudian mencium tangan Bik Inah, mereka kemudian pergi meninggalkan Bik Inah.
Herman sekarang sudah tampak bahagia. Dia telah menemukan cinta sejati seperti Nia. Orang yang mau menerima Herman apa adanya.
Setelah mobil Herman terparkir di halaman depan rumah Herman, Herman kemudian turun dan membukakan pintu untuk kekasihnya.
"Selamat datang sayang di rumahku yang sangat sederhana ini."
"Nggak apa-apa Kak. Em, Ibu Kak Herman tinggal sama siapa di sini?"
"Cuma sama aku kok."
"Oh...Kak Herman berapa bersaudara?"
"aku anak bungsu dari tiga bersaudara."
Setelah sampai di depan pintu, Herman langsung mengetuk pintu rumahnya. Dan di balik pintu seorang wanita tua tersenyum pada Nia dan Herman.
Nia langsung mencium punggung wanita tersebut.
".Kamu pasti Nia yah, orang yang selama ini selalu Herman ceritakan?"
Nia tersenyum.
"Iya Bu, Aku Nia."Kata Nia.
Ibu Herman tersenyum dan merangkul Nia. Dia mengajak Nia untuk masuk ke dalam.
"Ayo Nak masuk. Anggap rumah ini rumah mu juga."
"Iya Bu."
Nia kemudian masuk ke dalam rumah Herman. Rumag kecil yang terlihat tampak masih asri.
__ADS_1