Istri Yang Di Jual.

Istri Yang Di Jual.
Bersama Ridho.


__ADS_3

"Kita khilaf Cin semalam."


"Apa. Jadi kalian menghilang, karena tidur bersama. Kamu ngjakain Laura tidur di kamarku. Gila Kamu Von. Gimana kalau istri kamu dengar. Bisa di tendang dari rumahnya kamu" Kata Cindy yang sudah tahu menahu tentang Devon.


Yah, Devon cuma orang biasa saja, bukan dari kalangan orang kaya. Namun, dia punya istri anak orang kaya. Sehingga sekarang Devonpun di berikan jabatan sebagai direktur di salah satu cabang perusahaan orang tua istrinya itu.


Devon terduduk lemas.


"Aku benar-benar khilaf. Kami semalam memang sama-sama mabuk berat."


"Tapi itu sama saja, kamu melakukan kesalahan dan pengkhianatan terhadap istrimu. "


"Cin, aku mohon, tolong. Jangan bocorkan semua ini pada siapapun."


"Baiklah. Lagian, Laura juga tidak akan hamil juga kan. Diakan mandul. Jadi, mana mungkin dia bisa hamil." Kata Cindy.


...****************...


Laura masih menangis dalam ke adaan menyetir. Rasanya hancur. Sungguh hancur. Saat dia di sentuh oleh seorang lelaki yang sama sekali tidak di cintainya dan mereka berhubunganpun tidak atas suka saling suka. Namun itu semua membuat Laura hancur. Karena dia tidak bisa menjaga kesuciannya dirinya. Dia telah menodai cinta yang mau dia bangun bersama Dewa.


Bagaimana jika Dewa tahu, kalau Laura sebelum menikah dengannya itu sudah di tiduri oleh lelaki lain. Apakah Dewa akan memaafkannya, atau akan kecewa dan meninggalkannya.


"Dewa, maafkan aku Dewa. " Kata Laura


"Apa kamu pantas, bersanding dengan wanita kotor seperti aku. Kamu berhak mendapatkan kebahagiaan Wa. Seharusnya kamu jangan memilih wanita janda yang mandul seperti aku. Kamu bisa memilih wanita gadis yang bisa ngasih kamu keturunan Wa. Kenapa kamu harus pilih aku. Hiks..hik..."


Pernikahan Laura sudah tinggal menghitung jam. Dua hari lagi adalah pesta besarnya. Dan Laura akan bersanding bersama seorang dokter.


Laura telah bersalah. Karena dia pergi tanpa sepengetahuan orang tuanya dan tanpa izin dari Dewa. Padahal hari ini, adalah hari dimana dia harus di pingit dan tidak boleh keluar rumah.


Tapi semalam, Laura keluar lewat jendela, dan jam sepuluh malam dia keluar dan menemui teman-temanya itu.


" Kenapa aku harus pergi. Seharusnya aku nurut apa kata-kata mama dan papa. Aku itu mau menikah. Tapi, kenapa malah jadi seperti ini Hiks...hiks..."


Laura menghentikan mobilnya. Saat dia melihat sesosok anak kecil yang sedang mengamen.


"Siapa anak itu. Kenapa seperti aku mengenalnya. Dia seperti ridho. Tapi dia mengamen. Bukannya dia itu seharusnya sekolah yah. Kok malah ngamen. Apa dia sudah kembali lagi bersama ibu tirinya yah." Gumam Laura


Laura kemudian turun dari mobilnya. Dia menghampiri Ridho.


"Ridho," Ucap Laura.


"Tante Laura " Ucap Ridho.


Ridho kemudian memeluk Laura erat


"Kenapa kamu bisa ngamen di jalanan. Bukankah kamu seharusnya sekolah. Kan Tante Laura sudah menjadi donatur terbesar di panti dan seharusnya kalian anak panti sudah bisa sekolah."


"Maafkan aku Tante Laura. Ibu tiriku sekarang sakit keras. Dia tidak punya siapa-siapa lagi selain aku. Makanya aku sering bolos sekolah untuk bekerja dan mau membantu ibu tirinya."


"Ya Allah,nak. Kamu memang sangat mulia. Kenapa kamu tidak bilang sama Tante "


"Maaf Tante. Bagaimana aku akan bilang. Kalau aku saja tidak punya hape apalagi nomer Tante "


"Oh, iya benar juga yah. Ya udah. Sekarang kamu ikut Tante yuk. Nanti, Tante belikan kamu hape baru. Jadi kalau Ridho butuh Tante, kapanpun Tante bisa bantu yah."


"Iya Tante, terimakasih."


Laura kemudian mengajak Ridho. Yah, semenjak bertemu Ridho, fikirannya sudah mendadak tenang.

__ADS_1


Laura kemudian mengajak Ridho dan membawanya pergi entah kemana.


...****************...


Sekarang, Laura mengajak Ridho ke restoran. Laura menyetir mobilnya dengan kecepatan sedang.


"Kita mau kemana Tante?" tanya Ridho.


"Kita mau jalan -jalan Ridho, bagaimana? apa kamu senang. Tante mau belikan kamu hape."


"Wah, yang benar Tan. Asyik...!"


"Iya. Tante mau ngajakin kamu ke mall. Gimana? maukan.?"


"Oke, aku mau."


Laurapun akhirnya mengajak Ridho ke mall. Laura mengajak Ridho jalan-jalan ke mall, dan membelikannya hape baru, baju-baju baru, dan kebutuhan Ridho yang lain.


Laura tampak sedang memilah-mikih baju. Namun tiba-tiba saja dia menabrak tubuh kekar yang ada di sampingnya.


"maaf." Ucap Laura.


Seorang lelaki yang ada di sampingnya tersenyum.


"Laura." Ucap Arka.


Laura juga tersenyum.


"Arka, kenapa kamu bisa ada di sini?"


"Oh, aku mau membelikan baju buat anak-anak dan istriku."


"Kenapa Laura?"


."Nggak apa-apa Arka. Kamu sendiri Arka?"


"Biasa sama Idris."


"Kamu shoping sendirian? kemana Dewa? dia nggak ngantar kamu?"


Laura menggeleng.


"Nggak."


Arka tiba-tiba saja memgang tangan Laura dan menyeretnya pelan, membuat jantung Laura tidak karuan.


"Mau kemana Arka."


"Laura, aku mau kamu bantu aku."


"Bantu apa?"


"Pilihan baju buat Tanti."


"Kok aku sih, kamu aja yang pilih."


"Aku cowok, nggak tahu selera Tanti. "


"Ya, aku juga mana tahu, baju yang di sukai Tanti yang seperti apa."

__ADS_1


"Ya, setidaknya kamu pilihkanlah, yang lebih cocok dan pas di tubuhnya Tanti."


"Oke. Nanti aku pilihkan. "


Ridho masih memilah-milih baju. Namun dia melihat ke sekeliling namun, Laura ternyata sudah tidak ada. Ridho mencarinya.


"Tante, Tante,"


Beberapa saat kemudian Ridho melihat Laura bersama Arka.


"Tante kemana aja.?"


"Tante di sini aja kok sayang. Nggak kemana-mana."


Arka menatap Ridho, dia memang belum mengenal Ridho. Dan tidak biasanya Laura itu, bergaul dengan anak seperti Ridho.


"Siapa dia Laura?" tanya Arka.


"Oh iya. Kenalin, ini Om Arka Ridho " Kata Laura.


Ridho kemudian menyalin tangan Arka.


"Oh iya. salam kenal yah anak baik."


"Iya Om."


"Dia itu anak panti kasih bunda."


"Oh, gitu?"


"Iya. Dan sengaja aku bawa ke sini, mau aku ajak makan ."


"Oh, gimana kalau kita makan bersama saja " Arka tampak mengusulkan.


"Boleh, " Kata Laura.


Arka dan Laura kemudian mengajak Ridho untuk makan bersama.


Sekarang mereka bertiga, sudah kumpul di cafe, mereka tampak sedang menunggu pesanan.


"Kalian tenang saja. Kali ini, biar Om yang traktir oke."


"Makasih yah Om,"


"Iya sama-sama."


Laura masih menatap Arka dalam, entah kenapa hatinya masih di penuhi perasaan sakit dan kecewa saat menatap mantan suaminya itu.


Hatinya seakan campur aduk tidak karuan. Dia menyesal, kenapa dia tidak bisa hidup lebih lama lagi bersama Arka. Sekarang, Arka sudah menjadi milik Tanti. Dan Arka tidak mungkin kembali dengan Laura kecuali itu kehendak Tuhan.


"Arka."


"Hemm,"


"Gimana keadaan anak-anak kamu?" tanya Tanti


"Mereka baik."


"Kamu sekarang, udah bahagia yah Arka."

__ADS_1


"Yah, begitulah. Hidup itu harus di buat bahagia Laura."


__ADS_2