Istri Yang Di Jual.

Istri Yang Di Jual.
Kabar dari Tanti.


__ADS_3

"Baiklah aku akan makan. Aku juga akan menuruti semua keinginanmu. Aku mau menikah denganmu."


Blush, wajah Hans mendadak tampak berseri-seri mendengar penuturan Tanti.


"Benarkah Tanti kamu mau menikah dengan ku?"


"Iya. Aku mau menikah dengan mu Tuan. Tapi tolong, jangan kurung aku terus di sini. Aku juga pengin jalan-jalan."


"Ha...ha... Baiklah Tanti. Aku pasti akan mengajakmu jalan-jalan. Kita akan bersenang-senang."


Akhirnya dia percaya juga sama aku. Mudah-mudahan aku bisa cepat kabur dari sini.


Setelah semua terlelap, terlihatlah para pengawal sudah terlelap. Tanti mengendap-endap keluar kamar.


Tanti melihat sebuah ponsel tergeletak di atas meja. Itu adalah ponselnya pengawalnya Tuan Hans. Tanti langsung meraih ponsel itu. Dia kemudian membawanya ke kamar.


Tanti menulis nomer telpon. Dan cuma nomernya Arka yang masih dia ingat.


"Iya. Aku harus telpon Arka." Ucap Tanti.


Tanti kemudian menelpon Arka.


Tanti menangis. Sudah dua puluh panggilan tak terjawab.


"Kemana kamu Arka. Aku membutuhkan mu. Aku takut, tolong selamatin aku dari sini." Ucap Tanti.


Nada dering ponsel Tanti berdering. nomer Arka menelponnya. Tanti tersenyum.


"Halo..." Ucap Arka.


Tanti menangis.


"Halo ini siapa?"


"Arka, tolongin aku..."


Arka terperanjak.


"Tanti, benarkah ini kamu sayang?Kamu di mana? "


"Arka, aku sekarang ada di rumahnya Hans Marcelo. Dia mengurungku. Dan aku takut Arka."


"Hans Marcelo? kenapa kamu bisa ada di sana sayang?"


"Arka. Ceritanya panjang Arka. Aku


nggak bisa cerita sekarang."


"Ya udah kamu tenang yah. Aku pasti akan menyelamatkan mu."


"Terimakasih Arka."


...****************...


Andre dan Arka masih ada di dalam mobil. Mereka tampak bingung. Mereka sedang mencari alamat rumah Hans Marcelo.

__ADS_1


"Ah, pusing gue Ka."


"Sudah sabar. Kita pasti akan menemukannya." Kata Arka.


"Mudah-mudahan Ka."


"Pengawalku banyak, Mereka pasti akan cepat menemukan Tanti."


"Iya. Semoga yah."


Andre masih menatap jalanan. Begitupun Arka masih menatap ke arah jalanan yang padat dan penuh polusi.


"Tanti sayang, kemana kamu? aku sangat mengkhawatirkanmu." Ucap Andre tiba-tiba yang membuat Arka jadi cemburu.


Ah, Andre, kenapa kamu harus bilang seperti itu sih di depan ku. Aku cemburu Ndre. Batin Arka.


Andre dan Arka sama-sama mengkhawatirkan satu wanita dan entahlah siapa yang akan di pilih Tanti.


Sekarang Tanti akan di hadapkan dengan tiga pilihan. Andre yang masih bujangan, Arka yang duda atau Hans lelaki yang beristri dua. Entahlah pada siapa hati Tanti akan berlabuh.


Tapi untuk saat ini, di hati Tanti masih ada Arka. Namun entah jika sampai Tanti di nikahi oleh Hans. Akankah Tanti bisa bersatu dengan Arka atau bersatu dengan Andre? Mungkin saja tidak. Karena jika sudah menjadi istri Hans, itu akan sangat sulit sekali untuk Tanti melepaskan diri.


"Dris gimana Dris? apakah sudah ada kabar dari teman-temanmu?" tanya Arka.


"Ah, Tuan. Tuan Hans itu sangat membingungkan untuk di lacak keberadaannya. Dia rumahnya banyak. Istrinya juga banyak. Kami kemarin melacaknya ternyata dia punya lima istri."


"Apa?" Kata Andre dan Arka bersamaan.


"Benar-benar gila. Apa jangan-jangan Tanti akan di jadikan istri ke enam?" kata Andre.


"Ini nggak bisa di biarin Ndre. Kita harus secepatnya menolong Tanti."Kata Arka panik.


...****************...


Tanti masih ketar-ketir di dalam kamar Hans. Ternyata memang sulit sekali untuk kabur dari tempat itu. Padahal dua minggu lagi adalah pesta pernikahannya dengan Tuan Hans. Tanti tidak bisa membayangakan bagaimana jadinya jika dia berhasil di nikahi Tuan Hans itu. Dia akan selamanya dalam cengkeramanya Tuan Hans dan tidak akan bisa kabur kemana-mana.


"Huh, gimana ini. Kenapa Arka dan Andre belum menemukanku. Apakah aku akan terjebak di sini selamanya. Aku nggak mau jadi istrinya Tuan Hans. Aku cuma cinta sama Arka."


Tanti menangis dalam kesendiriannya. Berharap Arka akan datang menjemputnya.


"Jangan sampai Arka terlambat menemukanku."


Dua minggu pun berlalu.


Kini Tanti masih sesenggukan menangis. Dia hanya bisa pasrah dengan keadaan. Tanti masih berbalutkan busana pengantin. Yah, hari ini adalah hari pernikahannya Tanti dan Tuan Hans.


"Arka, Andre, tolongin aku. Hiks...hiks..."


Tiba-tiba saja ada suara berbisik dari luar kamarnya.


"Tanti, aku datang. Diamlah kamu di situ. Tenanglah Tanti aku akan menyelamatkanmu."


Samar-samar ada suara orang dari luar jendela kamar Tanti. Tanti buru-buru mendekat. Tanti tersenyum.


"Arka. Kamu datang?"

__ADS_1


Arka mengangguk.


"Iya sayang, aku nggak rela kamu menikah dengan lelaki lain."


"Bagaimana kamu bisa ada di sini?"


"Sudahlah Tanti. Sekarang ayo ikutlah dengan ku. Dan sekarang kita pergi dari sini."


"Tapi kamu kesini dengan siapa?"


"Sudahlah Tanti. Aku menyelamatkan mu hanya sendiri. Mana mungkin aku akan membawa banyak pengawal. Itu akan semakin mengancam jiwamu."


"Baiklah Arka. Tapi bagaimana aku turun kebawah."


"Sudah nggak perlu khawatir. Kita akan turun bersama. Aku membawa tali untuk kita turun ke lantai dasar."


Arka kemudian merangkul pinggang sang pengantin dan membawanya turun ke bawah. Mereka turun ke bawah dengan menggunakan tali.


Arka kemudian membawa Tanti kabur dari tempat itu secara diam-diam.


Sementara itu, Tuan Hans masih asyik menyambut tamu-tamunya. Yah, mungkin ini adalah kali ke enam dia menikah. Maka dari itu Tuan Hans tidak mengundang banyak tamu.


"Tuan...tuan... gawat tuan." Tutur Sinta.


"Ada apa Sinta kenapa kamu panik seperti itu?"


"Pengantinya kabur Tuan."


"Apa? kenapa bisa kabur."


"Dia kabur lewat jendela Tuan."


"Siapa yang berani membawa dia kabur. Kemana para pengawal bodoh ku? Panggil mereka Sinta."


"Baik Tuan."


Seluruh pengawal kemudian berkumpul. Yah, mereke berkumpul semua.


" Kalian benar-benar bodoh. Kenapa kalian bisa kecolongan sih? Sekarang cari Tanti sampai ketemu. Mudah-mudahan dia belum jauh."bentak Tuan Hans.


"Baik Tuan."


Di sisi lain Arka dan Tanti masih tampak mengendap-enadap untuk mencari cara keluar dari rumah itu.


"Tanti ayo sayang cepat. Nanti kita bisa ketahuan."


"Arka, kaki ku sakit."


Arka menggelengkan kepalanya.


"Tanti. Maafkan aku. Untuk saat ini aku belum bisa menggendongmu. Tapi kalau sudah sampai ke luar nanti aku gendong. Ini bukan waktunya untuk bersantai."


"Tapi Arka, "


Arka kemudian berjongkok dan melepas sepatu Tanti. Arka kemudian mencangking sepatu Tanti dan mencoba mencari cara keluar dari halaman rumahnya Tuan Hans yang begitu sangat ketat penjagaannya.

__ADS_1


Arka dan Tanti tampak masih mengumpat di balik tembok.


Di saat-saat genting seperti ini, Tanti dan Arka masih bisa saling menatap. Entahlah debaran-debaran aneh melingkupi dadanya.


__ADS_2