Istri Yang Di Jual.

Istri Yang Di Jual.
kecemburuan Tanti.


__ADS_3

Tanti semakin sedih saja. Dia masih mengingat-ingat berita di tivi. Tanti merasa sangat tidak di hargai. Karena, sosok Tanti istri sah Arka itu, tidak banyak di kenal orang. Justru, Arka tidak memperkenalkan Tanti di depan teman-teman nya.


Arka memeluk Tanti. Namun Arka terkejut. Saat tiba-tiba Tanti menyingkirkan tangan Arka dengan paksa.


" Lepasin Arka...jangan pernah kamu menyentuhku. Hiks...hiks..."


"Tanti kamu kenapa nangis...?" tanya Arka.


Tanti memriringkan tubuhnya ke arah suaminya sembari berderaian air mata. Mereka sekarang berhadap-hadapan.


" Kamu nangis sayang. Kamu kenapa?"


"Arka, kamu sudah menyakitiku. Aku tahu, apa yang telah kamu lakukan di belakang aku."


"Emang apa yang telah aku lakukan sayang sampai membuatmu sakit."


"Arka, kamu sudah menemui Laura kan."


Arka diam. Iya, Arka tahu, kalau Tanti memang lagi cemburu. Itu sudah biasa untuk Arka. Arka memang punya jurus andalan yang selalu siap dia lepaskan saat pasangannya ngambek.


Arka tersenyum.


"Kenapa kamu malah tersenyum?"


"Kamu cemburukan sayang...?"


"Siapa yang cemburu. Aku nggak cemburu." Kata Tanti mengelak.


"Kamu cantik sayang. Dan aku suka."


"Arka, aku tuh lagi sedih. Kenapa kamu malah gombalin aku."


Arka membelai lembut wajah cantik Tanti. Dia menelusuri setiap inci wajah Tanti. Namun Tanti tidak bisa menolak, walau dia menangis,


Tanti memejamkan matanya. Dia seperti sedang menikmati belaian lembut tangan sutra itu,


"Tanti, apakah kamu tahu, kalau aku sangat mencintaimu. Kamu cinta terakhir, tapi kamu yang paling atas menempati hatiku Tanti, "


"Tapi, aku tahu, kamu masih mengingat semua masa lalumu kan, Kamu masih mencintai Laura kan?"


"Tidak sayang, aku cuma mencintaimu. Laura itu cuma masa lalu."


"Tapi, kenapa ada kamu dan Laura di tivi."


"Sayang, itu cuma gosip. Kalau kamu pengin bertahan lama denganku, dan kalau kamu mencintaiku dengan tulus, mestinya kamu harus mempercayai, suamimu sendiri. Bukan gosip itu sayang."


"Tapi Arka, aku sakit hati banget. Apalagi waktu aku melihat kamu menggenggam tangan Laura. dan menghapus air mata Laura. Kamu itu, sepertinya belum bisa melupakannya."


Arka semakin mendekatkan tubuhnya. Dia memeluk Tanti dengan erat.


"Sudahlah sayang, aku cuma cinta sama kamu. Apa yang harus aku buktikan biar kamu percaya."


"Kamu harus ceritakan kenapa kamu bisa ada dengan Laura dan makan bersamanya."


"Itu karena aku pas banget bertemu Laura di mall, dan setelah itu, aku melihat anak kecil bernama Ridho, dan aku mentraktir mereka makan. Karena aku prihatin sama Ridho, dia itu anak yatim piatu, dan waktu itu, dia belum makan sayang "


"Benarkah?"

__ADS_1


"Iya benar. Jadi aku ajak Ridho makan, sekaligus ajak Laura juga."


"Tapi, aku ..."


Sssstttt.


Arka menempelkan telunjuknya di bibir Tanti. Dia mengusap-usap bibir mungil itu.


"Tanti, kamu sudah membangunkan singa yang tertidur Tanti. Jadi kamu jangan menolak jika aku memintamu untuk melayaniku sekarang."


"A...apa...? kamu mau meminta jatah sekarang ?"


"Iya sayang,"


"Nggak. Aku nggak mau."


"Dosa lho sayang menolak permintaan suami."


"Aku tetap nggak mau. Ini sudah mau Maghrib Arka. Dan anak-anak kita masih ada di luar. Kalau mereka masuk, gimana?"


"Kunci pintu sebentar saja Tanti."


"Aku nggak mau..!"


"Tapi aku udah siap Tanti."


"Tapi kamu belum mandi Arka."


"Tapi sekalian nanti aku mandi."


"Ya, nanti kita mandi bareng. Mandi lagi. Aku udah kunci pintu."


"Oke, aku nggak akan nolak. Sekarang, terserah apa maumu."


Arka tersenyum. Dia kemudian memulai Aksinya. Dia menciumi seluruh wajah Tanti, Tangannya mulai membelai wajah Tanti,


Dan merekapun akhirnya melakukan aksi sorenya. Tanpa sadar, magrib pun sudah terlewati, Arka dan Tanti, masih satu selimut dalam ke adaan polos.


Rasanya cukup melelahkan untuk pengantin baru itu. Mereka masih sama-sama berada di pembaringannya, dengan satu selimut yang sama.


Arka masih mengeratkan pelukannya. Dia selalu berharap agar Tanti, terus saja di sisinya. Tanti telah memberikan kebahagiaan tidak terkira untuk Arka. Karena Tanti, tidak pernah menolak apa yang Arka inginkan.


" Arka, ayo kita bangun. Ini udah hampir isya Arka. Apa kamu tidak mau sholat."


" Aku capek banget Tanti."


" Arka, ayolah...kamu nggak boleh malas. Sholat dululah, "


" Iya. Aku mau kita sholat bareng. Tapi mandinya juga bareng yah."


" Oke kita mandi bareng."


Arka tersenyum. Tanpa aba-aba dia mencium Tanti lagi yang membuat Tanti kehabisan nafas.


Setelah itu, mereka beranjak untuk mandi, sebelum anak-anak mereka datang. Mereka harus sudah berpakaian dan tidak bertubuh polos.


Beberapa menit kemudian, Zoya benar-benar mengetuk-ngetuk pintu. Arka dan Tanti masih sholat bersama.

__ADS_1


" Mama,papa, kalian lagi ngapain sih...? dari tadi Aurel nangis. Minta ke sini..." seru Zoya sembari mengetuk pintu.


Namun, tidak ada sahutan dari dalam. Karena orang tuanya masih sholat.


"Mama, papa ayo buka pintunya...!" teriak Zoya


Selesai sholat, Tanti buru-buru membukakan pintu untuk kedua anaknya.


" Kalian?"


Zoya dan Aurel langsung masuk saja dan mereka seperti biasa langsung naik ke ranjangnya.


Arka tersenyum. Kebahagiaan tampak menyelimutinya. Keinginannya untuk punya anak, sekarang terkabul juga. Dan sekarang, justru Arka, langsung punya dua anak sekaligus .


"Oh, bahagianya anak-anak ku." Kata Arka.


Arka kemduian mendekat ke arah Zoya dan Aurel.


Aurel menatap Arka.


"Papa kemana aja sih. Zoya kan udah ngetuk pintu berkali-kali. Kenapa nggak ada yang mau bukain sih? Zoya jadi sebel sama kalian. "


"Mama nggak dengar Zoya." Kata Tanti.


"Papa juga gak dengar." Kata Arka mengikuti kata-kata istrinya


" Tapi Zoya udah teriak sangat kencang. Dan ketuk pintu keras-keras. Tapi kenapa kalian tidak dengar "


Arka ini, kalau mau minta jatah gak pernah melihat sikon dulu. Bagaimana aku mau menjelaskan pada mereka kalau papanya sedang bermain dengan mamanya.


" Wah, anak- anak papa cakep-cakep. Sudah pada mandi yah?"


" Sudah dari tadi dong...!"


" Emang, mama dan papa baru pada mandi?"


" Iya, baru mandi." Kata Arka.


" Mama juga mandi lagi?."


Tanti mengangguk.


...****************...


Malam ini, Laura masih di selimuti keresahan. Dia tampak masih bersalah dan dia masih di bayang- Bayangi kejadian kemarin malam bersama Devon.


" Laura. Kamu mondar- mandir terus kenapa sih...?" tanya Mama Laura.


" Duduklah Laura. Kamu seperti orang bingung saja!" pinta papa Laura.


" Ma, Pa, aku lagi pusing." Kata Laura.


" Ya udah, makanya, duduk sini...! Biasa Laura, calon pengantin memang seperti itu, kalau sudah mendekati hari H."


Laura masih mondar-mandir sembari menggigiti ujung kuku-kuku jarinya.


Aku jadi merasa bersalah pada Dewa. Kenapa aku harus bermalam di rumah Cindy bersama Devon. Kenapa semua ini bisa terjadi...?

__ADS_1


__ADS_2