
Arka dan Tanti saling menatap. Mereka masih sama seperti dulu tatapan yang sama. Dua orang insan yang saling mencintai dan saling merindukan. Dan jantung keduanya seakan berulah.
Tanti meraba dadanya. Dia dapat merasakan detakan jantungnya yang sangat cepat.
Begitu pula Arka.Dia sangat bergelora. Hatinya benar-benar ingin memeluk dan mencium Tanti. Selama ini Arka tersiksa dengan kerinduan itu.
"Tanti..." Ucap Arka yang matanya masih tidak berkedip.
"Arka..." Ucap Tanti pula. Mereka saling menatap begitu sangat lama.
Untunglah rumah dalam keadaan sepi. Orang tua Andre sudah berangkat kerja sementara Chelsea dia sedang mengajar. Karena Chelsea sekarang menjadi seorang dosen.
Idris dan Zoya hanya bisa menyaksikan.
Wah, seru nih. Tuan sama nona saling menatap. Ayolah Tuan, peluk nona Tanti. Sepertinya kalian itu memang berjodoh. Peluk dan cium nona Tuan, biar dia mau kembali padamu. Aku tahu, betapa tersiksanya kamu selama iniTuan. Batin Idris.
Ehm.. Idris berdehem. Membuat Tanti dan Arka tersadar.
"Eh, Arka. Ayo masuk Arka." Kata Tanti sembari menggendong Zoya masuk ke dalam.
" Tanti, kok sepi kemana Andre?" tanya Arka.
"Memang nggak ada orang di rumah Arka. Cuma aku sendiri dan pembantu di sini. Andre tugas, Chelsea ngajar, dan orang tua Andre juga ke kantor."
"Idris. Ajak Zoya keluar sebentar. Aku mau bicara sama Tanti."
"Baik Tuan."
Idris kemudian mengajak Zoya keluar.
Aku tahu Tuan kamu pasti akan romantis-romantisan sama nona.
Sekarang Arka dan Tanti cuma berdua. Arka menyeret pelan tangan Tanti. Arka kemudian masuk ke kamar tamu.
Yah Arka sudah tahu betul seluk beluk rumah Andre. Karena memang dari muda mereka bersama. Melawati suka duka bersama.
Arka mengunci pintu kamarnya.
"Arka, apa yang kamu lakukan? kenapa kamu ngunci aku di sini?" tanya Tanti sedikit takut.
"Aku mau ngomong sesuatu Tanti di sini. Aku tidak bisa ngomong di ruang tamu. Di ruang tamu ada cctv." Arka menuturkan.
Tanti menatap Arka dalam. Begitu juga Arka. Mereka beradu pandang sangat begitu lamanya. Arka membelai lembut pipi Tanti. Tantipun masih bisa menikmatinya. Sebulir air mata Tanti menetes. Begitu juga dengan Arka. Hasrat kerinduan mulai bergejolak dalam diri mereka. Mereka menangis di kamar itu.
__ADS_1
Arka menangkup wajah Tanti dan mendekatkan wajahnya pada wajah Tanti sehingga beradulah dahi mereka.
"Tanti sayang, kenapa kamu mau menerima Andre? Apakah kamu membenciku? apakah kamu tidak mencintaiku?"
Tanti menggeleng.
"Terus kenapa sayang? tataplah aku, bilang kalau kamu sudah tidak lagi mencintaiku."
Lagi-lagi Tanti menggeleng.
"Bicaralah Tanti. Aku ingin memastikan perasaan mu sayang."
Tiba-tiba saja Tanti mendorong tubuh Arka.
"Lepasin Arka. Kamu jahat Arka. Kamu jahat. Sudah satu tahun aku menunggu di rumah mu. Tapi nyatanya apa. Kamu tidak pernah memberi aku kepastian. Aku sakit hati Arka. Mendengar kamu menikah dengan Jihan."
Arka memeluk Tanti dari belakang. Dia mencoba untuk menenangkan amarah Tanti.
"Aku rindu sayang, Aku rindu sama kamu. Betapa tersiksanya hati aku sayang. Aku selama ini mengerahkan semua pengawal mencarimu. Tapi mereka tidak bisa menemukan mu."
Tanti menangis dalam pelukan Arka.Tanti kemudian memutar tubuhnya. Dia memeluk Arka dengan sangat erat. Mereka sama-sama menangis.
"Arka, Aku tidak tahu, apa yang sebenarnya terjadi di kehidupanmu selama aku pergi."
Arka melepas pelukan Tanti. Dia membelai wajah Tanti. Arka juga mencium kening Tanti.
"Tidak Arka. Aku tidak mau mengkhianati Andre. Dia sudah banyak menolong ku Arka. Dia juga sangat mencintaiku. Sudah seharusnya aku membalas kebaikanya."
"Tanti, sekarang aku sudah menjadi duda. Apakah kamu tidak mau kembali padaku? Kita bisa jujurkan sama Andre."
Tanti menggeleng.
"Tidak Arka. Aku tidak bisa. Aku sudah janji sama Andre. Kalau aku akan belajar melupakan mu dan aku akan belajar membuka hatiku untuknya."
Arka tampak emosi. Tanti ternyata seegois itu.
"Tanti. Tatap aku!"
Tanti cuma bisa menunduk. Tanti tidak sanggup untuk menatap Arka. Arka mengangkat sedikit dagu Tanti. Dan bertemulah mata keduanya. Sekarang mereka saling berpandangan.
"Jangan sakiti dirimu sendiri Tanti.Jangan kamu korbankan perasaan mu lagi sayang. Menikah tanpa ada dasar cinta itu akan membuatmu tersiksa. Aku tahu kamu mencintaiku, kamu tidak bisa melupakan ku. Akankah kamu akan bahagia hidup bersama Andre."
"Tapi keputusan ku sudah bulat Arka. Aku sudah menerima lamaranya. Dan sebentar lagi, aku akan mengadakan pesta pertunangan kita."
__ADS_1
"Baiklah Tanti, jika itu sudah menjadi keputusanmu. Aku tidak melarang. Aku juga tidak punya hak untuk melarangmu. Itukan kehidupanmu. Tapi jika kamu mau kembali padaku, aku dan keluarga ku akan dengan senang hati menerimamu Tanti."
Lagi-lagi Arka dan Tanti berpelukan mereka mengutarakan perasaan mereka masing-masing.
"Aku sangat mencintaimu Arka. Tapi cinta itu tidak harus saling memiliki kan?"
"Iya Tanti. Aku juga sangat mencintaimu dan mengharapkanmu kembali sayang. Tapi aku juga tidak mau mengecewakan Andre sahabat ku. Aku tidak mau merebut sesuatu darinya. Dari dulu dia memang sahabat terbaik ku."
...***************...
Malam ini, udara tampak sejuk, di keramaian cafe, tampak dua orang kekasih yang sedang dinner. Mereka adalah Laura dan Dewa. Sejak perceraiannya sudah sah, Laura mencoba untuk melupakan Arka dan mencoba untuk membuka hati untuk lelaki lain. Yaitu Dewa.
Laura tersenyum.
"Kamu kenapa sayang."
"Dewa, aku nggak nyangka. Kamu bisa seromantis ini. Aku fikir kamu itu seorang dokter yang dingin dan serius." Ucap Laura di sela-sela kunyahannya.
Dewa menatap kekasihnya mesra.
"Sayang, emang cuma Arka doang yang bisa romantis. Aku juga busa lho. Dan kamu juga akan sangat beruntung mendapatkan ku."
"Kenapa begitu Dewa?"
"Yah, karena aku perjaka tulen. Belum pernah tersentuh oleh wanita manapun. Dan aku sudah mengaggumi mu sejak awal pertemuan kita sayang."
Dewa menggenggam mesra tangan Laura. Dia kemudian mencium punggung tangan Laura.
"Gimana sayang? apakah kamu sudah menerima ku menjadai penggantinya Arka?"
Laura mengangguk.
"Iya Dewa. Apakah kamu tahu, ternyata aku sadar sekarang, lebih baik kamu dari pada Arka. Seandainya aku masih menjadi istri Arka, pasti aku akan sangat sakit hati sekali kalau tahu Arka mempunyai anak dari wanita lain."
Lagi-lagi Dewa tersenyum. Kemudian dia mendekat kan dirinya ke arah Laura.
"Ada apa Dewa."
"Maaf sayang ada sisa nasi di pipi kamu." Kata Dewa sembari mengusap nasi di pipi Laura.
"Oh iya Dewa. terimakasih."
Laura dan Dewa kemudian makan dengan hikmatnya. Mereka sekarang sudah saling mencintai.
__ADS_1
Penampakan Cut Tanti Mutia saat ini.