Istri Yang Di Jual.

Istri Yang Di Jual.
ke agresifan Jihan.


__ADS_3

Setelah bervideo call dengan Nia, Arka kembali bekerja. Dia membuka kembali laptopnya.


"Ah, lelah banget hari ini. Aku pengin banget ketemu Tanti. Tapi, ini kerjaan nggak kelar-kelar."


Tok tok tok...


Suara ketukan pintu terdengar.


"Masuk..." Ucap Arka.


Seorang wanita berumur tiga puluh tahunan masuk ke dalam ruang kerja Arka. Dia adalah Dona Sekertaris Arka.


"Ada Apa mbak Dona ?"Tanya Arka yang sudah terbiasa memanggil sekertrisnya Mbak itu. Karena sekertarisnya itu memang cantik dan belum menikah. Namun usianya lebih tua dari pada Arka.


"Pak Arka. Ada cewek cantik yang mau bertemu sama bapak."


"Siapa?"


"Saya kurang tahu Pak. Yang pasti bukan istrimu."


Tiba-tiba saja Jihan masuk tanpa permisi.


"Hai Arka..." Jihan langsung memeluk Arka di depam Mbak Dona. Membuat Mbak Dona jadi malu.


"Ih, Jihan lepasin. Lepasin aku...!" Kata Arka sembari melepas pelukan Jihan.


"Arka kamu kenapa sih. Kok nggak mau aku peluk."


"Jihan. Aku itu..."


"Maaf Pak. Saya permisi dulu." ucap Mbak Dona.


"Eh Mbak tunggu..."Ucap Arka.


Mbak Dona menoleh.


"Maaf yah Mbak. Ini tidak seperti yang Mbak fikirkan. Ini cuma cewek rese aja kok. Bukan siapa-siapa aku."


Mbak Dona tersenyum.


"Bapak tenang saja sama saya. Saya itu sekertaris bapak. Saya tahu betul siapa bapak.Di sini tidak ada wartawan, cuma ada saya. Jadi saya tidak akan macam-macam. Saya permisi Pak."Kata Mbak Dona. Setelah itu Mbak Dona pergi meninggalkan Arka dan Jihan.


"Arka , coba lihat deh. Aku bawain makanan buat kamu. Ini enak banget Arka. Ini itu, aku sendiri lho yang masak." Kata Jihan sembari membuka rantang yang dia bawa.


"Kamu udah bisa masak?" Tanya Arka.


"Udah dong. Kan aku ngelihat resep. "


Arka tersenyum.


"Ngelihat resep? Anak kecil juga bisa kali ngelihat resep." Cibir Arka.


"Arka. Lihat deh. Aku bawain omelet, soup buntut, dan ayam bakar. Ah, Arka aku lupa makanan Favorit kamu." Kata Jihan panjang lebar. Jihan itu memang orangnya cerewet dan agresif.


Sangat berbeda dari Laura dan Tanti.


Mereka tiga orang yang sangat berbeda sifatnya. Namun wajah mereka memang di atas rata-rata wajah seorang wanita. Mereka sangat cantik. Namun entahlah siapa dari mereka yang mempunyai kecantikan hati dan akhlak. Mungkin saja Tanti.


Karena selama ini Tanti itu, hidup di kampung dan di didik dengan didikan agama yang sangat kuat. Sehingga sampai dewasapun dia selalu menerapkan akhlakul karimah dari dalam dirinya.


Arka jadi sebel sendiri. Dia jadi sangat terganggu dengan kehadiran Jihan di kantornya.

__ADS_1


"Aku udah makan Jihan."Bohong Arka. Padahal sedari tadi dia belum makan karena video call bersama Nia untuk mendengarkan Tanti mengaji.


"Jihan. Mending sekarang kamu pulang deh. Aku capek banget. Aku lagi banyak kerjaan. "


"Nggak mau Arka. Aku nggak mau pulang. Orang mama kamu kok yang nyuruh aku kesini."


"Apa?" Arka terkejut.


"Iya. Kata mama kamu, Mama kamu akan meminta kamu untuk menikah dengan ku. Makanya dari itu, aku di suruh belajar jadi istri yang baik."


"Iya deh iya. Terserah kamu. Sekarang kamu pergi dulu. Kamu mau pergi atau aku yang pergi."


"Tapi Arka, aku tetap mau temanin kamu. "


"Jihan...!!!" Bentak Arka.


Jihan terkejut. Yah,memang dari dulu Jihan sudah tahu kalau Arka sedang marah seperti apa.


"Iya Arka iya. Aku keluar."


"Beresin semua makanan ini, dan pergi dari sini...!!!"


"Iya Arka iya, aku pergi."


***


Tok tok tok.


Suara ketukan pintu aparteman.


"Kak. Itu pasti Kak Arka." Kata Nia.


"Kak, sana bukain Kak. sambutlah calon suami mu itu." pinta Nia.


"Kamu aja Nia."


"Kok aku sih."


"Aku nggak mau Nia."


"Kenapa? Takut di gigit yah?"


"Ish. Apaan sih Nia."


Nia terkikik.


"Iya. Gigitannya nanti setelah nikah." Kata Nia sembari melangkah ke ruang tamu.


Tanti melotot.


"Dasar bocah. Apa sih maksudnya." Gerutu Tanti.


ceklek.


Nia mebuka pintu apartemen.


"Yah aku fikir Kak Arka , ternyata Kak Herman. Mau ngapain Kak?" tanya Nia malas.


"Nggak. Mau ketemu nona. Nona ada?"


"Ada. Tapi mau ngapain?"

__ADS_1


"Nggak mau ngapa-ngapain ada sedikit perlu aja."


"Ya udah deh masuk."


"makasih..."


Herman dan Nia pun masuk.


Di kamat Tanti nampak mondar-mandir tidak karuan. Dia deg degan mau ketemu Arka.


"Apa yang harus aku lakukan. Aku kok jadi gugup banget." Ucap Tanti.


ceklek, pintu kamar terbuka. Nia dan Herman tampak berdiri.


"Tuan," Ucap Tanti sembari menoleh ke arah pintu.


Lho, Herman. Kenapa Herman. Ah, aku fikir Tuan Arka.


Herman tersenyum. "Nona."


" Herman. Kok kamu baru nongol. Kemana aja...? tanya Tanti.


Tanti kemudian mengajak Herman untuk berbicara di ruang tengah.


Nia masih duduk di sisi Tanti. Dia masih kecewa karena Herman yang datang. Kenapa bukan Kakak angkatnya. Jika saja Kaka Arka yang datang pasti Nia akan ngeledekin Arka dengan Tanti.


"Aku cuma sebentar aja di sini nona."


"Kamu kemana aja?"


"Aku sekarang udah naik jabatan nona. Aku udah di kasih kerjaan di kantor. jadi aku udah nggak bisa menjadi pengawal lagi."


Ya jelaslah Kak Arka nggak akan rela kalau Herman yang jadi pengawal Kak Tanti. Kalau pengawalnya cakep gitu, Bisa-bisa Kak Tanti naksir lagi amaKak Herman. Batin Nia.


"Oya! Alhamdulillah... aku senang dengarnya." Kata Tanti.


"Maafin aku yah nona. Sekarang aku udah nggak bisa jadi pengawal nona." ucap Herman.


"Nggak apa-apa Herman. Aku udah ada Nia kok."


Herman masih menatap wajah Tanti.


Nona, mungkin kalau aku jauh darimu, aku akan bisa cepat melupakan mu. Aku tahu rasa ini salah. Aku nggak seharusnya mencintai kamu nona. Kamu itu miliknya Tuan Arka. Jika saja Tuan Arka menikahimu, Aku tak yakin kalau Tuan Arka akan melepaskanmu.


Bugh..


satu buah bantal melayang di wajah tampan Herman. Membuat Herman tersentak.


"Auh...Nia apaan sih."


"Jangan mandangin calon Kak ipar kayak gitu. Ketahuan Kak Arka baru taju rasa lu." Ucap Nia.


Herman meneguk salivanya sendiri. Membayangkan bagaimana posesivnya Tuan Arka pada Tanti. Tanti itu sudah seperti berlian saja. Cantik tapi tak tersentuh. Yah itu karena Tanti sudah menempati hatinya Arka. Entah di sisi hati yang mana.


"hush, Nia. Yang sopan kamu kalau bicara. Herman ini tamu lho. kenapa kamu lemparin bantal. Ambilin minum sana."


"Oh iya. Aku permisi dulu yah. Mau buatin minum.


Herman dan Tanti ngobrol berdua. Sementara di dapur Nia sedang berkutat membuat kopi untuk Herman.


"Ish, Kak Herman. Aku yakin deh. Kalau sebenarnya, Kak Herman juga naksir ama Kak Tanti."Kata Nia. Ah, Nia itu memang gadis yang unik. Gadis yang selalu menduga-duga,namun dugaannya selalu tepat.

__ADS_1


__ADS_2