
Herman kemudian memutar tubuhnya menghadap ke arah Nia.
Herman tersenyum.
"Kak Herman, sekarang aku sudah merasa tenang."
"Iya Nia. Kalau kamu lagi sedih,Bangunlah di sepertiga malam. Kamu adukan semua masalah kamu pada Allah. Supaya hati kamu bisa tenang."
Nia menyalim tangan Herman. Seperti seorang istri menyalim suaminya.
Nia merasa jadi tersanjung pada Herman. Ternyata di balik tubuhnya yang gede dan berotot, dia memiliki akhlak yang baik dan tutur kata yang baik pula.
****
"Allahhu akbar...Allahhu akbar...."
Suara adzan subuh menggema. Mengusik sedikit telinga Tanti.
Tanti mengerjapkan matanya. Entah sudah berapa lama dia pingsan.
Dia menangis saat teringat Arka.
"Tuan Arka, Bagaimana kondisi dia sekarang."
Tanti buru-buru ke ruang UGD.
Dan ternyata benar Arkanya masih terbarung lemah dengan berbagai macam alat dalam tubuhnya. Ya selang infus, ya alat bantu pernafsan.
Tanti menangis. Dia bersender di pintu ruang UGD.
"Ya Allah, Tuan Arka...kenapa dia jadi begini. Seandainya waktu bisa terulang, izinkanlah Tanti untuk bisa mebahagiakannya. Jika saja bisa, biarkanlah Tanti saja yang berada di posisinya. Biarkan lah Tanti saja yang kecelakaan. Tanti tidak kuat, melihat Tuan seperti ini...Hiks...hiks..." Ratap Tanti sembari terisak.
Herman dan Nia yang baru saja melaksanakan sholat subuh, saling menatap.
"Nia, sana kamu hibur nona."
Nia mangangguk. Dia kemudian menghampiri Tanti.
"Kak Tanti." Ucap Nia.
Tanti menoleh. Dia langsung memeluk Nia.
Tanti menangis sesenggukan di pelukan Nia. Hingga air matanya pun membasahi baju Nia.
"Kasihan nona. Dia pasti sangat terpukul melihat Tuan seperti ini. Apalagi kalau dia tahu, Tuan lagi dalam keadaan koma." Gumam Herman.
Tanti melepaskan pelukannya.
"Nia, gimana kondisi Tuan Nia?" Tanya Tanti menatap Nia dalam. Air mata Tanti masih membanjiri pipinya.
__ADS_1
Nia bingung harus menjawab apa. Dia tidak bisa berkata-kata.
Sejak kepergian Jihan dan Idris, detak jantung Arka melemah. Kondisinya sangatlah kritis. Dan dia sekarang sedang berada di antara hidup dan mati. Dan sekarang dokter hanya bisa pasrah. Menunggu waktu, akankah Arka akan tetap bisa bertahan atau tidak.
Apakah mungkin untuk Nia mengatakan hal ini pada Tanti. Yang Nia tahu, Tuan Arka danTanti saling mencintai. Dan Sepintar apapun mereka berdua mengelak, namun wajah dan mata mereka tidak bisa bohong.
"Nona tidak perlu cemas. Tuan Arka tidak apa-apa. Sebentar lagi dia siuman dan akan di pindah ke ruang rawat." Bohong Herman.
Tanti tersenyum. Dia sangat lega mendengar semua itu.
****
"Ha...ha..." Wanita yang bertubuh kurus, sedang itu tertawa bahagia saat mendengar Arka sekarang sedang sekarat.
"Aku sangat puas Arka Wijaya, Aku tak perlu mengotori tangan ku ini untuk menghabisi mu. Ha...ha... Kamu akan menerima hukuman yang setimpal. Atas apa yang telah kamu perbuat dengan adik ku. Adik satu-satunya yang aku punya sekarang gila gara-gara kamu."
Sebuah panah menuju ke arah foto Arka. Panah itu menancap ke gambar Arka. pas mengenai mata Arka.
"Kamu harus hancur Arka, Hancur bersama orang yang kamu cintai juga. Ha...ha..."
Perempuan yang di ketahui bernama Chelsea itu keluar dari rumahnya. Dia bersama dua orang pengawalnya seperti akan pergi ke suatu tempat.
Chelsea dengan ke dua pengawalnya pergi ke rumah sakit jiwa. Yah, sekarang Chelsea akan menemui adiknya yang bernama Anindita.
Chelsea telah sampai di kamar Anindita.
" Arka,,, sayang ku,,,Aku besok akan menikah denganmu..kita akan punya anak...dan kita akan hidup bersama ha
..ha..."Ucap Anindita.
Tiba-tiba saja dia berteriak histeris dan menangis.
hiks...hiks...
"Jihan..." Teriak Anindita menyebut nama Jihan.
Chelsea hanya bisa diam mematung. Dia sangat tidak tega melihat kondisi adiknya. Yah dia sangat mengerti bagaimana rasanya jika cinta itu hanya bertepuk sebelah tangan. Dia juga merasakannya. Karena dia sampai sekarang juga masih terobsesi dengan Arka wijaya.
Sebenarnya dia masih terus berharap jika saja Arka mau dengannya. Namun dari dulu, dia sulit untuk mendapatkan cinta Arka.
Dan dia mempunyai pemikiran. Jika Arka tidak dapat dia miliki, maka tidak boleh ada wanita lain yang memiliki Arka. Dan dia akan menghancurkan Arka, atau akan merebut Arka dari istri Arka.
" Arka, aku tidak rela kamu hidup bahagia dengan perempuan lain Arka. Mungkin kematian itu lebih baik bagi mu Arka, dari pada kamu hidup dan bersenang-senang dengan perempuan lain. Aku tidak akan pernah membiarkan kamu, dan istrimu bahagia di atas penderitaan ku ini." Kata Chelsea panjang lebar.
****
Chelsea masih diam mebisu. Setetes air mata mengalir di pipi nya.
Dia masih teringat jelas dengan kejadian beberapa tahun silam.
__ADS_1
Flash back on.
Putih Abu-abu.
Yah, sekarang Arka dan Chelsea di sebuah tempat yaitu di taman dekat sekolah.
Dengan hati berdebar, Chelsea membenarkan letak kaca matanya. Yah memang Chelsea itu adalah gadis culun yang sangat mengagumi sosok Arka. Dia anak orang kaya namun tak pernah di perhatikan orang tuanya.
Penampilannya begitu kotor. Kulitnya sangat kusam. Dia tidak bisa berdandan layaknya gadis lain. Walau dia anak orang kaya, namun dia tidak bisa merubah penampilannya.
"Arka...aku.." Ucap Chelsea terbata-bata. Chelsea sangat begitu gugup.
Arka tersenyum. Arka adalah anka konglomerat namun dia bukanlah sosok yang angkuh.Dia sosok yang ramah,mudah berbaur dan penyayang wanita.
"Arka aku mau ngomong sesuatu." Kata Chelsea.
"Iya. Ngomonglah! Kamu mau bicara apa? Ayolah bicara. Nggak usah takut. Sebentar lagi bel masuk berbunyi."
"Aku mau ngucapin terima kasih sama kamu."
"Terimakasih untuk apa?"
"Kamu udah mau menolongku Arka." Ucap Chelsea.
Arka tersenyum. Senyumnya sangat begitu menawan. Membuat jantung chelsea berdegup ria. Lagi-lagi gadis cupu itu menatap Arka dalam. Dia sangat menginginkan Arka. Dia menginginkan Arka untuk menjadi miliknya. Walaupun dia tak keberatan untuk menjadi yang kedua. Asal Arka mau menerimanya.
"Iya Chelsea, sama-sama."
"Makasih yah Arka, kamu udah menolongku waktu aku sering di bully teman-teman. Berkat kamu, aku jadi nggak ada yang membully lagi."
Chelsea menegak salivanya sendiri. Saat dia menatap wajah Arka. Dia masih membenarkan letak kacamatanya.
"Arka..eng..eh..itu. Aku mau ngomong, kalau aku..."
"Iya..." Arka mencoba menyimak.
"Arka aku, aku suka sama kamu."
Deg, jantung Arka seakan mau copot saja. Bagaimana mungkin Chelsea mengatakan cinta padanya. sementara Chelsea tahu kalau Arka itu adalah pacarnya Jihan. Mana mungkin Arka akan mempunyai dua pacar sekaligus.
****
Dukungannya kurang banyak.
Like vote komen yang banyak yah...
wkwwkwk
Ngarep..!!😀😀😀
__ADS_1