
Tanti juga bertanya pada seorang anak kecil yang sedang bermain voli di pinggiran pantai itu.
"Dek, kamu lihat anak yang ada di foto ini nggak?" tanya Tanti.
Anak itu tampak berfikir.
"Kayaknya saya melihatnya. Coba aja Tante kesana." Kata anak itu menunjuk dengan jari telunjuknya.
Tanti kemudian berlari ke arah yang anak itu tunjukan. Namun tiba-tiba saja.
Bruak...
Tanti menabrak seorang laki-laki yang membawa minuman. Dan minuman itu tumpah mengenai hijab Tanti.
"Ha...ya ampun baju ku."Ucap Tanti sembari membersihkan bajunya.
"Aduh maaf Mbak. Tadi mbak lari-lari, dan nabrak aku." Kata lelaki itu.
Pandangan Tanti tertuju pada lelaki itu dan betapa terkejutnya Tanti. melihat sosok pria tampan yang ada di depannya. Pria itu hanya memakai boxer pendek dan bertelanjang dada dan pria itu memegang papan skiboard.
"Arka...!" Ucap Tanti.
Lelaki itu bingung.
"Hei. Arka. Apa yang kamu lakukan. Kamu nyuruh aku mencari anak-anak. Tapi kamu malah asyik berselancar dengan skiboardmu itu apa maksudnya.?" Omel Tanti sembari memukul-mukul tubuh lelaki itu.
Lelaki itu masih bingung.
"Apa maksud mu Mbak?" tanya lelaki itu.
"Arka. Anak kita hilang. Dan aku lagi pusing mencarinya. Tapi kenapa kamu malah bermain di laut."
Tanti menangis di depan pria itu. Yah, pria itu pria yang wajahnya mirip sekali dengan Arka. Sehingga Tanti tidak mengenalinya kalau dia itu bukan Arka.
Lelaki itu bingung. Apa lagi saat Tanti memeluknya.
Apa-apaan wanita ini. Kenapa dia meluk gue? apa dia wanita gila? gue di bilang Arka? yah, gue memang mirip Arka Wijaya. Tapi gue kan bukan Arka. wajah gue itu cuma kebetulan kembar aja sama Arka Wijaya. Batin pria itu.
Lelaki itu melepas pelukan Tanti.
"Mbak, kamu kenapa mbak? Mbak ini siapa?" tanya lelaki itu.
Tanti memukul lengan lelaki itu.
"Arka, kamu tanyakan aku kenapa? Anak kita hilang Arka. Ayo kita cari...!"
lelaki yang mirip Arka itu hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Tanti menyeret lelaki yang bertubuh seksi itu.
__ADS_1
"Kamu jangan bercanda Arka. Sejak kapan kamu memanggil ku dengan sebutan Mbak. Nggak lucu bercandanya." Kata Tanti yang menyeret lelaki itu.
Lelaki itu kemudian menghentikan langkahnya.
Tanti menoleh.
"Kenapa berhenti?" tanya Tanti.
"Ya, lagian Mbak mau bawa aku kemana?" tanya lelaki itu.
"Aku mau bawa kamu nyari anak kita. Bukan mau ajak kamu berselancar." Kata Tanti dengan nada ketus.
"Tapi saya bukan Arka mbak."
"Cukup bercandanya Arka. Aku nggak suka di candai begini. Kamu mau bikin aku gila Arka. Aku hampir gila karena Aurel menghilang, sekarang kamu malah main selancar dan bercanda. Kalau bukan Arka terus kamu siapa? mana ada di dunia ini orang yang mirip. Kecuali kalau dia anak kembar...!" Kata Tanti.
"Tapi saya bukan Arka. Nama saya Brian." Kata lelaki.
Tanti menangis.
"Cukup. Arka kita harus cari anak kita."
"Tapi saya Brian. Bukan Arka." Kata Brian mencoba meyakinkan Tanti.
Tanti masih tidak percaya. Karena memang lelaki bernama Brian itu mirip sekali dengan Arka dan tidak ada yang bisa di bedakan.
Tanti menatap nanar wajah Brian Tanti mencubit perut sickpack Brian dan Tanti kemudian memukul-mukul dada bidang Brian.
"Mbak..hentikan Mbak. Hentikan. Saya bukan Arka tapi saya Brian."
Plak.
Satu tamparan melayang ke wajah tampan Brian.
Brian memegangi pipinya dan merasa kesakitan.
"Kenapa kamu menamparku."
"Karena kamu jahat."
"Apa yang telah aku lakukan."
"Kamu berpura-pura tidak mengenaliku dan kamu itu sudah mengganti namamu menjadi Brian.Sama sekali nggak lucu."
Brian bingung.
Tiba-tiba saja seorang permpuan bernama Celin datang.
"Hei...wanita kampung. Apa yanh kau lakukan dengan tunanganku. Kamu menamparnya Heh...!"
__ADS_1
Tanti diam. Sekali lagi dia tidak percaya kalau Arka punya tunangan.
"Apa-apaan ini. Arka. Drama apa lagi ini Arka. Kamu mengejak ku ke Bali untuk membuat anak ku hilang dan kamu mau mengenalkanku dengan tunanganmu itu."
" kejam sekali kamu Arka."
Brian menatap Tanti iba. Namun tidak dengan Celin. Celin mengajak pergi Brian tunangannya. Sementara Tanti terduduk dan bersimpuh di atas pasir putih itu.
"Ayo sayang. Kita tinggalkan wanita gila itu. Dia fikir kamu itu Arka Wijaya. Mungkin wanita kampung itu Fansnya Arka Wijaya. Jadi dia Gila. Dia tidak tahu siapa kamu."
"Sebanarnya Arka wijaya itu benaran ada yah."
"Ada sayang. Makanya jangan kampungan kamu. lihat di majalah, koran, di gogle. Arka Wijaya itu fotonya berkeliaran di sana. Dan kamu itu mirip sekali dengan Arka."
"He...iya yah. Aku mirip artis. Mirip anaknya orang besar seperti Tuan Bram.
...***************...
" Tanti."
Tanti menoleh kebelang.
Tanti mengusap air matanya. Dia berdiri.
"Arka kamu."
"Kamu lagi ngapin? "
"Arka tadi kamu.Tadi kamu... Aku melihat kamu sama cewek Arka."
Arka tersenyum. Dia membangunkan Tanti. Setelah itu Arka memeluk Tanti.
"Kamu lagi berhalusinasi Tanti. Aku tidak sama siapa-siapa. Lihatlah sekarang anakmu bersamaku."
"Kenapa bisa?"
" Iya mama. Tadi Anisa hampir di culik dan di bawa sama orang Tante. Tapi untung ayah datang tepat waktu."
"Iya. Baiklah kalau gitu kita pulang."
"Arka. Tapi yang tadi siapa. Kenapa dia mirip banget sama kamu Arka."
"Ya karena kamu lagi berhalusinasi mana mungkin aku sama cewek. Ayolah kita pulang. Nggak usah ngiggau. Ini Anisa sudah sama kita. Mana mungkin ada orang yang mirip sama aku."
Tanti akhirnya pulang juga.
"Maksud Zoya apa? Tadi aurel di bawa orang?"
"Udah nggak ada apa-apa sayang. Tadi mama ngabarin aku. Katanya dia sudah pulang dan kita akan mempersiapkan pesta pernikahan kita.
__ADS_1