Istri Yang Di Jual.

Istri Yang Di Jual.
Mantan Tanti.


__ADS_3

Malam pertama untuk Faris dan Marwa. Mereka tampak canggung.


"Marwa," Ucap Faris.


"Iya Bang."


"Maaf kan aku yah. Aku belum bisa melakukannūya sekarang. Aku belum siap Marwa."


Marwa terdiam. Dia sangat mengerti kondisi suaminya. Mungkin untuk saat ini, Faris belum bisa melupakan Tanti.


"Iya Bang aku ngerti."Kata Marwa.


Entah sampai kapan Faris akan melupakan Tanti. Dua tahun sudah Tanti di Jakarta. Dan dua tahun sudah Tanti tidak pulang ke Aceh.


Entah kenapa, Faris masih merasa rindu dengan sosok yang bernama Tanti. Seseorang wanita berakhlak mulia,berhati lembut, dan penyayang anak-anak. Yah, sewaktu di kampung, Tanti itu pernah menjadi seorang guru TK. Dia sangat menyayangi anak-anak.


Faris tersenyum.


Namun istrinya tidak tahu kenapa Faris tersenyum.


Tanti, kenapa di saat-saat seperti ini, Aku selalu mengingatmu. Bagai mana aku akan melakukan hubungan suami istri dengan istriku , kalau di fikiranku cuma ada kamu. Bagaimana aku akan menyentuh Marwa, jika bayangan wajahmu selalu menghantui ku. Batin Faris.


"Ya udah Bang. Kalau Abang belum siap. Aku nggak apa-apa kok. Kita tidur aja,Tidak usah melakukan hal itu."


Dengan canggung Faris mengecup Kening Marwa.


"Kamu masih teringat Tanti yah."


"Nggak Kok Marwa. Aku tidak ingat dia. Dia udah bahagia bersama Arifin. Sekarang waktunya untuk aku membuka hatiku untuk wanita lain."


"Iya Bang. Aku akan selalu menunggumu sampai Kamu siap."


"Makasih ya ."


"Aku juga berharap, kamu bisa untuk sedikit-sedikit melupakan Tanti dan belajarlah mencintai ku."


"Iya Marwa."


****


Di samping jendela Apartemen, Tanti menerawang melihat ke bawah. Hatinya masih hampa. Arka tak kunjung mendatanginya.

__ADS_1


Apa Tuan Arka marah yah sama aku. Apa aku sudah kelewatan yah sama dia. Apa dia sakit hati karena ucapanku waktu itu. Tapi waktu itu aku benar-benar lagi emosi. Karena aku rindu pada Putriku. Batin Tanti.


"Kak, kakak kenapa?" Tanya Nia.


"Kakak nggak apa-apa Nia.Kakak cuma keingat aja sama Aurel."


Nia tersenyum.


Ah mana mungkin sih ke ingat anak. Kayaknya Kak Tanti itu lagi keingat Kak Arka deh. Mana mungkin sih, Kak Tanti nggak suka sama Kak Arka. Secara dari segi fisik aja, dia udah ganteng, tajir, romantis,perhatian pula.Aku juga suka sama dia. Tapi aku sadar aku kan cuma anak pembantu. Kak Arka juga cuma nganggap aku adik**.


"Kak Tanti lagi ingat Kak Arka yah?" tanya Nia.


Tanti menoleh dan menatap Nia.


"Apaan sih." Kata Tanti, wajahnya tampak merona saat Nia menyebut nama Arka.


"Ciyee...Kakak... mulut kakak boleh aja berbohong. Tapi wajah dan mata Kakak nggak bisa di bohongi. Aku tahu kok Kakak cinta sama Kak Arka." Kata Nia meledek. Nia berharap kalau Tanti itu mau tersenyum.


Karena Arka selalu berpesan, selama Nia menemani Tanti, Nia harus banyak menghibur Tanti. Supaya Tanti tidak selalu mengingat-ingat anaknya lagi.


Tanti memutar tubuhnya, dia kemudian melangkah ke arah tempat tidurnya. Dia menghempaskan tubuhnya ke kasur.


"Udah deh Nia, nggak usah ngeledek." Kata Tanti yang masih menatapi wajah Nia yang imut.


"Tapi ketahuan Lho Kak. Kalau Kakak itu lagi galau. Kalau Kakak mau, aku video call yah sama Kak Arka."


"Eh ...eh... Jangan jangan. Kamu nggak boleh gangguin dia. Dia pasti sekarang lagi sibuk di kantor. Nanti dia bisa marah." Kata Tanti.


"Iya deh. Nggak. Nanti siang aja. Kalau Kak Arka lagi istirahat."


"Huh," Tanti mendesah.


Dia tidak siap untuk bertemu Tuan Arka.


***


Jam makan siang.


Setelah lama Arka bekerja, Arkapun menutup laptopnya. Dia tersenyum pada foto pengantinya. Yang kemarin bingkainya pecah karena dia banting.


Sekarang foto itu sudah di ganti dengan bingkai foto yang baru.

__ADS_1


"Laura, kamu cantik sekali sayang, aku sangat beruntung bisa mendapatkan wanita secantik kamu. Apalagi kamu itu seorang model terkenal."


Arka terdiam. Dia pun teringat Jihan.


"Ah, Jihan. kenapa dia harus kembali. Seharusnya dia jangan kembali. Bagaimana kalau perasaan cinta ku padanya tumbuh kembali. Dan sekarag mama mau aku nikahin dia. Yah Jihan,kamu memang cinta pertama ku. tapi aku udah melupakan kamu. Di hatiku saat ini cuma ada Laura."


Dan Arkapun teringat masa lalunya. Masa lalu, yang sampai saat ini tidak pernah bisa dia lupakan. Dia melepas keperjakaannya pertama kali yah, dengan Putri. Walau malam itu, dia tak mengingat apapun waktu dia menyentuh Putri.


"Di mana Putri sekarang? Apa dia baik-baik saja. Ah, aku jadi merasa bersalah sama dia. Dia perempuan baik yang udah aku nodai kesuciannya."


Dan dia tersenyum, saat dia mengingat wanita yang paling mahal. Yah Tanti.


"Wanitaku sekarang lagi ngapain yah? Apakah dia tahu, kalau aku lagi memikirkannya. Tanti,aku sangat merindukan mu. Entah kenapa dari semua wanita yang singgah di hatiku, cuma kamu yang bisa membuat jiwaku merasakan kedamaian. Apakah aku sudah mencintainya."


Arka bersandar di kursi kebesaran nya. Dia memejamkan matanya sejenak. Dan bayangan waktu pertama kali bertemu Tanti itu terlintas.


Flashback on.


Sekarang Arka sedang menunggu Mamanya di Boutik. Tiba-tiba saja, pandangannya tertuju pada seorang lelaki muda dan seorang wanita paruh baya. Mereka sedang asyik mengobrol.


"Seperti Arifin. Dan siapa wanita itu. Kok kayak tante-tante girang. Aku penasaran. Apa jangan-jangan mereka akan merencanakan kejahatan pada seseorang."


Arka begitu sangat penasaran dengan apa yang mau mereka obrolkan. Arkapun perlahan-lahan mendekat. Mencoba menguping pembicaraan Arifin dengan wanita itu.


"Madam Caterin, Aku sangat membutuhkan uang. Tolong aku madam." kata Arifin


"Uang untuk apa?" tanya madam caterin.


"Madam, Aku itu sekarang lagi di kejar-kejar oleh rentenir. Aku punya hutang yang sangat banyak. Tapi aku tidak bisa melunasinya."


"Terus aku harus bantu apa? Apa aku harus memberikan mu uang secara cuma-cuma?"


"Ya terserahlah. Apa yang madam mau aku siap lakukan."


"Oh yah? Benar begitu? Aku butuh seorang wanita cantik yang akan aku pekerjakan menjadi wanita malam. Apa kamu mau mencarinya?"


"Tapi Bagiamana caranya madam. Aku tidak punya wanita cantik, kecuali istriku."


Ha... ha... ha... Madam Caterin tertawa lepas.


"Apakah istrimu cantik? Kalau begitu serahkanlah dia padaku. Aku akan membelinya dengan harga yang mahal." Kata madam Laura.

__ADS_1


Arifin menegak salivanya sendiri.


Mungkinkah aku akan menjual Tanti? Tanti itu kan istriku. Dan, kasihan jika aku harus menyerahkannya pada madam. Tapi aku sangat butuh sekali uang itu. Jika saja aku pinjam ke orang tua dan saudara, mana mungkin mereka mau ngasih uang pada ku. Kan hutangku udah sangat banyak pada mereka. Bagaimana ini.


__ADS_2