Istri Yang Di Jual.

Istri Yang Di Jual.
Kehadiran Jihan.


__ADS_3

Laura membayangkan kejadian tadi pagi. Saat Mama mertuanya yang membawa seorang wanita cantik dan sexi yang penampilannya sangat modis dan feminim. Dia sangat cantik, putih, tinggi, membuat Laura begitu takut kehilangan Arka. Kali ini wanita itu adalah wanita lulusan Australia. Dan Laura sangat merasa tersaingi.


Flashback on*


Tok tok tok...


Bik Inah mengetuk pintu kamar Laura.


"Masuk." ucap Laura yang sekarang masih berbaring di bawah selimutnya.


Bik Inah pun akhirnya masuk ke kamar Laura. Yah, Bik Inah adalah orang kepercayaannya Tuan Arka. Dia itu sudah bekerja dengan Tuan Bram dan Nyonya Alicia sewaktu Arka masih bayi. Bisa di bilang kalau Bik Inah itu Babysitternya Arka.


Dan Bik Inah ini sudah seperti ibu untuk Arka. Karena sewaktu Arka masih kecil dan sering di tinggal orang tuanya ke luar negeri, Bik Inah yang selalu menjaga Arka. Dia sudah menganggap Arka juga seperti Putranya sendiri. Terlebih Bik Inah itu tidak mempunyai anak laki-laki. Ketiga anak Bik Inah perempuan semua. Dan Nia adalah anak bungsu Bik Inah.


Bik Inah mendekat ke arah nona mudanya.


"selamat pagi Nona."


Laura tersenyum." Pagi Bik."


Bik Inah kemudian membuka gorden jendela kamar Laura.


"Nona, ada Nyonya di bawah." Kata Bik Inah menuturkan.


Laura sedikit terkejut. Batinnya bertanya-tanya, kenapa Mama mertuanya pagi-pagi sudah datang ke sini.


Laura beringsut duduk, walau kakinya masih sakit, tapi dia harus kuat. Dia tidak boleh lemah. Dia harus bisa mandiri tanpa perlu bantuan orang lain.


"Nona, mau mandikan? nanti aku bantuin yah."


"Aku nggak mau mandi. Aku mau mandinya sama Arka. Aku juga nggak mau makan. Aku pengin makannya di suapi Arka." Ucap Laura.


Bik Inah tersenyum. Yah, Bik Inah tahu betul kalau nona mudanya itu sangat manja. Setiap hari hampir Bik Inah lihat kalau nona muda itu suap-suapan sama Tuan muda.


Tapi, siapa sih yang berani mengusiknya. Tidak ada. Karena Arka dan Laura tidak tinggal di rumah orang tuanya. Mereka tinggal di rumah sendiri. Rumah yang luas, yang banyak pembantu, dan banyak pengawal di sana. Rumah itu sangat di jaga ketat oleh para pengawal.


"Baiklah Nona. Tapi nyonya menunggu anda di bawah. Katanya dia mau memperkenalkan nona pada seseorang." Kata Bi Inah.


Laura sedikit terkejut.

__ADS_1


"Memperkenalkan aku dengan siapa?"


"Bibik kurang tahu nona."


Laura dengan bantuan Bik Inah, kemudian duduk lagi di kursi rodanya.


Bik Inah langsung mendorong kursi roda itu sampai ke depan kamar saja. Tapi setelah itu,Laura berjalan dengan tongkatnya untuk menuruni anak tangga. Bik Inah pun kemudian membantunya.


Sesampainya di bawah, Laura terkejut. Di hadapannya berdiri sudah nampak seorang wanita berpakaian modis, berwajah cantik, berkulit putih dan rambut indah lurus tergerai, itu seakan sedang menatap laura penuh kesengitan.


"Mama." Ucap Laura sembari mengulurkan tangannya. Namun rupanya Mama Arka enggan untuk berjabat tangan. Malah dia melengos membuang muka.


"Bik Inah. Mana Arka?apakah dia sudah berangkat kantor? Atau masih tidur? kok nggak kedengaran suaranya?" tanya Mama Arka pada Bik Inah.


Bik Inah bingung harus jawab apa. Memang sejak semalam Tuan mudanya itu pergi dan belum kembali.


"Arka nginap di apartemen Ma." Laura menegaskan.


"Huh, ya iyalah dia lebih memilih nginep di apartemen. Siapa juga yang mau nemenin wanita cacat dan mandul kayak kamu. " Ucap mama Arka.


Pandangan Laura tertunduk. Ucapan Mama Arka bagai belati tajam yng telah meggores dan menyayat-nyayat hati Laura.


Bik Inah tampak diam. Dia tahu kalau nona mudanya itu hatinya sedang sangat tertampar oleh ucapan mertuanya.


"Oh iya Laura. Kenalin, ini Jihan. Dia calon istrinya Arka. Dia yang akan menjadi menantu kesayanganku. Karena sebentar lagi, aku akan menikahkannya dengan Arka. Biar Arka bisa mempunyai keturunan." kata Mama Arka memperkenalkan Jihan pada Laura.


"Apa. Kok Mama tega sih Ma, sama Laura. Laura salah apa sama Mama. Kenapa mama mau menjodohkan Arka dengan dia!" Laura sangat tidak terima.


"Salah kamu karena kenapa kamu tidak bisa memberikan ku seorang cucu. Untung sajalah aku masih berbaik hati. Kalau tidak, aku bisa saja membuat Arka menceraikanmu." Ancam Mama Arka.


Deg.


Lagi-lagi sayatan itu menggores bagian lubuk hati Laura yang terdalam. Laura hanya bisa berdiam dan menangis di tempat. Mertuanya sekarang sudah berubah. Ucapannya itu lebih kejam dari seorang ucapan ibu tiri.


"Kamu itu jadi istri tidak berguna. Selalu merepotkan suami. Udah nggak bisa ngasih anak, lumpuh lagi.Jelas aja Arka nggak mau pulang kerumah."


Flash back off*


Arka berdiri dari duduknya. Berbagai macam fikiran berkecamuk di hatinya. Urusan Tanti saja belum kelar, kenapa harus ada mama yang merecoki kehidupannya. Arka bertanya-tanya dalam hati. Siapa sebenarnya wanita yang mamanya bawa itu. Sampai membuat Laura sangat rapuh.

__ADS_1


"Ya udah, sayang. Jangan terlalu di fikirkan yah."


"Arka, tolong cepat temuin Tanti. Biar kita bisa cepat-cepat melaksanakan rencana kita. Aku nggak mau jadi menantu yang terbuang Arka. Aku penngin berpura-pura hamil."


Ini Laura, yang aku tunggu-tunggu menikahi Tanti. Karena keinginanmu sendiri.


Arka begitu sangat bahagia mendengar ucapan istrinya. Bagaimana tidak istrinya malah sekarang sangat mendukungnya.


"Iya sayang, aku akan secepatnya menemukan Tanti. Dan aku akan menikahi Tanti secepatnya."


***


Malam ini, Arka tampak sudah bersiap mau pergi. Seperti biasa, dia menyemprotkan parfumnya yang wangi itu.


Laura menatapnya tajam.


"Mau kemana lagi kamu Arka?"


"Yah, aku akan mewujudkan keinginanmu sayang. Aku akan mencari Tanti."


Sesemangat itukah kamu Arka. Batin Laura.


"Gimana sayang, aku udah wangi belum?" tanya Arka pada istrinya.


"Iya, kamu memang selalu wangi sayang. Dan jelaskanlah, sekarang kamu mau kemana?"


"Iya,katanya mau cari Tanti."


"Mau cari Tanti kok tampan banget begitu. Kayak orang mau ketemu selingkuhan! Apa di luar kamu punya wanita lain yah."


"Kamu ngomong apa sih Laura."Kata Arka sembari mendekat ke arah Laura.


Arka duduk di samping Laura.


"Kamu mau pergi yah? dan kapan pulang? kan kamu baru saja datang,kenapa harus pergi lagi."


Arka menangkup wajah istrinya. Dia mencium kening dan kedua pipi istrinya.


"Sayang, percayalah. Di hatiku cuma ada kamu seorang sayang. Nggak ada yang lain. Kamu jangan cemburu terus dong. Kamu nggak percaya lagi sama aku?"

__ADS_1


Laura tersenyum" Aku percaya kok."


***


__ADS_2