Istri Yang Di Jual.

Istri Yang Di Jual.
Tak mau kehilangan


__ADS_3

UGD.


yah, di sinilah sekarang Laura. Arka sekarang sedang duduk di ruang tunggu. Dia di dampingi Idris dan Herman.


Waktu menunjukan jam 12 malam. Idris dan Herman tampak berdiri di samping Tuan mudanya.Tuan Arka terlihat sangat lesu. Sudah seharian dia lelah dengan urusan kantornya, di tambah anak buahnya yang tidak berhasil menemukan keberadaan Tanti, dan sekarang yang membuatnya sangat terpuruk adalah sosok yang sangat di cintainya sedang kritis di kamar UGD.


Arka masih menangis. Di balik sikap tempramennya itu, ternyata Arka juga sosok lelaki yang rapuh. Dia akan menagis jika hatinya merasa terluka.


iya, sekarang dia terluka karena istri yang di cintainya itu dalam keadaan kritis.


Dan hati Arka sekarang di selimuti rasa takut yang sangat besar. Takut kehilangan Laura. Dia takut kalau Laura tidak akan bisa di selamatkan.


"Tuan, sudah lah Tuan. Jangan sedih terus." Kata Herman mencoba menghibur.


Arka terdiam. Sekarang hatinya tampak kalut. Sekali lagi Arka menyeka air matanya.


Dari pintu kamar UGD, keluarlah dokter tampan yang memang itu adalah Dewa.


Arka bangun dari duduknya dan menghampiri Dewa.


"Wa, tolong katakan Wa, gimana kondisi istri gue. Dia baik-baik ajakan."


Dewa diam. Dia tampak lesu. Hati Dewa juga sedari tadi sama seperti Arka. Sama-sama takut kehilangan orang yang sangat di cintainya yaitu Laura.


Dewa membasuh wajahnya kasar. Dia menepuk-nepuk bahu Arka.


"Sabar yah Ka. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin tapi..."


Arka mencengkeram kedua lengan Dewa.


"Tapi apa, katakan Wa?" bentak Arka.


"Istrimu kondisinya sangat kritis. Karena benturan yang keras di kepalanya, dia harus kehilangan banyak darah."


"Apa...Wa, tolong lakukan yang terbaik Wa untuk istri gue."


Dewa menatap Arka tajam.


Dasar kau Arka, kalau bukan di rumah sakit, udah gue habisi lu Arka. Dasar suami kurang ajar. Menjaga Laura saja nggak bisa. lo malah justru tambah menyakiti hatinya. Kalau lo bukan sepupu gue Arka, Gue udah rebut Laura dari dulu. Kalau ada apa-apa dengan Laura, gue nggak akan pernah maafin lo Arka. Batin Dewa.


"Kenapa lo diam Aja Wa, ayo jawab..." Suara bariton Arka akhirnya menggema di rumah sakit.

__ADS_1


"Arka. Diam...! jangan lo teriak-teriak di rumah sakit. Ini rumah sakit Arka...Banyak orang sakit di sini." kata Dewa dengan nada tinggi.


"Terserah gue Dewa. Ini rumah sakit milik keluarga gue..!! Jadi siapa yang akan ngelarang gue untuk teriak-teriak di sini." suara Arka pun tak mau kalah dengan suara Dewa.


"Arka, maaf Arka. Kali ini gue nggak mau ribut dengan lo. Gue harus lakukan operasi malam ini juga. Agar Laura bisa selamat."


Operasi? sebenarnya kenapa dengan istriku, Kenapa harus lakukan jalan operasi? Batin Arka.


Arka tidak mau tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Laura. Karena cuma dokter aja yang tahu tentang kondisi Laura saat ini. Yang terpenting untuk Arka saat ini adalah Laura selamat.


"Terserah lu Dewa. Gue nggak mau tahu, yang penting sekarang lo lakuin yang terbaik untuk Laura." Kata Arka datar sembari menepuk-nepuk bahu sepupunya itu.


Di sisi lain,


Herman masih berdiri dengan fikiran yang berkecamuk. Sedari tadi dia tidak melihat Tuan mudanya bercakap dengan Dewa. Herman masih asyik memikirkan Tanti.


Tanti, sekarang kamu ada di mana, Aku takut terjadi apa-apa dengan mu. Batin Herman.


"Herman...!" Lagi-lagi Tuan Arka berteriak. Membuat Herman dan Idris tersentak kaget.


"Iya Tuan. Maaf. Ada apa yah ...?" ucap Herman setengah gugup.


" Dasar budek. Kamu nggak dengar aku bicara Heh..."


"Maafkan aku Tuan" Kata Herman dengan wajah tertunduk.


"Mana Ponselmu. Beriakan padaku. Aku akn hubungi Mama. handhoonke lobet."


Hermanpun memberikan ponselnya pada Arka.


Arka kemudian menghubungi orang tuanya.


Sudah beberapa kali Arka menghubungi orang tuanya. Namun tidak ada jawaban.


"Sial. Kemana sih mama dan papa. Dua-duanya di telpon nggak ada yang di angkat. Pembantu juga..." Geram Arka.


Ah, Tuan ini. Ternyata bodoh juga. orang tuanya pasti lagi tidur nyenyaklah. inikan udah tengah malam. batin Idris.


Arka mengangkat ponsel Herman. Sepertinya dia ingin membantingnya.


"Jangan tuan...Itu ponsel saya. Masih baru Tuan. Tolong kembalikan." ucap Herman.

__ADS_1


"Ah...Ponsel kayak gini doang. Aku membelinya lagi sampai dua puluh ponsel merek kayak gini juga bisa kali." Kata Tuan Arka.


Itu sih bagimu Tuan, yang berkuasa. Membeli sepuluh orang kayak Tantipun, sepertinya kamu sanggup. Batin Herman.


Tuan Arka kemudian memberikan ponselnya pada Herman.


Dia kembali duduk, untuk menunggu Laura sampai Laura selesai operasi.


****


Pagi ini, di meja makan tampak sepi tak ada makanan sedikitpun.


"Ah...Nggak ada apa apa." Gumam Arifin.


Arifin duduk di meja makan. Fikirannya hampa.


"Lagi ngapain yah istriku? Ah, paling sekarang dia lagi hidup enak, bersama Tuan Arka. Dia pasti di sana makan enak, di manjain ama Tuan Arka yang orang kaya itu. Tuan Arka paling sudah menyentuhnya. Dan sebentar lagi Tanti akan hamil. Dan aku bisa meminta uang lagi pada Tuan Arka." Kata Arifin.


Arifin melangkah pergi ke dapur. Dia tampak seperti orang bingung.


Yah, selama ini Arifin adalah sosok lelaki yang pemalas. Dia juga jarang memberikan Tanti nafkah lahir.


Hidup Tanti sangat kesusahan bersama Arifin. Untunglah di sini, orang tua Arifin sangat baik. Orang tua Arifin mau membiayai kehidupan Tanti dengan Arifin. karena mereka tahu Arifin itu memang pemalas.


Arifin sudah beberapa kali di terima kerja, kerja apa saja pun Arifin pernah lakukan. Tapi Arifin itu memang pembosan dan pemalas. Jadi dia cuma bisa menumpang hidup pada orang tuanya.


Namun Tanti adalah sosok wanita yang penyabar. Dia tidak pernah marah jika suaminya bangun siang. Dia tidak pernah menuntut ini dan itu pada Arifin.


Terkadang, Tanti juga membantu menafkahi keluarganya. Kebetulan ibu mertuanya itu, punya usaha toko pakian di pasar, jadi Tanti bisa membantu ibu mertuanya di sana. Walau rumah Tanti dan ibu mertuanya cukuo jauh, tapi Tanti rela dengan motor maticnya pergi ke pasar untuk membantu ibunya. Dan sejak kelahiran Aurel, Tanti belum lagi, menemui mertuanya, sampai saat ini.


Tok...tok...tok...


Suara ketukan dari rumah Arifin.


Arofin melangkah ke depan. Dan di lihatnya seorang wanita tampak tersenyum pada Arifin


"Bang, ipeh bawain makanan buat Abang." Kata Ipeh si wanita itu sembari menyodorkan rantang yang berisi makanan.


Arifin menerima.dengan senang hati makanan dari Ipeh.


"Terima kasih sayangku. Kamu memang pacar Abang, yang sangat perhatian."

__ADS_1


Arifin kemudian masuk dengan merangkul bahu Ipeh. Yah Ipeh adalah pacar Arifin sekarang yang tempo lalu di pergoki sedang bercinta dengan Arifin.


__ADS_2