
Malam ini, Tanti melihat ke luar jendela. Pandangannya menelusuri jalanan di tengah perkotaan.
Lagi-lagi Tanti teringat Aurel bayinya. Sudah setengah bulan dia di tahan oleh Arka. Dia bagaikan seorang Putri yang di pingit. Sekarang Tanti di jaga ketat oleh para pengawal.
Tanti menyeka air matanya.
"Aku harus kuat. Aku tidak sendiri. Aku punya Herman sekarang. Aku yakin Herman akan menolongku. Aku melihat ketulusan di matanya" Gumam Tanti.
Tok tok tok...
"Nona muda...buka pintunya. Keluarlah! Tuan muda sudah menunggumu sejak tadi." Kata Dani.
" Iya, aku keluar. " kata Tanti kemudian.
Tanti akhirnya keluar. Walau dia sebenarnya malas untuk makan semeja dengan lelaki yang di anggapnya keji itu.
Tanti duduk di depan Arka.
Arka tersenyum senang. Sekarang Tanti sudah mau menurut dengannya. Sementara Herman sang pengawal, hanya bisa menahan sakit karena setiap hari harus di hadapkan dengan perhatian-perhatian Arka pada Tanti.
Kenapa aku harus mencintai Nona. Aku sakit melihat kedekatan Tuan muda dan Nona muda. Apa aku akan kuat, melihat mereka setiap hari. Terlebih setelah mereka menikah. Ah aku nggak bisa membayangkan. Bagaimana nanti bila Tuan Arka benar-benar menyentuh Tanti. Batin Herman.
"Tanti, makanlah. Aku sudah menyiapkan semua makanan kesukaan kamu."
"Dari mana Tuan tahu kalau aku, menyukai makanan-makanan ini?" tanya Tanti.
"Aku tahu semuanya sayang, Aku tahu semua tentang kamu. Apa sih yang nggak akan bisa calon suamimu itu lakukan. Aku bisa melakukan apapun."
"Termasuk membeliku? Hati mu begitu kejam. Kamu bukan manusia Tuan."
Tanti mencoba memberanikan diri untuk melawan dan ingin memancing emosi Tuan Arka.
Dia menginginkan Tuan Arka membencinya. Jika Tuan Arka membencinya, mungkin saja dia mau melepaskan Tanti dan anaknya.
Tuan Arka begitu emosi saat Tanti mengatakan kalau Tuan Arka kejam, dan dia itu bukan manusia. Tuan Arka seperti tak bisa terima ucapan Tanti.
Tapi sebisa mungkin, Tuan Arka mencoba bersabar dan bisa mengendalikan emosinya. Dia tidak ingin Tanti tambah membencinya,
"Terserah apa yang mau kamu katakan Tanti. Aku nggak peduli. Kamu ini sekarang milik ku. Aku udah membelimu mahal. Apa akan semudah itu untuk aku melepaskanmu. Tidak Tanti."
Di ruang makan kecil, tepatnya di samping pantry, Dani Herman dan Idris masih setia berdiri.
__ADS_1
"Kenapa kalian masih berdiri di sini ?! Biarkan aku dan Tanti berdua!" bentak Tuan Arka.
"Baik Tuan. kami akan tunggu di ruang tamu."
"Pergilah, dan jangan berdiri terus! Duduklah, jika kaki kalian merasa pegal!"
"Baik Tuan."
"Dan setelah aku dan nona makan, habiskanlah semua makanan yang ada di meja makan ini."
"Iya Tuan kami pergi." kata Idris.
Ketiga orang pengawal itupun pergi. Kemudian mereka menunggu di sofa depan.
Arka kemudian berdiri. Dia melangkah ke pantry, dia menyeduh kopi untuk para pengawalnya.
Arka membawa tiga cangkir kopi untuk di suguhkan pada para pengawalnya.
Tanti hanya bisa menyaksikan dengan penuh kebingungan.
Dia tersenyum.
"Ini aku buatkan kopi buat kalian. Sekarang sudah jam sebelas malam. Setelah aku dan Tanti makan, kalian bertiga pulanglah. Biarkan aku berdua dengan Tanti disini."
Ketiga orang pengawal saling menatap. Entah apa yang mereka fikirkan.
Arka kemudian menyuguhkan tiga cangkir kopi. Dia meletakan kopi itu dia tas meja.
"Terimakasih Tuan muda. Tuan muda memang baik." Kata Idris.
"Iya Tuan, pantas saja banyak pegawai Tuan yang lama bekerja di kantor Tuan." Dani menimpali.
"Sudahlah, kalian tidak usah sungkan denganku. Mulai besok aku tidak akan pergi kemana-mana. Kalian bertiga akan saya liburkan dua hari."
"Alhamdulilah, makasih Tuan. Saya bisa ngajak pacar saya kencan. Besok malam kan malam minggu." kata Idris.
"Saya juga. Mau ngantarin istri saya periksa kandungan." Kata Dani.
Tuan Arka tersenyum.
Sementara Herman diam. Dia sedang di sibukan oleh fikirannya sendiri.
__ADS_1
Kalau aku tinggalkan Tanti di sini, bagaimana dengan Tanti. Apakah Tuan Arka tidak akan melakukan sesuatu pada nona. Ah, Tuan Arka orang yang keras kepala. Mana mungkin aku bisa membantah. Kalau sebenarnya, aku ingin menginap di apartemennya, dan mau menjaga Tanti. Pasti Tuan Arka akan merasa terganggu.
****
"Tanti, sekarang kita hanya berdua. Sudah tidak ada lagi orang yang akan mendengar percakapan kita." kata Arka yang masih ada di sofa kamar. Arka saat ini tepat duduk di samping Tanti.
Tanti masih terdiam. Menatap Tuan Arka pun dia masih tidak mau.
Tuan Arka kemudian turun dari sofa, dia berlutut di hadapan Tanti persis seperti ABG yang mau katakan cinta.
Tanti merasa terkejut dengan Tuan Arka. Tuan Arka orang yang begitu berkuasa, sampai mau berlutut dan memohon di depan Tanti.
"Tanti, menikahlah dengan ku! aku mohon. Berikanlah aku seorang anak, seperti kamu telah memberi Arifin anak!. Aku yakin, jika kita bersatu dan mendapatkan seorang keturunan, pasti anak kita akan cantik dan tampan." kata Tuan Arka.
Enak saja kamu Tuan. Emang aku wanita apaan. Dan setelah aku memberimu anak, pasti kamu akan membuangku kan? dan akan memisahkan anak ku dari ibu kandungnya sendiri. Kamu sama biadabnya kayak Bang Arif. Batin Tanti.
"Tuan aku mohon, jangan seperti itu Tuan." Kata Tanti sembari mencoba mengangkat tubuh Arka dari posisi berlututnya.
Arka pun kembali duduk di samping Tanti. Matanya menatap dalam manik mata Tanti.
Tanti bingung, harus mengatakan apa. Baru kali ini ada orang yang mau berlutut di depannya. Karena selama ini, Arifin bukanlah orang yang romantis. Dia orang yang sangat cuek. Dan hanya nafsu saja yang di carinya. Mana pernah Arifin berlutut dan memohon seperti Tuan Arka.
Tanti menangis.
Arka masih tidak mengerti dengan air mata itu. Air mata kepedihan seorang ibu yang harus jauh dari anak kandungnya sendiri.
Air mata yang tidak akan bisa di miliki lelaki. Karena ikatan batin seorang ibu lebih kuat dari pada ikatan batin ayahnya.
Arka mengusap air mata Tanti.
"Tuan kembalikan Aurel."
"Iya aku akan mengembalikannya. Tapi nanti, setelah kamu memberikan aku seorang anak."
"Kalau aku nggak bisa memberimu anak gimana?"
"Ya udah, kamu tidak akan pernah aku lepaskan walau dalam sesaat. Karena aku menikahimu supaya kamu bisa hamil. Dan aku bisa mengambil anakmu. Dan aku akan merawat anak kita kelak bersama Laura."
Teganya kamu Tuan berbicara begitu pada ku. Kamu fikir aku ini apa? aku ini barang? yang sudah bosan lalu kamu buang begitu saja. Kamu tidak ada bedanya dengan Arifin.
Tanti merasa terpukul dengan kata-kata Arka. Kenapa ada lelaki yang tega seperti Arka. Dia mau menikah, lalu akan menceraikannya setelah anak itu lahir. Di manakah perasaan nya sebagi manusia.
__ADS_1